Share

Bab 2

Author: Yunita
Gaun yang dikenakannya pada foto itu ternyata sama persis dengan gaun ini.

Perutku langsung terasa mual, seolah habis menelan sesuatu yang menjijikkan. Aku segera menggantinya dengan gaun lain.

Saat melewatinya dan masuk ke ruang ganti, seorang pegawai toko menutup mulutnya sambil terkikik lalu berkata, "Kak Vivian, pakai baju yang sama nggak masalah. Yang memalukan itu siapa yang terlihat lebih jelek. Lihat saja, dia langsung ganti baju, 'kan?"

Vivian tersenyum. Namun senyuman itu bukan tanda kemurahan hati. Dia hanya memandang rendah orang di hadapannya.

Setelah berganti pakaian, aku duduk di kursi.

Dion berjalan ke sampingku dan dengan lembut merangkul bahuku.

Tepat ketika kamera hendak memotret, Vivian tiba-tiba memegangi dadanya lalu jatuh ke lantai.

"Aduh Dion, sakit banget."

Tangan yang merangkul bahuku langsung terlepas. Dion segera berlari menghampirinya dengan panik.

Dia langsung mengangkat Vivian ke dalam pelukannya dan membawa wanita itu keluar tanpa sekali pun menoleh ke arahku.

Tatapan pegawai toko kepadaku dipenuhi rasa iba.

Namun aku tetap duduk tegak dan tersenyum. "Lanjutkan saja pemotretannya."

Pegawai itu tertegun sesaat. Sambil mencibir sedikit, dia melanjutkan sesi foto untukku.

Setelah selesai, aku meninggalkan tempat itu dengan perasaan puas.

Kenangan ini hanya milik aku dan anakku. Ada atau tidaknya Dion sudah tidak berarti lagi.

...

Setelah keluar, aku baru menyadari angin di luar bertiup sangat kencang, jadi aku mencari hotel terdekat.

Namun baru berbaring sebentar, ponselku mulai bergetar tanpa henti.

Ada telepon dari Dion, tapi aku mengabaikannya. Setelah tiga panggilan berturut-turut, akhirnya ponsel itu berhenti berdering.

Namun saat aku hampir tertidur, tiba-tiba sebuah pesan masuk.

Ketika kubuka, ternyata itu foto Vivian yang sedang berbaring dalam pelukan Dion. Dia bahkan mengenakan piyamaku.

Lima detik kemudian, foto itu ditarik kembali.

"Maaf, salah kirim."

Aku tahu dia sengaja melakukannya, tetapi aku sama sekali tidak marah. Aku mematikan ponsel lalu kembali tidur.

...

Keesokan harinya, aku naik taksi pulang ke rumah.

Begitu membuka pintu, aku mendapati rumah sedang ramai oleh sebuah pesta.

Dion duduk di sofa sambil menatap ponselnya dengan alis berkerut. Mendengar suara pintu terbuka, dia mengangkat wajahnya dan pandangan kami langsung bertemu.

Raut wajahnya sedikit melunak, tetapi nada bicaranya masih terdengar seperti teguran.

"Kamu masih ingat jalan pulang rupanya!"

Aku menjawab datar, "Kemarin anginnya sangat kencang, jadi aku menginap di hotel."

Setelah mengatakan itu, aku sudah bersiap menghadapi amarahnya.

Namun di luar dugaan, Dion hanya mengangguk pelan.

"Aku tahu. Aku lihat lokasi di ponselmu. Tapi kalau menginap di luar, lain kali tetap harus kasih tahu aku."

Tanganku yang sedang melepas mantel langsung terhenti. Aku menatapnya dengan tidak percaya.

"Sejak kapan kamu masang pelacak lokasi di ponselku?"

"Demi keselamatanmu."

Dia tidak memberi penjelasan lebih lanjut. Setelah itu, dia berbalik dan mulai memperkenalkan orang-orang yang ada di rumah.

Mereka semua teman-temannya. Namun selama bertahun-tahun ini, selain saat pernikahan, aku hampir tidak pernah bertemu mereka lagi.

Sebaliknya, Vivian terlihat jauh lebih akrab dengan mereka. Dengan santai dia mengambil alih suasana dan memperkenalkan mereka satu per satu kepadaku.

"Ini Kak Yoga. Masakan supnya luar biasa enak!"

"Kalau ini, Aldi, seorang seniman!"

"Yang ini Sandy. Lumayan tampan, tapi paling suka ngerjain orang!"

Begitu Vivian selesai bicara, semua orang langsung tertawa.

Kak Yoga berpura-pura kesal. "Vivian pilih kasih. Kok masih sempat promosiin dia begitu?"

Vivian langsung menggembungkan pipinya lalu berlari menghampiri mereka untuk bercanda dan bermain bersama.

Dari awal sampai akhir, Dion bahkan tidak benar-benar menyapaku. Tatapannya pun nyaris tidak pernah singgah kepadaku.

Aku juga tidak terlalu peduli. Mereka memang tumbuh bersama sejak kecil, dan aku sendiri tidak pernah berniat memaksakan diri masuk ke lingkaran mereka.

Dion memandang Vivian dengan tatapan penuh kasih sayang, lalu tertawa pelan melihat tingkahnya.

Aku pun berbalik dan melangkah menuju kamar tidur. Namun baru beberapa langkah berjalan, pandanganku tiba-tiba tertumbuk pada sesuatu di dalam tempat sampah. Tubuhku langsung membeku.

Dengan langkah berat, aku menghampirinya. Di sana, tergeletak acar buatan ibuku semasa hidupnya.

Kepalaku langsung berdengung. Darah di seluruh tubuhku seolah mengalir terbalik.

Ibu pergi begitu mendadak. Acar itu adalah makanan terakhir yang Ibu tinggalkan untukku.

Ibu menghabiskan waktu seminggu penuh untuk membuatnya, dan selama ini aku bahkan tidak tega membuangnya.

Namun sekarang, acar itu justru tercampur bersama tumpukan sampah.

Air mataku langsung mengalir deras. Dengan suara bergetar, aku bertanya, "Siapa yang buang itu?"

Di ruang tamu, mereka masih bercanda dan tertawa seperti biasa, tidak seorang pun menyadari suaraku.

Barulah setelah pertanyaan itu kuulang untuk ketiga kalinya, suasana perlahan menjadi hening.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 9

    Aku berkata terbata-bata, "Tunggu aku ... tunggu sampai urusanku di sana selesai, baru kita bicarain lagi."Mata Harvey langsung berbinar. Seperti anak muda yang sedang dimabuk cinta, dia memelukku lalu mengangkat tubuhku ke udara.Aku senang sekaligus ketakutan. Di tengah malam yang sunyi, teriakanku terus terdengar tanpa henti.Sampai sebuah bentakan tiba-tiba terdengar dari bawah lampu jalan, barulah aku tersadar dan menoleh.Ternyata itu Dion.Wajahnya tampak suram dan menyeramkan, seperti seseorang yang bisa kehilangan kendali kapan saja.Aku menatapnya dengan tenang. "Sudah siap? Kapan kita mau mengurus perceraian?"Mata Dion langsung berkaca-kaca. Rahangnya mengeras saat dia memaksa mengeluarkan kata-kata dari sela giginya."Jadi kamu benar-benar nggak percaya sama aku?"Aku tertawa pelan. Semua orang di sekelilingnya selalu lebih penting daripada diriku. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin aku masih bisa percaya padanya?Tatapan Dion beralih kepada Harvey, dipenuhi per

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 8

    "Memang pantas! Siapa suruh kamu bocorkan? Kamu benar-benar bikin aku muak!"Ekspresi sedih di wajah Vivian langsung membeku. Dia menatap Dion dengan tatapan tak percaya, sementara air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.Dia tidak mengerti bagaimana pria yang dulu begitu mencintainya bisa berubah sedrastis ini. Dalam benaknya, semua ini pasti karena Jessica. Padahal, menurutnya, dalam segala hal, Jessica masih kalah darinya.Semakin memikirkannya, semakin dia tidak terima. "Semua ini aku lakuin demi siapa? Bukankah karena aku peduli sama kamu? Aku tahu betapa besar keinginanmu menjadi seorang ayah, tapi kamu …."Sebelum Vivian sempat menyelesaikan ucapannya, Dion sudah memotong dengan bentakan keras, "Diam!"Dia menatap Vivian dengan dingin, lalu menggeleng pelan."Sampai sekarang kamu masih saja berbohong. Yang kamu pikirin cuma dirimu sendiri. Tiga tahun lalu begitu, tiga tahun kemudian tetap nggak berubah. Aku benar-benar nyesal pernah punya hubungan sama orang kayak kamu."Se

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 7

    Wajah ibu mertua menjadi sedingin es. Dengan bentakan keras, dia menghentikan Dion dan berkata dengan penuh amarah, "Jangan salahin Vivian, aku yang ingin tahu kebenarannya!"Dia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arahku. "Besok juga ceraikan perempuan jalang ini! Dulu kamu sudah kehilangan akal sampai bersikeras nikahin dia. Lihat sekarang, dia bahkan membunuh anakmu!"Makin banyak berbicara, dia makin emosional. Ibu mertua langsung mengangkat bangku dan melemparkannya ke arahku. Dion dengan sigap segera berdiri di depanku. Dia menangkap bangku itu dan berteriak histeris, "Nggak perlu campuri urusan kami! Ayah sampai bercerai karena dipaksa sama Ibu, dan sekarang Ibu mau maksa aku juga! Berapa banyak kebahagiaan orang yang ingin Ibu hancurkan!"Suara penuh kemarahan Dion menggema seperti petir di ruang tamu yang luas. Wajah ibu mertua seketika memucat seperti kertas. Jari telunjuknya yang runcing gemetar saat menunjuk ke arahnya."Apa kamu bilang? Demi perempuan jalang itu, kamu b

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 6

    Ekspresi Dion langsung membeku.Dengan nada lebih tegas, dia mengulanginya sekali lagi, "Jessica sedang menjalani operasi?"Perawat itu mengangguk, lalu menjawab dengan tidak sabar, "Benar. Beliau sedang menjalani operasi aborsi. Sebentar lagi juga keluar."Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, pintu ruang operasi perlahan terbuka.Aku yang masih tertidur didorong keluar oleh perawat.Wajah Dion seketika memucat. Dengan langkah yang terasa goyah, dia berjalan menghampiriku.Tatapannya jatuh pada perutku yang kini telah kembali rata. Dalam sekejap, hatinya seperti disayat oleh pisau.Kepalanya berdengung. Dunia di sekelilingnya seperti berputar. Seolah seluruh tubuhnya dilempar ke ruang hampa tanpa pijakan.Tiba-tiba terdengar seruan kaget dari seorang perawat. Dion ambruk dengan keras ke lantai....Tidur kali ini terasa sangat nyenyak. Namun saat terbangun, tubuhku masih terasa lemas dan berat.Aku mengulurkan tangan hendak mengambil segelas air di atas meja, tetapi Dion yang duduk

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 5

    Sementara itu, setibanya di rumah Vivian, untuk pertama kalinya Dion benar-benar marah.Dia tidak percaya Vivian sampai berpura-pura bunuh diri demi menipunya.Perasaan dipermainkan itu seketika membawanya kembali ke masa lalu.Meski mereka telah berpacaran selama bertahun-tahun, Vivian terlalu mementingkan diri sendiri dan sering bertindak sesuka hatinya. Begitu menemukan seseorang yang menurutnya lebih menarik, dia akan bersikap ambigu. Bahkan saat memutuskan pergi ke luar negeri demi mengejar kariernya, dia langsung mengakhiri hubungan mereka tanpa ragu.Dulu, saat masih muda, Dion masih bisa memaklumi semua itu. Namun sekarang usianya sudah hampir tiga puluh tahun. Dia tidak punya waktu lagi untuk terus memainkan drama cinta yang melelahkan seperti ini.Melihat Dion berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Vivian tersenyum manis lalu memeluknya dari belakang."Siapa suruh kamu cuekin aku? Aku telepon berkali-kali, nggak sekali pun kamu angkat. Mataku sampai bengkak kar

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 4

    "Kudengar mereka putus karena kamu, orang ketiga. Nggak tahu malu, dasar perebut suami orang!""Kamu hamil, 'kan? Cepat gugurin saja. Jangan sampai dilahirkan, nanti Vivian sedih.""Hati pria itu nggak pernah ada padamu. Seberapa keras pun kamu maksa, tetap nggak akan ada gunanya. Lepaskan saja pasangan yang saling mencintai itu."Kontroversi itu makin membesar dan terus bertahan di puncak berita selama tiga hari penuh.Tidak mungkin Dion tidak tahu apa yang sedang kuhadapi, tetapi dia sama sekali tidak melakukan apa pun.Aku tahu dia sedang menunggu aku mengalah. Dalam hubungan ini, dia memang selalu menjadi pihak yang memegang kendali.Dia mengatur cara berpakaianku, mengatur pola makanku, bahkan memantau setiap tempat yang kudatangi.Seluruh kelembutan dan toleransinya hanya diberikan pada Vivian, sementara yang tersisa untukku hanyalah ketegasan dan sikap dingin.Dia ingin membuktikan bahwa tanpa diriku, hidupnya tetap berjalan dengan baik.Sedangkan tanpa dirinya, aku bukan siapa-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status