MasukSatu bulan telah berlalu sejak pengunduran dirinya dari AYT Tech dan Jagat merasa tidak ada hari yang lebih melegakan dari itu selama enam bulan ini. Kali ini hanya tinggal menyusun rencana untuk bisa mendekati Sekar kembali."Dim, kamu ada rencana ke Singapura?" Tanya Jagat saat Dimas sedang membereskan laptop dan document di meja di ruang rapat."Saya, Pak? Buat apa saya ke Singapura, Pak? Atau ada Bapak ada rencana perjalanan dinas ke sana yang belum saya ketahui?" Dimas balik bertanya karena bingung dengan maksud pertanyaan Jagat."Bukan. Maksud saya kamu ada rencana ke sana buat ketemu cewek yang waktu itu di direct message? Dia ada di Singapura kan?""Ohhh itu" Dimas lalu tersenyum malu-malu. Pria itu tiba-tiba terlihat gerogi dan ia bisa menebak bahwa Dimas membalas direct message itu dan hubungan mereka berlanjut."Saya masih pendekatan, Pak. Kayaknya terlalu cepat kalau saya tiba-tiba datang ke sana buat ketemu dia. Saya nggak mau bikin dia nggak nyaman dan terkesan terburu-b
"Cukup, Pa!"Bu Dian berkata dengan tegas dan nada yang meninggi, membuat Pak Ruli terkejut karena ini adalah pertama kalinya sang anak perempuan berbicara seperti itu padanya. Sedari kecil Bu Dian selalu menurut pada Papanya, mengiyakan segala perintah sang Papa termasuk untuk meninggalkan pria yang ia cintai - Robert dan juga mengabaikan anak lelakinya - Jagat selama bertahun-tahun."Dian! Apa-apaan kamu?" Ucap Pak Ruli dengan nada yang juga ikut meninggi.Bu Dian bangkit dari duduknya, berniat langsung pergi karena tak ingin berdebat dengan Pak Ruli. Namun Pak Ruli tak terima dan menganggap percakapan mereka belum selesai."Mau ke mana kamu? Papa belum selesai ngomong, Dian. Temui anak kurang ajar kamu itu. Bilang sama dia kalau dia tidak mau menikah dengan Rachel, maka Papa akan selalu mengusik hidupnya. Kalau perlu akan Papa hancurkan perusahaannya itu."Bu Dian mengepalkan kedua tangannya, lalu ia berbalik dan menatap Pak Ruli dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lo ngapain, Cin?" Sekar bertanya karena begitu penasaran. Sudah sepuluh menit berlalu, Cindy masih saja menatap ponselnya."Lagi stalking Si Dimas di L*nkind. Ternyata udah lama kerja di JB Company. Thank you, Sekar. Berkat informasi dari lo, sekarang gue tahu sosmednya Si Dimas. Gue mau pendekatan, saatnya jadi cegil." Ucap Cindy dengan bahagianyaSekar hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu. Semoga saja Dimas sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun agar Cindy tidak sakit hati nantinya.Sementara itu di sisi lain, Dimas yang sedang makan siang di kantin perusahaan tiba-tiba mendapatkan notifikasi bahwa ada yang mengunjungi akun L*inkind miliknya. Ia hanya melihatnya sekilas, lalu sudah tak peduli. Namun beberapa saat kemudian, ada pesan yang masuk ke inst*agramnya. "Hallo, gue Cindy. Salam kenal, ya."Dahinya berkerut, ia mulai bertanya-tanya siapa wanita yang mengiriminya pesan. Setelah ia perhatikan, ternyata mirip dengan nama yang tadi melihat akun L
Jagat keluar dari ruang rapat dengan perasaan lega. Akhirnya sesuatu yang selama ini ia nantikan untuk terjadi terwujud hari ini. Sepanjang Pak Nadim tadi ada di ruangan, Mamanya juga lebih banyak diam dan ia juga melihat wajah Mamanya yang pasrah. Semoga saja Mamanya memang diam karena menyerah, bukan karena sedang menyiapkan rencana untuk kembali mengekangnya dalam sebuah kontrak ataupun perjanjian.Ia kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam lift menuju ruangan tempat ia bekerja. Maksudnya tempat dulu ia menjabat sebagai pimpinan. Saat lift itu sudah akan tertutup, tiba-tiba Rachel menerobos begitu saja yang berakhir membuatnya tak bisa menghindar untuk keluar ketika wanita itu memeluknya."Jagat, berkahirnya perjanjian kamu dengan Tante Dian nggak akan membuat perjodohan kita batal, kan?"Jagat yang masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Rachel hanya bisa mengertutkan keningnya. Ia sungguh tak mengerti kenapa wanita itu masih saja berharap tentang perjodohan mereka.
Jagat menatap dirinya di depan cermin. Hari ini ia akan mengumumkan pengunduran dirinya dari AYT Tech di rapat umum pemegang saham. Tidak ada yang tahu tentang keputusannya ini, kecuali Dimas sekretarisnya di JB Company dan beberapa pemegang saham di AYT Tech yang ia kenal baik karena ia tetap membutuhkan suara mereka agar permohonan pengunduran dirinya disetujui. Namun untuk Mamanya dan Pak Januar, Jagat tak memberitahukan akan hal itu.Selama ia di Singapura, ia sudah memikirkan hal ini dengan matang. Semakin cepat pengunduran dirinya, maka itu akan semakin baik. Toh semua tugas yang diembankan kepadanya selama menjadi CEO di AYT Tech sudah ia lakukan. JB Company juga sudah stabil berkat beberapa investor yang mau berinvestasi ke perusahaannya, terutama Alexander."Semoga hari ini berjalan sesuai rencana dan setelah ini gue bisa fokus di JB Company serta Sekar." Ucapnya pada diri sendiri.Lalu ia mengambil tas kerjanya, memeriksa semua dokumen yang akan ia bawa dan mengambil kunci m
Sekar tak menjawab namun kakinya melangkah mendekati mobil, bukan untuk masuk melewati pintu yang sudah dibukakan Jagat, tapi ia membuka sendiri pintu mobil yang di depan. Lebih tepatnya ia memilih duduk bersebelahan dengan sekretaris Jagat."Selamat malam, Pak." Ucapnya pada sekretaris Jagat sesaat setelah ia duduk di kursi penumpang. Bisa ia lihat betapa terkejutnya pria itu."S-selamat malam, Bu." Balas Dimas dengan sedikit terbata.Sementara Jagat yang masih di luar hanya hisa menghela napas panjang. Ia mengira Sekar akan duduk di sampingnya, namun justru wanita itu memilih untuk tidak melakukannya. Sebegitu inginkah Sekar menjaga jarak darinya?Meski begitu Jagat tetap bersyukur karena Sekar mau untuk ia antar. Jika saja wanita itu menolak, ia akan tetap di sini untuk memastikan mantan kekasihnya itu mendapatkan taxi untuk pulang. Oh tidak, itu tidak cukup. Jika Sekar sudah mendapatkan taxi, ia akan meminta Dimas agar menyetir mengikuti kendaraan itu untuk memas
"Lo yang bener dong servicenya. Bolanya kena gue mulu."Jagat menghela napas, lalu menatap Devan yang berada di seberang net. Temannya itu sedang menatap jengkel ke arahnya. Siapa suruh memaksanya main tennis malam-malam begini. Ia sudah bilang tidak mau, tetap saja dipaksa."Gue mau minum dulu. Lo
Ia dan Jagat saling melirik dan saat pria itu sudah membuka mulutnya, dengan cepat Sekar mendahuluinya berbicara. "Ini Ma, Mas Jagat ngajakin aku liburan berdua, terus aku nggak bisa karena bukan di hari libur. Terus dia bilang dia akan tanggung jawab kok kalau aku nggak masuk kerja. Tapi kan aku ya
Tok.Tok.Tok...Suara ketukan pintu di ruangan Jagat membuat Sekar melepaskan tubuhnya dari dekapan pria itu. Ia memundurkan kakinya, lalu berpamitan untuk kembali ke ruangannya."Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Terima kasih."Ia melihat Jagat yang hanya mengangguk, mungkin tersadar bahwa merek
"Mas, tolong badan aku rasanya panas..."Jagat semakin bingung bagaimana harus menghadapi ini. Selama tiga puluh dua tahun dia hidup, ia tak pernah bersentuhan terlalu jauh dengan seorang wanita. Dulu, meskipun ia sangat mencintai Rachel, mereka tak pernah menjalin hubungan secara resmi. Hubungan m







