LOGIN“Bajingan! Masalah sebesar ini kenapa tidak bilang dari awal?!”Begitu mendengar Shelly pernah ditempatkan di bawah penanganan Herman dan bahkan diam-diam menjalani tes paternitas tanpa sepengetahuannya, Harrison langsung memaki tanpa ampun.Namun setelah meluapkan amarahnya, emosinya masih belum juga mereda.“Tahun ini jangan berharap aku akan menyumbang satu rupiah pun lagi ke rumah sakit kalian!”“Pak Harrison, s-saya benar-benar tidak berani menolak. Saya juga tidak menyangka masalahnya akan sebesar ini!”Direktur rumah sakit sudah melihat rekam medis itu. Dia sampai hampir kencing di celana karena ketakutan.Siapa sangka seorang sekretaris bisa menimbulkan masalah sebesar ini, bahkan mengandung anak pewaris Keluarga Anderson!“Kamu kirim rekam medis itu ke siapa?” tanya Harrison.Direktur rumah sakit buru-buru menjawab, “Kepada asisten Pak Jeffry … Maxwell.”“Sialan! Itu anak buah paling setia Jeffry! Habislah kamu. Kalau Keluarga Anderson sampai kacau gara-gara ini, rumah sakitmu
Dengan wajah muram, Saryna langsung menelepon Bibi Yanti.Namun, teleponnya tidak diangkat.Shelly ikut menelepon. Selama setengah jam, tidak tahu sudah berapa kali mereka menghubungi nomor itu, berkali-kali tanpa henti.Di luar, hujan turun dengan sangat deras.Hawa gerah awal musim panas pun perlahan tersapu hujan.Namun kegelisahan di hati Shelly justru semakin menjadi.Dia merasa dirinya seperti katak yang direbus dalam air hangat.Seolah-olah suhu air terus naik sedikit demi sedikit, membuatnya merasakan firasat buruk yang semakin kuat.Tetapi setiap kali dia berusaha menenangkan diri, rasanya air itu masih belum cukup panas.Hujan yang begitu lebat membuat mereka tidak bisa pergi ke panti asuhan untuk mencari Bibi Yanti....Seluruh Tavira diselimuti hujan deras.Butiran hujan menghantam jendela kaca dari lantai hingga langit-langit, berulang kali menghapus bayangan seorang pria yang terpantul di sana.Namun, suasana muram yang menyelimuti dirinya tetap tidak bisa tersapu.Pukul
Sore harinya, mereka berdua mengajak Nana berjalan-jalan. Menjelang makan malam, barulah mereka pulang.Saat makan malam, Shelly yang sudah menahan diri sepanjang sore akhirnya tidak bisa tahan lagi. “Kamu menyembunyikan sesuatu dariku, ya?”Begitu mendengar pertanyaan itu, tangan Saryna langsung gemetar.Sumpit di tangannya terjatuh dan membentur mangkuk, menimbulkan bunyi dentingan keramik yang nyaring.“Bilang. Sebenarnya apa yang kamu lakukan?”Shelly menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wajahnya perlahan menjadi serius.Dia bukan orang yang pandai menyimpan rahasia.Soal Bibi Yanti, sampai sekarang dia masih belum tahu bagaimana cara mengatakannya kepada Saryna.Kalau Saryna tahu Jessica sebenarnya tidak sakit, dia mungkin benar-benar akan membawa pisau ke panti asuhan dan menghabisi Bibi Yanti.Setiap kali Shelly mencoba menyembunyikan sesuatu, Saryna selalu bisa mengetahuinya.Namun hari ini, bukan hanya tidak menyadarinya, Saryna bahkan sama sekali tidak lagi membahas penya
“Kamu … punya pacar?”Kevin menatap Shelly dengan bingung.Kalau Shelly benar-benar punya pacar atau suami, kenapa dia masih ikut kencan buta?Seharusnya sejak hari pertama dia memutuskan untuk mengejar Shelly, wanita itu sudah memberitahunya.Shelly terdiam.Dia tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Kevin.Setelah terdiam beberapa saat, raut wajah Kevin kembali seperti biasa.“Maaf. Semoga aku tidak menimbulkan masalah untukmu.”Yang dia maksud adalah pesan ucapan selamat pagi dan selamat malam yang rutin dia kirim selama ini, juga rumor-rumor yang beredar di perusahaan.Apakah semua itu sudah diketahui oleh ayah dari anak yang dikandung Shelly?“Maaf, aku tadi terlalu lancang.”Shelly menganggukkan kepala pelan.Dia memang terlalu marah karena ulah Bibi Yanti hingga suasana hatinya jatuh ke titik terendah.Karena itu, tanpa berpikir panjang dia mengucapkan kata-kata tadi.Mengakui bahwa dirinya hamil sebenarnya bukan masalah, karena Kevin sama sekali tidak pernah berhubungan dengan
Shelly menyerahkan kantong kertas cokelat itu kepada Bibi Yanti.“Ini hanya salinannya. Semua bukti aslinya ada padaku. Kalau kamu tidak melakukan seperti yang aku katakan, semua ini akan aku jadikan barang bukti dan aku serahkan ke pengadilan.”Sisa toleransi dan rasa hormat Shelly terhadap Bibi Yanti lenyap pada saat itu juga.Shelly berbalik dan pergi.Bibi Yanti segera mengejarnya.“Shelly, tunggu! Memangnya kamu tidak bisa merelakan empat ratus juta itu? Uang yang sebelumnya biarlah dipakai untuk anak-anak .…”Shelly masuk ke dalam lift, lalu pintunya menutup.Bibi Yanti tidak berani ikut masuk. Suara wanita itu terputus oleh pintu lift, begitu pula wajahnya yang tidak tahu malu.Begitu pintu lift tertutup, ekspresi menyesal di wajah Bibi Yanti langsung menghilang.Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.“Gawat! Shelly sudah tahu semuanya. Kamu harus bantu aku .…”“Siapa yang suruh kamu begitu serakah? Masih minta empat ratus juta lagi.”Suara dari seberang telepon ter
Entah sudah berapa kali Bibi Yanti melakukan hal seperti ini.Jessica pun segera tersadar dan kembali memakan apel itu dengan lahap.“Keluar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”Di balik mata Shelly yang jernih, tampak kemarahan yang sulit disembunyikan.Tatapan itu membuat hati Bibi Yanti berdebar.Shelly lebih dulu keluar dari ruang rawat. Dia berdiri menunggu di ujung lorong.Setelah cukup lama, barulah Bibi Yanti keluar.“Memangnya kenapa tidak bisa dibicarakan di dalam? Jessica sendirian di kamar, aku jadi tidak tenang.”Nada suaranya terdengar seperti sedang menyalahkan, tetapi jelas terselip kegelisahan yang kuat.Bagaimanapun, dia memang telah melakukan sesuatu yang salah.Shelly langsung menyerahkan kantong kertas cokelat itu kepadanya tanpa menatap wajahnya.“Beri aku penjelasan.”“Penjelasan apa? Aku tidak mengerti.” Bibi Yanti menolak menerimanya dan mendorong kembali kantong itu. “Kalau memang ada yang mau dibicarakan, langsung saja.”Tangan Shelly perlahan turun ke sa
Di lorong yang remang-remang, bara rokok di bibir Jeffry menyala dan meredup silih berganti.Cahaya samar itu menerangi garis wajahnya, tapi ekspresinya tetap sulit terbaca.Keberadaannya begitu kuat hingga Shelly hampir langsung menyadari dia ada di sana.Begitu mata tertuju padanya, sulit untuk me
Kemarin sore Maxwell yang memesan ruang rapat. Saat itu Shelly tidak ada di kantor, jadi dia pun tidak tahu detail isi rapatnya.Baru selesai bicara, dia menyadari Jeffry sedang menatapnya.Saat mata mereka bertemu, tatapan Jeffry langsung berubah lebih dalam. Jakunnya bergerak pelan sebelum akhirny
Papan nama toko itu tertulis jelas, [Perlengkapan Ibu & Bayi].Tulisan besar itu terasa sangat tidak cocok dengan keberadaan Shelly di dalam sana.Marina langsung teringat kejadian terakhir saat berdebat dengan Shelly, dia sempat melihat Shelly memegang perutnya.Tatapannya seketika berubah waspada.
Jeffry terus menatap Shelly. Tatapannya tiba-tiba berhenti dan tidak bergerak lagi.Entah berlalu berapa lama, jakunnya bergerak pelan sebelum akhirnya dia mengucapkan satu kata, “Gendutan.”Punggung Shelly langsung menegang. Dia menelan ludah gugup.Dalam hampir satu bulan terakhir, berat badannya







