Share

Bab 8

Author: Ratih Larasati
Di dalam aula.

Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.

Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.

“Kak Jeffry.”

Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.

Lengan Jeffry sempat menegang sesaat, tetapi segera kembali seperti biasa.

“Kebetulan kamu datang,” katanya tenang. “Biar kuperkenalkan, ini Paman Richard.”

Elora berdiri manis di samping Jeffry, lalu tersenyum manis pada pria yang diperkenalkan itu.

“Halo, Paman Richard. Saya sudah sering mendengar nama Anda dari ayah saya. Hari ini akhirnya bisa bertemu langsung.”

“Waktu kamu masih kecil, aku bahkan pernah menggendongmu ....” Richard pun berbasa-basi dengannya.

Di sisi lain, Jeffry menyapu pandangan ke sekeliling dua kali, tetapi tidak melihat Shelly. Alisnya sedikit berkerut.

“Kak Jeffry ....” Elora menarik pelan ujung lengan bajunya. “Mereka semua menggodaku, tanya kapan kita menikah.”

Entah sejak kapan, topik pembicaraan bergeser ke arah itu.

Sudut bibir Jeffry terangkat tipis, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata.

“Sebentar lagi. Nanti kalian semua harus datang minum di pesta pernikahan kami.”

Saat itu juga, orang-orang di sekitar mereka berkumpul makin dekat, saling bersahutan memberi ucapan selamat.

Meski ini acara bisnis, begitu obrolan menyentuh urusan pribadi orang sepenting Jeffry, suasana langsung memuncak.

Tiba-tiba seseorang di tengah kerumunan berseru, “Pak Jeffry, itu sekretaris Anda?!”

Nada suaranya penuh keterkejutan dan kagum.

Semua orang menoleh ke arah yang sama dan saat melihat Shelly, mereka sama-sama terpana.

Shelly mengenakan gaun hitam.

Potongan bahu miring pada gaun itu membuat tulang selangkanya tampak semakin indah.

Semua pita hias yang dijahit pada gaun itu sudah dia lepas. Sebagian bekas jahitan yang terlalu besar bahkan dia gunting sekalian, hingga punggungnya yang mulus terekspos setengah terbuka.

Pinggangnya yang ramping, tulang belikat yang indah dan kulit putih yang samar terlihat di balik potongan gaun itu membuat penampilannya memancarkan pesona lembut di balik kesan elegan.

Meski gaun itu sudah diubah, dasar gaun itu tetap berasal dari merek ternama, model klasik yang tidak pernah benar-benar ketinggalan zaman.

Riasannya hanya tipis. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai, memberi aura yang tenang namun kuat.

Saat dia berjalan menuju Jeffry, orang-orang di sekitarnya otomatis memberi jalan.

“Pak Jeffry.” Dia berhenti di depan Jeffry dan aura tajam di tubuhnya seolah sedikit mereda.

Kulit putih, wajah cantik, dan pembawaannya yang cerdas membuatnya terlihat sangat serasi berdiri di hadapan pria berwibawa seperti Jeffry.

Dibandingkan dengannya, Elora langsung tampak kalah jauh.

Gaun ungu muda yang dikenakan Elora justru membuatnya terlihat kurang anggun, bahkan terasa tidak cocok dengan aura Jeffry sama sekali.

Menyadari semua perhatian kini tertuju pada Shelly, Elora mengepalkan tangan erat-erat sampai kukunya hampir menancap ke telapak.

Jeffry menunduk menatap Shelly sekilas, ekspresinya sedikit tidak puas.

Mungkin dia tidak suka karena Shelly mencuri sorotan dari Elora.

Shelly lalu berdiri di belakang Jeffry, menurunkan pandangannya dan tidak berkata apa-apa lagi.

“Kita lanjut.”

Jeffry mengangkat gelas di tangannya, beradu gelas dengan orang-orang di sekitarnya, lalu kembali membicarakan urusan pekerjaan.

Tidak lama kemudian, Maxwell datang. Shelly menyerahkan sebuah dokumen kepadanya, lalu diam-diam mundur dari keramaian.

Saat Jeffry sadar orang di sampingnya sudah berganti, acara sudah berjalan lebih dari separuh.

Dia sempat mundur dari kerumunan. Sepanjang waktu, Maxwell yang menggantikan menahan minuman untuknya, sementara pandangan Jeffry tanpa sadar terus menyapu seluruh ruangan ....

Shelly diam-diam keluar dari pusat keramaian dan mencari sudut yang sepi.

Tatapannya sesekali jatuh ke arah Jeffry dan Elora.

Mereka berdiri berdampingan, pemandangan itu terasa sangat menusuk mata.

Akhirnya Shelly menarik napas panjang, lalu berbalik, bersiap pergi.

Lebih baik tidak melihat daripada menyiksa diri.

Tiba-tiba terdengar keributan tidak jauh dari sana.

Seorang pria dengan kemeja motif bunga melangkah masuk dengan gaya besar, dikelilingi banyak orang.

Di tangannya ada segelas vodka berkadar tinggi. Baru muncul saja, dia sudah menarik banyak perhatian.

Orang-orang yang tadi sempat menyapa Jeffry kini kembali menghampirinya dan menyapanya satu per satu.

Itu Harrison Wijaya.

Putra sulung Keluarga Wijaya.

Musuh bebuyutan Jeffry.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 263

    Shelly menyerahkan kantong kertas cokelat itu kepada Bibi Yanti.“Ini hanya salinannya. Semua bukti aslinya ada padaku. Kalau kamu tidak melakukan seperti yang aku katakan, semua ini akan aku jadikan barang bukti dan aku serahkan ke pengadilan.”Sisa toleransi dan rasa hormat Shelly terhadap Bibi Yanti lenyap pada saat itu juga.Shelly berbalik dan pergi.Bibi Yanti segera mengejarnya.“Shelly, tunggu! Memangnya kamu tidak bisa merelakan empat ratus juta itu? Uang yang sebelumnya biarlah dipakai untuk anak-anak .…”Shelly masuk ke dalam lift, lalu pintunya menutup.Bibi Yanti tidak berani ikut masuk. Suara wanita itu terputus oleh pintu lift, begitu pula wajahnya yang tidak tahu malu.Begitu pintu lift tertutup, ekspresi menyesal di wajah Bibi Yanti langsung menghilang.Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.“Gawat! Shelly sudah tahu semuanya. Kamu harus bantu aku .…”“Siapa yang suruh kamu begitu serakah? Masih minta empat ratus juta lagi.”Suara dari seberang telepon ter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 262

    Entah sudah berapa kali Bibi Yanti melakukan hal seperti ini.Jessica pun segera tersadar dan kembali memakan apel itu dengan lahap.“Keluar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”Di balik mata Shelly yang jernih, tampak kemarahan yang sulit disembunyikan.Tatapan itu membuat hati Bibi Yanti berdebar.Shelly lebih dulu keluar dari ruang rawat. Dia berdiri menunggu di ujung lorong.Setelah cukup lama, barulah Bibi Yanti keluar.“Memangnya kenapa tidak bisa dibicarakan di dalam? Jessica sendirian di kamar, aku jadi tidak tenang.”Nada suaranya terdengar seperti sedang menyalahkan, tetapi jelas terselip kegelisahan yang kuat.Bagaimanapun, dia memang telah melakukan sesuatu yang salah.Shelly langsung menyerahkan kantong kertas cokelat itu kepadanya tanpa menatap wajahnya.“Beri aku penjelasan.”“Penjelasan apa? Aku tidak mengerti.” Bibi Yanti menolak menerimanya dan mendorong kembali kantong itu. “Kalau memang ada yang mau dibicarakan, langsung saja.”Tangan Shelly perlahan turun ke sa

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 261

    Saat ini ada cukup banyak cabang yang sedang kekurangan karyawan. Jeffry menyebutkan beberapa lokasi dan Shelly memilih yang paling jauh.Yang paling penting, dia harus pergi dari Tavira terlebih dahulu.“Nanti setelah aku memilih, akan aku beri tahu.”Suara Jeffry terdengar dingin.Shelly hanya bisa mengangguk. “Baik.”Usai berkata, melihat Jeffry tidak berkata apa-apa lagi, Shelly kembali bersuara. “Kalau tidak ada urusan lain, saya permisi dulu.”Jeffry memanggilnya sebenarnya bukan karena urusan mutasi.Masih ada “urusan lain” yang belum sempat dia tanyakan.Namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Dia tidak sanggup mengucapkannya.Dia hanya menatap Shelly yang pergi selangkah demi selangkah dari ruangannya.Pintu kantor pun tertutup rapat dan sosoknya sudah tidak terlihat lagi.Jeffry mengambil rokok yang terselip di bibirnya, lalu meremasnya hingga hancur. Tembakau yang berhamburan jatuh ke ujung celana dan sepatunya.Beberapa saat kemudian, dia melemparkan rokok yang su

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 260

    Entah mengapa, begitu mendengar suara Jeffry, hati Shelly tiba-tiba terasa tidak tenang.Dia berjalan cepat namun pelan menuju pintu kantor, lalu berbisik kepada Maxwell, “Pak Maxwell, mana berkasnya …”“Pak Jeffry, Bu Shelly sudah datang!”Perasaan Maxwell juga sangat rumit.Sejak Shelly muncul, pandangannya terus tertuju padanya.Benar saja.Perut Shelly sudah sedikit membulat.Kalau tidak diperhatikan baik-baik, orang lain mungkin tidak akan sadar bahwa dia sedang hamil.Maxwell sama sekali tidak ingin ikut terseret dalam masalah ini.Dia langsung menarik Shelly masuk ke dalam kantor sambil sengaja menyela Jeffry yang sedang menelepon.Setelah itu, dia segera melepaskan tangan Shelly dan kabur secepat mungkin.Pintu kantor yang sebelumnya terbuka lebar langsung ditutup rapat.Semuanya terjadi begitu tiba-tiba hingga Shelly tidak sempat bereaksi.Saat dia kembali sadar … Jeffry sudah berdiri tepat di hadapannya.Kelopak mata pria itu sedikit terangkat.Tatapan matanya yang dalam dan

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 259

    “Kamu sebaiknya memberiku penjelasan yang jelas.”Persahabatan mereka sudah terjalin selama bertahun-tahun.Meski Jeffry tidak menyebutkan masalah apa yang dimaksud, Herman langsung tahu.“Aku hanya ingin tahu … apa sebenarnya kamu mencintai Elora atau tidak.”Jeffry sampai tertawa karena kesal.“Jadi sekarang kamu sudah tahu jawabannya?”Herman menjawab singkat, “Sudah.”Jeffry menggertakkan gigi.“Tunggu saja. Kalau suatu hari nanti kamu jatuh ke tanganku, akan aku buat hidupmu tidak tenang.”Setelah berkata begitu, Jeffry langsung menutup telepon.Namun kata-kata kasar itu tetap tidak mampu meredakan gejolak dalam hatinya.Layar ponsel perlahan mati.Ruang istirahat kembali gelap.Hanya cahaya lampu kota yang masuk melalui celah tirai yang setengah terbuka, membuat siluet ruangan masih samar terlihat.Jeffry terus membolak-balikkan badan.Apa pun yang dia lakukan, dia tetap tidak bisa tidur.Bahkan sebelum fajar menyingsing, dia sudah bangun.Setelah merapikan diri, dia duduk di dep

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 258

    Melihat wajah Saryna yang begitu serius dengan tatapan penuh keyakinan, Shelly sempat mengira sahabatnya benar-benar menebak maksudnya.Tidak disangka …“Dengarkan aku. Kalau uang itu akhirnya tidak perlu dipakai untuk biaya pengobatan Jessica, kita pakai saja buat periksa otakmu di rumah sakit.”Shelly langsung memalingkan wajah.Dia takut tatapan “penuh kecerdasan” Saryna benar-benar membuatnya naik darah.Sementara itu, Saryna berpikir mungkin karena sedang menyetir, otaknya jadi tidak bekerja dengan baik sehingga gagal menangkap maksud Shelly.“Cepat bilang .…”“Ayo bilang .…”Sepanjang perjalanan, dia terus mendesak Shelly.Namun Shelly tetap tidak mengatakan apa pun.Karena saat ini semua itu masih sebatas dugaan.Bibi Yanti adalah orang yang rumit.Sifatnya licik, pelit, dan tidak menyenangkan.Namun selama bertahun-tahun dia juga telah bekerja tanpa lelah demi panti asuhan dan mengorbankan banyak hal.Kalau ternyata Shelly salah paham … itu hanya akan melukai hati seseorang yan

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 27

    Dalam setengah tahun terakhir, nilai dan reputasi Keluarga Laurent meningkat pesat, bahkan mencapai puncak dalam beberapa hari terakhir....Shelly pulang ke rumah, mengemasi beberapa barang, lalu langsung menuju panti asuhan.Beberapa hari ke depan, dia berencana tinggal di sana agar bisa lebih mud

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 24

    Sikap Shelly terhadap pekerjaan memang tidak perlu diragukan lagi.Keterlambatan dalam rapat dewan adalah masalah besar. Jika sampai tersebar, itu akan dianggap sebagai kelalaiannya sebagai sekretaris dan bisa berdampak buruk pada kariernya.Dia harus mencari tahu kebenarannya.Maxwell meneruskan ta

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 22

    Tiga kata terakhir itu diucapkan Jeffry dengan perlahan, satu per satu.Setiap kata seolah mengetuk langsung ke dalam hati Shelly.Dia menundukkan pandangan, matanya jatuh pada jakun Jeffry yang bergerak naik turun.Aura seksi dan bahaya terpancar darinya, seketika membungkus Shelly tanpa celah.She

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 21

    Meskipun dia sudah mengambil cuti, kalau ada urusan pekerjaan, Pak Jeffry pasti akan mencarinya.Ponselnya memang disetel ke mode senyap, tapi hanya ada dua orang dalam daftar pengecualian, Saryna dan Jeffry. Jika mereka menelepon, tetap akan berdering.Shelly menarik napas tajam.Jangan-jangan … be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status