Share

Bab 38

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-04-29 22:10:53
Selesai akad dan acara sungkeman ke orang tua yang menguras air mata, pengantin baru itu diarahkan ke pelaminan. Eca kini duduk anggun di sana, senyum tipis tak pernah benar-benar lepas dari wajahnya.

Sejak tadi, kegiatannya hanya berulang, dari duduk, berdiri, lalu kembali duduk ketika tetangga dan para kerabat datang silih berganti. Menyalami, mengucapkan selamat, dan mendoakan kebaikan serta keberkahan untuk pernikahan mereka.

Tangannya nyaris tak berhenti berpindah dari satu genggaman ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Ummi Syahrul
please thor.. updatenya byk sikit..jgn gini2.. satu hari menanti 1 bab aja dapatnya
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
jangan lama lama ah cs nya Eca... segera bubar
goodnovel comment avatar
Kharamiza
teman-teman, aku update 1 dulu ya, lagi chaos banget akhir-akhir ini. betewe, ntar ada insiden di bab besoknya yayy hehe. entahkah insiden lucu, tragis, atau apalah, rahasia ... tungguin yakk~
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 144

    Eca mengernyit semakin dalam. Surat? Ia sama sekali tidak ingat pernah menerima surat dari Fajar. Bahkan setelah mencoba mengingat kejadian sebelum keberangkatannya ke Jakarta, tetap tidak ada apa pun yang muncul di kepalanya. Tapi ia ingat satu hal, pagi itu rumahnya sudah sangat sibuk karena keberangkatannya ke Jakarta dipercepat sehari dari jadwal. Barang-barangnya sudah dimasukkan ke mobil, sementara Eca sendiri sudah duduk di kursi penumpang ketika melihat seseorang datang dari arah jalan. Dia Fajar. Pria itu mengendarai motor bututnya melewati lorong menuju rumahnya. Saat itu, Eca hanya mengira Fajar mungkin hendak ke rumah Ihsan. Mereka teman sejak SMP, jadi keberadaan Fajar di sekitar rumah itu bukan sesuatu yang aneh. Namun, Eca tidak sempat berbicara dengannya karena mobil sudah lebih

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 143

    Air mata yang sejak tadi mati-matian Eca tahan akhirnya jatuh juga. Bahkan, ia belum sanggup mengatakan apa pun ketika Ihsan kembali bicara.“Saya nggak bermaksud bicara begitu ke Neng,” kata Ihsan sambil terus memeluk Eca dari belakang.Lengannya melingkar erat di pinggang Eca, tetapi kali ini tidak terasa mengekang. Malah seperti seseorang yang sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang hampir terlepas dari tangannya.Eca tetap diam.Dada yang sejak tadi sudah terasa penuh justru semakin sesak.Pelukan itu seharusnya membuatnya tenang. Seperti biasa, setiap kali Ihsan memeluknya, Eca selalu merasa ada tempat untuk pulang.Dan bagian paling menyebalkan dari semuanya, Eca ingin sekali berbalik.Ingin menyandarkan wajahnya ke dada suaminya, lalu membiarkan pria itu memeluknya sampai tangisnya mereda.Namun, kedua tangannya tetap menggantung di sisi tubuh, tanpa membalas pelukan Ihsan.Setelah beberapa detik, Eca menarik napas panjang. Ia tidak ingin berlama-lama dalam pelukan yang jus

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 142

    Eca nyaris melongo, seolah isi kepalanya berhenti bekerja setelah mendengar pertanyaan suaminya.Dalam beberapa detik itu, ia sungguh tak bisa mencerna.Masih berarti?Berarti bagaimana maksud Ihsan?Eca sampai memandangi wajah sang suami sepersekian detik, berharap tadi itu ia hanya salah dengar. Namun, sorot mata Ihsan tak berubah sedikit saja.Karena sikap tenang itu membuat dada Eca terasa sesak.Selama ini, ia tak pernah menganggap Fajar lebih dari seorang teman. Itu pun karena pria itu berteman dengan Ihsan.Kalau bukan karena Ihsan berteman dengannya, mungkin ia dan Fajar tak akan pernah saling mengenal.Lantas, mengapa pertanyaan seperti itu bisa keluar dari mulut suaminya?Ia nyaris sulit mempercayainya.“Masih berarti?” Eca mengulang hampir berbisik. Dahinya mengernyit dalam. “Akang ngomong apa barusan?”Ihsan tak segera menjawab.Matanya yang semula menatap Eca kemb

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 141

    Rasanya, jantung Eca seperti dipukul mendadak mendengar ucapan Ihsan.Ia masih berdiri mematung di balik tembok koridor, bahkan nyaris lupa bernapas.Apa maksud Ihsan berkata seperti itu?Alisnya bertaut tipis. Kalimat Ihsan barusan seolah terus berputar di kepalanya.“Berhenti cari perhatian istri saya.”Siapa yang cari perhatian?Kenapa pria itu bisa berpikiran begitu soal Fajar?Tadi, saat melihat mereka dari balik jendela ruang guru, Eca sempat mengira Ihsan dan Fajar hanya mengobrol soal pencalonan kepala desa atau hal lain yang mungkin dibahas para pria kalau bertemu teman.Ternyata, mereka justru sedang membicarakan dirinya.Astaga. Semakin Eca memikirkannya, kepalanya malah dipenuhi banyak tanda tanya. Sampai jemarinya ikut meremas kuat ujung bajunya tanpa sadar.Belum sempat ia mencerna semuanya ketika suara Ihsan kembali terdengar.“Saya cuma nyampein.”Ada

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 140

    Eca masih berdiri mematung di tempatnya. Genggaman tangannya di ujung buku itu sedikit menguat, bahkan arah matanya tak lepas dari sosok Ihsan yang berdiri di ujung koridor.Jantungnya berdetak kian cepat, nyaris seperti ia baru saja mengikuti lomba lari.Seketika, ingatan Eca ketika dirinya dan Ihsan berada di hotel pada saat lomba kemarin kembali memenuhi kepalanya.“Saya nggak suka.”“Nggak suka aku dekat-dekat Kang Fajar?”“Nggak suka Fajar.”“Ngobrol mah ngobrol aja, Neng,” lanjut Ihsan waktu itu dengan wajah nyaris tanpa emosi. “Nggak harus sampai berdiri deket terus ketawa-ketawa begitu.”Eca menelan ludah yang terasa cekat di tenggorokannya.Barusan, ia memang terlihat sangat akrab dengan Fajar, bahkan sempat membungkuk bersamaan sampai tangan mereka bersentuhan sejenak.Walaupun semua itu murni kebetulan, karena sama-sama ingin membantu siswa mengambil bukunya, tetapi dari posisi Ihsan berdiri sekarang bisa saja terlihat berbeda.Eca memang kecewa sama Ihsan yang sudah menye

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 139

    Kegiatan supervisi hari itu selesai menjelang siang. Kepala sekolah bersama rombongan dari Dinas Pendidikan keluar lebih dulu dari salah satu kelas sambil membicarakan beberapa catatan hasil supervisi.Eca menyusul beberapa langkah di belakang sambil memeluk dua buku paket di dada. Ia bukan sengaja berjalan paling akhir, hanya saja langkahnya belum bisa benar-benar lebar sejak kecelakaan kemarin. Benar kata Ihsan, kalau kakinya memang masih perlu adaptasi lagi.“Eca.” Panggilan itu membuat langkahnya berhenti.Ia menoleh.Terlihat Fajar mempercepat langkah hingga akhirnya berjalan sejajar di sampingnya. Seragam dinas cokelat khaki yang dikenakannya tampak sedikit kusut di bagian lengan, mungkin karena sejak pagi sudah dipakai beraktivitas.Fajar memang termasuk dari salah satu rombongan supervisi itu.“Kang Fajar,” sapa Eca sambil tersenyum ramah.Pria itu tak menjawab, namun pandangannya lebih dulu turun ke arah kaki Eca sejenak, sebelum kembali ke wajahnya.“Kata guru-guru tadi ...

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 54

    Saat Eca masih sibuk mencari alasan, Ihsan mendadak menyahut lebih dulu.“Harus aktif ikut kegiatan-kegiatan desa yang melibatkan warga juga, Pah,” ujarnya tenang.Eca spontan menoleh dengan napas yang masih tertahan.Untung saja pria itu cepat tanggap.

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 52

    Kini giliran Eca yang benar-benar menatap Ihsan dengan penuh keheranan.Pertanyaan macam apa itu?Bukankah sejak awal memang itu salah satu alasan mereka memutuskan menikah?Selain mempertahankan rumah, juga untuk memperbaiki citra Ihsan saat pencalonan kepala desa. Kesepakatan mereka jelas berhubu

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 49

    “Aa Ican?” panggil suara itu lagi. “Mana atuh kunci motorna? Katanya baju Teh Eca rek dijemput.”Eca langsung melotot ke arah Ihsan yang tampak hendak bangkit.“Jangan buka pintu!” bisiknya galak sambil masih berusaha menutupi tubuh seadanya.Ihsan menahan napas sejenak, lalu mengangguk kecil tanpa

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 41

    Eca mematung sejenak, mengingat kembali aktivitasnya sebelum ini. Otaknya seperti mundur beberapa menit ke belakang. Tadi … setelah membersihkan wajahnya, ia memang melepas kebaya. Termasuk … yang di dalamnya. Semua diletakkan di kasur begitu saja, karena pikirnya ia hanya akan sebentar ke kam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status