LOGIN“Bagaimana kalau kita menikah kontrak?” Eca ingin mempertahankan rumah peninggalan ayahnya yang terancam digusur, sehingga harus terlibat pernikahan kontrak dengan teman masa kecilnya—Ihsan yang juga butuh citra sebagai pria stabil untuk memenangkan pemilihan kepala desa. Awalnya hanya kesepakatan tanpa perasaan. Namun, hidup serumah dengan Ihsan, terasa jauh lebih rumit dari yang Eca bayangkan.
View More“Kamu hanya pembawa sial! Sejak kamu datang ke hidup anak saya, nasibnya jadi begini!”
Eca tersentak ketika kalimat tajam itu tiba-tiba terlintas kembali di kepalanya. Tangannya yang sejak tadi mengelap sofa ruang tengah langsung terhenti, kain lap itu menggantung kaku di ujung jemarinya. Seharusnya, minggu ini ia sudah jadi pengantin. Namun, rencana tetaplah rencana. Satu minggu sebelum pernikahan, calon suaminya justru mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulang kakinya patah. Eca sebenarnya bersedia menerima keadaan itu, bahkan dalam hati ia sudah berjanji akan merawat pria itu sampai benar-benar pulih. Sayangnya, keluarga calon suaminya justru menganggap semua musibah itu terjadi karena Eca membawa kesialan. Lebih menyakitkan lagi, pria yang sudah tiga tahun bersamanya hanya diam saat Eca dimaki-maki. Tak satu pun kalimat keluar dari mulutnya untuk sekadar membela, seolah hubungan mereka tak pernah berarti apa-apa. Pada akhirnya, Eca menyerah. Ia sadar, tak lagi punya tempat di hati pria itu, apalagi di keluarganya. Eca memilih mundur dan pulang ke desa, berharap hidupnya perlahan bisa melupakan kejadian menyakitkan itu. Untuk apa juga bertahan sama orang yang sudah tidak mengharapkannya? Eca mengembuskan napas panjang, lalu kembali menepuk-nepuk permukaan sofa. Debu tipis beterbangan sebelum jatuh ke lantai yang belum disapu. Setelah itu, ia mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai sampai teras. Rumah ini memang sudah lama kosong, jadi hampir semua sudutnya dipenuhi debu dan bau lembab samar yang menyambutnya sejak ia tiba kemarin. Di depan rumah, beberapa ibu-ibu sudah berkumpul di sekitar gerobak sayur yang baru datang. Pedagang sayur itu sesekali meneriakkan dagangannya dengan suara lantang. “Ikan asin! Kangkung! Tomat murah!” Plastik kresek berkeresek saat ibu-ibu sibuk memilih sayur di atas gerobak, sesekali juga terdengar suara tawar menawar yang tak kalah lantang. Ayam milik tetangga berkokok dari halaman sebelah, seakan ikut meramaikan suasana pagi. “Eh, Neng Eca, kapan datang?” Salah satu Ibu menoleh ke arahnya. Namanya Bi Lastri. Ia berdiri di dekat pagar rumah Eca yang sudah mulai keropos dimakan usia. Walau sudah lama meninggalkan desa, Eca tentu masih hafal nama-nama tetangganya di sini. “Baru kemarin, Bi.” “Oh, mau berapa lama nginapnya, Neng?” tanya Bi Lastri sambil berjalan ke arah gerobak sayur yang tak jauh dari sana. Eca mengerutkan kening sedikit. “Aku udah mutusin buat tinggal di sini, Bibi. Ngerawat rumah peninggalan Bapak.” Beberapa ibu-ibu langsung saling melirik. Bi Lastri sendiri terlihat ragu-ragu, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya berkata, “Lah … katanya rumahmu kena daftar penggusuran. Neng Eca belum tahu, ya?” Sapu di tangan Eca langsung berhenti bergerak. Pandangannya beralih ke rombongan ibu-ibu yang masih sibuk berbelanja, sesekali berbisik satu sama lain. ”Gimana maksudnya, Bi?” “Di desa ini mau ada proyek desa wisata,” jelas Bi Lastri. “Jalan mau diperlebar, Neng. Rumah yang dipinggir jalan banyak yang kena.” Salah satu ibu lain langsung menyela dari dekat gerobak. “Katanya sih ada dana ganti rugi buat rumah yang kena.” Mendengar itu, Bi Lastri buru-buru menimpali, “Tapi Neng Eca mah susah ….” Ia menatap rumah itu sebentar. “Rumahnya sudah lama kosong. Takutnya dianggap sudah bukan warga tetap.” Perasaan lega yang sempat muncul di dada Eca seketika mengendur lagi. Baru satu hari ia kembali, dan rumah satu-satunya yang ia miliki sudah terancam hilang. Sial sekali hidupnya. “Tapi, coba Neng temuin Juragan Dasim,” kata Bi Lastri lagi, seolah baru teringat sesuatu. “Juragan Dasim?” “Iya.” Bi Lastri mengangguk kecil. “Sekarang urusan desa lewat dia. Proyek wisata ini juga dia yang memutuskan.” Ia menatap Eca sebentar, sebelum menambahkan dengan suara pelan. “Dia pasti bisa bantu … tapi biasanya ada syaratnya.” Eca terdiam. Tangannya tanpa sadar menggenggam sapu sedikit lebih erat. Ia tahu betul siapa Juragan Dasim. Di desa ini, hampir tidak ada orang yang tidak mengenalnya. Pria kaya raya, disegani, dan nyaris tidak pernah ada yang berani membantah keputusannya. Dan, sekarang rumahnya yang dipertaruhkan. Mau tidak mau, Eca harus berhadapan langsung dengan pria itu. “Apa pun itu syaratnya,” katanya akhirnya, “aku akan penuhi, asal rumah ini tidak digusur, Bi.”Eca mengangguk sebagai jawaban. Sudut bibirnya perlahan terangkat, seolah Ihsan juga harus tahu kalau ia benar-benar merasa tenang di tempat ini. “Di sini bagus, Kang,” katanya antusias. “Neng suka?” tanya Ihsan. “Suka banget.” “Hm.” Ihsan mengangguk kecil. “Syukurlah kalau suka. Berarti nggak sia-sia dibuat.” Eca terkekeh pelan. “Akang mau ngomong apa tadi?” Ihsan yang semula menatap lurus ke depan akhirnya menoleh padanya. Angin sore menggerakkan sedikit ujung rambutnya. “Neng mau makan apa malam ini?” Eca berkedip beberapa kali. Ia sempat mengira Ihsan ingin mengatakan sesuatu yang serius, sehingga menghampirinya di balkon. Ternyata soal makan. “Ih, kirain mau ngomong apa,” katanya, geli sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir, tidak ada yang salah juga. Sejak siang mereka sibuk mengatur barang dan membereskan rumah sampai tak terasa sore sudah menjelang malam. “Di kulkas ada apa aja, Kang?” gumam Eca sambil berpikir. “Tadi Mamah kayaknya isiin.” Siti memang
Subuh itu, Eca sempat menggeliat sesaat dari tidurnya. Bukan karena terganggu mendengar suara keras, tetapi malah sebaliknya. Suara pintu kamar yang berderit pelan membuat kesadarannya mengambang di antara bangun dan tidur. Matanya tetap terpejam. Namun, samar-samar ia merasa seseorang seperti baru saja masuk ke kamar. Hanya saja, matanya terasa terlalu berat untuk dibuka. Aroma khas seseorang bercampur udara dingin subuh perlahan menguar di dekatnya. Beberapa saat kemudian, sesuatu yang hangat menyentuh keningnya, lalu ke bibirnya sekilas. Kecupan yang begitu singkat, sampai Eca sempat mengira dirinya hanya sedang bermimpi. Tak lama setelah itu, ia merasakan selimut ditarik perlahan hingga menutupi bahunya. Kesadarannya yang sempat muncul kembali tenggelam oleh kehangatan yang terasa nyaman itu. Eca pun kembali tertidur. Saat akhirnya benar-benar membuka mata, cahaya pagi sudah masuk melalui celah gorden. Eca berkedip beberapa kali. Barulah ia tersadar kalau Ih
Mata Ihsan sedikit memicing. Ia nampak masih menunggu apa yang hendak diucapkan istrinya itu.“Malam ini, aku ….”Astaga.Kenapa jadi susah sekali mengatakannya?Padahal, kalimat itu sudah berkali-kali ia susun dalam kepala sejak sore tadi.Namun, sekarang lidahnya mendadak terasa kaku.Jantungnya bahkan kini berdebar lebih kencang, seperti baru saja diajak lari maraton.“Apa, Neng?” tanya Ihsan.“Aku mau ….”Tok. Tok. Tok!Suara ketukan dari pintu depan rumah tiba-tiba terdengar.Tubuh Eca refleks mematung. Kata-kata yang sudah tersusun di kepalanya makin buyar saja, terlebih perhatian mereka yang langsung teralihkan begitu saja.Tok. Tok. Tok.Ketukan itu terdengar lagi.“Sebentar, Neng. Ada yang datang.”Pria itu bergegas melangkah keluar.“Eh ….”Eca sempat mengangkat tangan seperti ingin menahan suaninya itu. Hanya saja, terlambat.Ihsan sudah lebih dulu menghilang di balik pintu kamar.Suasana mendadak sunyi.Beberapa detik berlalu. Eca menjatuhkan wajah ke kedua telapak tangan
Entah hanya perasaan Eca saja atau memang sore itu terasa berlalu jauh lebih cepat dari biasanya. Tahu-tahu malam perlahan datang.Sekarang, ia sudah duduk di depan meja rias sejak beberapa menit yang lalu.Tangannya sibuk merapikan rambut yang sebenarnya sudah rapi. Sesekali ia memperhatikan bayangannya sendiri di cermin, lalu kembali menunduk karena tiba-tiba saja ia merasa sangat malu.Huh.Kenapa juga ia jadi gugup begini?Padahal sejak sore tadi ia sudah membulatkan tekad kalau malam ini ia tidak mau mundur lagi.Ihsan sudah berusaha banyak untuk pernikahan mereka.Sekarang, gilirannya.Lagipula, hubungan tidak mungkin berjalan kalau hanya satu orang yang terus melangkah maju.Piyama yang dikenakannya malam ini adalah piyama satin baru. Salah satu hadiah pernikahan dari temannya yang baru sempat ia pakai sekarang.Warnanya lembut. Tidak mencolok. Namun, tetap membuatnya terlihat berbeda dari biasanya.Eca bahkan diam-diam memakai sedikit parfum yang biasanya hanya digunakan saat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore