LOGINMenjelang sore, Eca menepikan motornya di dekat pagar rumah besar milik Juragan Dasim.
Langkahnya sempat terhenti saat melihat pemandangan rumah itu. Tadi pagi, ia memang terdengar begitu yakin akan memenuhi apa pun syarat yang diberikan asal rumahnya tidak digusur. Namun, melihat rumah yang begitu mencolok di antara rumah warga lain, halaman luas, pagar besinya tinggi, dan beberapa motor serta mobil terparkir rapi di samping, justru membuat perasaannya mendadak tak tenang. Apakah mungkin juragan itu mau membantunya? Ia merapikan ujung bajunya. Dengan satu tarikan napas, Eca akhirnya melangkah masuk. “Permisi .…” Pria paruh baya yang duduk di kursi rotan teras menoleh sekilas, lalu kembali membaca koran. Perutnya tampak menonjol di balik kemeja yang sedikit terbuka di bagian atas. Di tangannya ada gelas kopi. Di atas meja kecil di depannya, beberapa bungkus rokok berserakan. “Siapa?” tanyanya santai. “Saya … Ayesha, Juragan. Anaknya almarhum Pak Rahmat.” Eca menjawab sopan. “Oh .…” Juragan Dasim menurunkan koran yang menutupi wajahnya. Matanya menyipit, memperhatikan Eca seakan memastikan sesuatu. “Duduk dulu.” Eca menurut. Ia duduk di ujung kursi rotan, punggungnya tegak, berusaha menjaga jarak. Sementara itu, Juragan Dasim masih memperhatikannya. Matanya naik turun di tubuh Eca tanpa malu-malu. Gadis itu pun refleks merapatkan tangan di depan tubuhnya. Dalam hati ia menggerutu sebal. ‘Ish … ini orang kenapa liatinnya begitu banget?’ “Ada perlu apa Neng Ayesha ke rumah saya?” Juragan Dasim memecah keheningan. “Begini, Juragan ….” Eca menatap lurus ke depan. “Saya dengar rumah saya masuk daftar penggusuran untuk proyek desa.” Ia menarik napas sejenak, sebelum melanjutkan, “Rumah itu satu-satunya peninggalan ayah saya, Juragan.” ”Jadi … saya memohon bantuan Juragan. Sebagai PLT Desa, juga orang yang paling disegani di Desa Mekarluyu … saya berharap rumah saya bisa dipertahankan.” “Hm .…” Juragan Dasim bangkit dari kursinya, berjalan pelan ke ujung teras. Kedua tangannya ditaruh di belakang punggung. “Bisa.” Eca ikut bangkit. Raut wajahnya berubah sumringah. Juragan Dasim menoleh. “Tapi, aya syaratna.” “Saya mengerti, Juragan.” Pria itu mengulas senyum tipis. “Yang bisa dipertahankan itu rumah milik warga tetap.” “Yang sudah berkeluarga,” tambahnya santai. Eca mengangguk pelan. Beberapa saat ia membisu, berusaha mencerna. Kalau hanya menjadi warga tetap sebenarnya tidak sulit, tetapi berkeluarga? Masalahnya, ia masih lajang. Baru kemarin gagal menikah. Tidak mungkin juga ia menyeret pria random untuk menikahinya, kan? Otomatis dari syarat itu saja sudah tidak bisa dipenuhi. Huh. Menyebalkan! “Tapi .…” Juragan Dasim menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak. Eca mengangkat kepala. Harapan yang tadi sempat pupus, kembali tumbuh. “Untuk gadis perawan secantik kamu … ada cara lain.” Eca mengernyit. Perasaan tidak nyaman tiba-tiba menjalar di perutnya mendengar ucapan Juragan Dasim. Kenapa coba tiba-tiba membahas hal seperti itu? Apa hubungannya dengan rumahnya? “A-apa itu caranya, Pak?” tanyanya mulai ragu. Alih-alih langsung menjawab, Juragan Dasim justru berjalan mendekat ke arah Eca sambil mengusap-usap kumis tebalnya. Langkahnya pelan, memutari tubuh Eca perlahan seakan sedang menilai, hingga gadis itu sontak menegang. Hingga akhirnya, pria itu berhenti tepat di belakangnya. Eca bisa merasakan napasnya yang begitu dekat, membuat bulu kuduknya langsung meremang. “Jadi istri saya,” bisiknya, tepat di dekat telinga Eca. “Istri keempat.” Eca nyaris terlonjak, namun tubuhnya mendadak kaku. Beberapa detik, ia bahkan tidak mampu bergerak sama sekali. Perlahan, ia menoleh. Napasnya seketika tertahan saat mendapati Juragan Dasim berdiri jauh lebih dekat dari yang ia kira. Eca sontak menggeser tubuhnya menjauh. “Maaf … Juragan,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar. Juragan Dasim terkekeh tanpa rasa bersalah, seolah penawaran itu bukan hal aneh baginya. “Tidak perlu kaget begitu, atuh” katanya santai. “Neng Eca tenang saja. Hidupmu bakal terjamin nikah sama saya. Rumahmu juga aman.” Tangannya terulur, tiba-tiba mencolek pipi Eca. “Perawan seperti kamu mah saya suka … pasti lebih mantep dari istri-istri saya yang lain.” Eca refleks menepis tangan itu dan mundur satu langkah. “Maaf, Juragan … saya ke sini untuk minta bantuan, bukan untuk hal seperti itu.” Juragan Dasim mengangkat bahu. “Ya, itu syaratnya. Dipikir-pikir dulu aja.” Eca mengepalkan tangan tanpa sadar. Gila! Ini tua bangka benar-benar tidak tahu diri. Tahu syaratnya begitu, dari awal ia tidak akan pernah mau menemuinya. Sudah punya istri tiga, masih juga belum cukup. Rasanya Eca ingin menarik ucapannya tadi pagi, yang katanya akan memenuhi apa pun syaratnya, sekarang bahkan apa pun ia tidak akan mau. Apalagi, harus menjadi istri pria yang lebih cocok jadi kakeknya. “Kalau begitu … saya permisi, Juragan.” Eca masih menjaga nada bicaranya agar tetap sopan, walau sebenarnya mulutnya sudah gatal ingin memaki-maki. Ia tidak menunggu jawaban. Langsung berbalik dan melangkah cepat meninggalkan teras. Angin sore menerpa wajahnya saat ia melajukan motor meninggalkan halaman rumah Juragan Dasim. Jujur, ia sangat kesal, malu, jijik sekaligus. Menjadi istri keempat, sungguh penawaran yang tidak waras. Tangannya menggenggam setang motor lebih erat sambil menggerutu dalam hati. Amit-amit, kayak tidak ada pria lain saja di dunia ini. Ia mendengkus pelan. Setelah ini, sepertinya Eca harus mencari cara lain untuk mempertahankan rumahnya. Tua bangka itu tidak bisa diharapkan. Kayaknya di otaknya tidak ada yang lain selain urusan ranjang. Motor melaju di jalan desa yang lengang. Di kiri kanan, hamparan sawah terbentang hijau. Beberapa petani masih terlihat mengarit di kejauhan. Sepanjang jalan, pikirannya terasa penuh sesak, sampai-sampai ia tak terlalu fokus memperhatikan jalan di depannya. Ia pun tak sadar dua ekor itik tiba-tiba melintas, menggeol-geol ekornya. “Eh—!” Eca refleks menekan rem, lalu membanting setang. Sayangnya, motornya telanjur oleng. “Ya Tuhan!” pekiknya panik. Motor itu melaju tak terkendali ke arah dua pria yang sedang berjalan di pinggir jalan. Brak! Salah satu dari mereka tanpa sengaja tersenggol. Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan dan terlempar ke sawah. Byur! Lumpur dan air terciprat ke mana-mana. Keadaan Eca sendiri tidak lebih baik. Motornya miring dan tubuhnya terpental ke samping, tersangkut di batang pohon jambu kecil di pinggir jalan. “Aduh!” Ia meringis, mencoba melepaskan diri. Sementara itu, pria satunya langsung beralih membantu Eca. “Neng … Neng nggak apa-apa?” tanyanya. Eca akhirnya berhasil berdiri, meski bajunya sedikit kotor. Ia menoleh ke arah pria yang menolongnya dan seketika itu juga mulutnya sedikit terbuka. Tatapan mereka bertemu sekilas, waktu pun seakan melambat saat itu. “Ihsan …?” ujar Eca pelan.Eca nyaris melongo, seolah isi kepalanya berhenti bekerja setelah mendengar pertanyaan suaminya.Dalam beberapa detik itu, ia sungguh tak bisa mencerna.Masih berarti?Berarti bagaimana maksud Ihsan?Eca sampai memandangi wajah sang suami sepersekian detik, berharap tadi itu ia hanya salah dengar. Namun, sorot mata Ihsan tak berubah sedikit saja.Karena sikap tenang itu membuat dada Eca terasa sesak.Selama ini, ia tak pernah menganggap Fajar lebih dari seorang teman. Itu pun karena pria itu berteman dengan Ihsan.Kalau bukan karena Ihsan berteman dengannya, mungkin ia dan Fajar tak akan pernah saling mengenal.Lantas, mengapa pertanyaan seperti itu bisa keluar dari mulut suaminya?Ia nyaris sulit mempercayainya.“Masih berarti?” Eca mengulang hampir berbisik. Dahinya mengernyit dalam. “Akang ngomong apa barusan?”Ihsan tak segera menjawab.Matanya yang semula menatap Eca kemb
Rasanya, jantung Eca seperti dipukul mendadak mendengar ucapan Ihsan.Ia masih berdiri mematung di balik tembok koridor, bahkan nyaris lupa bernapas.Apa maksud Ihsan berkata seperti itu?Alisnya bertaut tipis. Kalimat Ihsan barusan seolah terus berputar di kepalanya.“Berhenti cari perhatian istri saya.”Siapa yang cari perhatian?Kenapa pria itu bisa berpikiran begitu soal Fajar?Tadi, saat melihat mereka dari balik jendela ruang guru, Eca sempat mengira Ihsan dan Fajar hanya mengobrol soal pencalonan kepala desa atau hal lain yang mungkin dibahas para pria kalau bertemu teman.Ternyata, mereka justru sedang membicarakan dirinya.Astaga. Semakin Eca memikirkannya, kepalanya malah dipenuhi banyak tanda tanya. Sampai jemarinya ikut meremas kuat ujung bajunya tanpa sadar.Belum sempat ia mencerna semuanya ketika suara Ihsan kembali terdengar.“Saya cuma nyampein.”Ada
Eca masih berdiri mematung di tempatnya. Genggaman tangannya di ujung buku itu sedikit menguat, bahkan arah matanya tak lepas dari sosok Ihsan yang berdiri di ujung koridor.Jantungnya berdetak kian cepat, nyaris seperti ia baru saja mengikuti lomba lari.Seketika, ingatan Eca ketika dirinya dan Ihsan berada di hotel pada saat lomba kemarin kembali memenuhi kepalanya.“Saya nggak suka.”“Nggak suka aku dekat-dekat Kang Fajar?”“Nggak suka Fajar.”“Ngobrol mah ngobrol aja, Neng,” lanjut Ihsan waktu itu dengan wajah nyaris tanpa emosi. “Nggak harus sampai berdiri deket terus ketawa-ketawa begitu.”Eca menelan ludah yang terasa cekat di tenggorokannya.Barusan, ia memang terlihat sangat akrab dengan Fajar, bahkan sempat membungkuk bersamaan sampai tangan mereka bersentuhan sejenak.Walaupun semua itu murni kebetulan, karena sama-sama ingin membantu siswa mengambil bukunya, tetapi dari posisi Ihsan berdiri sekarang bisa saja terlihat berbeda.Eca memang kecewa sama Ihsan yang sudah menye
Kegiatan supervisi hari itu selesai menjelang siang. Kepala sekolah bersama rombongan dari Dinas Pendidikan keluar lebih dulu dari salah satu kelas sambil membicarakan beberapa catatan hasil supervisi.Eca menyusul beberapa langkah di belakang sambil memeluk dua buku paket di dada. Ia bukan sengaja berjalan paling akhir, hanya saja langkahnya belum bisa benar-benar lebar sejak kecelakaan kemarin. Benar kata Ihsan, kalau kakinya memang masih perlu adaptasi lagi.“Eca.” Panggilan itu membuat langkahnya berhenti.Ia menoleh.Terlihat Fajar mempercepat langkah hingga akhirnya berjalan sejajar di sampingnya. Seragam dinas cokelat khaki yang dikenakannya tampak sedikit kusut di bagian lengan, mungkin karena sejak pagi sudah dipakai beraktivitas.Fajar memang termasuk dari salah satu rombongan supervisi itu.“Kang Fajar,” sapa Eca sambil tersenyum ramah.Pria itu tak menjawab, namun pandangannya lebih dulu turun ke arah kaki Eca sejenak, sebelum kembali ke wajahnya.“Kata guru-guru tadi ...
Bibir Eca seketika mengerucut sebal. Pipinya mendadak hangat setelah ulah Ihsan barusan. Untung saja ia masih sempat menundukkan kepala sebelum rona merah itu benar-benar terlihat jelas.Huh. Orang lagi kesak, dia malah cium tangan segala, tanpa merasa bersalah pula.Cepat-cepat Eca menarik napas, lalu turun dari mobil. Namun baru beberapa langkah menjauh, suara Ihsan kembali terdengar dari belakang.“Neng.”Eca berhenti, tetapi tak segera menoleh.“Neng hati-hati di sekolah.”Baru setelah mendengar itu, ia menoleh sedikit. Tatapan Ihsan kini berpindah ke pergelangan kakinya yang sempat keseleo.“Jangan kebanyakan jalan dulu. Kakinya masih adaptasi."Eca menggigit bibir bawahnya sebentar, sedikit terharu dengan perhatian Ihsan, tetapi ia segera menyadarkan diri kalau hubungannya dengan pria itu lagi dingin.“Iya,” jawabanya singkat.Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera melangkah menuju halaman kantor.“Bu Ayesh!” Panggilan itu membuat langkah Acha kembali terhenti.Bu Fatimah d
Keesokan paginya, Eca sudah bersiap kembali mengajar. Tas kecilnya telah tersampir di bahu ketika ia melangkah keluar rumah.Ia menarik napas pelan sebelum menaiki motornya. Pergelangan kaki kirinya memang masih sedikit pegal, tetapi sudah jauh lebih baik dibanding beberapa hari lalu.Eca buru-buru memasukkan kunci ke lubang kontak. Kalau bisa, ia ingin sudah berada di sekolah sebelum Ihsan sempat keluar rumah.Setidaknya ... pagi ini ia belum siap berhadapan terlalu lama dengan suaminya.Sayangnya, baru saja ia memutar kunci kontak, sebuah tangan tiba-tiba menahan setang motornya.“Neng.”Eca mendongak.Ihsan sudah berdiri di samping motor dengan raut wajah yang tampak sulit dibantah.“Saya antar saja.”“Nggak usah, Kang.” Eca menjawab cepat, nyaris seperti sengaja menghindar. “Aku bisa berangkat sendiri.”Ihsan bergeming. Tatapannya justru turun ke arah kaki sang istri, sebelum kembali naik ke wajah Eca.“Kaki Neng belum sembuh sepenuhnya.”“Aku bisa, kok.”“Nggak,” potong Ihsan teg
Berkebalikan dengan Eca yang hatinya mulai meradang sendiri, Ihsan justru tampak tenang seperti biasa.“Terima kasih, Asih, tapi lain kali saja,” jawabnya santai.“Yaelah, sekali-sekali atuh main ke rumah.” Wanita itu tersenyum sambil menatap Ihsan penuh harap. “Mamah juga pasti senang kalau tahu k
Melihat dua siswi berantem sampai jambak-jambakan begitu malah membuat kepala Eca ikut pening.Terkadang perempuan memang sangat aneh. Sama-sama disakiti, tetapi yang adu jotos sampai saling menjatuhkan malah sesama perempuan.Eca menatap dua siswi itu bergantian. Kerudung
Cahaya matahari sudah menyusup dari sela-sela gorden saat Eca membuka matanya keesokan pagi. Ia berkedip beberapa kali. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu, ketika ingatan itu datang begitu saja. Eca spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Asta
Kalimat itu seperti menghantam telak kepala Eca berkali-kali. Periksa ke bidan? Tubuhnya hampir goyah, tetapi ia segera mencari tangan Ihsan di sampingnya lalu menggenggamnya erat, seakan takut jatuh jika tidak berpegangan. Jemarinya terasa dingin, bahkan telapak tangannya mulai lembap oleh keri







