Share

Pak Kades, Nikah, Yuk!
Pak Kades, Nikah, Yuk!
Penulis: Kharamiza

Bab 1

Penulis: Kharamiza
last update Tanggal publikasi: 2026-03-31 20:35:39

“Kamu hanya pembawa sial! Sejak kamu datang ke hidup anak saya, nasibnya jadi begini!”

Eca tersentak ketika kalimat tajam itu tiba-tiba terlintas kembali di kepalanya.

Tangannya yang sejak tadi mengelap sofa ruang tengah langsung terhenti, kain lap itu menggantung kaku di ujung jemarinya.

Seharusnya, minggu ini ia sudah jadi pengantin.

Namun, rencana tetaplah rencana. Satu minggu sebelum pernikahan, calon suaminya justru mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulang kakinya patah. 

Eca sebenarnya bersedia menerima keadaan itu, bahkan dalam hati ia sudah berjanji akan merawat pria itu sampai benar-benar pulih.

Sayangnya, keluarga calon suaminya justru menganggap semua musibah itu terjadi karena Eca membawa kesialan. 

Lebih menyakitkan lagi, pria yang sudah tiga tahun bersamanya hanya diam saat Eca dimaki-maki. 

Tak satu pun kalimat keluar dari mulutnya untuk sekadar membela, seolah hubungan mereka tak pernah berarti apa-apa.

Pada akhirnya, Eca menyerah. Ia sadar, tak lagi punya tempat di hati pria itu, apalagi di keluarganya.

Eca memilih mundur dan pulang ke desa, berharap hidupnya perlahan bisa melupakan kejadian menyakitkan itu.

Untuk apa juga bertahan sama orang yang sudah tidak mengharapkannya?

Eca mengembuskan napas panjang, lalu kembali menepuk-nepuk permukaan sofa. Debu tipis beterbangan sebelum jatuh ke lantai yang belum disapu.

Setelah itu, ia mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai sampai teras.

Rumah ini memang sudah lama kosong, jadi hampir semua sudutnya dipenuhi debu dan bau lembab samar yang menyambutnya sejak ia tiba kemarin.

Di depan rumah, beberapa ibu-ibu sudah berkumpul di sekitar gerobak sayur yang baru datang.

Pedagang sayur itu sesekali meneriakkan dagangannya dengan suara lantang.

“Ikan asin! Kangkung! Tomat murah!”

Plastik kresek berkeresek saat ibu-ibu sibuk memilih sayur di atas gerobak, sesekali juga terdengar suara tawar menawar yang tak kalah lantang.

Ayam milik tetangga berkokok dari halaman sebelah, seakan ikut meramaikan suasana pagi.

“Eh, Neng Eca, kapan datang?” 

Salah satu Ibu menoleh ke arahnya. Namanya Bi Lastri. Ia berdiri di dekat pagar rumah Eca yang sudah mulai keropos dimakan usia.

Walau sudah lama meninggalkan desa, Eca tentu masih hafal nama-nama tetangganya di sini.

“Baru kemarin, Bi.”

“Oh, mau berapa lama nginapnya, Neng?” tanya Bi Lastri sambil berjalan ke arah gerobak sayur yang tak jauh dari sana.

Eca mengerutkan kening sedikit.

“Aku udah mutusin buat tinggal di sini, Bibi. Ngerawat rumah peninggalan Bapak.”

Beberapa ibu-ibu langsung saling melirik.

Bi Lastri sendiri terlihat ragu-ragu, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya berkata, “Lah … katanya rumahmu kena daftar penggusuran. Neng Eca belum tahu, ya?”

Sapu di tangan Eca langsung berhenti bergerak.

Pandangannya beralih ke rombongan ibu-ibu yang masih sibuk berbelanja, sesekali berbisik satu sama lain. 

”Gimana maksudnya, Bi?”

“Di desa ini mau ada proyek desa wisata,” jelas Bi Lastri. “Jalan mau diperlebar, Neng. Rumah yang dipinggir jalan banyak yang kena.”

Salah satu ibu lain langsung menyela dari dekat gerobak. “Katanya sih ada dana ganti rugi buat rumah yang kena.”

Mendengar itu, Bi Lastri buru-buru menimpali, “Tapi Neng Eca mah susah ….”

Ia menatap rumah itu sebentar. 

“Rumahnya sudah lama kosong. Takutnya dianggap sudah bukan warga tetap.”

Perasaan lega yang sempat muncul di dada Eca seketika mengendur lagi.

Baru satu hari ia kembali, dan rumah satu-satunya yang ia miliki sudah terancam hilang.

Sial sekali hidupnya.

“Tapi, coba Neng temuin Juragan Dasim,” kata Bi Lastri lagi, seolah baru teringat sesuatu.

“Juragan Dasim?”

“Iya.” Bi Lastri mengangguk kecil. “Sekarang urusan desa lewat dia. Proyek wisata ini juga dia yang memutuskan.”

Ia menatap Eca sebentar, sebelum menambahkan dengan suara pelan. “Dia pasti bisa bantu … tapi biasanya ada syaratnya.”

Eca terdiam. 

Tangannya tanpa sadar menggenggam sapu sedikit lebih erat.

Ia tahu betul siapa Juragan Dasim.

Di desa ini, hampir tidak ada orang yang tidak mengenalnya. Pria kaya raya, disegani, dan nyaris tidak pernah ada yang berani membantah keputusannya.

Dan, sekarang rumahnya yang dipertaruhkan. Mau tidak mau, Eca harus berhadapan langsung dengan pria itu.

“Apa pun itu syaratnya,” katanya akhirnya, “aku akan penuhi, asal rumah ini tidak digusur, Bi.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Alan Nasution
emng tanah dan rumahnya gak ada surat2nya? hidup di zaman apa ni ? apalagi ditinggal bru bbrapa thun , bukan puluhan tahun
goodnovel comment avatar
Kharamiza
haloo. selamat datang di cerita baru Ara, yaa. cerita kali ini latarnya pedesaan di sunda sana. namun, perlu diketahui bahwa nama, tempat, dan apa pun yang ada di cerita ini disamarkan. saya juga minta maaf jika penggunaan bahasa sunda-nya ada yang tidak sesuai~ harap maklum ....
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 142

    Eca nyaris melongo, seolah isi kepalanya berhenti bekerja setelah mendengar pertanyaan suaminya.Dalam beberapa detik itu, ia sungguh tak bisa mencerna.Masih berarti?Berarti bagaimana maksud Ihsan?Eca sampai memandangi wajah sang suami sepersekian detik, berharap tadi itu ia hanya salah dengar. Namun, sorot mata Ihsan tak berubah sedikit saja.Karena sikap tenang itu membuat dada Eca terasa sesak.Selama ini, ia tak pernah menganggap Fajar lebih dari seorang teman. Itu pun karena pria itu berteman dengan Ihsan.Kalau bukan karena Ihsan berteman dengannya, mungkin ia dan Fajar tak akan pernah saling mengenal.Lantas, mengapa pertanyaan seperti itu bisa keluar dari mulut suaminya?Ia nyaris sulit mempercayainya.“Masih berarti?” Eca mengulang hampir berbisik. Dahinya mengernyit dalam. “Akang ngomong apa barusan?”Ihsan tak segera menjawab.Matanya yang semula menatap Eca kemb

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 141

    Rasanya, jantung Eca seperti dipukul mendadak mendengar ucapan Ihsan.Ia masih berdiri mematung di balik tembok koridor, bahkan nyaris lupa bernapas.Apa maksud Ihsan berkata seperti itu?Alisnya bertaut tipis. Kalimat Ihsan barusan seolah terus berputar di kepalanya.“Berhenti cari perhatian istri saya.”Siapa yang cari perhatian?Kenapa pria itu bisa berpikiran begitu soal Fajar?Tadi, saat melihat mereka dari balik jendela ruang guru, Eca sempat mengira Ihsan dan Fajar hanya mengobrol soal pencalonan kepala desa atau hal lain yang mungkin dibahas para pria kalau bertemu teman.Ternyata, mereka justru sedang membicarakan dirinya.Astaga. Semakin Eca memikirkannya, kepalanya malah dipenuhi banyak tanda tanya. Sampai jemarinya ikut meremas kuat ujung bajunya tanpa sadar.Belum sempat ia mencerna semuanya ketika suara Ihsan kembali terdengar.“Saya cuma nyampein.”Ada

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 140

    Eca masih berdiri mematung di tempatnya. Genggaman tangannya di ujung buku itu sedikit menguat, bahkan arah matanya tak lepas dari sosok Ihsan yang berdiri di ujung koridor.Jantungnya berdetak kian cepat, nyaris seperti ia baru saja mengikuti lomba lari.Seketika, ingatan Eca ketika dirinya dan Ihsan berada di hotel pada saat lomba kemarin kembali memenuhi kepalanya.“Saya nggak suka.”“Nggak suka aku dekat-dekat Kang Fajar?”“Nggak suka Fajar.”“Ngobrol mah ngobrol aja, Neng,” lanjut Ihsan waktu itu dengan wajah nyaris tanpa emosi. “Nggak harus sampai berdiri deket terus ketawa-ketawa begitu.”Eca menelan ludah yang terasa cekat di tenggorokannya.Barusan, ia memang terlihat sangat akrab dengan Fajar, bahkan sempat membungkuk bersamaan sampai tangan mereka bersentuhan sejenak.Walaupun semua itu murni kebetulan, karena sama-sama ingin membantu siswa mengambil bukunya, tetapi dari posisi Ihsan berdiri sekarang bisa saja terlihat berbeda.Eca memang kecewa sama Ihsan yang sudah menye

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 139

    Kegiatan supervisi hari itu selesai menjelang siang. Kepala sekolah bersama rombongan dari Dinas Pendidikan keluar lebih dulu dari salah satu kelas sambil membicarakan beberapa catatan hasil supervisi.Eca menyusul beberapa langkah di belakang sambil memeluk dua buku paket di dada. Ia bukan sengaja berjalan paling akhir, hanya saja langkahnya belum bisa benar-benar lebar sejak kecelakaan kemarin. Benar kata Ihsan, kalau kakinya memang masih perlu adaptasi lagi.“Eca.” Panggilan itu membuat langkahnya berhenti.Ia menoleh.Terlihat Fajar mempercepat langkah hingga akhirnya berjalan sejajar di sampingnya. Seragam dinas cokelat khaki yang dikenakannya tampak sedikit kusut di bagian lengan, mungkin karena sejak pagi sudah dipakai beraktivitas.Fajar memang termasuk dari salah satu rombongan supervisi itu.“Kang Fajar,” sapa Eca sambil tersenyum ramah.Pria itu tak menjawab, namun pandangannya lebih dulu turun ke arah kaki Eca sejenak, sebelum kembali ke wajahnya.“Kata guru-guru tadi ...

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 138

    Bibir Eca seketika mengerucut sebal. Pipinya mendadak hangat setelah ulah Ihsan barusan. Untung saja ia masih sempat menundukkan kepala sebelum rona merah itu benar-benar terlihat jelas.Huh. Orang lagi kesak, dia malah cium tangan segala, tanpa merasa bersalah pula.Cepat-cepat Eca menarik napas, lalu turun dari mobil. Namun baru beberapa langkah menjauh, suara Ihsan kembali terdengar dari belakang.“Neng.”Eca berhenti, tetapi tak segera menoleh.“Neng hati-hati di sekolah.”Baru setelah mendengar itu, ia menoleh sedikit. Tatapan Ihsan kini berpindah ke pergelangan kakinya yang sempat keseleo.“Jangan kebanyakan jalan dulu. Kakinya masih adaptasi."Eca menggigit bibir bawahnya sebentar, sedikit terharu dengan perhatian Ihsan, tetapi ia segera menyadarkan diri kalau hubungannya dengan pria itu lagi dingin.“Iya,” jawabanya singkat.Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera melangkah menuju halaman kantor.“Bu Ayesh!” Panggilan itu membuat langkah Acha kembali terhenti.Bu Fatimah d

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 137

    Keesokan paginya, Eca sudah bersiap kembali mengajar. Tas kecilnya telah tersampir di bahu ketika ia melangkah keluar rumah.Ia menarik napas pelan sebelum menaiki motornya. Pergelangan kaki kirinya memang masih sedikit pegal, tetapi sudah jauh lebih baik dibanding beberapa hari lalu.Eca buru-buru memasukkan kunci ke lubang kontak. Kalau bisa, ia ingin sudah berada di sekolah sebelum Ihsan sempat keluar rumah.Setidaknya ... pagi ini ia belum siap berhadapan terlalu lama dengan suaminya.Sayangnya, baru saja ia memutar kunci kontak, sebuah tangan tiba-tiba menahan setang motornya.“Neng.”Eca mendongak.Ihsan sudah berdiri di samping motor dengan raut wajah yang tampak sulit dibantah.“Saya antar saja.”“Nggak usah, Kang.” Eca menjawab cepat, nyaris seperti sengaja menghindar. “Aku bisa berangkat sendiri.”Ihsan bergeming. Tatapannya justru turun ke arah kaki sang istri, sebelum kembali naik ke wajah Eca.“Kaki Neng belum sembuh sepenuhnya.”“Aku bisa, kok.”“Nggak,” potong Ihsan teg

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 14

    Eca masih menunduk diam. Detik demi detik terasa begitu berat untuk dilewati. Sunyi di ruang tamu itu seperti menekan dadanya pelan-pelan.Andai bisa, Eca bahkan ingin menghilang saja sekarang juga.Tatapan ibunya Ihsan yang sejak tadi tertuju padanya membuat nyalinya seketika ciut. Dulu, ia begit

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 6

    Eca mundur satu langkah, namun pria itu tetap saja maju, seakan tak peduli penolakan yang jelas dari gadis itu.Tanpa pikir panjang, kaki Eca langsung terangkat.Bugh!“AAARGH! Sialan!”Tubuh Juragan Dasim seketika membungkuk. Kedua tangannya refleks menutup selangkangan, wajahnya memerah menahan n

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 5

    Eca tertegun. Ucapan itu seperti berhenti di kepalanya, namun tak bisa langsung dicerna. Menikah? Dadanya tiba-tiba sedikit sesak. Rasanya, itu terlalu dekat dengan masalahnya sendiri. Ia menelan ludah dalam-dalam, lalu sedikit mengintip dari balik tembok. Ihsan terlihat diam sejenak. Wajah

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 4

    Eca masih terpaku di tempatnya. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, seolah enggan hilang. Ia menelan ludah pelan, mencoba mencerna. Ihsan … mencalonkan diri jadi kades? “Serius, Bi? Dulu ‘kan, Ihsan betul-betul pendiam? Kok tiba-tiba …” Sekarang … tiba-tiba mau memimpin satu desa? Ucapan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status