Masuk"Pakde jangan sedih, ada kami yang akan selalu ada untuk Pakde, di sini." Bayu, 39 tahun, Bapak Kos yang ganteng, sabar, dan terlalu baik dengan semua orang. Termasuk dengan istrinya. Tapi, kebaikan itu dibalas pengkhianatan. Uang yang Bayu berikan untuk modal bisnis, ternyata dipakai istrinya untuk menyewa brondong. Yang membongkar rahasia itu bukanlah orang luar, tapi penghuni kosnya sendiri. 10 kamar, 6 wanita, dan 6 macam cara yang membuat Bayu sadar bahwa dia tidak sendiri. Awalnya mereka kasihan. Lama-lama, Bayu yang selalu ngayomi mereka, malah balik dilayani. Dari masakin sarapan, nyuci baju, sampai menemani
Lihat lebih banyak“Selamat pagi, Pakde. Rajin bener, pagi-pagi udah beberes.” Salah satu anak kost Melati menyapa Danu di pagi hari sambil berjalan keluar gerbang.
Danu tengah bersenandung sembari menyapu halaman kostnya tempatnya mencari nafkah. Ia sangat rajin saat bekerja, akrab juga dengan para penghuni kost yang semuanya adalah wanita.
Pria itu memang supel, baik dan ramah. Kadang suka membantu beberapa urusan anak kost yang sulit dikerjakan, baik yang memang berhubungan dengan fasilitas kamar atau yang lain.
“Wah, itu pakaian neng Ai, kok berantakan?” tatapnya, dan ia segera hampiri dan rapikan jemuran salah satu anak kostnya, takut jatuh dan justru kotor lagi nanti.
Pria itu sempat melirik jemuran ceker ayam yang berisi beberapa pakaian dalam dari para anak kost. Sudah diberi nama masing-masing dengan ukuran yang jelas berbeda-beda, serta berbagai model. Satu set berbahan satin, satu lagi bermotif renda dan yang lain beda lagi bahannya dengan berbagai bentuk dan warna.
“Walah, punya neng Susan, gede juga.” Pria itu sejenak mengagumi bra milik salah satu anak kostnya yang merupakan seorang janda muda.
“Eh! Apaan aku ini? Membayangkan sesuatu yang harusnya dibayangkan! Saru!” Danu mengibas wajahnya sendiri dengan telapak tangan, dan memilih lanjutkan pekerjaan yang lain daripada pikirannya semakin liar nanti.
“Pakde!” Suara seorang gadis terdengar memanggilnya sangat nyaring.
Gadis itu bernama Lily, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas ternama di kota mereka dan juga adik tingkat Danu di kampus yang sama. Mereka cukup dekat.
Lily berlari dengan tergesa-gesa, napasnya memburu hingga dadanya terlihat naik turun dengan gerakan yang begitu teratur.
Gadis memiliki tubuh yang proporsional, tinggi semampai itu hanya mengenakan sebuah baju tidur tipis, hingga memperlihatkan pakaian dalam yang kontras dengan warna baju tidur itu hingga terlihat tembus pandang.
“Kenapa kamu lari-lari gitu? Ndak kuliah, tah?” tanya Danu padanya.
“Eng-ngga, hari ini sudah konsul online tadi. Pakde, sibuk ngga?”
“Ngga juga, daritadi cuma nyapu terus duduk sambil manasin motor. Bude ngga ada, jadi santai.”
Mereka diam sejenak, dan Lily duduk di sebelah Danu sembari menggenggam Hp yang sejak tadi ia bawa. Ia tampak cemas, menggigit bibirnya sampai merah dengan wajah yang sangat ragu untuk mengatakan sesuatu.
“Ngapain lari-lari? Pakde kira ada sesuatu tadi.” Danu bertanya untuk yang kedua kali.
“Iya, memang ada sesuatu. Ada hal yang harus Lily sampaikan ke Pakde, dan ini sangat penting. Bude, pergi, ya? Sudah lama?” Lily malah balik bertanya, dan Danu lantas menatapnya hingga membuat gadis itu sedikit canggung.
“Iya, sejak kemarin sore itu perginya, belum pulang. Katanya ada pesanan cathering dengan teman-temannya. Mau teh, Nduk?” tawar Danu pada gadis itu.
“Engga, Pakde, terimakasih. Tapi, Bu-Bude… Bude lagi--” Lily ragu untuk mengatakannya sampai ia menarik napas beberapa kali karena ragu.
“Kenapa? Kamu ada tahu sesuatu tentang bude, atau-“
"Pa-Pakde, aku mau ngomong. Ta-tapi... Pakde jangan marah ya? Plis, ini semua demi kebaikan Pakde, agar tidak terus dibohongi sama bude.”
Danu kemudian duduk di samping Lily, seraya berucap halus. “Tenang aja, Lily, kamu cerita aja ke Pakde. Perihal Bude kan? Emangnya Bude kenapa?" "Ta-tapi Lily takut Pakde marah karena Lily cerita ini. Lily tahu Pakde sayang banget sama Bude. Pakde juga ngelakuin apapun buat Bude bahagia. Tapi pas tahu ini, Lily –“Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Danu langsung menyela. "Nggak apa, Lily, jangan dipendam ya, daripada kamu sakit karena beban pikir. Apa yang mau kamu ceritakan sama Pakde? Coba ngomong pelan pelan," bujuk Danu dengan tenang.
“Pakde, bude ternyata tidak ngurus catering seperti yang Pakde katakan barusan dan bude justru pergi dengan laki laki lain ke Hotel!” Bibir mungil itu bicara dengan cepat tanpa jeda sangking bingungnya.
Danu terdiam. Ia menatap gadis itu dalam-dalam atas apa yang baru saja ia katakan. Jelas ia tak percaya.
Hingga pada akhirnya Lily buka Hp dan perlihatkan foto yang ia dapat dari temannya. "I-ini, Pakde....."
“Apa ini, Nduk? Kamu dapat foto ini dari mana? Nduk, bilang ke Pakde, ini di mana? Ini benar-benar Bude, kan?" Pria itu tak percaya jika ada yang di dalam foto itu adalah istrinya yang tengah saling rangkul dengan seorang pria muda.
Pria itu tak percaya jika ada yang di dalam foto itu adalah istrinya yang tengah saling rangkul dengan seorang pria muda. Karena ia pergi sejak sore kemarin adalah untuk mengurus bisnis katering yang ia buat bersama beberapa sahabat.
“Ini, di mana?” tanya Danu pada Lily yang masih ada di dekatnya.
Tenggorokan Danu tampak sangat tegang dengan rahang yang mengerutuk. Ia ingin marah, tapi tidak mungkin ia lampiaskan semuanya pada gadis yang ada di sampingnya itu. Lily justru baik telah memberi info ini
“Itu, di Hotel X, Pakde. Salah satu teman Lily kerja di sana, dan menemukan ini tadi pagi. Itu, yang sering main kesini. Makanya dia tahu, kalau itu adalah Bude Tina.”
Danu meradang mendengar bahwa itu adalah loby hotel bintang empat. Foto mereka sangat mesra, hingga tak mungkin ada alasan bertemu dan saling menyapa tanpa sengaja.
Tina tampak mengenakan dres pendek, menggelendot manja di lengan sang brondong. Brondong itu merangkulnya sangat erat. Telapak tangannya masuk ke sela dress Tina, seperti memegangi bagian dada. Mereka saling senyum seperti baru saja tengah mendapat kesenangan dari masing-masing, apalagi Tina yang senyumnya terlihat lepas dan sangat bahagia.
Tina, istri Danu semalam memang tak ada kabar. Ia fikir efek sibuk mengurus katering yang memang tengah berkembang belakangan.
Hp Lily memang retak layarnya, tapi gambar itu terlihat sangat jelas.
Sangking marahnya, Danu spontan angkat tangan dan mendaratkannya di bahu Lily. Ia cengkram dengan kuat karena emosi. Gadis itu tertunduk. Ia merasakan sakit, tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan berharap bisa menenangkan Danu atas apa yang terjadi saat ini.
Mahasiswi semester tujuh itu, sering meminta Danu untuk membantu tugas dari kampus. Pertemuan dan obrolan yang sering terjadi, membuat Lily merasa nyaman padanya. Nada suara yang tak pernah tinggi, juga ketelatenannya ketika mengajari itu membuat Lily selama ini kagum bahkan menaruh perasaan padaya. Melihat Danu emosi, serasa tak tega.
Jemari lentik itu terus mengusap punggung tangan Danu dengan segala perhatian yang ia punya. Tapi satu tangan lagi menggeser layar Hp karena rupanya masih ada beberapa foto yang ia simpan di dalam memori Hpnya itu.
“Pakde, ngga cuma satu.” Gadis itu berbisik dengan suara yang begitu lembut.
Lebih mengejutkan lagi dengan foto kedua. Kali ini ini lebih vulgar karena istri Danu berpose semakin mesra di dalam mobil miliknya bersama brondong yang berbeda.
Dari foto itu, tampak Tina sedang berciuman dan saling membelit lidah dengan brondong keduanya. Semakin perih hati Danu melihat itu, dan bumi seolah berhenti berputar seketika.
“Apa salahku, Tin? Kenapa kamu begini ke aku?” Danu meratapi nasibnya sendiri saat itu. Suaranya tercekat, tapi ia malu ketika sadar yang di sebelahnya adalah seorang gadis.
Danu terduduk lemas. Hatinya benar-benar sakit melihat kelakuan sang istri yang semakin lama semakin melampaui batas. Ini baru beberapa, dan mungkin masih ada lagi di luar sana yang belum ia ketahui sampai saat ini.
“Ah! Uangku!” Mendadak Danu ingat jika ATM yang ia miliki dipegang oleh sang istri.
Danu segera raih Hp dan buka aplikasi perbankan yang ada di sana, lalu ia cek saldonya.
Ane sepertinya masih syok. Semua terlalu cepat hingga tak bisa dihindari sama sekali oleh keduanya, bahkan Ane masih terus memejamkan mata sejak tadi.“Ane, kamu ngga papa?” tanya Danu pada gadis yang masih berada di atas tubuhnya saat itu.Deru napas Ane terasa menyapu leher Danu saat itu. Rasanya begitu hangat dan meresap ke tubuh Danu hingga rasanya ada yang berdesir di tubuhnya, perlahan semakin kuat.Ada debaran yang cukup aneh di tubuh Danu. Debaran yang jarang sekali ia rasakan meski itu bersama sang istri ketika tengah berduaan. Dulu ia fikir, itu memang karena mereka sudah bersama cukup lama.Malah Ane mencengkram bahu Danu yang ia pegang sejak tadi, hingga debaran di dada Danu terasa semakin cepat. Mungkin Ane juga bisa mendengarnya.“Pakde. Pakde, deg-degan, ya?” tanya Ane, yang pelahan membuka mata menatapnya.“Itu… itu karena kamu ngagetin tadi,” bohong Danu, mencoba menghindari perasaan yang aneh dalam dirinya saat ini.Belum lagi dengan sesuatu yang menempel di dada Dan
“Pakde, Lily! Kalian… ngapain?” tanya Ainun dengan mata yang membulat sempurna karena kaget.Jelas posisi seperti itu membuat isi fikirannya meliar kemana-mana, apalagi keduanya memang sama sama manusia dewasa.“Eh, Ai? Ini, anu tadi—" Danu yang ikut terkejut itu segera bangkit dari tubuh Lily tanpa menyelesaikan ucapannya terlebih dulu.Ia raup wajahnya dari lumpur yang sempat menempel dan sangat basah. ia tahu kondisi pasti canggung, terutama untuk Lily dan Ainun nanti. Ia berusaha agar tak terjadi kesalahpahaman yang lebih dari ini.“Anu apa, Pakde?” tanya Ainun, seakan menuntut penjelasan dari keduanya.Lily juga bangkit saat itu dan menutupi tubuhnya yang basah karena kaos oblongnya transparan.Ainun tatap Lily yang diam sejak tadi. Ia perhatikan dari atas sampai bawah, dan ia sadar bahwa memang tubuh Lily begitu indah. Dadanya yang berisi, pinggangnya ramping. Pria mana yang tidak terpana dengan Lily yang begitu sempurna.Ia sedikit cemburu, apalagi ketika ia mendapat perlakuan
“Apa kamu bilang, Mas? Kamu berani tolak aku, Mas?” tukas Tina pada suaminya itu.Wanita dengan tubuh cukup berisi tapi padat itu tampak meradang mendengar penolakan yang diberikan oleh sang suami. Wajahnya terlihat sangat marah dan tangannya mengepal sejak tadi.Saat tahu Tina akan masuk, Silvy memberi kode pada yang lain hingga ketiganya maju. Mereka pasang badan untuk lindungi Danu saat itu agar ia tak terpengaruh dengan bujuk rayu Tina yang manipulatif.“Loh, kalian ngapain di sini?” tanya Tina, kaget ketika Lily dan Ane keluar dengan tatapan tajam.“Bude, yang ngapain ke sini? Sudah kehabisan uang, jadi ngga bisa main brondong lagi?” ledek Ane dengan tatapannya yang tajam.Tina meneguk saliva saat itu. Memang dua brondong yang ia pelihara dalah teman Ane, jadi tak mungkin tidak tahu.“Ngomong sembarangan! Mulutmu itu, nanti aku—”“Apa? Bude mau buat alasan apa sekarang?” Lily berkacak pinggang dan bicara begitu menantang.“Awas! Aku mau ketemu suamiku! Apa hak kalian halangi aku
Pagi harinya, Danu bangun dari tidur dengan tubuh yang sudah mendingan Untungnya para gadis itu merawatnya dengan sangat baik hingga sakit yang ia rasakan tidak semakin menjadi.Sejak meminum obat yang diberikan oleh Ane tadi malam, ia tenang dan tidur sangat nyenyak. Hingga saat bangun, ia juga lebih segar dengan tubuh yang berkeringat. Ia juga lirik rumah yang sangat rapi.“Mereka itu, memang sangat bisa diandalkan.” Danu tersenyum teringat perlakuan dan perhatian mereka padanya.Ia masih di sofa bed. Ia meregangkan ototnya yang kekar itu hingga terdengar mengerutuk beberapa kali. “Eeerrrgh!” Sangat enteng.Tak lama kemudian, ia mencium aroma yang begitu harum dari dapur umum. Ia hirup aromanya dalam dalam, makin lama makin sedap. “Sepertinya ini orek tempa sama telor. Pasti neng Susan yang masak,” ucap Danu yang sangat hafal dengan aroma masakan salah satu anak kostnya itu.Danu beranjak dari sofabed dan segera mandi karena tubuhnya yang sudah terasa sangat gerah. Tapi saat ia k


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.