MasukWarning! Bacaan untuk dewasa. Fatih tidak punya pilihan. Demi biaya pengobatan ibunya, pemuda miskin itu menerima tawaran Bu Rosa, pemilik pabrik gula terkaya di kota, untuk menikahi Laras—putri bisunya. Namun, malam pertama mereka menjadi awal petaka. Di tengah malam, suara gamelan menggema dari gudang pabrik gula. Seorang wanita menari di antara aroma tebu dan darah. Fatih dibawa masuk ke istana gaib milik bangsa siluman ular. Sejak malam itu, Fatih dinyatakan mati. Namanya bahkan telah terukir di batu nisan. Tetapi sesuatu bangkit dalam dirinya. Tanda lahir berbentuk bulan sabit di bahunya memunculkan kekuatan yang ditakuti sekaligus diinginkan para siluman. Dan ketika Laras akhirnya mampu berbicara, semuanya terungkap. Rahasia mengerikan di balik kesuksesan usaha ibunya. Dan Fatih bukan satu-satunya pemuda yang menjadi korban.
Lihat lebih banyakSedari kecil, Fatih selalu merasa hidupnya sedikit berbeda.
Di bahunya terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit. Karena tanda itulah, guru silatnya melatihnya lebih keras daripada siapa pun. Saat anak-anak lain menghabiskan waktu bermain, Fatih menghabiskan harinya mempelajari berbagai jurus dan teknik bertarung. Ia pernah bertanya kenapa harus berlatih sekeras itu. Namun gurunya hanya menjawab, "Sembunyikan kekuatanmu. Jangan pernah menunjukkannya kepada siapa pun." Fatih tidak pernah mendapat penjelasan lebih dari itu. Dan selama bertahun-tahun, ia memilih menurutinya. Sampai hari itu tiba. Bruk! "Aww!" rintih Fatih saat keningnya membentur sesuatu yang keras. Jiwanya seperti baru kembali pada raganya. Fatih mengusap dahinya yang terasa nyeri. Saat ia melihat telapak tangannya, tampak bercak darah di sana. "Sial! Berdarah," rutuk Fatih, pelan. Fatih mengerutkan keningnya, saat menatap sekeliling, ternyata dia berada di sebuah pemakaman. Lalu, tatapannya beralih ke batu nisan yang ada di hadapannya. Ia mengucek matanya beberapa kali, untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Namun, setelah melihatnya lagi, seketika mata Fatih terbelalak lebar dengan mulut menganga. Ia melihat jelas nama yang terukir di batu nisan itu. "Fatih Alfa Rizky." Tubuh Fatih mendadak menegang. Dengan napas memburu, ia membaca tulisan di bawahnya. Tahun kelahiran dan tanggal wafat. Semuanya sama persis dengan identitas miliknya. Degh! Jantungnya berdetak kencang saat sadar ia jatuh di atas kuburan, dengan batu nisan atas nama dirinya. Belum juga keterkejutannya hilang, samar-samar ia mendengar derap langkah dan obrolan orang-orang menjauh dari area pemakaman. Tatapan Fatih beralih ke arah pintu keluar pemakaman. Ia melihat rombongan berpakaian serba hitam seperti habis mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhir. Fatih kembali melihat batu nisan yang bertuliskan namanya. Lalu, melihat tumpukan tanah merah di hadapannya yang terlihat baru ditimbun. Dan taburan bunga-bunganya masih terlihat segar. "Apa aku sudah meninggal?" tanya Fatih, sambil menepuk-nepuk pipinya. "Ini pasti ada yang salah." Fatih kembali melihat ke arah rombongan yang semakin menjauh. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menyusul rombongan. "Tunggu!" Rombongan warga yang tengah berjalan, mendadak berhenti saat mendengar teriakkan Fatih. Mereka serentak menoleh ke arah sumber suara. Tubuh mereka langsung membeku. Perlahan , mata mereka membelalak lebar dengan napas tertahan. "Fa-Fatih!" gagap warga. Fatih berlari semakin mendekat dengan penampilan kotor oleh tanah merah. "Ha-hantu!" jerit warga, lari terbirit-birit ketakutan. "Tolong! Jangan lari! Mana ibuku?!" teriak Fatih. Saat semua warga lari menjauh. Tiba-tiba seorang gadis dengan selendang hitam menutupi kepalanya datang mendekati Fatih. "A Fatih!" Fatih menoleh. "Fatimah! Syukurlah, kamu tidak ikut lari bersama mereka. Mana ibuku, apa dia baik-baik saja?" "Ini beneran Aa? Ya ampun ... Aa masih hidup?!" tanya Fatimah, menutup mulutnya tak percaya. "Iya. Aku masih hidup." Fatimah terlihat menitikkan air mata harunya. "Ibu Aa ada di rumah, dia tidak sanggup berjalan ke sini." Ustaz Hamdan yang merupakan ustaz setempat, datang menghampiri mereka. "Kamu ... beneran Fatih?" tanyanya ragu. "Iya, Pak Ustaz. Saya Fatih." "Allohu Akbar! Sungguh Maha besar kuasamu, ya Allah ..." ujar Pak Ustaz, kagum. Ustaz Hamdan pun segera memeriksa keadaan Fatih, untuk meyakinkan kalau dia benar-benar masih hidup. Beberapa warga yang sudah menjauh, menghentikan langkahnya, lalu memperhatikan Fatih, masih dalam keraguan dan ketakutan. Sebagian bapak-bapak yang masih membawa cangkul, langsung mendekati Fatih dengan langkah ragu. "Tunggu Pak Ustaz, kami masih meragukan Fatih ini. Karena Pak Ustaz pun tahu, kan, kita baru saja menguburkan jenazahnya? Masa tiba-tiba dia bangkit dan hidup lagi?" Fatih menggelengkan kepalanya. "Saya belum meninggal, Bapak-bapak. Saya masih hidup." "Iya, Pak. Ini beneran A Fatih," tegas Fatimah meyakinkan. "Kalau begitu, kita harus buktikan dulu. Bagaimana kalau kita gali lagi kuburan kamu?" usul salah satu warga. Warga yang lain tampak saling pandang dengan teman di sampingnya, lalu mengangguk setuju. "Iya. Sebaiknya begitu. Biar kami tidak dihantui ketakutan." Ustaz Hamdan mengangguk. "Baiklah, ayo kita ke pemakaman." Semuanya mengangguk. Lalu melangkah kembali menuju pemakaman. Fatimah berjalan di samping Fatih. Tak berselang lama, mereka sampai di depan tumpukan tanah merah dengan nisan bertuliskan nama Fatih. Bapak-bapak yang memegang cangkul, langsung menggali lagi kuburan yang baru mereka tutup. Warga desa yang penasaran, perlahan mendekat, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semakin lama, galian tanah semakin dalam. Dan papan kayu penutup liang lahat mulai terlihat. Bapak-bapak cepat mengangkat kayu-kayu itu, hingga menyisakan jenazah yang tadi diyakini jenazah Fatih, terbujur kaku di dalam lubang. Semuanya menahan napas dengan raut wajah ketakutan. Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Bapak-bapak mengangkat jenazah itu dengan hati-hati. Lalu mempersilahkan Pak Ustaz untuk membukanya. "Silahkan, Pak Ustaz." Ustaz Hamdan mengangguk dan segera berjongkok membuka tali pocong jenazah itu. Seketika, suasana mendadak hening. Hanya hembusan angin sore yang menerpa daun-daun pohon bunga kenanga yang berjejer di pemakaman itu. Semua mata warga tertuju pada satu titik, yaitu jenazah yang diyakini jenazah Fatih. Begitu tali pocong terlepas. Pak Ustaz segera membuka kain kafan yang menutupinya. Degh! Semua warga langsung menutup mulut mereka yang hendak menganga. "Innalilahi ..." Mata mereka terbelalak saat melihat jenazah yang tadi mereka kubur dan mereka yakini jenazah Fatih, hanyalah batang pohon pisang yang dibungkus kain kafan. Perlahan, tatapan mata warga tertuju pada Fatih. "Apa jangan-jangan ... kamu korban pesugihan?" tanya seorang warga. Degh! "Pesugihan?" gumam Fatih, sambil mengerutkan keningnya. Fatimah yang ada di sampingnya, segera menggenggam tangan Fatih. "Tapi siapa yang berani menumbalkan si Fatih?" tanya salah satu warga. Semua orang yang ada di sana tampak saling pandang, tidak ada yang berani menjawab. Fatih juga terdiam. Ia mencoba mengumpulkan kembali ingatannya. Namun, Fatimah segera menarik tangan Fatih dan mengajaknya pulang ke rumah. BERSAMBUNGFatimah masih terisak di dalam pelukan Fatih. Bahunya bergetar hebat, sementara air mata terus membasahi dada Fatih.Di sela-sela tangisnya, samar-samar terdengar sebuah nama keluar dari bibirnya."Ja-Januar, A." Suaranya nyaris tak terdengar. "Bapak tiriku. Hu hu hu hu hu ..." Degh!Rahang Fatih langsung mengeras. Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.Matanya memerah menahan amarah yang mendidih di dalam dada.Ia tidak pernah menyangka bahwa luka yang selama ini disimpan Fatimah berasal dari orang yang seharusnya melindunginya.Seorang ayah tiri.Seseorang yang dipercaya untuk menjaga keluarga setelah ayah kandung Fatimah meninggal dunia.Namun kenyataannya, lelaki itu justru menjadi sumber penderitaan yang menghancurkan masa depan gadis itu.Fatih menarik napas panjang untuk menahan emosinya. Lalu ia bertanya dengan suara yang jauh lebih pelan."Apa ibumu tidak tahu apa pun tentang perbuatan suami barunya?"Fatimah menggeleng pelan da
Hati Fatimah berdebar kencang saat merasakan pelukan Fatih. Dengan perlahan, ia menggenggam tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.Fatimah memejamkan mata sejenak. Pikirannya kembali melayang pada pertanyaan yang sejak pagi menghantuinya.Mengapa Fatih belum mau menyentuhnya? Padahal, mereka sudah sah menjadi suami istri?Apakah benar ada wanita lain yang telah lebih dulu mengisi hati suaminya?Pertanyaan itu terus berputar di benaknya tanpa menemukan jawaban.Namun, Fatimah kembali teringat ucapan Bu Asmah yang ingin segera menggendong cucu dari Fatih. Perlahan, keberanian muncul di dalam hatinya. Untuk tidak mengalah pada siapa pun gadis yang sudah mengisi hati Fatih. Ia akan merebut hati Fatih sepenuhnya, karena dia adalah istrinya. Fatimah perlahan membalikkan tubuhnya, hingga wajahnya berhadapan dengan Fatih. Napas keduanya menyapu wajah masing-masing.Tatapan mereka kembali bertemu untuk sesaat, sebelum Fatimah menyambar bibir suaminya. Fatimah menghilangkan rasa malun
Fatimah hanya bisa mengepalkan kedua tangannya sambil menahan tangis. Dadanya terasa sesak oleh berbagai pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.Namun, ia tidak ingin larut dalam kesedihan.Dengan gerakan pelan, Fatimah segera mengenakan pakaian yang rapi, lalu menyisir rambutnya di depan cermin.Ia mengusap sisa air mata di pipinya dengan cepat.Apa pun yang sedang terjadi, ia tidak ingin Bu Asmah mengetahui masalah itu.Setelah memastikan wajahnya terlihat normal, Fatimah keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.Di sana, ia kembali berpapasan dengan Fatih yang baru selesai mandi.Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu.Namun Fatimah segera memalingkan wajah dan memilih mendekati Bu Asmah yang sedang sibuk menyiapkan sarapan."Sini biar Fatimah saja yang mengerjakan, Bu," ujarnya sambil mengambil alih pekerjaan mertuanya. "Ibu duduk dan istirahat saja. Dokter bilang ibu tidak boleh terlalu capek."Bu Asmah tersenyum."Kamu ini ada-ada saja. Ibu sudah jauh lebih sehat.""Meski
Saking rileksnya menikmati pijatan Fatimah, Fatih akhirnya tertidur pulas hingga pagi tiba.Sinar matahari yang menyelinap melalui celah jendela perlahan membangunkannya.Fatih menggeliat sambil mengucek kedua matanya. Setelah kesadarannya terkumpul, ia bangkit dari tempat tidur dan berniat turun dari ranjang.Namun tiba-tiba ...Kreeeet ...Pintu kamar terbuka.Degh!Fatih langsung menoleh.Fatimah berdiri di ambang pintu. Rambutnya masih basah sehabis mandi, sementara kain jarik yang dililitkan dengan rapi menutupi tubuhnya untuk sementara sebelum berganti pakaian.Tatapan mereka bertemu sesaat.Fatimah tampak sama terkejutnya. Dengan cepat ia melangkah masuk lalu menutup pintu kembali."Sudah bangun?" tanyanya, berusaha mencairkan suasana yang mendadak canggung.Fatih segera memalingkan wajah dan berdeham pelan."Iya."Fatimah tersenyum kecil."Aku kira Aa masih tidur."Fatih mengangguk singkat sambil berdiri dari ranjang."Aa mau mandi dulu," ujarnya sambil melangkah.Namun tiba-t
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan