Share

Bab 4

Author: Leona Valeska
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-01 15:49:50

“Oi, Elian! Melamun saja kau,” Markus, pelayan bertubuh gempal yang bertugas di kandang kuda, menyenggol bahunya kasar. “Bagaimana rasanya jadi bayangan Tuan Duke selama seminggu ini? Kudengar kau yang memandikannya kemarin. Apa lehermu masih utuh?”

Emily yang sedang menyantap sup di dapur bersama beberapa pelayan yang lain itu kemudian menoleh ke arah Markus.

“Melelahkan, Markus. Tuan Duke bukan orang yang suka bicara. Dia hanya memberiku perintah dengan tatapan yang seolah bisa membelah kepalaku kalau aku salah gerak.”

Beberapa pelayan lain lantas tertawa hambar mendengar jawaban Emily barusan.

“Dia memang iblis,” sahut pelayan lain dengan suara rendah. “Tidak punya hati. Kau lihat wanita yang dieksekusi kemarin? Hanya karena dia mencoba menyelipkan surat cinta ke kantong jubah Duke, nyawanya melayang. Dia benar-benar alergi pada makhluk bernama perempuan.”

“Kenapa begitu? Maksudku, kastil ini sangat besar, tapi isinya laki-laki semua. Apa dia memang lahir membenci wanita?” tanya Emily sambil meletakkan sendoknya di atas mangkuk supnya.

Seorang pelayan senior yang rambutnya sudah memutih, yang sedari tadi diam, akhirnya bergumam sambil mengelap sisa sup di janggutnya.

“Bukan lahir begitu, Nak. Dulu dia punya kekasih, wanita bangsawan yang katanya sangat cantik. Tapi saat Duke sedang dikirim ke perbatasan untuk berperang, wanita itu malah kabur dengan bangsawan lain dari kerajaan tetangga.

“Membawa lari dokumen penting dan hampir membuat Duke mati di medan perang karena pengkhianatan itu. Sejak saat itu, baginya, wanita adalah sinonim dari pengkhianat.”

“Gila,” gumam pelayan muda di sebelah Markus. “Gara-gara itu, kami jadi korban. Aku harus sembunyi-sembunyi kalau mau bertemu kekasihku di desa bawah. Kalau sampai ketahuan ada aroma parfum wanita di baju kami saat masuk gerbang, Duke tidak akan segan-segan mengusir kami tanpa pesangon. Atau lebih buruk, menggantung kami.”

Emily terdiam dengan bulu kuduknya yang meremang. Informasi itu seperti vonis mati. Jika Kael membenci wanita karena pengkhianatan, maka Emily, seorang wanita yang menyamar dan membohonginya setiap detik adalah perwujudan dari segala hal yang paling dibenci pria itu.

Satu per satu pelayan mulai berdiri untuk kembali ke tugas masing-masing. Emily hendak menyusul, namun sebuah tangan menahan lengannya. Itu Lucian, seorang pelayan pendiam yang biasanya bertugas di gudang logistik.

“Elian, tunggu sebentar,” bisik Lucian.

Emily menoleh sambil berusaha menjaga ekspresi datarnya. “Ada apa, Lucian? Aku harus menyiapkan jubah berburu Tuan Duke.”

Lucian tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya melirik ke arah bagian bawah celana Emily, tepatnya di bagian belakang kain seragam abu-abunya yang kaku.

Emily mengerutkan kening, lalu mengikuti arah pandang itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat noda merah kecil yang merembes di kain celananya.

Darah. Siklus bulanannya datang di waktu yang paling tidak tepat.

“Wajahmu jadi sepucat kapas, Elian. Atau harus kupanggil Emily?” tanya Lucian dengan pelan.

Emily segera berbalik memunggungi tembok, dengan tatapan mata yang liar menatap sekeliling. “Apa yang kau bicarakan? Aku tidak tahu maksudmu. Itu ... itu hanya noda saus atau mungkin aku terluka saat membersihkan pedang Duke tadi pagi.”

“Jangan bodoh,” Lucian melangkah mendekat menatap lekat wajah Emily.

“Aku bukan pelayan bodoh seperti Markus. Aku melihatmu dua minggu lalu. Di penjara bawah tanah kerajaan, saat kekacauan pecah setelah pengumuman eksekusi keluarga Dawson. Aku berada di sel seberangmu sebelum aku berhasil menyuap penjaga untuk lari.”

Tubuh Emily langsung membeku mendengar ucapan Lucian barusan. “Ka-kau—"

“Aku juga buronan, Emily Dawson. Bedanya, aku hanya pencuri dokumen kecil, bukan anak seorang Marquis yang dituduh koruptor besar,” Lucian menatapnya dengan simpati yang aneh.

“Aku melihatmu memotong rambutmu di balik tumpukan jerami dekat gerbang kota sebelum kau menuju ke Utara. Aku tahu kau perempuan.”

Emily akhirnya terdiam lalu mencengkeram baju Lucian dengan erat. “Tolong ... tolong jaga rahasia ini. Aku tidak punya pilihan lain. Aku akan dibunuh jika kembali ke Ibukota, dan aku akan digantung jika keluar dari kastil ini tanpa perlindungan.”

Lucian menghela napas panjang sambil melipat tangan di dadanya. “Aku tidak akan mengadukanmu. Sesama pelarian harus saling menjaga. Tapi Emily, kau benar-benar gila.

“Kau masuk ke sarang serigala yang paling benci pada kaummu. Kenapa kau nekad menyembunyikan identitasmu di bawah hidung Duke Kael? Bagaimana jika dia tahu? Dia tidak akan hanya menebas lehermu, tapi dia juga akan mencabikmu hidup-hidup.”

“Aku hanya perlu waktu untuk mencari bukti bahwa ayahku tidak bersalah,” bisik Emily dengan air mata yang hampir jatuh. “Hanya Kael yang punya akses ke dokumen rahasia kerajaan di wilayah Utara ini. Jangan sampai rahasia ini–”

Krieeet.

Pintu kayu besar aula makan yang tadinya tertutup rapat tiba-tiba terbuka dengan bantingan keras. Suara itu begitu dominan hingga keheningan menyelimuti ruangan dalam sekejap.

“Rahasia apa yang kalian sembunyikan dariku?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Christina
Membaca ini ikut deg2an...
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 191

    Awalnya Kael hendak mengusir Emily, tangannya yang gemetar terangkat kasar untuk menepis nampan dan mengusir gadis itu dari pandangannya.Namun, gerakan Kael terhenti di udara. Emily dengan cepat menggeser gelang anyaman hitam bersimpul mati itu tepat di bawah jemari Kael, memperlihatkannya dengan jelas di bawah pendar cahaya lampu kamar.Benda usang itu membuat Kael membolakan matanya sempurna.Seluruh otot tubuhnya mendadak kaku, bukan karena racun besi hitam, melainkan karena hantaman memori lama yang mendadak menyeruak paksa dari dasar ingatannya."Kau... dari mana kau mendapatkan benda ini?!" desis Kael, suaranya bergetar hebat, kehilangan seluruh nada otoriter militernya."Aku membawanya dari Kak Johan, Kael," jawab Emily, air matanya menetes mendarat di atas selimut. "Gelang ini... gelang yang kau berikan pada kakakku saat kau menangis di sudut dapur kastil lama."Ingatan itu menghantam Kael layaknya gada besi. Mereka berteman sejak tujuh belas tahun yang lalu, saat Kael yang m

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 190

    Pintu kayu ek yang tebal itu terbuka perlahan dengan derit halus yang memotong ketegangan di dalam ruangan. Tak lama kemudian, tirai sutra penahan angin di balik pintu terbuka dan Emily masuk ke dalam kamar dengan langkah perlahan yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara bising.Kedua tangannya memegang sebuah nampan perak berisi semangkuk sup herba hangat yang mengepulkan uap beraroma menenangkan, aroma yang sangat akrab di indra penciuman sang Duke selama berbulan-bulan ini.Ia berjalan mendekati ranjang, langkahnya sempat tertahan sejenak saat melihat Kael yang masih terbaring lemah namun sudah sepenuhnya sadar. Tatapan mata elang pria itu langsung menusuk tajam ke arahnya, pekat dengan campuran antara amarah, harga diri yang terluka, dan kebingungan yang mendalam.Thomas mundur beberapa langkah secara hormat, memberikan ruang namun tetap mengawasi situasi dengan cemas.Emily meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping tempat tidur. Jantungnya berdegup

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 189

    Sinar matahari musim dingin menembus tirai sutra kamar utama kastil Ravenshire, melemparkan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai kayu ek yang mengilat. Kehangatan uap dari radiator mekanis memenuhi ruangan, mengusir hawa beku yang sempat mencengkeram kastil selama berhari-hari.Kael perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat, seolah kelopak itu terbuat dari timah. Pandangannya kabur selama beberapa saat sebelum langit-langit kamar yang berukir lambang serigala utara mulai terfokus di matanya.Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara hangat memenuhi paru-parunya. Denyut nyeri yang biasanya menghujam beringas di lutut kirinya kini sudah jauh berkurang, berganti menjadi rasa kebas yang tumpul berkat balutan perban baru yang tebal dari tabib utama.Hal pertama yang dilihat oleh Kael saat kesadarannya pulih adalah sosok Thomas. Pelayan kepala itu sedang berdiri setia di samping tempat tidurnya, dengan raut wajah lelah namun penuh kelegaan, bersiap mengganti

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 188

    Matahari fajar akhirnya menyembul dari balik puncak-puncak gunung es, memantulkan cahaya putih keperakan yang berkilau di atas hamparan salju utara. Namun, keindahan itu sama sekali tidak mengurangi hawa dingin yang mencekam di dalam dinding Kastil Ravenshire.Emily berdiri termenung di sebuah balkon batu kastil yang menghadap langsung ke arah pegunungan utara yang angkuh. Tangannya yang terbungkus sarung kain rajut mencengkeram pagar pembatas batu yang membeku, sementara napasnya keluar sebagai uap-uap kecil yang langsung lenyap disapu angin fajar.Langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat.Lucian, sang asisten kastil sekaligus orang kepercayaan Kael, mendatangi Emily dengan wajah yang tampak sangat kusut dan pucat pasi. Ia menghentikan langkahnya beberapa jengkal di belakang Emily, menatap punggung gadis itu dengan napas yang masih memburu."Emily..." panggil Lucian, suaranya bergetar hebat memecah kesunyian balkon batu.Emily tidak membalikkan badannya, pandangannya tetap lurus

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 187

    Di luar kamar utama yang besar dan sunyi, hawa dingin koridor kastil terasa menusuk hingga ke tulang. Suara denting peralatan medis logam dan desis uap pemanas dari dalam ruangan sesekali terdengar, menandakan tabib utama kastil sedang meracik obat penawar dan membersihkan luka infeksi di kaki Kael dengan tergesa-gesa.Thomas berdiri bersama Emily di dekat pilar batu yang tinggi. Pria tua itu menatap Emily, yang sejak tadi tidak bisa diam dan terus meremas jemarinya yang membeku karena cemas.Thomas tersenyum sedih sambil mengusapi lengan Emily dengan penuh rasa sayang kebapakan, mencoba memberikan sedikit kehangatan di tengah badai takdir yang sedang mengurung mereka."Kau baru saja melakukan hal yang melampaui batas kewajiban seorang manusia, Emily," bisik Thomas, suaranya parau dan bergetar karena emosi yang tertahan."Emily, kau adalah gadis yang memiliki hati sangat baik dan tulus. Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu gigih menyelamatkan nyawa orang yang berniat menghab

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 186

    Setibanya mereka di halaman dalam kastil Ravenshire yang masih sepi dan diselimuti kabut abu-abu, derap langkah kaki kuda yang tersengal-sengal memecah keheningan fajar.Thomas dan para pelayan senior lainnya yang sedang bersiap menyambut pagi dengan membersihkan lampu gantung uap langsung terkejut setengah mati.Beberapa dari mereka bahkan menjatuhkan sapu dan wadah minyak usai melihat Johan Dawson dan Emily Dawson datang membawa pulang Duke Kael dalam kondisi mengenaskan."Astaga! Apa yang terjadi?!" teriak Thomas, wajah tuanya seketika memucat saat mengenali sosok yang terkulai di atas pelana. "Itu... Yang Mulia Duke!"Emily melompat dari kudanya dengan tergesa-gesa hingga sempat tergelincir di atas lantai batu yang licin.Dengan napas memburu dan air mata yang bercampur lelehan salju, ia berteriak dengan suara serak memerintahkan para pelayan yang masih terpaku, "Cepat bergerak! Segera panggil tabib utama kastil ke kamar atas! Kael saat ini sedang berada dalam kondisi sekarat dan

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 69

    Lampu minyak di atas meja kayu kecil di sudut kamar Emily bergoyang pelan, menyebarkan cahaya kuning yang tidak stabil. Dengan tangan yang masih gemetar, Emily mengeluarkan kancing perak yang ia temukan di halaman belakang.Logam itu terasa dingin dan berat. Ia kemudian membentangkan kertas kecil b

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 68

    Lampu minyak yang dibawa Emily sengaja ia redupkan hingga hanya menyisakan pendar kecil. Ia melangkah keluar melewati pintu dapur yang jarang dikunci, menyelinap ke arah sayap barat kastil yang sudah lama tidak terjamah.Halaman belakang ini dulunya adalah kebanggaan Lady Elena, namun kini hanya me

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 62

    Emily melangkah masuk ke dalam dapur dengan tungkai yang terasa lemas. Begitu daun pintu tertutup rapat, ia merosot ke lantai, menyandarkan punggungnya pada kayu pintu yang dingin.Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ancaman Kael tentang membedah perutnya masih terngiang dengan sangat nyata, seolah bi

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 48

    Pintu kayu ek berukir mawar itu berdebum keras saat Kael menghantamnya ke dinding. Sang Duke melangkah masuk dengan aura yang lebih gelap dari biasanya.Dia langsung mengempaskan tubuhnya ke kursi besar di balik meja kerja, sementara jemarinya meremas saku celana tempat surat Johan tersimpan.Vane

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status