تسجيل الدخول“Kau yang sejak tadi bersama Lucian. Apa kau mencoba meracuninya?” tanya Kael dengan nada datarnya dan penuh dengan kecurigaan.
Emily langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. “T-tidak, Tuan. Saya tidak berani melakukan itu,” jawabnya terbata-bata.
Kael menyipitkan matanya dengan tatapan yang begitu menghunus. “Dengar, Elian. Aku mencurigaimu karena kau adalah pelayan pribadiku. Jika ternyata Lucian diracun olehmu, maka kemungkinan besar kau juga akan melakukan itu padaku!”
Emily hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Kael barusan. Kenapa pria itu bisa berpikir bahwa dia akan meracuni Kael hanya karena mencurigai Lucian diracuni olehnya?
“Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Mulut Tuan Duke memang pedas dan jahat,” ucap Markus sambil menepuk pundak Emily dengan pelan.
Emily menganggukkan kepalanya dan berjalan memasuki kastil kembali untuk menyiapkan pesta nanti malam.
**
Pesta para bangsawan telah dimulai. Emily ditugaskan menjadi salah satu pelayan untuk melayani para tamu.
Kali ini dia mengenakan seragam pelayan formal yang kerahnya mencekik leher, ia harus bergerak gesit menuangkan anggur ke gelas para bangsawan Utara yang suaranya memenuhi aula dengan gelak tawa angkuh.
“Tunggu, kau ... pelayan muda.”
Langkah Emily langsung membeku seketika. Seorang bangsawan pria paruh baya dengan kumis melintang dan mata yang sedikit berkabut karena alkohol, Lord Vane, menahan nampannya.
Emily menoleh dan tersentak kaget, meski langsung dia ubah kembali agar tidak dicurigai. Pria itu adalah sepupu jauh dari ibu tiri Emily, orang yang dulu sering berkunjung ke kediaman Dawson untuk berpesta.
“Siapa namamu?” tanya Lord Vane sambil menyipitkan matanya dan mencondongkan tubuhnya hingga bau anggur yang menyengat menusuk hidung Emily.
“Nama saya Elian, Tuan,” jawab Emily sambil menunduk sedalam mungkin.
“Elian? Tapi, kenapa wajahmu dan struktur rahangmu itu,” gumam Lord Vane lalu jemarinya yang gemetar mencoba menyentuh dagu Emily untuk mengangkat wajahnya.
“Sangat mirip dengan putri Marquis Dawson yang hilang. Siapa namanya? Emily? Ya, Emily Dawson. Apa kau punya hubungan darah dengannya?” tanyanya kemudian.
Darah Emily seolah berhenti mengalir. Benar saja, pria itu mengenal Emily meski dulu hanya berpapasan jika Lord Vane sedang berkunjung ke rumahnya.
Napasnya menjadi pendek dan pandangannya mulai berputar. Kelelahan setelah bekerja selama delapan belas jam tanpa henti, ditambah dengan ketegangan siklus bulanannya yang belum usai, membuat kakinya terasa seperti terbuat dari kapas.
Ditambah pertanyaan dari Lord Vane membuat tubuhnya semakin lemas. Bahkan pikirannya kembali liar. Bagaimana jika Lord Vane memberitahu Kael tentang wajahnya yang mirip dengan Emily?
“Saya hanya anak desa, Tuan. Mungkin wajah saya memang pasaran,” jawab Emily dengan bibir yang memucat.
“Tidak, tidak. Matamu itu ... mata itu tidak mungkin milik rakyat jelata,” Lord Vane bersikeras, bahkan suaranya kini mulai menarik perhatian beberapa bangsawan di sekitar mereka.
“Anda sedang mabuk, Tuan.”
“Meski aku sedang mabuk, aku masih mengenal orang-orang yang pernah bertemu denganku, Pelayan,” ucapnya sambil menyesap anggur di dalam gelas miliknya.
Baru saja pria itu hendak membuka mulutnya kembali, tiba-tiba, sebuah bayangan besar jatuh menaungi mereka. Suasana di sekitar meja itu mendadak sunyi, seolah suhu udara turun beberapa derajat dalam sekejap.
“Lord Vane,” suara bariton yang berat dan penuh otoritas memotong percakapan itu.
Duke Kael berdiri di sana sambil memegang gelas kristal berisi cairan merah gelap. Matanya yang abu-abu menatap Lord Vane dengan kilat kemarahan yang tidak disembunyikan. Kael lalu melirik Emily yang tampak goyah, lalu kembali menatap tamu bicaranya.
“Apa kau datang ke perjamuanku untuk mencari hiburan dari seorang pelayan?” tanya Kael dengan nada rendah namun mengandung ancaman yang nyata.
“Ah, Tuan Duke, saya hanya merasa pemuda ini sangat mirip dengan—”
“Cukup!” bentak Kael hingga membuat Lord Vane tersentak dan membuat anggurnya tumpah sedikit.
“Pelayanku ada di sini untuk melayani para tamu, mengisi gelas, dan memastikan kenyamanan kalian. Mereka di sini bukan untuk kau ajak berbincang atau kau interogasi seperti narapidana!”
Emily tersentak mendengar ucapan barusan. Baginya, kata-kata Kael barusan adalah perlindungan yang tak terduga. Pria itu baru saja memutus tali gantung yang hampir menjerat lehernya.
“Elian, pergi dari sini. Kau membuat kepalaku sakit dengan wajah bodohmu itu. Kembali ke dapur atau aku akan memotong lidahmu karena sudah berani melalaikan tugas demi mengobrol.”
“Maafkan saya, Tuan Duke. Permisi,” Emily membungkuk cepat, segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan aula, menghilang di balik pintu kayu besar menuju koridor yang sepi.
Emily bersandar di dinding batu yang dingin, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Jantungnya masih berdegup kencang, namun rasa syukurnya pada Kael meluap.
Duke yang kejam itu, dengan caranya yang kasar, baru saja menyelamatkannya dari kehancuran identitasnya meski Kael tidak berniat seperti itu.
Beberapa menit kemudian, Kael melangkah keluar dari aula, tampaknya ingin mencari udara segar setelah membentak Lord Vane barusan.
Emily yang baru saja hendak keluar, langsung tersentak kaget melihat tubuh tegap Kael berada di hadapannya.
“Tuan?” panggil Emily sambil menyembunyikan keterkejutannya.
Kael melirik Elian sebentar kemudian mendengus pelan. “Kau benar-benar pelayan yang tidak berguna, Elian. Jangan pernah bicara dengan sembarang orang di dalam kastil ini!”
Emily langsung menelan ludahnya. “Sekali lagi saya minta maaf, Tuan. Saya tidak sengaja—"
“Kembali bekerja. Dan jangan lakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya jika kau masih ingin bekerja di kastilku!”
Awalnya Kael hendak mengusir Emily, tangannya yang gemetar terangkat kasar untuk menepis nampan dan mengusir gadis itu dari pandangannya.Namun, gerakan Kael terhenti di udara. Emily dengan cepat menggeser gelang anyaman hitam bersimpul mati itu tepat di bawah jemari Kael, memperlihatkannya dengan jelas di bawah pendar cahaya lampu kamar.Benda usang itu membuat Kael membolakan matanya sempurna.Seluruh otot tubuhnya mendadak kaku, bukan karena racun besi hitam, melainkan karena hantaman memori lama yang mendadak menyeruak paksa dari dasar ingatannya."Kau... dari mana kau mendapatkan benda ini?!" desis Kael, suaranya bergetar hebat, kehilangan seluruh nada otoriter militernya."Aku membawanya dari Kak Johan, Kael," jawab Emily, air matanya menetes mendarat di atas selimut. "Gelang ini... gelang yang kau berikan pada kakakku saat kau menangis di sudut dapur kastil lama."Ingatan itu menghantam Kael layaknya gada besi. Mereka berteman sejak tujuh belas tahun yang lalu, saat Kael yang m
Pintu kayu ek yang tebal itu terbuka perlahan dengan derit halus yang memotong ketegangan di dalam ruangan. Tak lama kemudian, tirai sutra penahan angin di balik pintu terbuka dan Emily masuk ke dalam kamar dengan langkah perlahan yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara bising.Kedua tangannya memegang sebuah nampan perak berisi semangkuk sup herba hangat yang mengepulkan uap beraroma menenangkan, aroma yang sangat akrab di indra penciuman sang Duke selama berbulan-bulan ini.Ia berjalan mendekati ranjang, langkahnya sempat tertahan sejenak saat melihat Kael yang masih terbaring lemah namun sudah sepenuhnya sadar. Tatapan mata elang pria itu langsung menusuk tajam ke arahnya, pekat dengan campuran antara amarah, harga diri yang terluka, dan kebingungan yang mendalam.Thomas mundur beberapa langkah secara hormat, memberikan ruang namun tetap mengawasi situasi dengan cemas.Emily meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping tempat tidur. Jantungnya berdegup
Sinar matahari musim dingin menembus tirai sutra kamar utama kastil Ravenshire, melemparkan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai kayu ek yang mengilat. Kehangatan uap dari radiator mekanis memenuhi ruangan, mengusir hawa beku yang sempat mencengkeram kastil selama berhari-hari.Kael perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat, seolah kelopak itu terbuat dari timah. Pandangannya kabur selama beberapa saat sebelum langit-langit kamar yang berukir lambang serigala utara mulai terfokus di matanya.Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara hangat memenuhi paru-parunya. Denyut nyeri yang biasanya menghujam beringas di lutut kirinya kini sudah jauh berkurang, berganti menjadi rasa kebas yang tumpul berkat balutan perban baru yang tebal dari tabib utama.Hal pertama yang dilihat oleh Kael saat kesadarannya pulih adalah sosok Thomas. Pelayan kepala itu sedang berdiri setia di samping tempat tidurnya, dengan raut wajah lelah namun penuh kelegaan, bersiap mengganti
Matahari fajar akhirnya menyembul dari balik puncak-puncak gunung es, memantulkan cahaya putih keperakan yang berkilau di atas hamparan salju utara. Namun, keindahan itu sama sekali tidak mengurangi hawa dingin yang mencekam di dalam dinding Kastil Ravenshire.Emily berdiri termenung di sebuah balkon batu kastil yang menghadap langsung ke arah pegunungan utara yang angkuh. Tangannya yang terbungkus sarung kain rajut mencengkeram pagar pembatas batu yang membeku, sementara napasnya keluar sebagai uap-uap kecil yang langsung lenyap disapu angin fajar.Langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat.Lucian, sang asisten kastil sekaligus orang kepercayaan Kael, mendatangi Emily dengan wajah yang tampak sangat kusut dan pucat pasi. Ia menghentikan langkahnya beberapa jengkal di belakang Emily, menatap punggung gadis itu dengan napas yang masih memburu."Emily..." panggil Lucian, suaranya bergetar hebat memecah kesunyian balkon batu.Emily tidak membalikkan badannya, pandangannya tetap lurus
Di luar kamar utama yang besar dan sunyi, hawa dingin koridor kastil terasa menusuk hingga ke tulang. Suara denting peralatan medis logam dan desis uap pemanas dari dalam ruangan sesekali terdengar, menandakan tabib utama kastil sedang meracik obat penawar dan membersihkan luka infeksi di kaki Kael dengan tergesa-gesa.Thomas berdiri bersama Emily di dekat pilar batu yang tinggi. Pria tua itu menatap Emily, yang sejak tadi tidak bisa diam dan terus meremas jemarinya yang membeku karena cemas.Thomas tersenyum sedih sambil mengusapi lengan Emily dengan penuh rasa sayang kebapakan, mencoba memberikan sedikit kehangatan di tengah badai takdir yang sedang mengurung mereka."Kau baru saja melakukan hal yang melampaui batas kewajiban seorang manusia, Emily," bisik Thomas, suaranya parau dan bergetar karena emosi yang tertahan."Emily, kau adalah gadis yang memiliki hati sangat baik dan tulus. Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu gigih menyelamatkan nyawa orang yang berniat menghab
Setibanya mereka di halaman dalam kastil Ravenshire yang masih sepi dan diselimuti kabut abu-abu, derap langkah kaki kuda yang tersengal-sengal memecah keheningan fajar.Thomas dan para pelayan senior lainnya yang sedang bersiap menyambut pagi dengan membersihkan lampu gantung uap langsung terkejut setengah mati.Beberapa dari mereka bahkan menjatuhkan sapu dan wadah minyak usai melihat Johan Dawson dan Emily Dawson datang membawa pulang Duke Kael dalam kondisi mengenaskan."Astaga! Apa yang terjadi?!" teriak Thomas, wajah tuanya seketika memucat saat mengenali sosok yang terkulai di atas pelana. "Itu... Yang Mulia Duke!"Emily melompat dari kudanya dengan tergesa-gesa hingga sempat tergelincir di atas lantai batu yang licin.Dengan napas memburu dan air mata yang bercampur lelehan salju, ia berteriak dengan suara serak memerintahkan para pelayan yang masih terpaku, "Cepat bergerak! Segera panggil tabib utama kastil ke kamar atas! Kael saat ini sedang berada dalam kondisi sekarat dan
Emily melangkah masuk dengan nampan perak di tangannya menuju ruang makan sang duke. Aroma madu dan rempah juniper menguar dari piring yang ia bawa, aroma yang sama dengan yang membuat Kael terdiam di hutan tadi siang.Kael duduk di kepala meja panjang. Ia tidak lagi mengenakan zirah, hanya kemeja
“Dari ibu saya, Tuan. Di desa,” jawab Emily penuh ketakutan.Kael lantas berdiri dari duduknya, lalu melangkah mendekat hingga ia berada tepat di depan Emily.Tangannya kemudian mencengkeram dagu Emily dan mengangkatnya dengan kasar, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam mata abu-abunya yang
Emily memacu kudanya beberapa langkah di belakang Kael, sementara matanya terus waspada memperhatikan punggung tegap sang Duke.Tidak ada obrolan. Kael bukan tipe pria yang suka berbasa-basi saat berburu; baginya, ini adalah tugas efisiensi, bukan rekreasi.Kael tiba-tiba mengangkat tangan, memberi
“Saya ... saya baru kembali dari dapur, Tuan Duke,” jawab Emily cepat sambil menunduk.Kael melangkah keluar, mendekati Emily hingga jarak mereka hanya tersisa dua langkah. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Emily dengan intensitas yang mencekik.Emily bisa merasakan jantungnya berdegup ken







