INICIAR SESIÓN“Elian, ikut aku!” perintah Kael dengan nada dinginnya.
Dengan langkah yang dia coba agar tidak gemetar, Emily masuk ke dalam kamar mandi. Saat tiba di dalam kamar mandi pribadi sang Duke, dia kini berdiri mematung di belakang tuannya itu.
Sementara Kael sudah berada di dalam kolam marmer, sambil menyandarkan lengannya yang berotot di tepian kolam.
Air panas itu merendam tubuhnya hingga sebatas dada, dan memperlihatkan bahu lebar yang penuh dengan bekas luka perang, tanda bahwa pria ini adalah mesin pembunuh yang nyata.
Mata abu-abunya yang tajam menatap Emily tanpa berkedip, dingin dan penuh selidik. “Kenapa kau masih berdiri di sana seperti patung, Elian?” tanya Kael dingin.
“Aku sedang memberimu hadiah. Kau sudah bekerja lembur seminggu ini tanpa mengeluh. Masuklah ke air. Itu akan melunakkan ototmu yang kaku.”
Emily menelan ludah dengan susah payah usai mendengar perintah sang duke. “T-tuan Duke, saya ... saya benar-benar tidak pantas. Saya hanya seorang pelayan. Saya bisa mandi di barak pelayan nanti malam, Tuan.”
“Barak pelayan?” Kael mendengus sinis. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tidak mencapai matanya.
“Laporan yang kuterima justru mengatakan kau tidak pernah mandi di barak. Kau lebih suka menyelinap ke sungai di tengah malam, mencuci kain-kain putih panjang yang aneh, dan mandi sendirian di air yang membeku. Kenapa? Apa kau merasa terlalu suci untuk berbaur dengan pria lain?”
Jantung Emily mencelos. Jadi Kael sudah tahu tentang aktivitas rahasianya di sungai? Pria ini benar-benar tidak pernah membiarkan satu detail pun luput dari pengawasannya.
“Itu ... itu karena saya memiliki trauma dengan keramaian, Tuan,” Emily mencoba mencari alasan sekenanya. “Saya lebih suka menyendiri.”
“Trauma?” Kael berdiri perlahan lalu menatap lekat wajah Emily dengan tatapan datarnya.
“Aku tidak peduli dengan traumamu. Aku tuanmu, dan aku memerintahkanmu untuk mandi di sini sekarang juga. Lepaskan pakaianmu, Elian. Itu perintah. Jangan membuatku harus mengulanginya untuk ketiga kali, atau aku sendiri yang akan mengulitimu.”
Tubuh Emily gemetar hebat. Tidak punya pilihan lagi sambil berpikir jernih, Emily melangkah mendekat ke tepi kolam dengan kaki yang terasa lemas.
Matanya tetap menatap lantai karena tidak berani melihat tubuh telanjang sang Duke yang kini berdiri separuh badan di depannya.
Tangan Emily naik ke kerah bajunya. Jemarinya yang pucat menyentuh kancing paling atas.
Di balik kain kemeja ini, terdapat bebat kain yang melilit dadanya dengan sangat ketat hingga ia sering kesulitan bernapas.
Jika ia membuka kemeja ini, identitasnya sebagai Emily Dawson, putri buronan kerajaan, akan tamat. Kael akan langsung memenggal kepalanya tanpa ragu, mengingat betapa pria itu membenci wanita dan pengkhianatan.
“Buka,” desis Kael lagi, kali ini lebih tajam.
Satu kancing terbuka. Kemudia Emily memejamkan mata sembari menahan air mata keputusasaan yang hampir jatuh.
Tangannya bergerak ke kancing kedua, yang merupakan batas rahasianya. Jika kancing ini lepas, kain bebat itu akan terlihat.
BRAK! BRAK! BRAK!
Gedoran keras di pintu kayu jati kamar mandi mengejutkan mereka berdua. Emily tersentak, tangannya langsung jatuh kembali ke samping tubuhnya.
“Tuan Duke! Laporan darurat!” suara Komandan Penjaga Ravenshire terdengar mendesak dari balik pintu.
“Ada apa?! Aku sedang tidak ingin diganggu!” geram Kael hingga rahangnya mengeras karena gangguan yang tidak tepat waktu ini.
“Ini tentang pelarian Dawson, Tuan! Pasukan patroli menemukan jejak kaki dan sisa perkemahan kecil di lereng gunung perbatasan Utara. Kami menemukan barang bukti yang mengonfirmasi bahwa itu adalah Johan Dawson!”
Mendengar nama tersebut, tubuh Emily sontak membeku. Johan Dawson. Kakak laki-lakinya.
Pria yang selama ini ia kira sudah tewas dieksekusi di Ibukota bersama ayahnya, ternyata masih hidup dan berada di wilayah yang sama dengannya.
'Johan? Apakah dia masih hidup? Jadi, dia juga melarikan diri sepertiku?' bisik Emily dalam hatinya.
Kael segera keluar dari kolam, bahkan sama sekali tidak peduli dengan ketelanjangannya di depan Emily. Lalu menyambar handuk besar dan melilitkannya di pinggang dengan gerakan kasar.
Sementara matanya menyala oleh haus darah yang murni. “Johan Dawson?” Kael mengulang nama itu dengan nada yang penuh kebencian.
“Jadi tikus itu berani menginjakkan kaki di tanahku setelah keluarganya menghancurkan logistik prajuritku?”
Duke itu kemudian membuka pintu dan keluar dengan langkah besar, lalu meneriakkan perintah kepada para pengawalnya untuk menyiapkan kuda dan senjata.
“Elian. Siapkan pakaian untukku. Aku harus bersiap menebas leher putra pengkhianat itu oleh pedangku sendiri!”
Awalnya Kael hendak mengusir Emily, tangannya yang gemetar terangkat kasar untuk menepis nampan dan mengusir gadis itu dari pandangannya.Namun, gerakan Kael terhenti di udara. Emily dengan cepat menggeser gelang anyaman hitam bersimpul mati itu tepat di bawah jemari Kael, memperlihatkannya dengan jelas di bawah pendar cahaya lampu kamar.Benda usang itu membuat Kael membolakan matanya sempurna.Seluruh otot tubuhnya mendadak kaku, bukan karena racun besi hitam, melainkan karena hantaman memori lama yang mendadak menyeruak paksa dari dasar ingatannya."Kau... dari mana kau mendapatkan benda ini?!" desis Kael, suaranya bergetar hebat, kehilangan seluruh nada otoriter militernya."Aku membawanya dari Kak Johan, Kael," jawab Emily, air matanya menetes mendarat di atas selimut. "Gelang ini... gelang yang kau berikan pada kakakku saat kau menangis di sudut dapur kastil lama."Ingatan itu menghantam Kael layaknya gada besi. Mereka berteman sejak tujuh belas tahun yang lalu, saat Kael yang m
Pintu kayu ek yang tebal itu terbuka perlahan dengan derit halus yang memotong ketegangan di dalam ruangan. Tak lama kemudian, tirai sutra penahan angin di balik pintu terbuka dan Emily masuk ke dalam kamar dengan langkah perlahan yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara bising.Kedua tangannya memegang sebuah nampan perak berisi semangkuk sup herba hangat yang mengepulkan uap beraroma menenangkan, aroma yang sangat akrab di indra penciuman sang Duke selama berbulan-bulan ini.Ia berjalan mendekati ranjang, langkahnya sempat tertahan sejenak saat melihat Kael yang masih terbaring lemah namun sudah sepenuhnya sadar. Tatapan mata elang pria itu langsung menusuk tajam ke arahnya, pekat dengan campuran antara amarah, harga diri yang terluka, dan kebingungan yang mendalam.Thomas mundur beberapa langkah secara hormat, memberikan ruang namun tetap mengawasi situasi dengan cemas.Emily meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping tempat tidur. Jantungnya berdegup
Sinar matahari musim dingin menembus tirai sutra kamar utama kastil Ravenshire, melemparkan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai kayu ek yang mengilat. Kehangatan uap dari radiator mekanis memenuhi ruangan, mengusir hawa beku yang sempat mencengkeram kastil selama berhari-hari.Kael perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat, seolah kelopak itu terbuat dari timah. Pandangannya kabur selama beberapa saat sebelum langit-langit kamar yang berukir lambang serigala utara mulai terfokus di matanya.Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara hangat memenuhi paru-parunya. Denyut nyeri yang biasanya menghujam beringas di lutut kirinya kini sudah jauh berkurang, berganti menjadi rasa kebas yang tumpul berkat balutan perban baru yang tebal dari tabib utama.Hal pertama yang dilihat oleh Kael saat kesadarannya pulih adalah sosok Thomas. Pelayan kepala itu sedang berdiri setia di samping tempat tidurnya, dengan raut wajah lelah namun penuh kelegaan, bersiap mengganti
Matahari fajar akhirnya menyembul dari balik puncak-puncak gunung es, memantulkan cahaya putih keperakan yang berkilau di atas hamparan salju utara. Namun, keindahan itu sama sekali tidak mengurangi hawa dingin yang mencekam di dalam dinding Kastil Ravenshire.Emily berdiri termenung di sebuah balkon batu kastil yang menghadap langsung ke arah pegunungan utara yang angkuh. Tangannya yang terbungkus sarung kain rajut mencengkeram pagar pembatas batu yang membeku, sementara napasnya keluar sebagai uap-uap kecil yang langsung lenyap disapu angin fajar.Langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat.Lucian, sang asisten kastil sekaligus orang kepercayaan Kael, mendatangi Emily dengan wajah yang tampak sangat kusut dan pucat pasi. Ia menghentikan langkahnya beberapa jengkal di belakang Emily, menatap punggung gadis itu dengan napas yang masih memburu."Emily..." panggil Lucian, suaranya bergetar hebat memecah kesunyian balkon batu.Emily tidak membalikkan badannya, pandangannya tetap lurus
Di luar kamar utama yang besar dan sunyi, hawa dingin koridor kastil terasa menusuk hingga ke tulang. Suara denting peralatan medis logam dan desis uap pemanas dari dalam ruangan sesekali terdengar, menandakan tabib utama kastil sedang meracik obat penawar dan membersihkan luka infeksi di kaki Kael dengan tergesa-gesa.Thomas berdiri bersama Emily di dekat pilar batu yang tinggi. Pria tua itu menatap Emily, yang sejak tadi tidak bisa diam dan terus meremas jemarinya yang membeku karena cemas.Thomas tersenyum sedih sambil mengusapi lengan Emily dengan penuh rasa sayang kebapakan, mencoba memberikan sedikit kehangatan di tengah badai takdir yang sedang mengurung mereka."Kau baru saja melakukan hal yang melampaui batas kewajiban seorang manusia, Emily," bisik Thomas, suaranya parau dan bergetar karena emosi yang tertahan."Emily, kau adalah gadis yang memiliki hati sangat baik dan tulus. Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu gigih menyelamatkan nyawa orang yang berniat menghab
Setibanya mereka di halaman dalam kastil Ravenshire yang masih sepi dan diselimuti kabut abu-abu, derap langkah kaki kuda yang tersengal-sengal memecah keheningan fajar.Thomas dan para pelayan senior lainnya yang sedang bersiap menyambut pagi dengan membersihkan lampu gantung uap langsung terkejut setengah mati.Beberapa dari mereka bahkan menjatuhkan sapu dan wadah minyak usai melihat Johan Dawson dan Emily Dawson datang membawa pulang Duke Kael dalam kondisi mengenaskan."Astaga! Apa yang terjadi?!" teriak Thomas, wajah tuanya seketika memucat saat mengenali sosok yang terkulai di atas pelana. "Itu... Yang Mulia Duke!"Emily melompat dari kudanya dengan tergesa-gesa hingga sempat tergelincir di atas lantai batu yang licin.Dengan napas memburu dan air mata yang bercampur lelehan salju, ia berteriak dengan suara serak memerintahkan para pelayan yang masih terpaku, "Cepat bergerak! Segera panggil tabib utama kastil ke kamar atas! Kael saat ini sedang berada dalam kondisi sekarat dan
“Tahan sedikit, Elian,” gumam Lucian tanpa mendongak, dia tengah membasuh luka lecet di telapak tangan Emily dengan teliti. “Luka ini tidak seberapa dibandingkan apa yang akan Duke lakukan jika dia melihatmu melamun di aula tadi.”Emily menarik napas panjang seraya menatap uap yang naik dari mangku
“Kau bilang kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, Benny,” suara Kael memecah kesunyian, begitu tenang namun mengandung ancaman yang mematikan.“Kau bilang dia terluka dan terjebak di dalam gua itu.”Benny tampak gemetar hebat mendengar ucapan Kael barusan. “S-saya benar-benar melihatnya, Tua
Gua batu itu mendadak berubah menjadi neraka yang dingin. Suara teriakan para prajurit berpadu dengan geraman rendah yang mengerikan dari kegelapan.Obor yang dibawa Emily bergoyang hebat saat beberapa ekor serigala berbulu abu-abu kusam melompat keluar dari celah bebatuan.Hewan-hewan itu tampak k
Emily kini berada di dalam ruang kerja sang Duke. Wanita itu berdiri sendirian di dekat meja besar yang berantakan, sementara suara langkah kaki para pengawal terdengar menjauh di koridor.Kael sedang berada di kamarnya untuk mengganti pakaian yang kotor oleh debu penjara, memberinya waktu beberapa







