Mag-log inIni Bab Kedua siang ini. selamat beraktivitas (◠‿・)—☆ Btw othor sedang perjalanan ke kota Malang, Pakde Othor meninggal. Jadi mungkin rilisan malam bisa sedikit terlambat.
Penghalang hitam yang melindungi Xander Jett dan dua orang lainnya itu mulai menampakkan retakan-retakan halus, akibat terus dihantam gas hitam yang seolah tak ada habisnya.Mira Yin menatap retakan itu dengan gelisah. Ia bertanya pada Thea, "Kak Thea, berapa lama lagi penghalang ini bisa bertahan?""Aku khawatir hanya sanggup bertahan satu jam lagi." Thea menatap penghalang itu, sepasang matanya yang indah berkilat cemas.Awalnya, Xander Jett menyiapkan tirai cahaya ini untuk menghadang para peserta yang hendak merebut harta peninggalan Mordane Lethe.Tak disangka, kini tirai itu malah dipakai untuk menahan gempuran gas hitam yang tak ada batasnya.Lebih buruk lagi, makin banyak kultivator yang dilahap si jubah hitam di puncak ini, makin kuat pula gas hitam yang mengurung mereka. Kalau keadaan terus begini, jangankan satu jam, mungkin mereka tak akan sanggup bertahan lebih lama lagi.Thea memandang Xander Jett. Untuk sekarang, ia hanya bisa berharap pemuda itu segera pulih, sebab ha
Sorot mata Ryan meredup. "Betul. Orang ini bisa menciptakan monster-monster buruk rupa dari korbannya. Aku sendiri bahkan sudah membunuh tiga di antaranya tadi, dan ketiganya sekuat Ranah Creation.""Tuan Muda, saat ini di dalam alam rahasia, semua kultivator kuat yang percaya pada kekuatan mereka pasti sedang berlomba menuju pilar cahaya hitam itu untuk merebut harta," ucap Roxanne. "Kita harus segera ke sana dan bekerja sama dengan mereka untuk membunuh iblis ini sebelum semuanya terlambat."Pada saat itu, bahkan Zane yang biasanya santai dan haus pertarungan pun akhirnya sadar betapa gawatnya keadaan yang mereka hadapi.Dia langsung berkata pada Ryan, "Saudara Ryan, sepertinya pertarungan kita terpaksa ditunda ke lain hari. Mari naik ke kapal terbang dulu dan menuju puncak itu bersama-sama secepatnya."Ryan mengangguk tanpa ragu, dan dalam sekejap sosoknya sudah berdiri tegak di atas kapal terbang."Saudara Ryan, tolong alirkan energi spiritualmu ke dalam kapal ini supaya kecepatan
Pada saat itu, seorang wanita bertubuh sintal melayang turun dari kapal terbang dengan gerakan ringan dan mendarat tanpa suara di samping Zane. Dialah Roxanne Carr.Ia menatap Ryan lekat-lekat dan langsung bertanya, "Orang yang kau maksud itu, apa dia memang sedang memburu para peserta di alam rahasia ini?"Ryan melirik wanita itu sekilas, lalu mengangguk pelan. "Bukan sekadar memburu. Orang ini sepertinya punya teknik aneh yang membuatnya bisa melahap kultivator lain, lalu menyerap habis kultivasi dan garis darah mereka.""Saat ini dia sudah menyentuh puncak Ranah Creation. Kalau dia terus melahap kultivator di alam rahasia ini sampai naik ke Ranah Star Sealed, akibatnya sungguh tak terbayangkan."Mendengar itu, raut wajah Zane berubah serius.Bahkan bagi dirinya yang gemar bertarung, menghadapi orang yang sanggup melahap kultivasi lawan pasti akan sangat merepotkan. Kekuatan musuh itu terus bertambah setiap kali ia m
Tanpa menunggu jawaban Ryan, Zane Starfeld melompat turun dari kapal terbangnya dan langsung melayangkan satu pukulan ke arah pemuda di hadapannya.Begitu kepalannya bergerak, sesosok bayangan samar seorang pria raksasa muncul di belakangnya. Saat bayangan itu menampakkan diri sepenuhnya, dunia di sekeliling Zane seakan ikut berguncang olehnya.Udara meledak hebat di sekitar kepalan itu. Tekanan dahsyat menyebar ke segala arah, membuat pepohonan di bawah mereka tunduk merunduk seperti ditiup badai topan.Sesaat itu, segala hal di sekitar seolah lenyap dari pandangan, dan yang tersisa hanyalah satu kepalan. Kepalan yang sanggup meremukkan dunia. Itulah kepalan Zane Starfeld yang tersohor.Ryan terdiam sejenak, alisnya berkerut tipis.'Orang ini menyerangku begitu saja tanpa basa-basi sedikit pun? Benar-benar manusia gila.'Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin sebuah keluarha ternama di Benua Valorisi
Ryan lalu mengalihkan perhatiannya ke kotak yang tersimpan di dalam Kuburan Pedang. Kotak itu bergetar hebat di dalam sana, seakan bereaksi terhadap pilar cahaya hitam di kejauhan, seperti dua benda yang saling memanggil. Tampaknya Mordane Lethe tidak hanya meninggalkan kotak ini, tapi juga menyimpan sesuatu yang lain di alam rahasia ini. Ryan ingin bertanya pada Mata Iblis soal kotak itu, tapi entitas itu sudah kembali tertidur. Lagi pula, di dalam gua tadi Mata Iblis sempat mengambil alih tubuhnya untuk menggali rahasia masa lalu, dan itu menguras lebih banyak kekuatannya hingga ia jatuh terlelap kembali. Untuk sekarang, Ryan hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. 'Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri.' Tidak ada gunanya menunggu Mata Iblis terbangun, sebab tak ada yang tahu kapan ia akan pulih. Pada saat itu, Xavier menangkap aura harta karun yang menguar dari dalam cahaya hitam. Seolah ada sebuah pusaka rahasia yang sebentar lagi akan terlepas dari segelnya dan t
Ryan mengangguk, sorot matanya berubah serius. Tampaknya hal terpenting sekarang bukan lagi soal mengumpulkan token giok ungu milik peserta lain, melainkan memusnahkan tuntas kultivator aneh pelahap manusia itu sebelum terlambat. Kalau dibiarkan terus memangsa peserta sampai mencapai Ranah Star Sealed, akibatnya sungguh tak terbayangkan. Bahkan Ryan sendiri tak yakin sanggup membunuhnya bila sudah sampai ke titik itu, dan kalau itu benar terjadi, seluruh peserta kompetisi akan menghadapi malapetaka. Lebih buruk lagi, makin lama orang itu dibiarkan, makin banyak kultivator muda berbakat yang akan jadi santapannya. Setiap nyawa yang ia telan langsung berubah menjadi tambahan kekuatan baginya, dan lingkaran itu hanya akan terus membesar selama tak ada yang menghentikannya. Ini bukan sekadar ancaman bagi Ryan seorang, melainkan bagi semua orang yang terjebak di alam rahasia ini. "Di mana kau bertarung melawan orang itu?" tanya Ryan pada Xavier. Xavier mengerutkan kening dalam-dal
Realisasi menghantam Ryan bagaikan petir di siang bolong. Semuanya mulai masuk akal sekarang! Sejak pertama kali tidur dengan Adel, kecepatan kultivasi Ryan meningkat pesat. Energi qi yang ia serap dari lingkungan juga terasa jauh lebih murni. Awalnya ia mengira itu berkat Kuburan Pedang, nam
"Ryan, mari kita lihat bagaimana kamu akan memblokir serangan ini!" teriak Hassan al-Sabbagh dengan penuh keyakinan.Begitu ia selesai berbicara, lima sinar cahaya melesat ke langit-langit aula, lalu berbalik arah dan jatuh ke arah Ryan bagai meteor yang siap menghancurkan segalanya.
Gawain Wealth hanya mendengus dingin, memilih tak menanggapi provokasi itu. Ia tahu betul situasinya—semakin banyak bicara, semakin besar kemungkinan konflik pecah. "Aku peringatkan Anda," Yun Jing melanjutkan dengan nada mengancam, "jika Anda bersikeras melindungi anak ini, aku akan berbicara deng
Yun Jing telah tewas! Tidak seorang pun menduga hal-hal akan berkembang seperti ini. Keberadaan yang agung dan perkasa—seorang grandmaster yang pernah menduduki peringkat 400 besar di Nexopolis—dihancurkan dan dibunuh oleh seorang pemuda yang bahkan belum genap seperempat abad! Keheningan mence







