登入"Maaf, Ki Bongkok Sepuh. Kulakukan karena kau memaksaku untuk adu kecepatan. Aku tak mau kau kecam seperti saat kau berhasil membawa lari cincin itu."
Bongkok Sepuh manggut-manggut dengan senyum tuanya. Terdengar suaranya yang pelan berkata, "Aku harus mengakui keunggulanmu yang melebihi gerakanku."
"Aku tidak butuh pengakuan itu. Aku hanya butuh cincin pusaka itu."
"Akan kuberikan setelah kau selesai mengatasi persoalanku. Ada baiknya kalau kau jangan bergerak lebih cepa
Orang yang bicara memakai pakaian serba hitam dengan kepala berambut pendek botak depannya. Tubuhnya kekar walau tak gemuk. Matanya besar, bundar, dengan bibir tebal dan codet di pipi kanannya, ia pun mempunyai pancaran sinar mata yang cukup tajam, dengan tepian mata sedikit merah menandakan keganasan jiwanya. Sebilah kapak lebar bergagang panjang mirip tombak tergenggam di tangan kanan.Mata kapak yang lebar dan putih mengkilat itu masih berlumur darah, menandakan habis dipakai untuk membunuh lawannya. Bahkan darah itu masih menetes membasahi rumput yang ada di bawahnya, ia berusia empat puluh lima tahun, berarti lebih muda lima tahun dari si Demit Lanang.Setelah bungkam beberapa saat, Demit Lanang pun mulai perdengarkan suaranya yang bulat dan besar, menyeramkan. "Apakah kau sudah siap untuk mati, Ladang Bangkai!""Setelah membelah tubuhmu, aku baru siap mati, Demit Lanang!""Baik," ucap Demit Lanang dengan suaranya yung besar dan menggetarkan hati law
Baraka hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala ketika mereka pergi meninggalkannya. Namun setelah itu ia menjadi tertegun dan berkata dalam batinnya sendiri."Benarkah ada jurus yang mampu melenyapkan orang sedesa? Siapa pemiiik jurus 'Bintara Jingga' itu?"Sambil melangkah pikiran Baraka tertuju pada jurus 'Bintara Jingga', ia menjadi penasaran dan ingin tahu seperti apa kedahsyatan jurus itu."Atau jangan-jangan hanya dongeng belaka?" duga hati Baraka dengan sangsi. "Sayang sekali tadi aku lupa menanyakan nama desanya Paman Bagus Sepasar itu. Seharusnya aku datang ke desa itu dan melihat keadaannya, benarkah orang sedesa lenyap semua atau yang dimaksud 'lenyap' adalah pergi mengungsi ke tempat lain?"Pendekar Kera Sakti ingin kembali mengejar Bagus Sepasar dan Mario Kere, tapi langkahnya terhenti oleh sekelebat bayangan yang melintas di sela-sela pohon sebelah barat. Baraka menjadi curiga dengan orang yang berkelebat cepat itu. "Sepertinya orang itu
"Mengapa kau melemparkan kayu itu padaku!""Karena ternyata kaulah yang memiliki jurus 'Bintara Jingga' itu!""Apa maksudmu?" sela Baraka. "Mengapa kau bersikap memusuhi orang yang mempunyai jurus 'Bintara Jingga'? Apa salahnya?""Orang ituiah yang membuat penduduk desaku menjadi lenyap dan desa menjadi sepi bagaikan kuburan. Hanya aku yang masih hidup, sendirian! Aku kesepian seperti anak yatim piatu, maka aku pun dendam kepada pemilik jurus 'Bintara Jingga' itu!"Dahi Baraka berkerut mendengar penjelasan yang disertai dengan luapan kejengkelan. Matanya pandangi orang yang berpakaian biru, sementara orang yang tergantung segera berkata kepada orang berpakaian biru, "Hei, aku baru ingin memiliki jurus itu. Bukan sudah memiliki. Dengan bertapa gantung seperti ini, kata orang kita bisa memiliki jurus 'Bintara Jingga'. Tapi nyatanya baru akan mendapatkan jurus itu saja sudah sesak napas dan dada menjadi bengkak begini! Maka dari itu, kubatalkan sajalah berta
ENTAH siapa orangnya yang memasang jerat di hutan itu. Mungkin seorang pemburu rusa yang ingin menangkap binatang buruannya dengan cara memasang jerat di tanah. Jerat itu dihubungkan dengan pucuk dahan pohon tinggi yang lentur dan bisa dilengkungkan ke bawah. Jika kaki rusa masuk ke dalam lingkaran tambang dan menyamparnya, maka kaki rusa itu akan langsung terjerat tambang itu. Jika tambang tersentak, maka penyangga ujung dahan yang melengkung itu akan bergeser dan dahan itu akan naik ke atas. Lalu rusa yang terjerat akan tergantung kakinya.Namun agaknya sang rusa sudah hafal dengan polah tingkah para pemburu. Sang rusa tidak mau melewati bagian bawah pohon tersebut. Yang melewati pohon itu adalah seorang lelaki agak pendek bertubuh kurus, rambut pendek, usianya sekitar empat puluh tahun, ia mengenakan pakaian serba hijau seperti daun berjalan. Wajahnya bulat dengan kumis tipis di bawah hidung. Kumis itu yang membuat wajahnya menjadi lucu.Ketika ia berlari melewati p
"Terima kasih atas kepercayaanmu, Tabib Awan Putih," ujar Salju Kelana yang juga pernah berobat kepada Tabib Awan Putih."Baik, sekarang semua sudah tahu siapa aku!" seru Dewi Kipas Ayu. "Sekarang giliranku bertindak terang-terangan merenggut nyawa kedua tabib yang ada di sini! Hiaaaat...!"Wuuus...!Gerakannya seperti kapas terbang. Begitu cepat ia menyerang Tabib Awan Putih, sehingga sang tabib terkejut lalu sentakkan kakinya ke tanah, tubuh pun melenting ke atas dan ia hinggap di atas sebuah pohon tepi pantai. Ia berdiri di pucuk daun tanpa membuat daun itu bergerak sedikit pun."Kupaksa turun kau, Keparat!" teriak Dewi Kapas Ayu, kemudian ia lepaskan sinar biru menyebar lebar ke arah Tabib Awan Putih.Sraaaab...! Tabib Awan Putih mengadu ilmunya dengan mengeluarkan sinar putih perak dari ujung jarinya. Sinar itu kecil, dan tidak sebanding dengan sinar biru tersebut.Namun ketika bertabrakan menimbulkan ledakan yang menggelegar dahsyat da
"Bagaimana kau bisa tahu semua itu, Ki Sanupati?" tanya Baraka bersikap menyelidik."Pendeta Jantung Dewa dan Pendeta Mata Lima adalah sahabat karibku, satu perguruan beda tingkatan. Jangan tanya tinggi mana tingkatan mereka dengan tingkatanku, aku tak mau menjawabnya!" sergah Tua Bangka yang agaknya merahasiakan soal tingkatannya itu."Jadi, secara tidak langsung sebenarnya Dewi Kapas Ayu adalah lawanku juga, karena rencongnya itu yang akan menandingi Kapak Kubur-ku!" kata Tua Bangka lagi."Kalau begitu, kita cari Dewi Kapas Ayu itu sebelum para tabib binasa oleh keganasan racun pada rencongnya!" kata Baraka penuh semangat. Ia bahkan memeluk Salju Kelana dari samping sebagai ungkapan rasa lega, bahwa pemilik rencong ternyata bukan gadis yang mirip Hyun Jelita itu."Tunggu sebentar," kata Tua Bangka dengan dahi berkerut seperti teringat sesuatu. "Ketika aku dikejar-kejar oleh orang kadipaten, aku sempat melihat ia bergerak ke arah timur. Tapi tak kupeduli
Pemuda yang memiliki senjata kapak Kebo Geni ini tidak lain adalah Manusia Sontoloyo, yang dikenal dengan nama panggilan Dirgo Mukti. Mengapa Dirgo mencari Dewi Murka beberapa hari ini? Itu adalah tugas.Tugas yang turun dan dikeluarkan dari mulut Selendang Maut, Selendang Maut bersedia mem
"Aku mengerti, Dewi Murka. Baiklah kalau kau menghendaki kita bersatu."Masih ingatkah para pembaca dengan kedua gadis cantik jelita ini. Selendang Maut dan Dewi Murka. Keduanya adalah murid Nyai Guru Betari Ayu dari Perguruan Merpati Wingit. Keduanya memang diutus oleh Nyai Betari Ayu ke B
Dulu mereka terlibat bentrokan karena seorang pemuda yang bernama Trenggono. Pemuda yang punya mulut setajam pisau itu telah menyebar fitnah asmara, sehingga Selendang Maut dan Peri Malam saling beradu kekuatan ilmunya. Tetapi setelah diketahui bahwa Trenggono seorang pemuda yang gemar melihat pe
"Maaf kalau begitu!' ucap Peri Malam berlagak ketus sambil melangkahkan kaki menuju bawah pohon mahoni yang rindang itu. Sampai di sana ia duduk. Matanya memandang Baraka yang masih berdiri dalam jarak sepuluh langkah. Berdebar hati Peri Malam setiap menatap mata murid Setan Bodong itu. Gelisah j







