Share

Bab 6

Author: SWEET_OWL
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-10 13:48:08

Wisnu Aji mengajak Catra memulai latihan mereka saat matahari baru saja terbit. Keduanya sudah berada di pinggiran sungai yang akan dijadikan tempat Catra mempelajari jurus pertamanya.

Wisnu Aji kemudian menaiki sebuah batu besar, sementara Catra berdiri tidak jauh darinya sambil memperhatikan pria tua itu tanpa berkedip.

"Jurus yang akan kakek guru ajarkan ini adalah jurus meringankan tubuh. Kakek menamainya Ajian Seribu Langkah. Kau perhatikan baik-baik, jangan sampai ada yang terlewat." ujar Wisnu Aji sambil membentuk kuda-kudanya. Kemudian ia memperagakan beberapa gerakan, yang secara tiba-tiba membuatnya dapat berlari diatas air tanpa pijakan.

"Wah, kakek guru hebat. Kakek guru bisa terbang." Catra yang melihatnya bertepuk tangan. Menurutnya pertunjukan yang dipertontonkan oleh Wisnu Aji sangat memukau.

Wisnu Aji berlari diatas air secara bolak-balik sekitar lima kali, sebelum kembali mendarat di atas batu besar sebelumnya. Kemudian, ia menoleh ke arah Catra yang terlihat bersemangat.

"Bocah, apakah kau sudah menghafal semuanya?" tanyanya Wisnu Aji memastikan.

Catra tidak menjawab, selain menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia berlari mendekati Wisnu Aji dan berdiri di sampingnya.

Ada tiga hal yang membuat Catra terpukau ketika melihat aksi Wisnu Aji barusan. Pertama, tentu saja karena pria tua itu bisa melayang di udara tanpa kesulitan. Kedua, tubuhnya seolah begitu ringan seperti kapas yang bisa terbawa terpaan angin. Tidak ada beban!

Terakhir adalah kecepatan geraknya, Wisnu Aji dapat berlari bolak-balik sebanyak lima kali hanya dalam lima tarikan napas saja. Padahal Catra tahu jarak dari posisi awal ke posisi tujuan setidaknya berkisar 328 kaki.

"Bagaimana, kau mau mencobanya sekarang?" Wisnu Aji menantang murid didiknya tersebut.

Catra menganggukkan kepalanya dengan cepat berulang kali dan terlihat sangat bersemangat. Ia sudah tidak sabar lagi ingin mencoba Ajian Seribu Langkah itu.

Catra memperagakan gerakan yang sama seperti ditunjukkan oleh Wisnu Aji sebelumnya. Kemudian, ia melompat ke atas air. Namun, tidak seperti yang Catra bayangkan, bukannya berhasil berdiri tanpa pijakan, Catra malah harus mendapati tubuhnya yang basah kuyup. Benar, bocah itu tercebur ke dalam sungai.

Wisnu Aji yang melihatnya tertawa terpingkal-pingkal sambil bertepuk tangan seolah kejadian buruk yang menimpa Catra adalah lelucon baginya. Berbeda halnya dengan Catra yang memasang wajah tidak senang.

Dengan perasaan marah, Catra kembali naik ke atas batu, lalu berseru, "Sekali lagi, aku pasti bisa melakukannya!"

Wisnu Aji menghentikan tawanya, sebelum menyetujui permintaan Catra. Ia mempersilahkan bocah itu untuk melakukan sesuai keinginannya. Namun, kesialan kembali menimpa Catra, lagi-lagi ia masih gagal menguasai Ajian Seribu Langkah.

Hal tersebut kembali memecah tawa Wisnu Aji yang sampai membuatnya sakit perut. Sementara Catra hanya bisa menelan kemarahannya dalam-dalam. Ia bahkan melampiaskannya dengan memukul air sangat keras.

Namun, Catra bukanlah bocah yang mudah menyerah, ia kembali naik ke permukaan dan meminta untuk mencobanya lagi. Wisnu Aji tidak melarangnya, ia mengatakan bahwa Catra bisa melakukannya sebanyak apapun.

Tapi, percobaan ketiga juga menemui kegagalan yang membuat Catra harus kembali merasakan dinginnya air sungai.

"Lagi!"

"Lagi!"

Sudah percobaan kesembilan Catra lakukan, namun tetap tidak mengalami kemajuan yang berarti. Ia selalu tercebur ke dalam sungai dari waktu ke waktu.

Tanpa terasa matahari juga sudah mulai meninggi, sudah berada tepat di atas kepala. Wisnu Aji sudah sejak lama mencari tempat berteduh agar tidak terkena teriknya matahari. Sambil rebahan di atas batu, ia terus memperhatikan latihan Catra.

Hingga pada suatu masa, Wisnu Aji merasa bosan, dan untuk mengurangi rasa kantuknya, Wisnu Aji memutuskan untuk pergi ke hutan untuk mencari buah-buahan.

"Bocah, aku pergi dulu. Jangan berhenti berlatih!" pesannya sebelum pergi.

Catra sendiri tidak terlalu menghiraukan Wisnu Aji, ia masih fokus pada latihannya dan bertekad untuk menguasai Ajian Seribu Langkah itu pada hari ini juga. Namun, sebanyak apapun ia mencoba, masih belum juga memiliki perkembangan, bahkan sampai Wisnu Aji sudah kembali dengan membawa cukup banyak buah-buahan.

"Bocah, apakah kau mau? Aku bisa memberinya satu." Wisnu Aji menawarkan buah apel yang ada di tangannya. Namun, tidak mendapat tanggapan dari Catra.

"Ya sudah kalau tidak mau, aku akan menghabiskannya sendiri." gumam Wisnu Aji seraya melangkah ke tempat yang teduh.

Selagi Wisnu Aji menikmati buah-buahan yang dipetiknya, Catra selalu melakukan latihannya. Namun, pada suatu waktu, ia terdiam cukup lama. Hanya berdiri menatap aliran sungai seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Apakah aku harus menyerah? Sepertinya aku tidak cocok untuk menjadi seorang pendekar?!" Catra terlarut dalam lamunannya.

Wisnu Aji yang menyadari Catra sudah berhenti berlatih juga menghentikan makannya.

"Aih, bocah ini mudah sekali putus asa…" ujarnya seraya berdiri. Kemudian ia mengambil dua buah apel, dan mengalirkan tenaga dalam yang cukup besar, lalu melemparkannya ke arah Catra.

Catra yang masih dalam lamunannya tidak menyadari kedatangan apel itu. Ia baru tersadar setelah buah tersebut mendarat tepat di kepalanya.

"Aw!" Catra meringis kesakitan sambil mengusap-usap tengah kepalanya.

"Kalau itu tadi adalah pisau atau senjata lawan yang berniat membunuhmu, maka kau sudah mati saat ini." Wisnu Aji berdecak pelan.

"Cepat bentuk kuda-kudamu, aku akan mengajarimu triknya."

Catra menoleh sejenak ke arah Wisnu Aji, namun buru-buru mengikuti perintahnya.

"Kau tahu kenapa tidak bisa menguasai Ajian Seribu Langkah?" Catra hanya terdiam mendapat pertanyaan tersebut.

"Itu karena kau tidak memperhatikan kesalahanmu dan terus menerus melakukan hal yang sama." Wisnu Aji menarik dua buah apel dengan tenaga dalamnya yang membuat buah tersebut seperti memiliki sebuah magnet yang terhubung dengan tangan pria tua itu.

"Kesalahan pertamamu adalah kuda-kudamu yang tidak sempurna!" Kemudian, ia kembali melemparkan buah apel ke kedua lutut Catra yang seketika membuat kuda-kuda bocah itu terbentuk dengan sempurna.

"Kedua, kau seharusnya memusatkan tenaga dalammu ke bagian kaki, agar beban di tubuhmu menjadi lebih ringan. Hal itu juga bisa membuat pergerakanmu lebih cepat."

"Jangan membagi pikiranmu ke masalah yang lain, kau harus fokus pada satu titik agar mendapatkan hasil yang maksimal."

"Singkirkan rasa takut yang ada dalam dirimu, karena kegagalan biasanya terjadi disebabkan rasa takut yang berlebihan."

Catra mulai memejamkan matanya, mencoba mengingat kembali petunjuk dari Wisnu Aji. Disaat yang sama, ia kembali teringat kejadian tragis yang menimpa keluarganya. Hal tersebut membuat Catra mengepalkan tangannya dengan keras.

Tanpa ia sadari, tekadnya untuk menjadi lebih kuat kembali menyala. Memang begitu tekad, jika seseorang memilikinya sedikit saja, maka dalam keadaan terpuruk sekalipun mereka akan berusaha untuk bangkit.

Dengan sebuah tekad, maka hal yang mustahil bisa saja dapat diwujudkan. Seperti saat ini, ketika Catra membuka matanya kembali, ia membayangkan dirinya yang seolah bergerak layaknya angin.

Lalu itulah yang terjadi, Catra kini berhasil berdiri diatas air tanpa pijakan, lalu berlari dengan begitu cepat.

"Aku berhasil!" Catra tidak bisa menutupi kegembiraannya saat sudah kembali berpijak di atas batu tempat ia berdiri semula. Dengan kata lain, ia sudah berhasil menguasai Ajian Seribu Langkah. Meski dalam praktiknya masih jauh dari kata sempurna, namun hal tersebut sudah mengalami kemajuan.

Wisnu Aji yang melihatnya juga merasa senang. Ia tahu bahwa Catra akan berhasil menguasai jurus ini, dan hanya membutuhkan sedikit dorongan saja.

"Anak ini sudah berhasil menyingkirkan keraguan dan ketakutan dalam dirinya. Maka latihan kedepannya sudah tidak akan mengalami kesulitan lagi." gumam Wisnu Aji pelan.

Memang benar, hal yang menghambat perkembangan Catra selama ini adalah perasaannya yang masih terpaut dengan trauma masa lalu, dan itu membuatnya sering tidak fokus dalam latihan. Namun, sekarang Catra sudah berhasil menyingkirkannya, jadi Wisnu Aji yakin latihan ke depannya akan muridnya itu lewati dengan mudah. Harus Wisnu Aji akui, bahwa sebenarnya Catra adalah bocah yang cerdas.

Selama mereka tinggal bersama, terkadang Wisnu Aji tidak merasa sedang hidup dengan seorang bocah, melainkan seseorang yang seusianya karena Catra bisa menempatkan diri dengan baik dan memiliki kedewasaan yang melebihi anak-anak seumurannya.

Namun, ia tidak berniat memberi pujian yang akan membuat Catra menjadi besar kepala. Sebaliknya, Wisnu Aji berpura-pura meremehkan kemampuan bocah itu agar menyulut tekadnya untuk berlatih lebih keras.

"Bocah, jangan senang dulu. Kau hanya menguasai jurus dasar seperti ini saja, namun sudah seperti menaklukkan dunia dan seisinya. Harus kau ingat, masih banyak latihan yang perlu kau selesaikan."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 38

    Kondisi Sekar memang berangsur pulih dalam waktu singkat setelah meminum ramuan yang Janubaya berikan. Bisul-bisul di sebagian tubuhnya juga menghilang, hanya meninggalkan bercak-bercak merah seperti sebelumnya."Paman tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang, andai saja bahan-bahannya cukup, maka kau bisa pulih sepenuhnya." Janubaya masih tidak puas dengan hasil pengobatannya. Bukan hanya Sekar, tapi warga Desa Mandian Bulan pun belum sepenuhnya terbebas dari racun tersebut. Janubaya hanya membantu mencegah agar racun itu tidak menjalar lebih jauh dengan menetralisirnya."Sekarang aku akan mengajak kalian menemui bibimu. Ia sangat ingin bertemu denganmu."Sekar mengikuti Janubaya, begitu juga dengan Catra yang berjalan di belakangnya. Sekarang mereka sudah berada di ruang tamu, yang di sana ada seorang perempuan tampak berusia tiga puluh tahunan dengan seorang anak laki-laki."Nimas, ini adalah keponakanku, Sekar yang pernah aku ceritakan padam

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 37

    Catra dan Sekar baru mendapat giliran saat hari sudah mulai gelap, ketika semua orang sudah meninggalkan tempat itu. Kedatangan mereka disambut dengan senyuman hangat oleh seorang anak laki-laki."Jati, apakah masih ada pasien yang mengantri?" tanya seseorang dari dalam."Iya, ayah. Mereka pasien yang terakhir." balas bocah yang bernama Jati itu."Suruh mereka masuk,""Baik, ayah." Bocah itu memandang Catra dan Sekar sebentar sebelum mempersilahkan mereka memasuki rumahnya.Catra tersenyum lebar sementara Sekar tampak memperhatikan wajah bocah itu. "Kalau bocah ini memanggil paman dengan sebutan ayah, berarti…" ia larut dalam pikirannya sendiri. Sekar baru tersadar saat Catra menurunkannya dari gendongannya."Silahkan, pasien untuk berbaring di sini." ujar pria yang sedang berdiri membelakangi Catra dan Sekar, terlihat sibuk menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk mengobati pasiennya.Melihat Sekar yang belum j

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 36

    Catra dan Sekar sedang istirahat di tepi sungai untuk membersihkan tubuh mereka. Sudah beberapa hari berlalu sejak keduanya berurusan dengan para bandit, dan untungnya kondisi Sekar sudah berangsur pulih.Mereka memang sengaja tidak beristirahat di pedesaan atau kota, untuk menghindari ada orang yang mengenali Sekar, mengingat lukisan wajahnya sudah tersebar di mana-mana. Saat ini mereka enggan berurusan dengan Pembunuh Bayang Darah kalau tidak dalam keadaan terpaksa.Saat Sekar ingin menciduk air untuk diminum karena merasa haus, ia dikejutkan oleh penemuan sesosok tubuh yang mengapung di tengah-tengah sungai."Raka lihat itu, ada mayat!" Sekar menunjuk ke satu arah yang diikuti oleh Catra.Tanpa menunggu perintah dari Sekar, ia sudah menggunakan Ajian Seribu Langkah untuk membawa mayat itu ke tepian sungai. Catra berjalan di atas air tanpa hambatan seolah itu adalah padang yang luas.."Kau benar, pria ini memang sudah meninggal." Catra

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 35

    "Menebas Langit Membelah Samudra!"Teknik kedua dari Pedang Tengkorak ini berisikan dua gerakan, saat pedangnya diangkat tinggi-tinggi ke atas, maka melepaskan cahaya hitam pekat yang bergerak cepat ke arah targetnya.Ekawira menyadari serangan yang dilancarkan Catra sangat berbahaya, sehingga meski tubuhnya sekeras baja, tapi ia tak berniat untuk menahannya secara langsung. Ekawira memilih untuk melemparkan tubuhnya ke samping.Keputusan yang diambil Ekawira sangat tepat, karena pada tempatnya berdiri sebelumnya secara tiba-tiba terjadi sebuah ledakan yang begitu keras, bahkan menciptakan lubang yang sangat besar pada dinding gua di belakangnya.Ekawira mengerutkan kening, tidak menyangka Catra memiliki teknik pedang setinggi ini. Kalau saja serangan itu berhasil mendarat di tubuhnya, sudah pasti ia akan kehilangan nyawa.Meskipun berhasil menghindari serangan tersebut, tidak semerta-merta membuat Ekawira menjadi aman karena Catra sudah

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 34

    "Ketua," jerit para bandit, mereka ingin bergerak membantu Ekawira namun secara tepat waktu Sekar melompat ke hadapan mereka untuk menghalau. Ia menghunuskan pedang, seolah berkata siapapun yang berani maju selangkah lagi maka Sekar akan memenggal kepala mereka. Hal itu membuat mereka tak berani bergerak lebih jauh.Para bandit sudah melihat sendiri kemampuan Catra, jadi mereka menebak kemampuan gadis ini juga tidak kalah mengerikannya.Di alam bawah sadar, Ekawira sedang berbicara dengan sesosok gumpalan hitam yang melayang di udara."Kenapa kau memanggilku kemari? Bukankah sebelumnya aku sudah memberimu kekuatan yang besar!""Maaf Yang Agung, tapi sekarang nyawaku dalam bahaya. Aku telah dikalahkan oleh seseorang.""Jadi, apa yang kau inginkan?""Aku… tolong berikan aku kekuatan yang lebih besar lagi."Suasana menjadi hening setelah Ekawira berkata demikian, sebelum gumpalan hitam itu kembali bersuara."Member

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 33

    "Apa yang terjadi?" bisik pelan Catra saat dirinya sudah berada di samping Sekar, setelah membantunya mengalahkan beberapa musuh yang mengepung gadis itu."Maaf, tapi mereka menyadari penyamaranku." Sekar bereaksi datar, sebab fokusnya saat ini mengarah pada komplotan bandit yang mulai mengerumuni keduanya dengan masing-masing golok yang diarahkan kepada mereka."Tidak apa-apa," Catra tak menyalahkan Sekar, walaupun keadaan ini tidak seperti yang mereka rencanakan, namun Catra yakin bisa mengatasinya. Lagipula keadaan seperti ini akan terjadi cepat atau lambat.Bersamaan dengan itu, komplotan bandit membukakan jalan untuk seseorang yang baru saja datang. "Ketua!""Bagus!" Ekawira bertepuk tangan dengan kondisi setengah sadar karena masih dalam kondisi mabuk. "Selama ini tidak ada seorangpun yang berani mengganggu ketenanganku disini, tapi karena kalian sudah datang, maka tidak usah berpikir lagi untuk kembali. Aku akan menjadikan tubuh kalian per

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status