LOGINWisnu Aji hanya tertawa kecil saat melihat kebingungan di wajah Catra. Kemudian, ia bergumam pelan. "Tentu saja jurus itu sangat sulit dikuasai. Jika memang mudah, maka Sepuluh Tapak Merenggut Sukma bukanlah ajian pamungkas dariku!"
Seketika Wisnu Aji teringat kembali pada masa lalunya. Dimana saat ia muda, Wisnu Aji menemukan sebuah kitab yang telah usang di dalam sebuah gua yang tak berpenghuni. Kitab itulah yang mencatat semua gerakan Sepuluh Tapak Merenggut Sukma. Wisnu Aji mempelajarinya tanpa guru, dan setelah berhasil menguasainya, ia menghancurkan kitab itu dengan tangannya sendiri agar tidak ada orang lain yang mempelajarinya. Jurus ini juga yang membawa Wisnu Aji mencapai puncak dunia persilatan. Saat Wisnu Aji sudah tersadar kembali dari lamunannya, Catra masih kesulitan untuk mengingat gerakan Sepuluh Tapak Merenggut Sukma. Wisnu Aji yang melihat itu lalu memintanya untuk berhenti berlatih. "Cukup untuk hari ini, kau bisa mempelajarinya lagi besok. Namun, aku tetap akan menagih janjimu. Kau harus memasakkan makanan kesukaanku." Wisnu Aji bangkit, lalu tanpa menunggu jawaban dari Catra, ia sudah terbang ke udara. "Baik, kakek guru." Catra juga tidak keberatan. Ia juga segera menghentikan latihannya sesuai perintah Wisnu Aji, karena Catra tahu bahwa memaksakan untuk mempelajari sesuatu maka belum tentu akan mendapat hasil yang baik. Catra berniat mempelajarinya secara perlahan. Seperti kata pepatah, perlahan tapi pasti, terlambat bukanlah akhir dari segalanya karena tak semua bunga akan mekar secara bersamaan. Catra lalu pergi ke hutan untuk menyiapkan bahan dasar hidangan yang akan dibuat. Sebenarnya makanan kesukaan Wisnu Aji cukuplah sederhana, hanya sup kaldu kelinci dan ayam hutan bakar sambal. Catra berjalan dengan mengendap-endap untuk memata-matai hewan buruannya. Kala itu waktu telah menunjukkan sore, yang mana langit sudah tampak kemerahan. Hampir satu jam ia telah berada di dalam hutan, dan pada akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu telah datang. Catra melihat seekor kelinci putih yang sedang makan. Catra berjalan tanpa suara, dan menentukan waktu yang tepat untuk menyergap hewan itu. Namun, ia tidak menyadari bahwa sedari tadi ada sosok lain yang juga mengincar kelinci tersebut. Hewan buas yang memiliki belang di sekujur tubuhnya. Saat ia membuka mulut, menunjukkan gigi-gigi taringnya yang begitu tajam. Sosok itu adalah sang raja rimba, harimau yang perkasa. Tatapan harimau itu penuh nafsu membunuh. Ia sesekali menjilati lidahnya yang merasa amat kelaparan. Harimau itu juga sedang menentukan waktu yang tepat untuk menangkap mangsanya. Hal yang tidak diinginkan segera terjadi, yang mana baik Catra maupun harimau itu bergerak secara bersamaan. Mereka sama-sama menerkam ke arah mangsa. Namun, karena Catra telah menguasai Ajian Seribu Langkah membuatnya setingkat lebih cepat daripada sang raja rimba. Catra dapat meraih kelinci itu terlebih dahulu. Ia juga baru menyadari ada seekor harimau yang menerkam di tempat sama setelahnya. Hewan buas itu nyatanya tidak ingin membiarkan Catra pergi dengan mangsanya. Oleh karena itu, aksi kejar-kejaran terjadi. Catra dengan Ajian Seribu Langkah harus berjuang menjauhi sang raja rimba yang terkenal dengan kecepatannya. Meskipun Ajian Seribu Langkah merupakan teknik meringankan tubuh tingkat tinggi, namun juga membutuhkan tenaga dalam yang besar untuk menggunakannya. Catra tidak berniat menghabiskan tenaga dalamnya dengan hanya berlari, karena ia juga tidak yakin harimau itu akan berhenti mengejarnya. Maka dari itu Catra memutuskan untuk bertarung. Ia juga ingin menguji keterampilan bertarung yang selama ini dirinya latih diam-diam selagi Wisnu Aji tidak mengawasinya. "Tunggu sebentar," Catra mengangkat satu tangannya. Harimau yang seolah mengerti ucapan Catra lalu ikut berhenti dengan menjaga jarak sebanyak sepuluh meter darinya. Ia juga mengaum dengan buas, seolah berkata 'Kau tidak bisa lari lagi!'. Catra sendiri segera membuka bajunya, lalu memasukkan kelinci itu ke dalam baju tersebut agar tidak bisa lari. Kemudian, ia meletakkannya sedikit menjauh. Catra lalu menatap harimau buas yang sedang memandangnya dengan tatapan penuh nafsu membunuh itu. Ia sadar bahwa hewan itu telah berada dalam posisi bertarung. Benar saja, Catra baru membentuk kuda-kudanya saat harimau mulai menerkam ke arahnya. Beruntungnya Catra cukup sigap sehingga serangan itu mampu dihindari dengan melompat ke arah kiri. Namun, sang raja rimba tidak tinggal diam. Ia kembali memberikan serangan lainnya. Kali ini cakar-cakarnya yang tajam berniat untuk mencabik-cabik lawannya. Catra tidak menghindar, ia menahan serangan itu dengan menangkap kedua kaki harimau yang diarahkan kepadanya. Mereka tidak lebih dari seperti sedang bergulat dan berguling di tanah. Hewan buas itu memiliki tekad untuk melukai tubuh lawannya, sementara Catra berusaha keras agar cakar-cakar tajam itu tidak mendarat di tubuhnya. Untungnya Catra telah melatih fisiknya dengan sangat keras selama ini, jadi ketahanan tubuhnya tidak jauh berbeda dengan sang raja rimba. Melihat cakarnya tidak bisa menemui target, harimau kemudian menggunakan gigi-gigi taringnya untuk mencabik-cabik lawan. Namun, lagi-lagi Catra bisa menghindarinya dengan melemparkan tubuh hewan itu yang mengenai pohon tidak jauh darinya. "Huh! Hampir saja!" Catra menghela napas panjang. Sang raja rimba meraung keras. Ia tidak menyangka manusia kecil seperti Catra mampu melempar tubuhnya dengan mudah. Padahal ukuran keduanya terlampau sangat jauh. Tubuh harimau itu tiga kali lebih besar dibandingkan Catra. Dengan perasaan murka, harimau itu kembali memberikan serangan. Meskipun Catra berhasil membuatnya terluka, namun hewan buas itu tidak berniat melarikan diri. Sebutan penguasa rimba yang tersemat pada hewan perkasa itu tampaknya bukan hanya sekedar isapan jempol belaka. Lagi-lagi keduanya bergulat di tanah. Namun, kali ini tekanan yang diberikan harimau itu jauh lebih kuat daripada sebelumnya, membuatnya berhasil memberikan satu cakaran tepat pada bagian tangan Catra. Darah mulai mengalir cukup deras dari tangan bocah itu membuatnya kembali melayangkan tubuh lawannya. Lalu, Catra menyobek sebagian kain celananya dan melilitkannya ke bagian yang terluka untuk menghentikan darahnya terus mengalir. Ada perasaan marah dan kesal menjadi satu dalam benaknya. Satu tujuannya saat ini adalah membunuh harimau yang telah membuatnya terluka. Catra kemudian mendadak mengingat kembali gerakan Sepuluh Tapak Merenggut Sukma dan secara setengah sadar, ia mulai memperagakannya. Lalu dengan kecepatan kurang dari satu kedipan mata, ia telah bergerak layaknya hembusan angin yang menerpa tubuh lawannya. Yang terjadi selanjutnya benar-benar diluar dugaan, harimau perkasa itu seketika sudah terbaring di tanah dengan mengeluarkan darah dari sekujur tubuhnya. Mati! Sang raja rimba harus tumbang di tangan seorang bocah yang usianya masih dibawah sepuluh tahun. "Akhirnya, aku berhasil!" Catra menatap dengan napas terengah-engah tubuh harimau yang telah terbaring tidak berdaya. Ini adalah pengalaman pertamanya bertarung dalam keadaan hidup dan mati. Hal tersebut membuat Catra membayangkan betapa mengerikannya dunia persilatan yang sering kakek gurunya ceritakan. Sebab di dalam dunia persilatan, tersebar pendekar yang memiliki kemampuan beladiri tinggi. Dan konon mereka tidak segan-segan untuk membunuh lawannya. Menurut perkiraan Catra, kemampuan orang-orang ini ratusan atau ribuan kali lipat lebih kuat dibandingkan sang raja rimba yang baru saja ia hadapi. Catra mengepalkan tangannya dengan keras. Tekadnya untuk menjadi kuat kembali menyala dengan terang, bagai cahaya rembulan yang menyinari gelapnya malam. "Aku harus kuat! Aku tidak ingin diremehkan orang lain. Aku tidak ingin mati! Aku harus berada di puncak dunia!"Kondisi Sekar memang berangsur pulih dalam waktu singkat setelah meminum ramuan yang Janubaya berikan. Bisul-bisul di sebagian tubuhnya juga menghilang, hanya meninggalkan bercak-bercak merah seperti sebelumnya."Paman tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang, andai saja bahan-bahannya cukup, maka kau bisa pulih sepenuhnya." Janubaya masih tidak puas dengan hasil pengobatannya. Bukan hanya Sekar, tapi warga Desa Mandian Bulan pun belum sepenuhnya terbebas dari racun tersebut. Janubaya hanya membantu mencegah agar racun itu tidak menjalar lebih jauh dengan menetralisirnya."Sekarang aku akan mengajak kalian menemui bibimu. Ia sangat ingin bertemu denganmu."Sekar mengikuti Janubaya, begitu juga dengan Catra yang berjalan di belakangnya. Sekarang mereka sudah berada di ruang tamu, yang di sana ada seorang perempuan tampak berusia tiga puluh tahunan dengan seorang anak laki-laki."Nimas, ini adalah keponakanku, Sekar yang pernah aku ceritakan padam
Catra dan Sekar baru mendapat giliran saat hari sudah mulai gelap, ketika semua orang sudah meninggalkan tempat itu. Kedatangan mereka disambut dengan senyuman hangat oleh seorang anak laki-laki."Jati, apakah masih ada pasien yang mengantri?" tanya seseorang dari dalam."Iya, ayah. Mereka pasien yang terakhir." balas bocah yang bernama Jati itu."Suruh mereka masuk,""Baik, ayah." Bocah itu memandang Catra dan Sekar sebentar sebelum mempersilahkan mereka memasuki rumahnya.Catra tersenyum lebar sementara Sekar tampak memperhatikan wajah bocah itu. "Kalau bocah ini memanggil paman dengan sebutan ayah, berarti…" ia larut dalam pikirannya sendiri. Sekar baru tersadar saat Catra menurunkannya dari gendongannya."Silahkan, pasien untuk berbaring di sini." ujar pria yang sedang berdiri membelakangi Catra dan Sekar, terlihat sibuk menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk mengobati pasiennya.Melihat Sekar yang belum j
Catra dan Sekar sedang istirahat di tepi sungai untuk membersihkan tubuh mereka. Sudah beberapa hari berlalu sejak keduanya berurusan dengan para bandit, dan untungnya kondisi Sekar sudah berangsur pulih.Mereka memang sengaja tidak beristirahat di pedesaan atau kota, untuk menghindari ada orang yang mengenali Sekar, mengingat lukisan wajahnya sudah tersebar di mana-mana. Saat ini mereka enggan berurusan dengan Pembunuh Bayang Darah kalau tidak dalam keadaan terpaksa.Saat Sekar ingin menciduk air untuk diminum karena merasa haus, ia dikejutkan oleh penemuan sesosok tubuh yang mengapung di tengah-tengah sungai."Raka lihat itu, ada mayat!" Sekar menunjuk ke satu arah yang diikuti oleh Catra.Tanpa menunggu perintah dari Sekar, ia sudah menggunakan Ajian Seribu Langkah untuk membawa mayat itu ke tepian sungai. Catra berjalan di atas air tanpa hambatan seolah itu adalah padang yang luas.."Kau benar, pria ini memang sudah meninggal." Catra
"Menebas Langit Membelah Samudra!"Teknik kedua dari Pedang Tengkorak ini berisikan dua gerakan, saat pedangnya diangkat tinggi-tinggi ke atas, maka melepaskan cahaya hitam pekat yang bergerak cepat ke arah targetnya.Ekawira menyadari serangan yang dilancarkan Catra sangat berbahaya, sehingga meski tubuhnya sekeras baja, tapi ia tak berniat untuk menahannya secara langsung. Ekawira memilih untuk melemparkan tubuhnya ke samping.Keputusan yang diambil Ekawira sangat tepat, karena pada tempatnya berdiri sebelumnya secara tiba-tiba terjadi sebuah ledakan yang begitu keras, bahkan menciptakan lubang yang sangat besar pada dinding gua di belakangnya.Ekawira mengerutkan kening, tidak menyangka Catra memiliki teknik pedang setinggi ini. Kalau saja serangan itu berhasil mendarat di tubuhnya, sudah pasti ia akan kehilangan nyawa.Meskipun berhasil menghindari serangan tersebut, tidak semerta-merta membuat Ekawira menjadi aman karena Catra sudah
"Ketua," jerit para bandit, mereka ingin bergerak membantu Ekawira namun secara tepat waktu Sekar melompat ke hadapan mereka untuk menghalau. Ia menghunuskan pedang, seolah berkata siapapun yang berani maju selangkah lagi maka Sekar akan memenggal kepala mereka. Hal itu membuat mereka tak berani bergerak lebih jauh.Para bandit sudah melihat sendiri kemampuan Catra, jadi mereka menebak kemampuan gadis ini juga tidak kalah mengerikannya.Di alam bawah sadar, Ekawira sedang berbicara dengan sesosok gumpalan hitam yang melayang di udara."Kenapa kau memanggilku kemari? Bukankah sebelumnya aku sudah memberimu kekuatan yang besar!""Maaf Yang Agung, tapi sekarang nyawaku dalam bahaya. Aku telah dikalahkan oleh seseorang.""Jadi, apa yang kau inginkan?""Aku… tolong berikan aku kekuatan yang lebih besar lagi."Suasana menjadi hening setelah Ekawira berkata demikian, sebelum gumpalan hitam itu kembali bersuara."Member
"Apa yang terjadi?" bisik pelan Catra saat dirinya sudah berada di samping Sekar, setelah membantunya mengalahkan beberapa musuh yang mengepung gadis itu."Maaf, tapi mereka menyadari penyamaranku." Sekar bereaksi datar, sebab fokusnya saat ini mengarah pada komplotan bandit yang mulai mengerumuni keduanya dengan masing-masing golok yang diarahkan kepada mereka."Tidak apa-apa," Catra tak menyalahkan Sekar, walaupun keadaan ini tidak seperti yang mereka rencanakan, namun Catra yakin bisa mengatasinya. Lagipula keadaan seperti ini akan terjadi cepat atau lambat.Bersamaan dengan itu, komplotan bandit membukakan jalan untuk seseorang yang baru saja datang. "Ketua!""Bagus!" Ekawira bertepuk tangan dengan kondisi setengah sadar karena masih dalam kondisi mabuk. "Selama ini tidak ada seorangpun yang berani mengganggu ketenanganku disini, tapi karena kalian sudah datang, maka tidak usah berpikir lagi untuk kembali. Aku akan menjadikan tubuh kalian per







