LOGINRangga cuma ingin satu hal: healing. Menjauh dari hidup yang ruwet, naik ke gunung, dan menenangkan pikirannya. Tapi rencananya langsung berantakan ketika dia menemukan seorang pria telanjang habis tersambar petir, yang dengan santainya mengaku sebagai pendekar. Namanya Wira. Dan menurut Rangga—sebagai mahasiswa Psikologi, dia jelas halu, delusi dan skizo. Sampai Wira menghentikan hujan. Mengalahkan preman tanpa kesulitan. Bahkan menyembuhkan orang. Logika Rangga mulai goyah. Belum selesai di situ, Agung ikut-ikutan latihan dengan penuh semangat tapi minim pemahaman, sementara Putra tiba-tiba “naik level” jadi dukun dadakan yang justru bikin semuanya makin absurd. Di tengah kekacauan antara logika dan hal-hal yang tak masuk akal, Rangga terjebak dalam satu pertanyaan besar: Apakah semua ini nyata? Atau ada penjelasan yang belum dia pahami? Akankah Rangga mempercayai ilmu kanuragan atau justru membongkar rahasia di baliknya dengan logika?
View MoreBeberapa bulan kemudian. Apa yang awalnya hanya obrolan iseng di bale rumah Rangga akhirnya benar-benar berdiri.Bukan padepokan biasa. Bukan juga sekolah biasa. Melainkan sesuatu yang aneh berada di tengah-tengah keduanya.Bangunannya luas. Beberapa rumah di sekitar sudah berubah fungsi menjadi ruang belajar, asrama, area latihan, dan kebun. Di salah satu papan besar dekat gerbang bahkan terpampang jadwal.Meditasi Dasar, Biologi Dasar, Pemahaman Alam, Latihan Fisik, Teknik DasarYang membuat banyak orang dunia bawah mengernyit setiap kali membacanya.Pagi itu, di rumah utama. Rangga berdiri di depan cermin ruang tamu memakai kemeja rapi. Rambutnya sudah disisir meski ekspresinya tetap terlihat tidak rela.Di belakangnya, Wira duduk santai sambil minum teh mint dan Rangga menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama lalu menghela napas.“Anjir... Gue jadi kepala sekolah sekarang.” Dia memiringkan kepalanya. “Ini pake izi
Rangga turun dari bale dengan senyum yang membuat Wira langsung menggeleng pelan. Di teras, Kael, Sena, Lendra, Tora, Agung, dan Putra masih sibuk main monopoli. Agung lagi debat sama Putra soal uang sewa.“Itu tanah gue.”“Lah lu lewat situ ya bayar.”“Korupsi lu.”“Ngawur.”Rangga berdiri di belakang mereka beberapa detik lalu bertanya santai.“Lu pada darimana main monopoli?”Agung nengok.“Ya dari tadi nyet. Kenapa?”Rangga mengangguk.“Mending bantuin gue.”Hening dan Agung langsung geleng.“Gamau.”Putra lebih cepat lagi.“Ogah.”Rangga langsung menunjuk Agung.“Oke... Mulai sekarang tugas kuliah lu kerjain sendiri.”Agung membeku lalu Rangga melanjutkan.“Sampai skripsi, isi SPSS sendiri... Trua analisis sendiri. Interpretasi sendiri... Gue ga bantu lu lagi.”“YAH, KAMPRET LAH.”Agung langsung berdiri.“Jangan gitu lah nyet... Lu tau
Seminggu kemudian, Rangga duduk di bale kayu depan rumahnya sambil memandangi jalan kampung. Atau lebih tepatnya bekas jalan kampung.Karena dalam beberapa hari terakhir, suasana di sekitar rumahnya berubah drastis. Mobil pickup keluar masuk hampir setiap hari.Warga yang rumahnya berada di sekitar area Rangga satu per satu pindah setelah menerima penawaran harga yang bahkan menurut mereka sendiri terlalu tinggi untuk ditolak.Ada yang pindah ke kompleks baru, ada yang beli rumah lebih besar, qda yang langsung pensiun dini dan sekarang beberapa dari mereka masih melambai ramah setiap kali lewat.“Mas Rangga! Terima kasih ya!”Rangga membalas lambaian itu dengan senyum yang terlihat terpaksa.“Iya pak…”Mobil pickup itu pergi dan Rangga kembali menatap kosong ke depan. Di kejauhan terdengar suara.BRRRRRM.Sebuah alat berat sedang merobohkan rumah yang baru dibeli beberapa hari lalu.Debu beterbangan, tru
Ruangan kembali tenang setelah Gayatri selesai membaca perkamen itu, semua orang terdiam beberapa saat. Masing-masing mencerna informasi yang baru saja mereka kumpulkan.Akhirnya Aditya menghela napas pelan.“Setidaknya sekarang kita tahu satu hal.”Gayatri mengangguk.“Jalur yang ditempuh berbeda.”Asturi menambahkan pelan.“Dan perbedaannya bukan sekadar nama tingkatan... Fondasinya memang berbeda sejak awal.”Rangga mengangguk.“Nah itu. Kalau sekarang sih paling kita baru tahu bedanya dimana. Tapi kenapa bisa begitu? Dan kenapa berubah?”Dia mengangkat bahu.“Belum tahu.”Aditya tersenyum kecil.“Itu sudah lebih banyak daripada yang kami ketahui selama puluhan tahun.”Gayatri pun mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya sejak lama Mandala Gupta mendapatkan petunjuk yang benar-benar masuk akal.Rangga lalu berkata santai.“Yaudah... Nanti kalau saya tahu lagi, saya kabarin pakde.”
Rangga duduk beberapa saat di dekat gerbang, mengatur napas sambil merasakan pegal di kakinya yang mulai terasa jelas.Beberapa menit kemudian, dia memaksa diri berdiri.Dia berjalan ke arah pos simaksi. Suasananya cukup sepi, hanya ada beberapa orang di dalam, tidak seramai akhir pekan.Rangga men
Rangga langsung meledak.“Woi—apa-apaan tuh?!” Dia nunjuk ke langit.Wira hanya menatap datar. Rangga melangkah sedikit keluar, matanya masih ke atas.“Ujan ilang… ujan ilang.”Dia jongkok, kedua tangannya nutup muka. Napasnya ditarik dalam, berusaha stabil.“Ini kebetulan… gue gak halusinasi… gue
“Bajingan!” teriak Rangga, suaranya ketahan angin.Angin kencang menyapu lereng gunung.Seng tua di atap pos tiga berisik, kebanting tiap diterpa angin, bunyinya nyeret—kraaang, kraaang—membuat kuping tidak nyaman.Rangga duduk di dalam bilik kecil yang sudah setengah miring, punggungnya menempel k
Beberapa hari berlalu.Tekanan tidak berkurang—justru makin terasa.Pagi itu, Pak Surendra baru saja kembali ke kantornya setelah pertemuan langsung dengan keluarga Krisnapati. Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya, tapi juga… lebih pasti.Begitu duduk, dia langsung menekan interkom.“Masuk.”












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews