MasukRangga cuma ingin satu hal: healing. Menjauh dari hidup yang ruwet, naik ke gunung, dan menenangkan pikirannya. Tapi rencananya langsung berantakan ketika dia menemukan seorang pria telanjang habis tersambar petir, yang dengan santainya mengaku sebagai pendekar. Namanya Wira. Dan menurut Rangga—sebagai mahasiswa Psikologi, dia jelas halu, delusi dan skizo. Sampai Wira menghentikan hujan. Mengalahkan preman tanpa kesulitan. Bahkan menyembuhkan orang. Logika Rangga mulai goyah. Belum selesai di situ, Agung ikut-ikutan latihan dengan penuh semangat tapi minim pemahaman, sementara Putra tiba-tiba “naik level” jadi dukun dadakan yang justru bikin semuanya makin absurd. Di tengah kekacauan antara logika dan hal-hal yang tak masuk akal, Rangga terjebak dalam satu pertanyaan besar: Apakah semua ini nyata? Atau ada penjelasan yang belum dia pahami? Akankah Rangga mempercayai ilmu kanuragan atau justru membongkar rahasia di baliknya dengan logika?
Lihat lebih banyak“Bajingan!” teriak Rangga, suaranya ketahan angin.
Angin kencang menyapu lereng gunung. Seng tua di atap pos tiga berisik, kebanting tiap diterpa angin, bunyinya nyeret—kraaang, kraaang—membuat kuping tidak nyaman. Rangga duduk di dalam bilik kecil yang sudah setengah miring, punggungnya menempel ke dinding kayu yang dingin. Di tangannya, HP menyala. Sebuah foto—dia dan seorang cewek. Sekarang… mantan. Orang yang bikin dia ada di sini. Naik gunung sendirian, bawa tas berat, niatnya healing… malah kena badai. Rangga menatap foto itu beberapa detik, lalu menarik napas pelan. “Besok-besok,” gumamnya, “gue gak mau pacaran sama anak fakultas seni.” “Apalagi jurusan seni elektro.” Rangga berhenti sebentar, lalu mengernyit. “Seni tapi listrik… itu gimana? Instalasi stop kontak tapi penuh makna?” Dia geleng pelan. “Gue diputusin sama orang yang mungkin nangis liat kabel kusut.” Jempolnya berhenti di layar, sebelum akhirnya menekan delete. Foto itu hilang. Gak ada lagi backup perasaan. Rangga mematikan layar, menyandarkan kepala ke dinding, mencoba tenang—meski angin di luar justru makin jadi. Pintu pos tiba-tiba kebanting keras. DUAK. Rangga menoleh, ekspresinya datar. “Gue mau healing…” katanya pelan, “…malah kena badai di pos tiga.” Dia melirik keluar. Gelap total. “Apes banget, anjing.” HP dimasukkan ke kantong. Resleting jaket ditarik sampai mentok ke leher, tubuhnya dirapatkan menahan dingin yang mulai menusuk. Di luar, angin berputar aneh. Tidak hanya kencang tetapi arahnya juga berubah-ubah, seperti berkumpul di satu titik. Hujan turun makin deras, lalu—aneh—sepersekian detik semua suara seperti hilang. KRAAAK! Petir menyambar tak jauh dari pos. Dalam kilatan itu, bayangan pepohonan terlihat jelas—terlalu jelas. Dan di antaranya… ada sesuatu atau seseorang. Duduk di atas batu besar, beberapa meter dari pos. Diam. Telanjang. Gelap lagi dan Rangga menyipit. “…Itu apaan.” Dia mengucek mata cepat. “Jangan bilang… orang?” Suara hujan kembali, lebih keras dari sebelumnya. Angin menggila, pintu pos kebanting berkali-kali sampai kayunya mulai berderak. Lalu, tanpa alasan yang masuk akal, pintu itu justru terbuka perlahan. Padahal arah angin berlawanan. Dingin langsung masuk bersama kabut tipis yang merayap ke dalam. Dari luar, terdengar langkah kaki. Pelan, berat, teratur—menginjak tanah basah tanpa tergesa. Sosok itu muncul di ambang pintu. Basah kuyup, tubuhnya penuh bekas gosong tipis. Tapi tatapannya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang berdiri di tengah badai seperti itu. Dia tidak masuk. Hanya berdiri di sana, diguyur hujan. “Ini wilayah siapa?” Suaranya datar. “Aku melanggar batas tanpa izin.” Anehnya, air hujan seperti sedikit menghindari tubuhnya. Rangga langsung berdiri. “Woi! Monyet! Jomok! Babi!” Carrier ditarik ke depan seperti perisai. “Mau ngapain lu, anjing?! Mau perkosa gue, ya?!” Tangannya merogoh tas, menemukan palang tenda, lalu mengarahkannya ke depan—gemetar tapi nekat. “Pergi! Pergi, woi!” Pria itu tidak bereaksi seperti yang diharapkan. Tidak marah dan Ttdak mundur. Dia hanya memperhatikan—carrier, besi di tangan Rangga, semuanya—dengan tenang, seperti sedang menilai. Lalu dia melangkah masuk. Satu langkah saja, pelan, hati-hati. “Jika aku berniat mencelakaimu,” katanya datar, “kau tidak akan sempat berdiri.” Rangga makin emosi. “Lu siapa, anjing?! Dari mana?! Setan lu, ya?!” Besi itu diarahkan lurus ke wajahnya. Pria itu mendekat lagi. Tangannya terangkat pelan, lalu menyentuh ujung besi itu. Rangga masih menggenggam kuat—tapi besi itu berhenti. Tidak bisa maju, seolah menabrak sesuatu yang tak terlihat. “Ini bukan senjata,” kata pria itu. Dia melepaskannya, dan tiba-tiba besi itu kembali ringan. “Aku bukan setan.” Dia menatap langsung ke mata Rangga. “Aku manusia. Namaku Wira.” Angin di luar mereda sesaat, seolah memberi ruang. “Aku tidak mengenali tempat ini,” lanjutnya. “Dan aku tidak mengenali cara bicaramu.” Rangga masih terpaku, tapi mulutnya tetap jalan. “Lu dari mana?! Ngapain telanjang?! Lu gila, ya?!” Lalu dia berhenti sendiri, bergumam pelan, “Goblok… gue anak psikologi. Mana mungkin orang gila bisa setenang ini…” Dia menatap lagi. “Lu… Wira, kan? Mau ngapain?” Wira memperhatikannya lebih fokus sekarang. “Kau berubah cara bicara. Tadi kau mengusir. Sekarang kau bertanya.” Dia melangkah masuk sepenuhnya. Pintu di belakangnya menutup pelan. Wira berdiri tegak, air masih menetes dari tubuhnya, tapi napasnya stabil—seolah dingin tidak berpengaruh. “Namaku Wira,” ulangnya. “Aku bertapa di puncak.” Dia menunjuk ke arah luar, ke atas gunung. “Aku hampir menembus tahap Dharmasraya. Lalu petir datang. Aku tidak menghindar—seharusnya itu ujian.” Dia melihat tangannya sendiri sejenak. “Saat aku sadar… aku sudah di sini.” Tatapannya kembali ke Rangga. “Pakaianku terbakar." “Ini wilayah siapa?” tanyanya lagi, kini sedikit lebih tegas. “Aku harus meminta izin.” Rangga menatap pria itu sebentar, lalu menjawab, “Izin ada di bawah, di pos simaksi. Lu orang sini apa pendaki nyasar sih?” Wira diam sejenak, mencerna. “Simaksi…” ulangnya pelan, seolah itu nama sesuatu yang penting. Lalu dia menggeleng. “Aku tidak mengenal itu.” Dia menoleh ke arah bawah gunung, mengikuti arah yang dimaksud Rangga. “Kalau begitu, penjaga wilayah ada di sana.” Tatapannya kembali ke Rangga, turun sebentar ke jaket, ke tas, lalu naik lagi. “Kau penghuni sini… atau juga tamu?” Rangga mengernyit. “Lu gak mau ngapa-ngapain gue, kan?” Nada suaranya masih waspada. Wira menatapnya dan tidak langsung menjawab. Seolah pertanyaan itu sendiri terasa aneh baginya. “Ngapa-ngapain?” Dia mengulang pelan, lalu melirik posisi Rangga—badan tegang, besi masih terangkat. “Jika aku ingin mencelakaimu, aku tidak perlu bertanya sejak awal.” Nada suaranya tetap datar. Dia lalu bergeser sedikit, memberi ruang dari jalur pintu. “Aku tidak punya urusan denganmu.” “Aku hanya perlu memahami tempat ini.” Rangga akhirnya menurunkan besinya. Dia masih menatap Wira beberapa detik, memastikan pria itu tidak bergerak aneh, sebelum membuka carrier-nya. Dari dalam, dia mengambil kaos dan celana, lalu menyodorkannya. “Pake baju dulu, nih. Baru ngobrol. Gak enak gue liat lu telanjang gini.” Wira melihat pakaian itu. Tatapannya berpindah dari baju ke wajah Rangga. “Kau memberiku ini?” Dia menerimanya pelan, lalu membolak-balik kain itu seperti sedang mempelajari benda asing. “Ini pakaian… milikmu?” Tanpa banyak komentar, dia mulai memakainya. Gerakannya kaku karena tidak terbiasa. Kaos masuk agak miring. Celana berhasil dipakai, tapi dia berhenti sebentar di bagian pinggang. “Kenapa harus diikat sekuat ini?” Beberapa detik kemudian, selesai. Tidak rapi, tapi cukup. Dia berdiri lagi. Kini, setidaknya secara kasat mata, dia tampak seperti manusia normal. Wira menatap Rangga. “Lebih pantas begini?” Nada suaranya tetap datar, tapi ada sedikit penerimaan. Hujan di luar mulai mereda. Angin masih ada, tapi tidak seganas tadi. “Sekarang kita bisa bicara,” lanjutnya. “Kau belum menjawab. Kau penghuni wilayah ini… atau hanya lewat seperti aku?” Rangga menghela napas pendek. “Gue? Ya lewat. Pendaki.” Dia menatap Wira, masih curiga. “Lu dari mana? Naik dari jalur mana? Dan kenapa bisa telanjang? Jangan bilang kesamber petir—orang gak mungkin selamet abis kesamber petir.” Wira mendengarkan tanpa menyela. “Pendaki…” ulangnya pelan, seperti menyesuaikan istilah. “Aku dari atas.” Dia menunjuk ke arah puncak. “Aku tidak berjalan melalui jalur seperti yang kau maksud.” Dia berhenti sebentar. “Dan aku memang tersambar petir.” Dia mengatakannya tanpa ragu. Tanpa dramatis. Seolah itu hal biasa. Tatapannya kembali ke Rangga. “Kenapa menurutmu manusia tidak bisa selamat?” Di luar, petir menyambar lagi. Cahaya sesaat masuk ke dalam pos. Bayangan Wira terlihat jelas di dinding—tegak, tenang, tidak gemetar sama sekali. “Tubuh bisa hancur,” lanjutnya, “jika tidak dilatih.” Dia melirik jaket Rangga. “Kau menahan dingin dengan benda.” Tatapannya kembali. “Aku menahannya dari dalam.” “Jadi… kenapa tidak mungkin?” Rangga menganga. “Cara ngomong lu aneh banget.” Dia menggeleng. “Dan jelas lah, jutaan volt itu gak mungkin ditahan tubuh manusia. Lu gak pernah sekolah apa gimana sih?” Wira diam beberapa detik, benar-benar memproses. “Sekolah…” ulangnya. “Tempat belajar?” “Aku belajar dari guruku,” katanya tenang. “Dan dari tubuhku sendiri.” Dia lalu duduk di lantai kayu, bersila, seolah itu hal paling wajar. “Kau bilang jutaan volt. Aku tidak tahu itu apa.” Tatapannya naik lagi. “Tapi aku tahu batas tubuhku.” “Dan saat itu… aku belum hancur.” Dia memiringkan kepala sedikit. “Berarti aku masih hidup. Itu cukup bukti.” Rangga akhirnya ikut duduk, meski matanya masih waspada. “Dih… ini orang kayaknya kena skizo ringan,” gumamnya. Lalu dia berkata lebih jelas, “Gini aja deh, Wira. Abis hujan reda, gue temenin lu turun ke pos simaksi. Ntar lu tanya-tanya sama ranger sana.” Wira mendengarkan. Istilah itu lewat begitu saja tanpa reaksi. “Ranger…” ulangnya. “Penjaga wilayah?” Dia mengangguk pelan. “Baik. Jika itu cara di tempat ini, aku akan ikut.” Wira menatap ke luar pos. Hujan masih turun deras, angin nyeret air sampai masuk ke lantai kayu. Dia berdiri, lalu jalan keluar. “Woi, ngapain lu—” kata Rangga, ikut berdiri. Wira tidak menjawab. Dia hanya lihat ke langit sebentar, lalu menghentakkan kakinya ke tanah tiga kali. Duk. Duk. Duk. Rangga mengernyit. “Lu lagi ngapain sih?” Setengah detik tidak terjadi apa-apa. Lalu… anginnya hilang. Hujan yang tadi deras langsung berhenti. Tiba-tiba saja tidak ada air yang jatuh di sekitar mereka. Rangga langsung nengok ke atas. Awan masih ada, gelap masih sama. “…Hah?” Dia nengok ke depan, ke samping, terus balik lagi ke Wira. “Lu barusan… apaan itu?” Wira berdiri santai. “Biar gak basah. Kita bisa langsung ke penjaga wilayah itu.” jawabnya datar. Rangga bengong beberapa detik. “…Anjing.”Beberapa bulan kemudian. Apa yang awalnya hanya obrolan iseng di bale rumah Rangga akhirnya benar-benar berdiri.Bukan padepokan biasa. Bukan juga sekolah biasa. Melainkan sesuatu yang aneh berada di tengah-tengah keduanya.Bangunannya luas. Beberapa rumah di sekitar sudah berubah fungsi menjadi ruang belajar, asrama, area latihan, dan kebun. Di salah satu papan besar dekat gerbang bahkan terpampang jadwal.Meditasi Dasar, Biologi Dasar, Pemahaman Alam, Latihan Fisik, Teknik DasarYang membuat banyak orang dunia bawah mengernyit setiap kali membacanya.Pagi itu, di rumah utama. Rangga berdiri di depan cermin ruang tamu memakai kemeja rapi. Rambutnya sudah disisir meski ekspresinya tetap terlihat tidak rela.Di belakangnya, Wira duduk santai sambil minum teh mint dan Rangga menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama lalu menghela napas.“Anjir... Gue jadi kepala sekolah sekarang.” Dia memiringkan kepalanya. “Ini pake izi
Rangga turun dari bale dengan senyum yang membuat Wira langsung menggeleng pelan. Di teras, Kael, Sena, Lendra, Tora, Agung, dan Putra masih sibuk main monopoli. Agung lagi debat sama Putra soal uang sewa.“Itu tanah gue.”“Lah lu lewat situ ya bayar.”“Korupsi lu.”“Ngawur.”Rangga berdiri di belakang mereka beberapa detik lalu bertanya santai.“Lu pada darimana main monopoli?”Agung nengok.“Ya dari tadi nyet. Kenapa?”Rangga mengangguk.“Mending bantuin gue.”Hening dan Agung langsung geleng.“Gamau.”Putra lebih cepat lagi.“Ogah.”Rangga langsung menunjuk Agung.“Oke... Mulai sekarang tugas kuliah lu kerjain sendiri.”Agung membeku lalu Rangga melanjutkan.“Sampai skripsi, isi SPSS sendiri... Trua analisis sendiri. Interpretasi sendiri... Gue ga bantu lu lagi.”“YAH, KAMPRET LAH.”Agung langsung berdiri.“Jangan gitu lah nyet... Lu tau
Seminggu kemudian, Rangga duduk di bale kayu depan rumahnya sambil memandangi jalan kampung. Atau lebih tepatnya bekas jalan kampung.Karena dalam beberapa hari terakhir, suasana di sekitar rumahnya berubah drastis. Mobil pickup keluar masuk hampir setiap hari.Warga yang rumahnya berada di sekitar area Rangga satu per satu pindah setelah menerima penawaran harga yang bahkan menurut mereka sendiri terlalu tinggi untuk ditolak.Ada yang pindah ke kompleks baru, ada yang beli rumah lebih besar, qda yang langsung pensiun dini dan sekarang beberapa dari mereka masih melambai ramah setiap kali lewat.“Mas Rangga! Terima kasih ya!”Rangga membalas lambaian itu dengan senyum yang terlihat terpaksa.“Iya pak…”Mobil pickup itu pergi dan Rangga kembali menatap kosong ke depan. Di kejauhan terdengar suara.BRRRRRM.Sebuah alat berat sedang merobohkan rumah yang baru dibeli beberapa hari lalu.Debu beterbangan, tru
Ruangan kembali tenang setelah Gayatri selesai membaca perkamen itu, semua orang terdiam beberapa saat. Masing-masing mencerna informasi yang baru saja mereka kumpulkan.Akhirnya Aditya menghela napas pelan.“Setidaknya sekarang kita tahu satu hal.”Gayatri mengangguk.“Jalur yang ditempuh berbeda.”Asturi menambahkan pelan.“Dan perbedaannya bukan sekadar nama tingkatan... Fondasinya memang berbeda sejak awal.”Rangga mengangguk.“Nah itu. Kalau sekarang sih paling kita baru tahu bedanya dimana. Tapi kenapa bisa begitu? Dan kenapa berubah?”Dia mengangkat bahu.“Belum tahu.”Aditya tersenyum kecil.“Itu sudah lebih banyak daripada yang kami ketahui selama puluhan tahun.”Gayatri pun mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya sejak lama Mandala Gupta mendapatkan petunjuk yang benar-benar masuk akal.Rangga lalu berkata santai.“Yaudah... Nanti kalau saya tahu lagi, saya kabarin pakde.”
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan