Masuk"Siapa yang tertawa.Apa yang ditertawakan? Aku sedang tergesa-gesa.Tidak ada yang lucu. Hanya orang sinting yang tertawa tidak pada tempatnya," Membatin senopati dalam hati.
Baru saja dia bicara seperti itu. Seakan mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu, suara tawa mengikik tiba-tiba lenyap. Tapi ketika senopati kembali melangkah menuruni undakan tangga-tangga batu menuju ke kaki bukit.
Anehnya tawa kembali terdengar seolah orang yang tertawa seperti mentertawai dirinya. Sen
Ki Lara menggerung. Walau tubuhnya terasa membeku, napas sesak dan tubuh di sebelah dalam serasa remuk namun dia segera bangkit. Begitu bangkit dengan tubuh terhuyung si kakek diam-diam berucap."Pelita keramat dari alam arwah. Nyalakan dirimu!"Wuss!Mendengar perintah si kakek pelita keramat kembali menyala. Ternyata nyala api pada pelita begitu kecil. Walau tak melihat namun orang tua ini dapat mengetahui pelita di atas kepalanya tak dapat diharapkan terlalu banyak dalam membantunya.Tidaklah heran.Begitu dia melihat sang pangeran terus merangsak maju setelah berhasil dengan serangan pertama, Ki Lara cepat badan lalu menghantam lawan dengan pukulan Neraka Liang Lahat.Dua pukulan yang dilancarkan Ki Lara bukan serangan biasa. Pukulan sakti yang dilepaskannya sanggup menghancurkan gunung dan menghentikan gelombang raksasa di lautan. Bila manusia yang terkena pukulan maut tersebut tubuhnya dapat hancur lebur menjadi kepingan beku.W
Kemudian dari balik cahaya muncul kabut putih tebal menebarkan bau aneh seperti aroma setanggi namun juga bercampur bau busuk. Bersamaan dengan itu dikejauhan terdengar pula suara lolongan anjing. Ki Lara mengusap wajah dan tengkuknya yang semakin dingin.Orang tua ini juga menahan nafas ketika melihat dari balik kepulan kabut dan cahaya putih muncul satu sosok bertubuh tinggi bertelanjang dada berambut panjang riap-riapan berwajah angker dipenuhi cairan putih.Tanpa bicara apa-apa.Sosok berpenampilan selayaknya mayat hidup ini melangkah sejauh tujuh tombak dari cahaya empat persegi tempat dimana dia munculkan diri. Ki Lara tercekat.Dia mengusap keningnya tiga kali. Gerakan mengusap kening yang dilakukan si kakek membuat nyala pelita keramat yang bertengger di atas kepalanya makin bertambah terang.Dengan bantuan cahaya pelita yang membesar kini Ki Lara secara leluasa dapat melihat laki-laki itu. Laki-laki itu sekujur tubuhnya putih pucat dengan
Si kakek renta berwajah macam tengkorak berkulit merah yang terrnyata memang bernana Ki Lara Saru Saru juru kunci makam para raja istana kuno di pulau Rakata diam tercekat. Dia yang semula siap melepaskan pukulan sakti ke arah cahaya yang disekelilingi ribuan lebah berterbangan. Dengan perlahan turunkan kedua tangannya. Dengan sorot mata seakan tidak percaya dia memandang ke arah cahaya menyilaukan dimana suara yang dia dengar berasal."Seperti yang kuduga! Ternyata benar pangeran mesum itu muncul sekaligus bangkit dari kematiannya. Aku mengenali suara itu. Tapi mengapa dia kembali dalam selubung cahaya? Mengapa tidak dalam peti mati Batu Kumala." pikir Ki Lara."Apa yang kau pikirkan Ki Lara? Kau sedang merasani diriku. Kau hendak mencari tahu, kau dunia ini bersama peti mati jahanam yang telah memendamku di dasar laut Krakatau?"Lagi-lagi terdengar suara bentakan keras dari balik cahaya putih berkilau. Ki Lara Saru Saru menyeringai. Dadanya yang kurus kering t
Disaat ketiga pelita memasuki hitungan ketiga mengelilingi pusaran air yang seolah mendidih itu. Dari kedalaman laut mendadak muncul cahaya putih terang. Cahaya yang muncul menyambar ganas ke arah pelita Keramat dari Alam Arwah.Byar!Wuus! Wuus!Mendapat serangan ganas dari cahaya yang mencuat dari kedalaman laut yang bergolak. Dua pelita tak sempat selamatkan diri. Keduanya hancur menjadi kepingan disertai ledakan dahsyat dan suara jerit aneh yang menyayat"Celaka! Dua pelita gaib sahabatku...!"Orang tua ini keluarkan seruan kaget.Tubuhnya tergetar hebat.Hancurnya pelita ternyata berpengaruh bagi jiwa orang tua ini. Tidak ingin pelita satunya lagi ikut hancur dihantam cahaya putih aneh. Orang tua ini segera hentakan tangan ke arah pelita yang membubung tinggi meninggalkan laut.Lalu menarik tangannya ke belakang.Satu kekuatan luar biasa besar yang bersumber dari tangan orang tua itu menyedot sang pelita yang melaya
"Astaga! Pelita Kaki Nyawa meledak. Ini sebuah pertanda buruk. Segala mimpi buruk bagi setiap pemuda gagah dan para gadis perawan bakal menjadi kenyataan. Badai, ombak menggila dan angin yang mengamuk?! Keparat jahanam! Ternyata sumpah seribu tahun yang lalu itu nampaknya sekarang benar-benar hendak terwujud menjadi sebuah kenyataan. Tapi aku tidak peduli, aku harus mencegah sebelum kiamat benar-benar muncul di rimba persilatan!"Sambil berucap demikian di dalam gelap dimana tak dapat terlihat apa-apa si orang tua rangkapkan kedua tangan yang terkembang di depan dada. Seiring dengan menyatunya dua telapak tangan di dadanya dia keluarkan ucapan."Tiga Pelita Keramat Penunjuk Terang Dalam Kegelapan. Aku memanggil kalian untuk membantuku!" Berkata begitu orang tua ini memutar tubuh, telapak tangan segera direntang, lalu diangkat tinggi kemudian sepuluh jemari tangan berlawanan arah bergerak melambai ke langit.Diatas ketinggian dalam kegelapan diwarnai suara mender
MALAM Sabtu Kliwon Seribu tahun setelah runtuhnya istana Dewa Ruci. Pulau Rakata tempat dimana istana suci itu dulunya berdiri diselimuti kabut tebal. Keindahan pulau dengan latar belakang gunung Krakatau yang menakjubkan lenyap ditelan kegelapan.Angin menderu.Langit gelap tanpa bintang dan rembulan. Ombak bergulung-gulung menyapu pedataran di pantai sepanjang selat Sunda.Di tengah suasana laut yang seolah murka. Disebelah Selatan gunung Krakatau yang menjulang tinggi diatas permukaan laut.Dalam kegelapan tiba-tiba saja muncul kerlip cahaya. Seperti kunang-kunang cahaya bergerak cepat menuju ke sebuah pulau sepi tak berpenghuni.Nelayan setempat menyebut pulau itu dengan nama Pulau Karang Hantu. Tidak berselang lama cahaya merah redup yang ternyata berasal dari sebuah pelita itu bergerak melambat sesampainya di tepi pantai.Ternyata ada seorang kakek renta bertubuh kurus kering seperti Jerangkong yang menyeberangi lautan dengan menjunjun
Di dua kutub berseberangan, dua lawan berhadapan. Tampak diam. Pada dasarnya, mereka sedang berkutat. Badan mereka bergeletaran. Mata Angon Luwak terpejam. Sebaliknya, mata kelabu Iblis Dari Neraka membuka lebar. Tangan masing-masing terpagut ketat di ujung-ujung Cemeti Laut Selatan.Detik
Melewati jurus-jurus keempat puluh, kelebatan gerak mereka sudah sulit diikuti mata awam. Yang tampak hanya dua larik bayangan yang bergerak kacau dan nyaris menyatu. Satu bayangan hitam yang lain bayangan putih keabu-abuan. Di antara dua kelebatan bayangan itu, terlihat pendar-pendar warna keema
Tiga sodokan sisi telapak kakinya kembali lolos begitu saja. Kepala lawan yang hendak dijadikan sasaran bergerak nyaris tak kentara. Bahkan oleh mata lawan yang banyak tahu tentang ilmu olah kanuragan. Terbukti dengan dimenangkannya satu partai pertandingan belum lama.Kepala lawan yang te
Bagaspati terpaksa tersenyum lagi mendengar cerocos Angon Luwak. Padahal, sebelumnya pemuda itu justru yang tak sabar meminta penjelasan. Sampai akhirnya Angon Luwak menyadari sendiri kebodohannya."He he he, aku terlalu banyak ngomong, ya Kang?" ujarnya lugu, dengan ringisan malu-malu (da







