LOGINAeri dan Calixto melangkah membelah lorong temaram sebuah bar tua di pinggiran distrik utara, menuju sebuah meja paling pojok yang tersembunyi di balik pilar kayu. Di sana, seorang pria dengan mantel lusuh dan tatapan mata yang tajam namun tampak malas sedang mengocok segelas wiski. Dia adalah detektif terbaik yang diceritakan Calixto—seorang pria eksentrik dengan reputasi bersih namun memiliki reputasi sebagai "detektif aneh" karena metodenya yang tidak biasa. Aeri akhirnya menemui detektif yang aneh itu. Setelah Calixto meletakkan amplop berisi sisa dokumen militer milik Felix di atas meja, detektif itu tidak langsung membukanya. Dia hanya mengetukkan jemarinya pada permukaan meja, lalu menatap Aeri dengan senyuman miring yang misterius. "Kasus Felix, mantan pengawal utama Leander," detektif itu membuka suara, nadanya santai namun sarat akan penekanan yang berat. "Menurut pengamatanku, meskipun aku belum benar-benar menyelidikinya secara mendalam, kasus ini akan melibatkan banyak
Malam berikutnya, ketika paviliun medis kembali sunyi dan Eryx sedang beristirahat total akibat efek obat penenang, sebuah pergerakan senyap terjadi. Calixto menculik Aeri—atau lebih tepatnya, menarik wanita itu secara paksa namun halus dari posisinya yang sedang berjaga di koridor. Aeri yang mengenali isyarat ketukan sandi di dinding tidak menolak; dia pun ikut dengan Calixto menuju ruang logistik bawah tanah yang terabaikan di sudut akademi. Di ruangan yang remang-remang dan dipenuhi kotak amunisi kosong itu, mereka membicarakan soal bagaimana Aeri mengatasi balas dendamnya. Calixto menatap sahabatnya dengan cemas. Dia tahu badai yang sedang dihadapi Aeri sejak Eryx mulai mencium identitas aslinya. Bagaimanapun, Calixto mendesak Aeri untuk menyewa seorang detektif terbaik di negara itu untuk membantunya memecahkan kasus Felix. "Kau tidak bisa terus mengandalkan instingmu atau janji-janji manis Eryx, Ri. Kau butuh pihak ketiga yang murni bergerak di bawah bayang-bayang hukum sipil
Eryx tidak menanggapi pernyataan itu dengan kata-kata. Ketegangan yang sempat menguar dari tubuhnya yang gemetar perlahan runtuh, digantikan oleh kepasrahan yang mendalam. Dengan gerakan yang teramat pelan namun pasti, pemuda itu mengikis jarak di antara mereka. Sebelum Aeri sempat mengantisipasi pergerakannya, Eryx menarik tubuh Aeri dan memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya yang terasa berat di bahu tegap sang pengawal. "Tetaplah di sisiku, Kak... kumohon," bisik Eryx, suaranya terdengar sangat parau, melemah hingga akhirnya napasnya kembali teratur dan dia tertidur dalam posisi mendekap erat tubuh Aeri. Aeri membeku di tempatnya. Dia tidak berani bergerak, takut jika sedikit saja pergeseran tubuhnya akan membangunkan insting liar pemuda itu lagi. Pada akhirnya, rasa lelah yang luar biasa setelah berhari-hari berjaga membuat pertahanan Aeri runtuh. Masih dalam kungkungan pelukan erat Eryx di atas ranjang medis, Aeri juga tertidur. Di balik keheningan malam, jantungnya b
Aeri segera melangkah turun dari area atap setelah memberi isyarat pamit yang cepat kepada Calixto. Langkah kakinya bergegas menuruni anak tangga besi, separuh dari dirinya masih dilingkupi rasa cemas jika bayangan yang dilihat Calixto tadi benar-benar sang tuan muda yang nekat berjalan dengan luka terbuka. Namun, sesampainya di koridor paviliun medis, keadaan tampak sunyi. Aeri perlahan mendorong pintu kayu kamar rawat isolasi tempat Eryx dirawat. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu indikator mesin medis dan pendar redup rembulan dari balik jendela. Aeri datang ke kamar Eryx untuk memeriksa apakah Eryx masih tidur. Dia berjalan mendekati ranjang dengan langkah tanpa suara, dan ternyata, pria itu masih terlelap. Deru napas Eryx terdengar teratur, wajah tampannya yang biasa dipenuhi kelicikan kini tampak begitu damai dan bebas dari beban takhta dalam tidurnya. Melihat wajah pucat itu, entah dorongan dari mana, Aeri mengulurkan tangannya yang tanpa sarung tangan. D
Malam kian melarut di distrik utara. Angin malam yang dingin berembus bebas, menyapu dinding-dinding beton kaku milik Akademi Pengawal Elit. Jam malam telah diberlakukan sejak satu jam yang lalu; seluruh koridor barak telah menggelap dan para pengawal muda telah terlelap dalam istirahat total mereka setelah seharian ditempa latihan fisik yang brutal. Aeri berjalan dengan langkah seringan kapas di atas koridor sunyi lantai dua paviliun medis. Dia baru saja memastikan bahwa Eryx telah tertidur karena pengaruh obat bius pasca-operasi kecil pada luka jahitannya. Rasa penat yang luar biasa menghimpit pundaknya, membuat setiap hela napasnya terasa berat di balik seragam tegap yang masih melekat ketat. Saat hendak melintasi persimpangan menuju area tangga darurat, sebuah bayangan tinggi melangkah keluar dari kegelapan fungsional loker logistik. Aeri secara refleks menurunkan tangannya ke arah sarung senjata di pinggangnya, namun gerakan itu terhenti seketika begitu mengenali garis wajah pr
Eryx terdiam sejenak. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Aeri. Sepasang matanya yang segelap malam justru menatap lekat-lekat pada rahang kokoh pengawal pribadinya, seolah sedang menikmati pergolakan batin yang coba disembunyikan Aeri di balik ekspresi datarnya. Eryx kemudian memalingkan wajahnya ke arah jendela besar aula, menatap hamparan taman kediaman Leander yang luas namun terasa dingin. Senyuman tipis, yang kali ini tidak membawa kelicikan melainkan kepahitan yang mendalam, terukir di bibirnya yang pucat. "Apa yang akan kulakukan jika aku menjadi kepala keluarga?" Eryx mengulang pertanyaan itu dengan suara rendah, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri. Dia melangkah perlahan menuju jendela, menyeret langkahnya yang menahan perih akibat jahitan perut yang kian menegang. "Hal pertama yang akan kulakukan adalah menghancurkan sangkar emas ini dari dalam, Kak." Aeri menyipitkan matanya, tetap berdiri di posisinya tanpa bergeser satu inci pun. "Menghancurkannya? Kau bar
Pagi hari tiba membawa kabut tipis yang menyelimuti Renhill. Sesuai dengan instruksi Tiago, sebuah mobil limusin hitam mewah sudah terparkir di depan lobi utama. Tidak lama kemudian, Lyra Xan datang. Wanita itu tampak anggun sekaligus angkuh dalam balutan gaun kasual mahal, lengkap dengan kacamata
Eryx masih terpaku. Rasa panik yang samar di matanya perlahan mengendap, digantikan oleh senyuman tipis yang dipaksakan. Dia menatap Gahensa dengan pandangan menilai. Pertanyaan tentang Kaeragha dan Felix jelas mengusik ketenangannya, namun hasrat untuk bebas dari cengkeraman ayahnya jauh lebih bes
Tamparan yang sangat keras diterima Aeri lagi. Pelakunya adalah orang yang sama lagi. "Bagaimana bisa kau membiarkan ini terjadi ketika banyak yang menginginkan kematian Eryx? Apakah kau sengaja? Apakah kau juga musuhnya?" tanya Tiago tajam. Kedua mata Tiago tidak luput dari Aeri yang menun
"Bukankah kau terlalu ikut campur urusan ini?" tanya Tiago seraya menatap tajam ke Aeri. "Sial. Aku tidak boleh gegabah. Mana ada pengawal yang akan mengatakan kalimat seperti itu kepada kepala keluarga kecuali dia berniat ingin terlihat mencurigakan. Jelas terlalu ikut campur," batin Aeri. Namun







