LOGINTidak pernah diperlakukan layaknya sebagai seorang anak, diusianya yang ke dua puluh tahun Aura Arabella dijual oleh ayahnya pada seorang CEO kejam, demi melunasi hutang perusahaan dan kepentingan pribadi keluarganya yang serakah. Aura yang rapuh akhirnya berubah drastis menjadi seorang wanita yang tangguh dan pandai memainkan topeng kepalsuan. Ia berusaha untuk menaklukkan Xavier Valerius Sang CEO kejam, untuk mencaritahu kebenaran tentang dirinya. Tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya oleh Aura, ternyata Xavier justru menjadi pelindung baginya. Ada satu fakta yang baru terungkap oleh Aura, yakni tentang siapa Xavier Valerius sebenarnya.
View MoreSuara teriakan Aura seolah tertahan oleh dinding-dinding kamar yang kokoh. Ia terus menggedor daun pintu hingga telapak tangannya memerah, berharap agar Xavier Valerius atau siapapun itu akan membukakan pintu kamarnya yang kini semakin terasa seperti penjara berlapis emas baginya. Aura mulai terlihat frustasi, tubuhnya yang terasa lemas merosot dengan punggung yang bersandar pada pintu kamarnya yang menjadi benteng kokoh, sebagai pembatas dirinya dan dunia luar."Pernikahan?" Gadis bertubuh ramping itu bergumam dibarengi dengan seringaian sinisnya. "Dua hari lagi ... yaa, dua hari lagi dia akan benar-benar menjadikanku tawanannya seumur hidup."Gaun satin yang melekat ditubuhnya, terasa seperti kain yang melilit hingga membuatnya sesak. "Dia gila ... Xavier Valerius benar-benar sudah gila! Semudah itu dia ingin melakukan pernikahan."Otaknya kini berputar, dipaksa untuk bekerja lebih keras agar dia bisa mendapat jeda meskipun tidak mungkin lepas dari pernikahan tersebut. Semakin cep
Malam yang menegangkan itu terasa merayap dengan sangat cepat di kediaman Valerius. Kamar tidur berukuran luas yang di dominasi dengan warna hitam dan abu, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mengintimidasi.Aura berdiri di dekat jendela besar kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk, menatap kerlip lampu kota dari kejauhan. Terbersit rasa rindu akan rumah yang pernah ia huni semenjak kecil bersama orangtuanya, tapi beberapa detik kemudian perasaan itu pun menguap saat mengingat kembali semua perlakuan orangtuanya terhadap dirinya selama ini.Dadanya bergemuruh, kata-kata Xavier siang tadi tentang asal-usulnya dan kepalsuan, terus berdengung di kepalanya seperti suara ribuan lebah yang tengah merasa terusik. “Rahasia apa yang sebenarnya kau ketahui tentangku, Tuan Valerius?”Gaun malam berbahan satin hitam dengan potongan punggung terbuka yang sengaja ia pakai malam ini, terasa dingin di kulitnya. Ini adalah malam penentuan, Aura harus memenangkan permainan dan menaklukkan pria
Kepanikan menyergap Aura sejenak, namun ia segera mengingat topeng kepalsuan yang baru saja ia kenakan pagi ini. Ia harus bersikap seolah tidak merasa melakukan kesalahan apapun, tidak boleh terlihat seperti maling yang tertangkap basah.Dengan gerakan anggun yang sengaja dibuat tenang, Aura memutar tubuhnya untuk menghadap pada pemilik suara tadi. “Kau mengagetkanku, Tuan Ken ... zo. Hmm, namamu Tuan Kenzo, kan, kalau tidak salah?”Gadis itu membiarkan punggungnya bersandar pada dinding dekat pintu ruang kerja Xavier yang sedikit terbuka.Ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan provokasi, lalu menatap Kenzo dari pucuk kepala hingga ke ujung kaki. “Aku ada di sini hanya untuk memastikan kalau pemilikku saat ini dalam keadaan baik dan penuh semangat ... tapi sepertinya dia sedang sibuk.”Mata gadis itu mengunci pandangan Kenzo. Ia sangat tahu betul kalau pria yang saat ini ada di hadapannya bukan hanya sekedar asisten pribadi saja, melainkan ia pun adalah mata dan telinga bagi X
Semburat jingga di ufuk timur mulai menembus celah gorden, mengakhiri malam panjang yang membekukan sel saraf Aura. Tubuhnya masih terasa lemas, namun matanya memancarkan api yang berbeda dari tadi malam. Bukan api kemarahan, melainkan api yang penuh dengan kobaran semangat untuk bangkit dan menjadi pribadi yang dingin dan mungkin mulai belajar untuk kejam.Ia berusaha untuk berdiri dengan tenaga yang tersisa, mengabaikan rasa pening di kepalanya akibat kurang tidur.Di depan cermin besar di pojok kamar, Aura berdiri menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu lemah dengan wajahnya yang pucat. Luka di hatinya tidak mungkin bisa hilang hanya dalam satu malam saja. Ia akan membungkusnya dengan sutra yang terlihat cantik di pandang mata.“Selamat datang di neraka yang baru, Aura,” gumamnya dengan dibarengi seringaian devil yang menakutkan.Ia melangkahkan kakinya dengan gontai ke arah kamar mandi mewah yang ada di dalam kamar pribadinya, lalu membiarkan air hangat membasuh debu penolak
Mansion Xavier tidak seperti rumah minimalis kediaman keluarga Bramasta Wijaya, yang terlihat hangat di permukaan namun busuk di dalam. Tempat ini adalah sebuah monumen kekuasaan yang jujur, dingin, megah dan tak tertembus oleh orang sembarangan. Terletak di puncak perbukitan yang terisolasi, bangu
Malam itu, Jakarta diguyur oleh hujan badai yang seolah meramalkan sebuah kehancuran. Di ruang kerja yang berbau cerutu dan alkohol mahal, Aura Arabelle berdiri kaku dengan jemari yang saling bertautan. Gaun putih yang melekat pada tubuhnya pemberian dari Sarah—ibunya, terasa seperti kain kafan yan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.