LOGINAeri mengepalkan tangannya yang terbalut saputangan sutra milik Eryx. Pertanyaan yang meluncur dari bibir pemuda itu terasa seperti bilah belati yang diputar di dalam lukanya. Di bawah siraman lampu lobi kediaman utama yang temaram dan rintik hujan yang kian menderas, Aeri dipaksa berdiri di persimpangan yang mematikan.Jika dia menjawab dengan nada bariton pengawal yang terlalu objektif, Eryx yang jenius dan paranoid pasti akan mencium gelagat kecurigaan. Namun, jika dia berbohong terlalu manis, hatinya sendiri yang akan menolak untuk bersuara.Aeri menarik napas dalam-dalam, menekan pita suaranya ke nada rendah "Gahensa" yang tegap dan tenang. Dia menoleh, menatap lurus ke dalam manik mata gelap Eryx yang sarat akan keputusasaan obsesif."Tugas saya bukan untuk memercayai rumor atau analisis detektif sipil, Tuan Muda," jawab Aeri, suaranya terdengar datar namun mantap di antara desau angin malam. "Tugas saya adalah memastikan Anda tetap hidup sampai pelantikan besok malam, dan menyi
Limusin hitam itu melaju membelah malam yang kian pekat. Di dalam kabin, keheningan yang tercipta terasa jauh lebih mencekam daripada badai yang baru saja meledak di kantor kepolisian. Tiago dan Selena duduk di kursi baris depan yang menghadap ke belakang, sementara Eryx dan Aeri duduk berdampingan. Tidak ada yang bersuara. Hanya deru mesin mobil dan ketukan rintik hujan pada kaca jendela yang mengisi kekosongan atmosfer di antara mereka.Aeri menatap lurus ke depan, enggan menoleh ke arah Eryx yang berada tepat di sisi kanannya. Namun, dari sudut matanya, ia bisa melihat bagaimana pria itu menyandarkan kepala pada sandaran kursi, memejamkan mata dengan gurat kelelahan yang amat sangat. Darah segar kembali merembes tipis di kemeja putih Eryx—jahitan di perutnya pasti kembali merenggang akibat ketegangan tadi.Rasa sakit hati yang mendalam membakar dada Aeri. Ucapan detektif terbaik itu terus bergaung laksana lonceng kematian di telinganya. "Seseorang yang terlatih secara militer... te
Ruangan itu seketika menjadi begitu sunyi, hingga suara detak jam dinding kuno di sudut kantor terdengar laksana dentang lonceng kematian. Pernyataan sang detektif terbaik di negara itu meruntuhkan sisa-sisa wibawa narasi yang dibangun oleh Tiago Leander. Wajah Tiago mengeras, rahangnya mengetat hingga urat-urat di lehernya menegang. Di sampingnya, Selena tampak mematung. Senyuman penuh kemenangan yang tadi sempat bertengger di bibir tipisnya kini lenyap, digantikan oleh tatapan sedingin es yang mengarah langsung pada sang detektif. "Kau... berani sekali melayangkan tuduhan tanpa bukti di hadapanku," desis Tiago, suaranya merendah namun sarat akan otoritas yang siap menghancurkan siapa saja. Detektif terbaik itu hanya terkekeh pendek. Dia meraba saku mantel lusuhnya, mengeluarkan sebuah gawai transparan kecil lalu menekannya. Sebuah hologram diagram tiga dimensi mengenai sudut kemiringan jatuhnya tubuh Felix malam itu terpampang di udara, membelah kegelapan ruang interogasi. "Jeja
Ketegangan di dalam ruang interogasi mencapai titik didih. Eryx masih menatap detektif lokal itu dengan pandangan membunuh, sementara Aeri berdiri kaku di sampingnya, bersiap menghadapi skenario terburuk. Namun, sebelum perdebatan tentang penahanan itu berlanjut, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari koridor luar, memecah keheningan malam di kantor kepolisian tersebut.BRAK!Pintu ruang interogasi terbuka lebar. Alih-alih Kaeragha yang datang memenuhi panggilan, yang datang malah Tiago Leander dan Selena. Kehadiran dua petinggi distrik itu seketika mengubah atmosfer ruangan menjadi sangat intimidatif. Di belakang mereka, belasan pengawal elit berbaju hitam langsung memblokir pintu, membuat para petugas kepolisian sipil di dalam ruangan mundur teratur karena ketakutan.Tiago melangkah maju dengan keangkuhan mutlak seorang kepala keluarga. Mata tuanya yang tajam langsung mengunci sosok sang detektif lokal. Tanpa basa-basi, Tiago meminta detektif itu untuk berhenti mem
Ruang interogasi di kantor detektif lokal itu terasa pengap dan dingin. Cahaya lampu neon di langit-langit berkedip pelan, memantulkan bayangan buram pada kaca satu arah yang memisahkan mereka dari ruang pemantau. Eryx duduk dengan santai di kursi besi, melipat kedua tangannya di depan dada seolah dia sedang berada di ruang kerjanya sendiri, bukan di bawah tekanan interogasi kepolisian pusat. Di belakangnya, Aeri berdiri tegak sebagai pengawal, menyembunyikan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.Sang detektif aneh melemparkan berkas foto tempat kejadian perkara ke atas meja kayu. "Jadi, Tuan Muda Eryx, mari kita mulai dari malam itu. Felix jatuh dari balkon penthouse pribadi Anda. Apa yang Anda lakukan bersamanya malam itu?"Ketika diwawancarai soal Felix, Eryx tidak mengungkapkan kebenaran apa pun. Ekspresi wajahnya begitu datar, hampir menyerupai topeng porselen yang sempurna. Dia selalu menjawab tidak tahu. Setiap pertanyaan taktis yang dilayangkan oleh detektif itu diment
Keputusan Tiago Leander setelah insiden penggeledahan penthouse sangat mutlak. Dinasti Leander tidak boleh terseret lebih dalam ke dalam pusaran hukum sipil, terutama tepat di ambang pelantikan akbar. Pihak kepolisian pusat dan detektif lokal yang menangani kasus Felix telah melayangkan surat panggilan resmi kepada Eryx Leander untuk dimintai keterangan sebagai saksi kunci sekaligus pemilik lokasi kejadian. Namun, Tiago bergerak lebih cepat. Di ruang keluarga utama, dengan wajah yang menggelap oleh amarah, Tiago memerintahkan Eryx untuk menolak panggilan tersebut secara sepihak. Tidak hanya itu, demi meredam gejolak publik dan menjauhkan putranya dari jangkauan kementerian, Tiago memerintahkan Eryx untuk segera pergi bersembunyi ke sebuah pulau pribadi terpencil di wilayah selatan sebelum fajar menyingsing. Eryx, yang menyadari bahwa posisi takhtanya sedang dipertaruhkan, tidak membantah. Dia pun bergegas melakukannya. Dengan dikawal oleh tim internal, Eryx bersiap menuju dermaga he
Pukul delapan pagi, Eryx muncul di ruang makan dengan penampilan yang membuat Aeri terdiam sejenak. Ia tidak bertelanjang dada seperti yang Aeri bayangkan. Sebaliknya, ia mengenakan kaus desainer yang pas di tubuh, celana rapi berpotongan presisi, dan arloji yang nilainya lebih tinggi dari gaji Ae
Aeri datang lebih awal karena itu adalah cara untuk menunjukkan kepada Eryx Leander bahwa keputusannya untuk mengambil Gahensa Xan bukan kesalahan—itu adalah investasi dalam hidupnya sendiri.Maya, pembantu rumah tangga, terlihat terkejut melihat Aeri sudah di penthouse saat pagi buta."Tuan Eryx m
"Gahensa Xan, tuan.""Gahensa," ulangi Eryx, melafalkannya dengan cara yang berlagak-lagak, seolah-olah nama itu adalah bahan lelucon. "Nama yang aneh. Kamu dari planet mana? Atau itu nama asli? Karena ini terdengar seperti nama yang dibuat saat ayahmu sedang mabuk dan ibu mu sedang—""Tuan," poto
Enam bulan kemudian, Aeri masuk ke akademi keamanan elite dengan nama palsu dan identitas palsu yaitu Gahensa Xan. Selama enam bulan itu, dia berlatih sangat keras. Ketika kakaknya libur bekerja, dia biasanya cerita soal pekerjaannya termasuk bagaimana caranya menjadi seorang pengawal terlatih. Dan







