LOGINCup!Tanpa memberikan waktu bagi Catherine untuk bereaksi, Sean mendaratkan kecupan manis di leher perempuan itu. Tarikan napasnya terasa berat, berbanding terbalik dengan hatinya yang merasa lega.“Ah, sekarang aku tahu mengapa para vampir begitu terobsesi menemukan ‘wanita pilihan’ yang disebutkan dalam legenda. Hanya menciumnya beberapa detik saja, rasa sakit di dadaku mulai berkurang.”Sean merasa tidak cukup dengan itu, sehingga indra perasanya mulai berkelana. Menyusuri setiap jengkal leher Catherine hingga hampir menyentuh dagu.“Uhh, S-sean. Jangan,” tolak Catherine. Napasnya terdengar seperti gemuruh, seperti melodi yang mendadak hadir di tengah badai.Gadis itu berusaha menundukkan kepalanya dalam-dalam. Berpikir dia dapat menghentikan, atau setidaknya membatasi pergerakan Sean.Sean memang sedikit kesulitan menghadapi trik kecil yang dimainkan Catherine. Namun, dia punya solusinya sendiri.“Begini saja tidak bisa kau tahan, Cathie?” goda Sean.Jemarinya perlahan turun, meng
“Kau memang pantas mendapatkan berkah dariku,” batin dewi tersebut seraya menyatukan kedua tangannya di depan dada, seperti sedang berdoa. Pergelangan tangannya lalu berputar 45° dan sedikit direnggangkan, sehingga kedua ibu jarinya menghadap ke atas. Dua jari itu juga tidak tertaut seperti jemari lain, melainkan membentuk segitiga. Adapun jari telunjuk berperan sebagai sisi bawahnya.Dari sela jemari Astressia, keluar sinar keemasan yang cukup menyilaukan. Seandainya Catherine ada di sini, pandangannya akan terenggut selamanya meski cuma mengintip sebentar.“Atas kuasa yang telah dianugerahkan kepadaku, aku, Astressia de Astrea, ingin membagikan sedikit berkahku kepada Catherine van Lammington yang kini telah bereinkarnasi menjadi Catherine Ethenburough,” ucap Astressia dengan suara seriusnya.Dewi itu lalu menaikkan tangannya di depan mata. Setelah posisinya dirasa pas, barulah dia melepaskan tautan tangannya. Memperlihatkan sepasang matanya yang berkilau indah.“Lumière de la béné
“Mana bisa kita membiarkan Catherine jatuh ke tangan Sean. Ayolah, pikirkan sesuatu!” desak Silencia, mengabaikan ucapan Astresia barusan.Astressia memijit kening. “Kau kan dewa yang disembah para vampir menjijikkan itu. Kenapa kau malah tanya solusinya padaku?”“Aaa!”Silencia merasa otaknya mau meledak. Berteriaklah dia sambil mengacak-acak rambutnya sendiri, saking frustasinya.Melihat Silencia yang tantrum bagai anak kecil, Astressia menghela napas. “Kalau kau mau mengakhiri blood contract mereka secara paksa, bukankah itu juga berarti mengembalikan umur Sean yang telah Catherine serap? Tubuhnya pasti akan mengalami serangan balik. Kalau tidak beruntung, Catherine bisa langsung mati.”Menjeda kalimatnya sebentar. Sepasang mata Astressia menyorot tajam ke arah lawan bicaranya, sementara suaranya terdengar lebih dingin dari sebelumnya ketika bertanya,“Silencia … apa kau sungguh tega melakukan itu pada Catherine?”***“Sean,” panggil Catherine dengan suara lembut.Lelaki yang seda
“Jangan buat pikiranku jadi liar begini, Cathie,” lirih Sean. Suara seraknya itu sebetulnya nyaris tidak terdengar. Namun di saat yang tepat, berhembus angin sepoi yang nakal. Menghantarkan pesan memalukan itu pada Catherine.“Hah?” respon Catherine sambil menaikkan sebelah alis.Melihat wajah Catherine yang bingung maksimal, Sean jadi sadar kalau pemikirannya masih polos. Berbanding terbalik dengan otaknya yang gampang memikirkan aneka hal kotor. Fakta ini pun membuatnya malu sendiri.“K-kau tidak perlu tahu,” ujar Sean kemudian.Supaya rasa malunya ini tidak berlarut-larut, Sean mengajak, “Bisa kita lakukan sekarang?”Menggaruk kepala yang tidak gatal, Catherine lalu membalas, “Boleh saja. Tapi memangnya kau punya jarum?”“Ada.”Sean memasukkan tangan ke dalam saku. Diam-diam menggerakkan jarinya untuk menciptakan sebuah jarum tajam. Sambil mengeluarkannya, Sean berkata, “Nih.”“Tidak bisa dipercaya!” kaget Catherine di dalam hati. Dia bahkan mengucek-ngucek kedua mata, saking tida
“Sederhananya, kita ciuman di sini,” ujar Sean, mengakhiri keheningan yang sempat menguasai ruangan ini ketika melamunkan ingatannya semalam. Mata Catherine melotot seketika. Ditunjuknya patung Dewi Silencia sambil berujar tak percaya, “Ini tempat— maksudku ruangan suci, ‘kan? Bukankah ini sedikit tidak pantas?”“Ini bukan ciuman karena hasrat, Cathie. Lagipula bukankah orang-orang yang baru saja menikah, juga bisa ciuman di gereja? Disaksikan banyak orang pula.”Sean berusaha bersabar meski sekarang, pipinya mulai memunculkan semburat merah muda.“Tapi kita nggak nikah, Sean. Mana bisa disamakan,” protes Catherine. Sedikit menyiratkan kalau dia ingin Sean memberinya penjelasan yang memuaskan. Sean mengelap wajahnya gusar.“Kau pernah dengar blood contract?” tanyanya lamat setelah berpikir beberapa saat.“Emm … kontrak darah?” jawab Catherine penuh keraguan. Dahinya bahkan berkerut sempurna.Catherine tidak melanjutkan ucapannya. Sibuk memikirkan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Se
“Kau kecanduan menciumku atau bagaimana?” heran Sean di dalam hatinya.“Oh, astaga!” batin lelaki itu begitu sekelebat ingatan tiba-tiba terputar di kepala. “Pasti karena ucapanku tadi.”Andaikan Catherine tidak menutup mata, maka dia bisa melihat tampang Sean yang begitu licik. Sudut bibirnya bahkan terangkat sebelah.Sean lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Kepalanya sedikit menunduk ketika menekan bibir Catherine dengan jari telunjuk,“Tidak di sini, Cathie,” lirih Sean. Suara rendahnya itu entah ditujukan untuk menggoda Catherine, atau ada maksud lain.Giliran Catherine yang terkesiap. Sepasang mata bulatnya mengedip-ngedip tak percaya ketika Sean menghentikan surprise yang dia rencanakan secara mendadak.“Apa mungkin, dia cuma mau ganti tempat?” pikir Catherine lagi, merujuk pada kalimat yang baru saja Sean ucapkan. Sementara Catherine sibuk memeras otak, Sean mulai melancarkan aksinya.“Agresif sekali.”Cup!“Umm.”Suara memalukan itu lolos begitu saja dari bibir mu







