Share

Passionate Kiss

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-01 14:52:08

“Ngh … stop!” pinta Catherine begitu ada kesempatan.

Permintaan gadis itu bukannya tanpa alasan. Permainan Sean terlalu liar. Dia tidak sanggup untuk mengikuti.

“Aku … ugh, tidak bisa … napas!”

Merasa Catherine begitu cerewet, Sean menjadi sedikit kesal. Karena bad mood itulah, dia memutuskan untuk mengakhiri permainannya.

“Baru lima menit saja, kau sudah menyerah. Sepertinya kau perlu training khusus,”  omel Sean.

Baru saja Catherine bernapas lega, sekarang dadanya bagai kembali dihantam oleh palu gada. “A-apa?” tanyanya tak percaya.

Sean tersenyum miring. Diusapnya lembut bibir Catherine yang masih basah sembari berkata, “Tadi kau tanya apa bayarannya, ‘kan?”

“Jangan bilang …” 

Catherine merinding sebadan-badan. 

“Kalau tidak bilang, bagaimana bisa kau tahu?” Sean kembali bertanya. Dan kali ini, lelaki itu mendongakkan dagu Catherine. Memaksa Catherine bertatap mata dengannya.

“Simpel saja. Setidaknya sebulan sekali, kau akan tidur denganku,” ucap Sean. Bukan tawaran, bukan pula pertanyaan. Itu semacam perintah.

Mendengar bahwa mimpi buruknya menjadi kenyataan, Catherine menggelengkan kepala. “Tidak mau!”

“Yakin mau menolak? Bukannya kau sudah diusir dari kontrakan? Tanpa rumah, tabungan, dan uang cash di tangan, kau sudah tidak punya harapan untuk hidup. Ya … kecuali kau rela jadi gelandangan,” Sean berujar penuh penekanan.

Catherine mengernyitkan dahi. “Diusir?” beo perempuan itu dengan mulut menganga.

“Oh. Kupikir kau diusir, makanya kau setuju menumpang tinggal di rumah orang tua James selama seminggu terakhir,” ujar Sean enteng. Lalu dengan santai, lelaki itu berbaring. Kepalanya sengaja diletakkan di pangkuan Catherine.

Dari bawah sana, Sean dapat melihat dengan jelas semerah apa pipi Catherine sekarang. Bahkan mungkin, bisa disandingkan dengan tomat matang.

“Sebetulnya aku lebih suka Albrighton mewakiliku berbicara, tapi karena dia sibuk dan ini hal yang cukup pribadi, sepertinya pilihanku cuma bicara langsung denganmu,” oceh Sean.

Catherine mengepalkan tangannya. “Kalau mau bicara, tinggal bilang saja! Mana ada orang yang mau bicara tapi malah seenaknya duduk di pangkuan! Terus … apa tadi itu? Main sosor aja! Kau kira, aku ini wanita murahan?!”

“Memangnya bukan? Tadi kau juga menggamit lenganku dengan erat. Kupikir, kau sejenis dengan mereka,” sindir Sean.

“Aaargh, sial!” umpat Catherine di dalam hati ketika ucapannya malah berbalik menyerang diri sendiri.

Sean terkikik geli. “Sudahlah, aku juga tidak punya niatan membuatmu dongkol.”

Tuan muda dari keluarga Lamiore itu lantas berbicara serius, “Dua bulan lalu, wanitaku jatuh ke dekapan James. Saat menggali informasi tentang mereka, tanpa sengaja bawahanku mengetahui informasi soal siasat licik ibunya James. Makanya aku tahu kalau kau sedang ditipu.”

“Wanitamu? Maksudmu kekasih?” bingung Catherine.

Sean menghembuskan napas panjang. “Ingat imbalan yang aku minta padamu tadi? Nah, begitu situasinya.”

“Aku juga tidak suka wanitaku tidur dengan lelaki lain. Makanya saat ketahuan, kerjasamanya langsung aku hentikan.”

Catherine mengedip-ngedipkan matanya tak percaya. “Singkatnya, kau mau aku menggantikan wanita itu untuk tidur denganmu?”

“Hm.” Sean sama sekali tidak menyangkal. Lelaki itu bahkan menambahkan, “Lagian, susah cari yang belum tersentuh orang. Kalau ada pun, mereka belum tentu setia.”

“Dasar cowok mesum yang banyak mau!” geram Catherine di dalam hati.

Mendengus sebal, Catherine memberi jawaban tegas, “Itu urusanmu, tidak ada kaitannya sama sekali denganku! Salahkan saja James yang menggoda wanitamu atau sebaliknya!”

Sean bangkit. Dengan tatapan serius, dia berujar, “Kau sungguh tidak mau menerima tawaran dariku?”

“Aku bisa membayar semua sisa hutangmu. Lagipula, kerjamu cuma sebulan sekali. Satu malam tarifnya 5 juta. Tapi kalau aku tiba-tiba membutuhkanmu untuk keperluan lain, akan kuberi 200 ribu. Hitung sendiri berapa bulan yang kau butuhkan untuk mengganti uangku.”

“Selain itu, kau bisa tinggal di mansion milikku untuk sementara waktu. Biaya pindahan, makan, camilan, cuci baju, dan lainnya akan aku tanggung. Setelah dapat kerjaan baru, silahkan saja kalau mau keluar,” pungkas Sean mengakhiri penjelasannya.

Catherine menyimak penjelasan Sean dengan bibir menganga sempurna. “Cuma lima juta?” tanyanya tak percaya sembari menunjuk lima jari tangannya.

“Kau mau aku kerja gratis untuk selamanya, huh?!” kesal Catherine sambil mencubit bahu Sean sebagai bentuk protes atas ketidakadilan yang dia rasakan.

Catherine mengatakan itu karena dia tahu bahwa hutang yang perlu dia lunasi sekarang bukan hanya pada platform pinjaman online, tetapi juga pada Clara. Bahkan ada kemungkinan Clara meminta Catherine mengganti rugi atas biaya pesta pernikahan yang batal digelar esok hari.

Dengan jumlah hutang yang mungkin mencapai 1 miliar itu, Catherine tidak sanggup menghitung berapa tahun yang harus dia habiskan untuk melayani Sean.

“Aargh! Lepas! Denda lima juta kalau kau berani mencubit lagi!” ancam Sean.

Darah Catherine mendidih sampai ke ubun-ubun. “Satu malamku yang berharga, setara dengan denda mencubitmu? Lebih baik aku cubit kau sampai mati!”

Sepertinya Catherine serius dengan apa yang dia ucapkan barusan. Sebab sekarang, dia mulai mencubit di sana sini. Tidak peduli setangguh apapun tubuh Sean, dia juga memiliki batasnya. Saat sudah kewalahan, akhirnya Sean mengeluarkan jurus terakhir.

“Sial, lepas!” ronta Catherine ketika kedua tangannya kembali dicekal oleh Sean. Dalam posisi ini, dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk meloloskan diri.

Sean mendengus. “Tunggu sampai aku menghitung semua bekas cubitanmu! Seluruh biayanya akan ditagihkan padamu, TIDAK KURANG SEPESER PUN!” ancamnya penuh penekanan.

Gigi Catherine gemeretak mendengarnya. “Aku cuma sedang membela diri! Memangnya aku salah?”

“Cih! Membela diri dari Hongkong?! Kau jelas-jelas mau membunuhku tadi!” geram Sean.

“Dih, baperan! Lagi pula, mana mungkin kau mati gara-gara dicubit! Tidak masuk akal!” Catherine kembali membantah.

Sean membalas dengan sindiran, “Kalau dicubit orang, memang tidak mungkin. Tapi aku dicubit seekor singa!”

“Apa kau bilang?!”

Emosi Catherine tersulut sempurna. Dia bahkan mulai memanfaatkan kakinya untuk menendang-nendang Sean. Hanya saja, posisi Catherine kurang menguntungkan. Dia tidak bisa menyasar titik vital lelaki itu.

“Simpan saja tenagamu untuk memikirkan tawaranku. Itu lebih baik,” ujar Sean, berusaha mempengaruhi Catherine secara halus. 

Catherine menatap Sean penuh kebencian. “Aku tidak butuh saran dari mulut busukmu!”

“Sekarang, lepas! Aku mau pergi!”

Melihat Catherine yang begitu ingin melepaskan diri darinya, Sean jadi ingin bermain-main dengannya sedikit lebih lama. Lagipula malam ini, kebetulan dia tidak memiliki urusan penting. Waktunya sangat longgar untuk sekadar menahan seekor semut macam Catherine.

“Tidak segampang itu kalau mau pergi,” beritahu Sean. Sebelah sudut bibirnya terangkat, membuat perasaan Catherine menjadi tidak enak.

Nyali Catherine menciut. Tergagap dia bertanya, “A-apa maksudmu?”

“Bayar dulu tiket keluarnya.”

Bersamaan dengan berakhirnya ucapan Sean, Catherine membelalakkan mata. Sebab sekarang, Sean kembali mengunjungi bibirnya. Mencecap rasa manis yang tertinggal di sana.

“Lelaki ini … apa dia sudah gila?”

***

Entah berapa menit yang sudah Catherine habiskan di mobil Sean. Dalam rentang waktu itu, entah berapa puluh kali Catherine mengutuk Sean di dalam hatinya.

“Ugh! Selesai juga akhirnya,” batin Catherine saat melihat tanda-tanda Sean memundurkan wajah.

Tanpa membuang waktu lebih lama, Catherine melepaskan diri dari genggaman Sean. Dan hal yang pertama kali dia lakukan adalah mengelap bibirnya.

“Ssh!” desis Catherine saat merasa sakit. 

Rupanya Catherine terlalu sibuk merutuk. Sampai-sampai, dia tidak sadar kalau bibirnya sedikit bengkak.

“Kau tidak fokus sama sekali,” ujar Sean tiba-tiba. “Apa yang kau pikirkan sebenarnya?”

Catherine menyipitkan mata sebelum menyindir, “Memangnya kalau kau dicium perempuan random, kau tetap bisa menikmatinya?”

Kata-kata pedas Catherine membuat Sean terkikik sejenak. “Kalau ceweknya cantik, mungkin akan aku pertimbangkan,” jawabnya asal.

“Orang gila!” umpat Catherine untuk terakhir kali, lantas meraih handle pintu.

Di luar dugaan Catherine, Sean bergerak secepat kilat. Lelaki itu menggenggam erat tangan lentik miliknya, mencegah dia untuk memutar handle pintu yang sudah dia pegang.

Perlahan namun pasti, Sean mendekatkan wajah. Dengan suara yang terdengar menggoda, dia berbisik tepat di belakang tengkuk Catherine,

“Haruskah aku menagih biaya atas penghinaanmu ini?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Menanyakan Tentangmu

    “Mana bisa kita membiarkan Catherine jatuh ke tangan Sean. Ayolah, pikirkan sesuatu!” desak Silencia, mengabaikan ucapan Astresia barusan.Astressia memijit kening. “Kau kan dewa yang disembah para vampir menjijikkan itu. Kenapa kau malah tanya solusinya padaku?”“Aaa!”Silencia merasa otaknya mau meledak. Berteriaklah dia sambil mengacak-acak rambutnya sendiri, saking frustasinya.Melihat Silencia yang tantrum bagai anak kecil, Astressia menghela napas. “Kalau kau mau mengakhiri blood contract mereka secara paksa, bukankah itu juga berarti mengembalikan umur Sean yang telah Catherine serap? Tubuhnya pasti akan mengalami serangan balik. Kalau tidak beruntung, Catherine bisa langsung mati.”Menjeda kalimatnya sebentar. Sepasang mata Astressia menyorot tajam ke arah lawan bicaranya, sementara suaranya terdengar lebih dingin dari sebelumnya ketika bertanya,“Silencia … apa kau sungguh tega melakukan itu pada Catherine?”***“Sean,” panggil Catherine dengan suara lembut.Lelaki yang seda

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kau Milikku Sekarang

    “Jangan buat pikiranku jadi liar begini, Cathie,” lirih Sean. Suara seraknya itu sebetulnya nyaris tidak terdengar. Namun di saat yang tepat, berhembus angin sepoi yang nakal. Menghantarkan pesan memalukan itu pada Catherine.“Hah?” respon Catherine sambil menaikkan sebelah alis.Melihat wajah Catherine yang bingung maksimal, Sean jadi sadar kalau pemikirannya masih polos. Berbanding terbalik dengan otaknya yang gampang memikirkan aneka hal kotor. Fakta ini pun membuatnya malu sendiri.“K-kau tidak perlu tahu,” ujar Sean kemudian.Supaya rasa malunya ini tidak berlarut-larut, Sean mengajak, “Bisa kita lakukan sekarang?”Menggaruk kepala yang tidak gatal, Catherine lalu membalas, “Boleh saja. Tapi memangnya kau punya jarum?”“Ada.”Sean memasukkan tangan ke dalam saku. Diam-diam menggerakkan jarinya untuk menciptakan sebuah jarum tajam. Sambil mengeluarkannya, Sean berkata, “Nih.”“Tidak bisa dipercaya!” kaget Catherine di dalam hati. Dia bahkan mengucek-ngucek kedua mata, saking tida

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Blood Contract

    “Sederhananya, kita ciuman di sini,” ujar Sean, mengakhiri keheningan yang sempat menguasai ruangan ini ketika melamunkan ingatannya semalam. Mata Catherine melotot seketika. Ditunjuknya patung Dewi Silencia sambil berujar tak percaya, “Ini tempat— maksudku ruangan suci, ‘kan? Bukankah ini sedikit tidak pantas?”“Ini bukan ciuman karena hasrat, Cathie. Lagipula bukankah orang-orang yang baru saja menikah, juga bisa ciuman di gereja? Disaksikan banyak orang pula.”Sean berusaha bersabar meski sekarang, pipinya mulai memunculkan semburat merah muda.“Tapi kita nggak nikah, Sean. Mana bisa disamakan,” protes Catherine. Sedikit menyiratkan kalau dia ingin Sean memberinya penjelasan yang memuaskan. Sean mengelap wajahnya gusar.“Kau pernah dengar blood contract?” tanyanya lamat setelah berpikir beberapa saat.“Emm … kontrak darah?” jawab Catherine penuh keraguan. Dahinya bahkan berkerut sempurna.Catherine tidak melanjutkan ucapannya. Sibuk memikirkan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Se

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Jangan Cium di Sini

    “Kau kecanduan menciumku atau bagaimana?” heran Sean di dalam hatinya.“Oh, astaga!” batin lelaki itu begitu sekelebat ingatan tiba-tiba terputar di kepala. “Pasti karena ucapanku tadi.”Andaikan Catherine tidak menutup mata, maka dia bisa melihat tampang Sean yang begitu licik. Sudut bibirnya bahkan terangkat sebelah.Sean lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Kepalanya sedikit menunduk ketika menekan bibir Catherine dengan jari telunjuk,“Tidak di sini, Cathie,” lirih Sean. Suara rendahnya itu entah ditujukan untuk menggoda Catherine, atau ada maksud lain.Giliran Catherine yang terkesiap. Sepasang mata bulatnya mengedip-ngedip tak percaya ketika Sean menghentikan surprise yang dia rencanakan secara mendadak.“Apa mungkin, dia cuma mau ganti tempat?” pikir Catherine lagi, merujuk pada kalimat yang baru saja Sean ucapkan. Sementara Catherine sibuk memeras otak, Sean mulai melancarkan aksinya.“Agresif sekali.”Cup!“Umm.”Suara memalukan itu lolos begitu saja dari bibir mu

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Ganti Saja di Depanku

    “Apa-apaan sikapnya itu? Sebentar romantis, terus tiba-tiba dingin. Juga ada saatnya dia menggila atau bersikap menjengkelkan. Aku benar-benar tidak bisa memahami isi pikiran Sean,” batin Catherine sambil sedikit meremas kemeja krem pemberian Sean.Diam-diam, dia mencuri pandang ke arah lelaki itu. Sayangnya hanya punggung Sean yang bisa dia lihat. Selebihnya tersembunyi dibalik pintu.Meskipun begitu, kesibukannya jelas terlihat oleh mata Catherine. Pelahan, Catherine menelusupkan tangannya pada lengan kemeja. Karena berjalan lancar, dia masukkan tangan satunya juga. Sehingga sekarang, kemeja itu benar-benar terpakai olehnya.“Tanpa perlu memasang kancingnya, ukurannya memang pas,” komentar Catherine. “Tapi, bagaimana bisa Sean punya kemeja seukuran ini? Tidakkah hal ini terlalu mencurigakan?”“Haruskah aku bertanya? Atau—”“Apa lagi yang sedang kau pikirkan?” keluh Sean.Tadinya Sean mau memberikan celana untuk Catherine. Namun Sean membatalkan niatnya ketika mendapati sosok Cather

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kemeja Untukmu

    “Ruangan apa ini?”Catherine bergumam lirih ketika Sean memasuki sebuah ruangan. Sepasang matanya lalu sibuk memandang kesana kemari, mencermati setiap sudut ruangan asing itu.Merasa kalau ruangan tersebut aman untuk dia masuki, Catherine pun ikut menginjakkan kakinya ke sana. Saat tangannya tidak sengaja menyentuh dinding, jemarinya merasakan tekstur lembut yang cukup memuaskan.“Apa ini?” tanyanya penasaran sambil mulai melihat ke arah tembok.Terlihat olehnya kain berbulu warna merah pekat yang dihias dengan sulaman keemasan. Tadi dia sempat mengira kalau kain itu paling cuma barang murahan yang asal ditempelkan. Namun setelah meraba teksturnya, sekaligus menyadari bahwa kain tersebut memiliki kilau yang memikat, Catherine menyimpulkan,“Sulit dipercaya! Aku berani bertaruh kalau kain beludru ini dibuat dari sutra, sementara bulunya diambil dari cerpelai putih. Kualitasnya begitu tinggi dan sepertinya, benang emas ini juga dipintal memakai lempengan emas murni,” batin Catherine.P

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status