Share

2

Author: Kuldesak
last update Petsa ng paglalathala: 2024-11-04 13:18:13

"Loh, ini kayak kain ya?" pikirku ketika tanganku menyentuh sesuatu.

Karena panik dan terburu-buru, benda yang terselip di sela ventilasi itu pun terjatuh ke lantai karena gesekan oleh tanganku sendiri.

Deg!

Aku menyipitkan mata menatap benda yang jatuh itu. Sebuah kain putih, tampak kumal berwarna coklat.

Hmm... Bisa dibilang seperti kain yang lama dipendam dalam tanah. Kotor dan bau amis.

Aku segera turun dari kursi, kupungut benda yang seukuran dus sabun mandi tersebut.

Ya, ini kain yang dibutalkan, ada lilitan kain putih yang sudah kecoklatan diikat seperti sebuah kado.

"Apa isinya? Kok rasanya kayak ada sesuatu di dalam?" rasa penasaranku sudah tak tertolong, aku gegas membuka kain kotor itu perlahan, mencoba mengabaikan bau amis yang semakin menusuk hidungku.

Tanganku gemetar saat aku meraih ujung kain yang dililitkan, perlahan mengurai ikatan yang rapat.

“Ya Allah, ini apa sih sebenarnya?” gumamku, berbisik.

Entah kenapa, meski merasa cemas, ada dorongan kuat dalam diriku untuk melihat apa yang tersembunyi di balik kain itu. Seolah-olah benda tersebut menyimpan sesuatu yang ingin kutemukan, meski hatiku berteriak untuk berhenti.

Saat lilitan terakhir terbuka, aku tertegun. Isi di dalam kain tersebut adalah tanah kering dengan berbagai kembang yang juga sudah mengering.

Wus...

"Astagfirullah!" aku merasa ada hawa dingin yang tiba-tiba meniup tengkukku.

Dengan cepat aku berbalik. "Siapa?!" teriakku.

Hening, tak ada apa-apa. Mataku mulai nanar menelisik ke sekeliling, aku yang tak percaya dengan hal-hal gaib dibuat ketakutan oleh kejadian ini.

"Ya Allah, kenapa gue ngerasa kayak ada yang merhatiin gue dari tadi?" pikirku.

Ketika pertama kali masuk ke rumah ini saat survei, aku memang sudah merasa ada yang aneh. Udara di dalam rumah terasa lebih dingin, meski di luar cuaca cerah. Aroma lembap dan pengap menyergap hidungku, seolah rumah ini sudah lama tidak dihuni.

Dinding-dinding di rumah ini dipenuhi coretan-coretan aneh, lambang-lambang yang tidak kupahami, dan beberapa gambar yang sepertinya bukan sekadar seni graffiti biasa.

Aku pikir, mungkin ini cuma karya iseng penghuni sebelumnya. Lagian, aku tidak percaya hal-hal mistis—tahayul. Jadi aku tidak ambil pusing.

Aku kembali menatap benda yang baru saja kutemukan.

"Nak, kalau kamu temukan hal yang aneh atau kamu merasa terancam, bakar saja. Jangan lupa, di Syahadatin."

Tiba-tiba suara ibuku bergema di dalam kepalaku. "Mana bisa setan nyakitin manusia?" gumamku, menggeleng, menepis pikiran yang mulai diliputi ketakutan.

"Jangan ngeyel, Kinara! Jangan merasa mereka tidak ada di sekeliling kita."

Untuk kesekian kali, suara ibuku seakan berusaha memperingatkan, memberikan dorongan agar aku tidak meremehkan apa yang baru saja kutemukan.

Aku memandang bungkusan kain itu lagi, kini dengan rasa waswas yang lebih dalam.

“Bakar?” ulangku pelan, mencoba mencerna maksud dari pesan yang tiba-tiba terlintas di benakku.

Aku menggigit bibir, ragu. Apa benar ini harus kubakar? Atau hanya ketakutan berlebihan saja?

Kupandangi lagi tanah dan kembang kering di dalam kain itu. Aku baru sadar, bunga-bunga itu bukan sembarang bunga.

Ada mawar hitam, melati, dan bunga kantil. Sepertinya benda ini sengaja dirangkai untuk tujuan tertentu. Mendadak hatiku terasa makin tidak tenang.

“Ah, sudahlah. Mungkin ini cuma kebetulan.” Aku berusaha menghibur diri, berusaha mencari penjelasan logis. Tapi aku tahu betul, ada sesuatu yang menggelisahkan di dalam rumah ini sejak awal aku masuk.

Entah suara-suara bisikan halus yang terdengar di sela-sela keheningan, atau bayangan yang sesekali melintas di sudut mataku. Semua itu tidak bisa hanya dianggap kebetulan.

"Yaudah, gue bakar aja. Daripada ribet!" aku pun membawa kain putih berisi tanah dan kembang itu menuju dapur.

Rumah ini terbilang luas, ada sumur kerek tua berlumut di dapur. Di sisi kanan sumur tersebut, ada dua kamar mandi, ada lahan yang ditumbuhi rumput liar sebagai tempat jemuran.

Di balik pintu yang berada di dapur ada ruas jalan seluas lima jengkal berbentuk later L dengan tembok bata merah menjual tinggi yang sudah ditumbuhi tanaman merambat.

Rumah ini tampak seperti terisolasi dari dunia luar, meski siang hari, rasanya seakan-akan aku berada di tempat lain. Cahaya matahari yang menyusup dari sela-sela ventilasi di dapur tampak redup dan berwarna pucat, hampir seperti cahaya senja yang suram, bukan siang hari. Seolah ada sesuatu yang menelan kecerahan hari ini, menyelimutinya dengan kegelapan tipis yang tidak biasa.

Aku mendekati sumur tua itu, berdiri di bibirnya. Sumur ini pasti sudah lama sekali tak digunakan; tali kereknya berkarat dan ember yang tergantung terlihat rapuh, seolah siap terurai kapan saja.

Aku menggenggam kain di tanganku erat-erat, masih mencoba meyakinkan diri bahwa membakarnya akan menyelesaikan semuanya.

“Ayo, Kinara, bakar aja. Setelah ini semua bakal beres,” gumamku, berusaha terdengar lebih yakin dari yang sebenarnya kurasakan.

Sampai di tepi halaman, aku mengeluarkan korek api gas yang kubawa. "Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, lahaula walakuata illabillah. Ya... Allah, jika barang ini membawa sesuatu yang buruk, maka bakar juga keburukan itu," ucapku, memohon karamah dari doa yang ku rapalkan.

Aku pun mematik korek tersebut dan mengarahkan api yang tengah meliuk-liuk itu ke arah kain.

Wus!

Saat api itu bersentuhan dengan kain, api langsung membesar, seolah kain tersebut mengandung minyak.

"Aw...!" aku menjerit dan dengan refleks melempar kain yang menyala itu saat kobaran api menyambar ujung jari-jariku.

Kain itu jatuh di tanah, api menjilat cepat dan membakar seluruh permukaannya, menciptakan asap tebal yang bergulung naik, membentuk pola yang aneh dan berputar-putar seakan menggambarkan sesuatu.

"Aneh banget. Sebenarnya, ada apa dengan rumah ini?" aku bergumam sambil mundur beberapa langkah, terperangah.

"Ahh... Gue ke warung mie ayam saja di dekat rel. Kebetulan, gue belum makan. Sekalian nunggu anak-anak. Lama-lama di dalam rumah ini, kayaknya gue bakalan gila!" dengan cepat, aku pun bergegas meninggalkan kain yang terbakar itu.

Sesampainya di depan rumah, aku segera mengunci pintu dan berjalan melewati gang. Di sebelah rumah yang baru saja aku dan teman-temanku sewa, ada juga sebuah rumah kosong tak berpenghuni.

Ya... Sama-sama menyeramkan.

Tak butuh waktu lama, setelah berjalan kaki lima puluh langkah, aku pun tiba di warung penjual mie ayam tepat bersebelahan dengan rel kereta dan pos kereta api.

"Bu, satu mie ayam ya!" seruku sambil duduk di salah satu bangku panjang di warung yang sederhana itu.

Suasana di sini sedikit menghibur—orang-orang berlalu-lalang, suara hiruk-pikuk motor yang lewat, dan bunyi lonceng pos kereta yang sesekali terdengar saat palang pintu mulai turun.

"Iya, sebentar ya, Mbak!" jawab ibu penjual mie ayam dengan senyum ramah.

Aku menghela napas, mencoba mengendurkan ketegangan yang menggulung sejak tadi. Setidaknya di sini, aku bisa merasa sedikit lebih normal, tidak seperti di rumah itu yang seakan-akan menelanku hidup-hidup oleh rasa takut.

"Mimpi belatung dan wanita dengan pipi terluka. Dan ... Kain putih berisikan tanah...."

Saat aku sedang menunggu mie ayamku datang, tiba-tiba rekap ulang adegan mimpi dan penemuan kain tadi kembali berputar di kepalaku. Entah mengapa, rasanya seperti ada yang menarik-narik ingatanku untuk terus kembali ke momen-momen itu.

Padahal aku sedang berusaha melupakannya, setidaknya untuk sesaat.

"Mbak, mie ayamnya sudah siap," kata ibu penjual sambil meletakkan semangkuk mie ayam panas yang masih mengepul di hadapanku.

"Matur Nuwun, Bu," aku menjawab sambil tersenyum.

Ibu itu tak langsung pergi, ia berdiri di sampingku. "Mbak, Mbak ini yang baru ngontrak di rumah pak Kirman, ya?" tanya ibu penjual mie ayam, suara ibu itu terdengar waspada.

Aku yang sedang mengaduk-ngaduk mie pun menoleh lalu memberikan senyum terbaik. "Inggih, Bu. Baru aja masuk tadi pagi. Tapi saya lagi nungguin teman-teman yang lain. Jadi sekalian makan," jawabku.

"Oh... Semoga betah, ya! Mugi-mugi iso lama ngontraknya," ucap ibu itu yang kemudian berlalu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Penghuni    24

    Suasana dapur seketika membeku. Kata-kata "simpanan" yang diucapkan oleh suara Pak Burhan itu terus berputar di kepalaku, terasa lebih tajam daripada udara panas yang baru saja menerpa wajah kami.Aku menatap pintu yang terbuka itu dengan ngeri, menunggu sosok pria itu muncul, tapi yang ada hanyalah kegosongan yang sunyi.“Nara, geser!” Heru menarik pundakku dengan kasar, membuatku tersentak dari lamunan.Heru melangkah maju, memegang linggisnya seperti sebuah senjata, lalu menendang pintu dapur hingga terbuka lebar. “Nggak ada siapa-siapa di luar, Ndi. Itu cuma gertakan!”“Gertakan gimana, Ru? Suaranya jelas banget di telinga gue!” Andi berteriak, ponselnya masih mengarah ke lubang ubin dengan tangan yang gemetar hebat. “Dia bilang ‘simpanan’! Lo liat kan tangan tulangnya tadi gerak?”Aku menelan ludah, mencoba mengatur napas yang terasa pendek-pendek. “Heru bener, Ndi. Pak Burhan... dia kayaknya pakai semacam kiriman suara. Pak Slamet tadi bilang dia lagi ritual ‘memberi makan’. Mun

  • Penghuni    23

    Jantungku seolah ingin melompat keluar dari dada saat kakiku beradu dengan aspal gang yang kasar. Di belakangku, Heru berlari kencang, napasnya memburu sama sepertiku.Pesan dari Andi di grup Wawa tadi benar-benar meruntuhkan sisa keberanianku. "Cepetan, Ra! Jangan berhenti!" teriak Heru dari belakang.Begitu sampai di depan pintu kontrakan, aku tidak menunggu Heru. Aku langsung mendobrak pintu kayu yang sudah rapuh itu. Bau busuk yang tadi kucium di dekat rumah Pak Burhan ternyata sudah merayap masuk ke sini, namun kali ini bercampur dengan aroma amis darah yang segar dan pekat.“Andi! Mira! Kalian di mana?!” teriakku sambil berlari menuju dapur.Langkahku terhenti di ambang pintu dapur. Pemandangannya jauh lebih mengerikan dari yang kubayangkan. Di sudut dapur, dekat sumur kerek tua, Andi berdiri dengan linggis di tangan, tubuhnya gemetar hebat. Di lantai, salah satu ubin yang tadinya berwarna kusam sudah hancur berkeping-keping."Ra! Akhirnya lo balik!" seru Andi. Wajahnya pucat p

  • Penghuni    22

    Cahaya matahari yang menyerobot masuk lewat ventilasi ruang tengah terasa menyakitkan di mataku.Aku terbangun dengan leher kaku karena tidur bersandar pada dinding tempat rajah pelindung itu bersembunyi di balik cat. Bau amis sisa tangisan semalam masih tertinggal di ujung hidungku, membuat perutku mual seketika.“Ra? Bangun, Ra. Kopi nih,” suara Heru memecah keheningan. Ia menyodorkan mug plastik berisi cairan hitam pekat kepadaku. Aku menerimanya dengan tangan gemetar. “Makasih, Ru. Jam berapa?”“Hampir jam delapan. Anak-anak udah pada kumpul di dapur. Andi nemu sesuatu,” jawab Heru pendek. Wajahnya tegang, ada kantung mata hitam yang menghiasi wajahnya.Aku segera beranjak, mengabaikan rasa pening di kepala, dan melangkah ke dapur. Di sana, Andi sudah berjongkok di dekat sumur kerek tua yang berlumut, sementara Mira dan Ranti berdiri mengelilinginya dengan wajah pucat.“Ndi, lo serius?” tanyaku sambil mendekat.Andi mengetuk-ngetuk salah satu ubin yang warnanya sedikit lebih kus

  • Penghuni    21

    Malam turun membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Kontrakan kami sudah jauh lebih rapi setelah seharian dibersihkan, tapi udara di dalamnya terasa berat, seolah dinding-dinding ini tahu bahwa pertempuran akan segera pecah.Kami berkumpul lagi di ruang tengah, duduk bersila di atas karpet. Hanya lampu bercahaya kuning di sudut ruangan yang menyala, memberikan nuansa temaram. Kotak kayu berisi surat-surat ancaman Pak Burhan tergeletak di tengah kami bak artefak berharga."Gimana, Ndi? Pak Ustaz bisa?" tanyaku memecah keheningan.Andi mengangguk pelan, meletakkan ponselnya di atas karpet. "Bisa. Beliau bilang bakal datang besok siang sehabis zuhur. Katanya kita disuruh nyiapin air putih yang banyak, daun bidara, sama garam krosok. Untung tadi sore gue udah beli semua di pasar.""Bagus," pangkas Heru. Ia mencondongkan badannya ke depan, menatap kami satu per satu dengan raut wajah serius. "Sekarang dengerin gue baik-baik. Kita harus satu suara. Malam besok itu bukan ruqyah biasa. Musuh

  • Penghuni    20

    Pagi sudah tiba, dan udara terasa dingin, tapi bukan dingin yang mencekam seperti semalam. Ini dingin khas pagi hari di kota yang membawa sisa-sisa kelelahan kami.Kami berlima duduk melingkar di ruang tengah, menatap sebuah lemari jati tua di pojok dekat tangga. Lemari itu sudah ada di sana sejak hari pertama kami pindah, terkunci rapat dan tak pernah kami pedulikan. Sampai semalam, saat Pak Darmo memberikan kuncinya padaku."Buka sekarang, Ra?" tanya Andi, memecah keheningan. Ia menguap lebar, matanya merah karena kurang tidur.Aku mengangguk, menggenggam kunci kuningan berkarat di tanganku. "Iya. Kita harus tau apa yang disembunyikan Pak Darmo di sini."Aku bangkit, berjalan mendekati lemari jati itu. Ada bau kapur barus tua dan debu yang menyengat saat aku memasukkan kunci ke lubangnya. Krek! Pintu lemari terbuka. "Uhuk! Gila, debunya," keluh Ranti sambil mengipas-ngibaskan tangan di depan hidung."Ada apa aja di dalem?" Heru ikut berdiri, melongok dari belakang bahuku."Cuma

  • Penghuni    19

    Ruangan depan rumah Pak Darmo terasa lebih terang setelah kami menyalakan lampu. Tapi terang itu tidak menghapus ketegangan yang masih menggantung di udara. Bu Lastri sudah sadar, duduk bersandar di sofa dengan selimut menutupi tubuhnya yang masih gemetar. Wajahnya pucat, matanya masih menyimpan sisa-sisa ketakutan.Mira menuangkan air putih ke gelas, lalu memberikannya pada Bu Lastri. "Minum dulu, Bu. Pelan-pelan."Bu Lastri menerima dengan tangan bergetar. Ia meneguknya sedikit, lalu menghela napas panjang. "Matur nuwun, Nduk. (Terima kasih, Nak.)"Aku duduk di lantai, tepat di depan Bu Lastri. Heru berdiri menyandar di dinding, Andi di sampingnya. Ranti duduk di ujung sofa, memijat-mijat kakinya sendiri—kebiasaannya kalau sedang cemas."Bu," aku memulai, hati-hati. "Ibu... lihat apa tadi? Sebelum pingsan?"Bu Lastri menatapku. Sorot matanya berubah. Bukan lagi ketakutan. Tapi sesuatu yang sudah lama disimpan. "Aku... aku lagi nyiapke wedang nang pawon. (Aku... aku lagi menyiapkan

  • Penghuni    18

    Ruang kamar itu pengap. Bau obat dan sesuatu yang anyir. Jelas seperti tanah basah bercampur darah kering mengendap di udara. Cahaya dari satu lampu bohlam redup di sudut membuat bayangan-bayangan aneh menari di dinding.Pak Darmo terbaring lemah. Tubuhnya yang kurus tenggelam di antara selimut bat

  • Penghuni    16

    "Oke. Kita berangkat sekarang."Kalimat itu terlontar dari mulutku sendiri, tapi rasanya seperti diucapkan oleh orang lain. Seseorang yang lebih berani dariku. Seseorang yang tidak sedang gemetar di dalam.Heru mengangguk tanpa banyak bicara. Ia langsung berdiri, mengambil jaketnya yang tergantung

  • Penghuni    15

    Krieeet…Suara pintu di seberang lorong yang terbuka perlahan itu seribu kali lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Itu adalah suara yang disengaja. Pelan, penuh kendali, sebuah ejekan yang tak terucap. Senter ponsel di tangan kami bertiga bergetar hebat, membuat tiga lingkaran cahaya yang

  • Penghuni    14

    Uhuk... uhuk... uhuk...!Kami berlima membeku di atas tikar. Suara riuh rendah obrolan kami yang gugup seketika mati, ditelan oleh tiga kali suara batuk yang terdengar begitu nyata. Itu bukan suara batuk biasa. Itu suara batuk orang sakit. Lemah, penuh dahak, dan sarat akan penderitaan. Dan yang p

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status