MasukHandi tercengang usai mendengar jawaban Daisha.“Aku tidak mengerti, kenapa Putra Mahkota membiarkan orang sepertimu berada di sisinya.”“Karena aku Alden Shankara.” Daisha menatap Handi tegas, lalu senyuman kecil mengembang di wajahnya.Handi menghela napas.“Baik. Aku akan memberikan sketsa orang itu,” kata Handi. Handi memanggil seorang pelayan yang sejak tadi berdiri di seberang sana. “Ambilkan lukisan di laci kamarku.”“Baik Tuan muda.”Setelah itu pelayan pergi ke kediaman untuk mengambil lukisan. Handi menatap Daisha.“Tadi, kamu bilang akan bertemu lagi dengan Nona Rantika. Lalu, bagaimana caramu keluar dari akademi.”Daisha tersenyum. “Aku sudah meminta izin untuk tidak pulang lebih cepat kepada kepala sekolah.”Handi tersenyum miring. “Menarik.” Ia meneguk tehnya. Sedangkan Daisha memakan kue bulan di depannya.“Kau tidak takut kue ini diracuni?”“Aku tidak takut pada kematian.” Daisha mengangkat kue itu kembali menggigitnya.Handi tercengang, lalu tidak lama pelayan itu kem
Sekitar jam 5.30 Daisha baru meninggalkan rumah hiburan. Di luar pintu rumah hiburan, Daisha meregangkan otot-otot tubuhnya, para pedagang kaki lima sudah ramai. Serta lalu-lalang orang-orang sekitar yang pergi berbelanja sayur dan lauk.Sekilas mata Daisha mengamati sekelilingnya, ia menyadari ada orang yang memperhatikannya dari beberapa sudut. Alih-alih bersembunyi, Daisha malah sengaja berjalan dengan tenang seorang diri.Dia berhenti di depan kedai, memesan semangkuk pangsit. Ia memakannya dengan sangat lahap, setelah itu meneguk tehnya. Lalu, berjalan di gang sempit. Tiba-tiba beberapa pria bersenjata menghampirinya. Saat Daisha hendak menghindar, jalannya sudah terkepung.“Senior, kalian menghalangi jalanku.”Mereka tidak mengindahkan ucapan Daisha, semakin mendekat dan mengepungnya.“Kau baru saja berurusan dengan orang yang salah.”“Ah, maksud kalian dengan Tuan muda Handi?”Keempat orang itu terkejut mendengar nama tuannya disebutkan. Alih-alih ketakutan, Daisha menyentuh ta
Claude tersenyum. “Tidak sampai seperti itu, Shankara. Gunakan kesempatan ini untuk menunjukkan kalau kamu adalah pria sejati.”“Aku mengerti,” jawab Daisha.Di kediaman masing-masing, Aldwin dan Kaelith sudah mendengar kalau Daisha berada di sana. Aldwin yang sedang berlatih pedang, menurunkan pedangnya.“Bersama Claude?” tanya Aldwin.“Benar, Yang Mulia. Malam ini ada pertunjukan dari Nona Rantika, Tuan muda Handi juga ada di sana.”Aldwin duduk di kursi, pengawalnya masih berdiri di sisinya.“Putra Mahkota, Anda sengaja membiarkan mereka bertemu?”“Ya. Biarkan Shankara mencari tahu apa yang ingin dia ketahui,” jawab Aldwin.Sedangkan di kediaman berbeda, Kaelith menahan diri untuk tidak pergi ke sana. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan Daisha, kenapa pergi ke sana. Jika dia tiba-tiba di sana, Daisha pasti curiga. Sosok seperti dirinya yang seperti kayu, tidak mungkin tiba-tiba datang ke rumah hiburan.Kaelith menatap langit cerah.“Shankara, apa yang sedang kamu rencanakan?” gumamny
Mendadak Kaelith meremas dadanya. Ada rasa sesak yang sulit ia jelaskan. Jika benar Shankara adalah Daisha, Kaelith tidak tahu harus bersikap seperti apa. Namun, di satu sisi semua itu hanyalah masa lalu. “Keberadaannya di akademi, pasti karena sesuatu.”Kaelith menatap pengawal pedangnya. “Jangan sampai rahasia ini bocor.”“Baik Tuan.”Sebisa mungkin, Kaelith akan menekan informasi agar tidak pernah bocor. Identitas Daisha bukan sembarangan, pasti akan ada orang lain yang mencari informasi tentangnya. Kaelith tidak akan membiarkan itu terjadi. Setidaknya untuk saat ini.Ia juga tidak mengerti, kenapa ia melakukan sejauh ini? Namun, hatinya berkata ingin melindungi Daisha. Dengan cara yang ia punya.***Malam itu, Daisha dan Claude berjalan diantara orang-orang yang berlalu-lalang. Mereka sudah sepakat akan pergi ke rumah hiburan ‘surga malam’ tempat hiburan nomor satu di Ibukota. Tempat itu selalu diisi oleh para tuan muda yang memamerkan kekayaan, status sosial, bahkan menjadi temp
Pengawal bayangan Aldwin terkejut, mereka saling menatap satu sama lain bergantian. “Bereskan orang-orang yang pernah menjadi teman belajarku.” Aldwin berdiri menatap satu persatu pengawal bayangannya yang masih berdiri penuh hormat kepadanya. “Dia hanya boleh tahu, kalau Ruan yang dicarinya telah lama mati. Dengan begitu, dia bisa menjadi semakin kuat dan memiliki ambisi untuk ikut masuk istana bersamaku.”Pengawal pribadinya mendekat. “Yang Mulia, bukankah itu akan menjadi keretakan Anda dan Shankara? Shankara pasti akan menyalahkan Anda.”Aldwin tersenyum dalam kepahitan. “Salah atau benar, bagiku sama saja. Saat waktunya tiba, dia akan tahu yang sebenarnya. Saat ini, identitasnya tidak boleh diketahui.“Kami siap menjalankan perintah Yang Mulia Putra Mahkota.”Setelah itu pengawal bayangan menghilang dan hanya menyisakan pengawal pribadi Aldwin dan Aldwin yang masih duduk di kursinya.“Yang Mulia, Anda sudah lama mencari Putri. Apakah Anda akan diam saja dan tidak memberitahu ka
Kaelith melihat Daisha naik kereta dan kereta itu membawa Daisha pergi. Entah kenapa, Kaelith merasa kalau sikap Aldwin pada Daisha berbeda. Sempat terpikir kalau Aldwin juga mengetahui identitas Daisha yang sebenarnya?Saat Kaelith berada dalam lamunannya, suara yang tenang membuyarkan lamunannya. Suara itu berasal dari sosok pelayan yang merupakan pelayan pribadinya.“Tuan muda, mari.”Kaelith menatap pelayan kepercayaannya bernama Adam. Kaelith naik ke kereta, kereta yang ditumpanginya meninggalkan lingkungan akademi.“Bagaimana dengan pencarian yang kuminta?” tanya Kaelith.“Mereka sudah menunggu Tuan muda di kediaman.”Kaelith mengangguk. Setelah itu, kereta membawanya menjauh dari sekitaran akademi.“Oh, iya Tuan muda. Shankara tinggal di arah selatan. Saya lihat, dia tadi pergi tidak lama setelah Putra Mahkota.”“Hn.” Kaeith membaca tumpukan buku di sampingnya.Adam tidak berbicara lagi, dia hanya menuangkan teh ke cangkir untuk Kaelith.Daisha baru saja tiba di kediaman baruny
Suara Daisha tercekat. Tatapan Aldwin penuh rasa curiga, bisa saja dia menganggap Daisha sebagai mata-mata.Sebelum Daisha berbicara, suara Aldwin sudah kembali terdengar."Tempat ini sangat rahasia. Di akademi ini, tidak banyak orang tahu. Selain aku, hanya Kaelith yang tahu."Sorot matanya tajam.
Daisha menyadari tatapan orang-orang di sekitarnya. Lalu tatapannya kembali pada Kaelith.Bisik-bisik terdengar jelas."Dia anak ajaran baru, kan? Nyalinya sangat besar, apa dia tidak takut dimarahi.""Di akademi ini, tidak ada yang berani dekat-dekat dengan Kaelith. Apalagi dia orang terdekat Putra
Setelah kelas selesai, Daisha pergi menuju ruang baca yang berada di seberang aula dewan.Setelah melewati koridor, ia melihat lima orang pelajar sedang berkumpul di atas jembatan. Daisha melintasi jembatan itu, dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka."Bisa-bisanya keluarga pengkhianat masuk
Kaelith membeku. Kemudian menoleh, menatap Daisha yang kini perlahan berdiri. Namun, tidak menghampirinya, hanya berdiri di depan sana.Daisha tersenyum. Senyuman itu membuat Kaelith mematung untuk beberapa saat. Kaelith memutar tubuhnya."Tidur lebih awal. Besok kelas pertamamu.""Senior juga. Sela







