Short
Penyesalan di Ujung Cinta

Penyesalan di Ujung Cinta

By:  Starry SkyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Chapters
145views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku menyukai Yonan Feryadi, sepupuku yang sebenarnya tidak punya hubungan darah denganku. Namun, di acara reuni sekolah, dia justru melamar sahabatku, Kirana Sukmawan, di depan semua orang. Melihat mereka begitu bahagia, hatiku tiba-tiba terasa sangat lelah. Pada akhirnya, aku memilih Mikho Cendrata, sahabat masa kecil yang selalu menemaniku. Setelah menikah selama sepuluh tahun, Mikho selalu bersikap penuh perhatian dan kasih sayang. Dia selalu memanjakanku. Kami juga memiliki seorang putri yang manis. Hingga malam ini, saat jamuan makan malam Tahun Baru bersama keluarga, putra sahabatku sengaja meledakkan petasan hingga melukai putriku. Saat itu, bukannya peduli pada putrinya sendiri, Mikho justru mendorongnya, lalu mengangkat putra sahabatku untuk memeriksa luka di tubuhnya. Putriku akhirnya mengalami bekas luka permanen akibat ledakan itu, sedangkan putra sahabatku hanya terkena luka bakar ringan di tangan. Aku ingin meminta penjelasan darinya, tetapi tanpa sengaja malah mendengar percakapannya dengan sepupuku. "Gagal nikahin Kirana adalah penyesalan terbesar dalam hidupku. Kalau bukan dengan dia, maka menikah dengan siapa pun nggak ada bedanya." "Lagi pula, Wanda itu nyaman untuk teman tidur. Sayang kalau sampai jatuh ke tangan orang lain." Air mataku langsung jatuh tanpa bisa kutahan. Ternyata selama sepuluh tahun ini, semuanya hanyalah sebuah kebohongan besar. Kalau memang di hatinya tidak pernah ada tempat untukku, maka aku akan mengakhiri hubungan ini dengan tanganku sendiri.

View More

Chapter 1

Bab 1

Saat itu aku sudah tidak sanggup lagi berdiri di sana dan terus menguping. Aku langsung berbalik pergi lalu pulang ke rumah ibuku untuk menginap semalam.

Malam itu, aku sama sekali tidak bisa tidur.

Aku tidak pernah menyangka, hanya dari sebuah makan malam keluarga, kebenaran yang begitu menyakitkan bisa terbongkar.

Keesokan paginya, dengan kepala yang masih pusing karena semalaman tidak tidur, aku bangun dan bersiap pulang untuk mengambil beberapa keperluan sebelum pergi menemani putriku di rumah sakit.

Namun, begitu masuk ke rumah, aku melihat Mikho juga baru bangun tidur. Dia hanya bertanya santai, "Rara mana? Nginap lagi di rumah neneknya dan nggak mau pulang?"

Melihat sikapnya yang begitu tenang, dadaku terasa sesak sampai sulit bernapas.

"Mikho, putri kita udah enam tahun. Apa kamu pernah benar-benar peduli sama dia?"

"Kamu ngelantur apa lagi sih? Semalam 'kan Juan jatuh didorong Rara sampai dahinya terbentur. Aku cuma nganter dia ke rumah sakit, memangnya salah?"

Mendengar itu, hatiku langsung tersentak dan segera membalas, "Padahal jelas-jelas Juan yang sengaja main petasan di balkon, bahkan dia ngelempar petasan itu ke dekat kaki Rara. Rara kaget dan ketakutan, makanya dia refleks dorong Juan yang terus narik-narik dia."

"Dan lagi, bukan cuma Juan yang terluka. Putri kamu sendiri juga terluka, kamu tahu nggak?"

Mikho mulai terlihat tidak sabar.

"Cuma lecet sedikit, 'kan? Tinggal diobatin dan istirahat beberapa hari juga sembuh. Jangan lebay deh."

"Mikho!"

Melihat ekspresinya yang penuh rasa kesal, hatiku makin terasa dingin dan putus asa.

"Jadi menurut kamu, semua ini salah putri kita?"

"Bukannya memang begitu? Juan itu anak laki-laki, wajar kalau lebih usil. Rara 'kan anak perempuan, masa nggak bisa ngalah sedikit?"

"Lagian namanya juga anak kecil, pasti ada aja jatuh atau terluka sedikit. Kalau Rara nggak ikut-ikutan mendekat, memangnya Juan bakal ngelempar petasan ke dia?"

Saat mendengar itu, akhirnya aku sadar kalau Mikho benar-benar mencintai Kirana. Sampai-sampai dia memperlakukan Juan seperti anak kandungnya sendiri.

Mungkin ini yang disebut mencintai seseorang sampai ikut menyayangi semua yang berkaitan dengan orang itu.

Aku tersenyum pahit, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum berkata dengan nada datar, "Aku ngerti."

Mendengar jawabanku, Mikho sempat terdiam. Dia merasa ada yang aneh, karena biasanya aku pasti sudah marah besar dan ribut panjang.

Setelah berpikir sejenak, dia malah mengira sikap tenangku sekarang karena aku sudah lebih dewasa dan bisa mengerti keadaan.

"Apaan sih, jangan bilang kamu cemburu cuma gara-gara semalam aku ninggalin kalian demi ngantar Juan ke rumah sakit. Sampai sekarang masih dipermasalahin juga, kamu terlalu picik."

Selama sepuluh tahun penuh, dia tidak pernah mau jujur padaku. Kalau saja aku tidak mendengarnya sendiri secara tidak sengaja, entah sampai kapan dia masih akan terus membohongiku.

Seumur hidup?

"Kalau kamu maunya mikir begitu, aku juga nggak bisa apa-apa."

Selama ini, setiap kami bertengkar, Mikho selalu memakai kalimat itu untuk mengakhiri perdebatan. Sekarang melihat sikapnya yang tidak sabar, aku tiba-tiba merasa sangat lelah dan tidak ingin terus berdebat dengannya.

Jadi kali ini, aku juga memakai kalimat itu untuk membalasnya.

Ternyata kalau sudah tidak ada cinta, orang bisa dengan mudah mengucapkan kata-kata tidak bertanggung jawab seperti ini.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status