Masuk"Dia yang duluan gangguin istriku, sampai-sampai istriku ngalamin tanda-tanda keguguran!""Dia yang lebih dulu berjanji mau nikahin aku!"….Melihat mereka saling menyerang dan membongkar begitu banyak kebenaran, hatiku terasa sangat dingin, sementara kedua tanganku tanpa sadar mengepal erat."Harap tenang!"Setelah hakim mengetukkan palu peringatan, akhirnya Kirana berhenti berdebat dengan Mikho.Setelah mempertimbangkan seluruh bukti dan pengakuan dari kedua pihak, hakim pun memberikan putusan akhir.Pada akhirnya, Mikho dinyatakan bersalah atas tindak penganiayaan dan perampokan rumah, lalu dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara.Karena gugatan perceraianku juga masih dalam proses persidangan, setelah putusan kasus ini keluar, gugatan ceraiku pun segera diproses.Tak lama kemudian, perceraian kami resmi dikabulkan.Sementara itu, Kirana sebagai rekan pelaku dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.Setelah keluar dari pengadilan dan melihat sinar matahari yang menyilaukan di luar, aku
"Wanda, aku tahu aku salah. Tolong maafin aku, aku nggak mau masuk penjara."Melihat dirinya serapuh itu, ada kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku mati-matian menahan senyum di bibirku, lalu memasang wajah serba salah."Aku juga nggak mau kamu masuk penjara. Bagaimanapun juga kita masih punya Rara. Kalau ayahnya punya catatan kriminal, masa depan dia pasti ikut kena dampaknya.""Iya, iya … Rara nggak boleh punya ayah mantan narapidana. Wanda, tolong lepasin aku kali ini."Setelah mendengar perkataanku, mata Mikho yang tadinya suram mendadak kembali berbinar. Dia langsung berlutut dan maju beberapa langkah ke arahku dengan wajah penuh harap."Cuma … semua bukti sudah telanjur aku serahkan. Yonan juga pasti nggak akan bantu aku.""Wanda, aku benar-benar nggak bisa masuk penjara.""Aku tahu. Bagaimanapun juga kamu tetap ayahnya Rara, jadi aku juga berharap .… "Aku sengaja menggantung kalimatku. Begitu melihat sudut bibir Mikho mulai terangkat,dia langsung merasa paham ma
Saat menggugat Kirana, aku sudah memperkirakan bahwa dia akan menggunakan Yonan untuk menekanku. Karena itu, sejak beberapa hari dirawat di rumah sakit, aku sengaja mengajak Yonan bertemu di sebuah kafe di seberang pengadilan.Benar saja, Yonan menolak pertemuan itu. Alasannya, sibuk bekerja dan tidak punya waktu karena sedang rapat.Saat aku mengira akan sulit mendapatkan sesuatu dari Yonan, tanpa diduga dia sendiri justru yang menyerahkan bukti itu kepadaku.Pria yang mengaku sedang rapat itu ternyata sedang berpelukan dengan seorang wanita cantik di sudut jalan tak jauh dari pengadilan. Sebelum berpisah, mereka bahkan sempat berciuman, dan Yonan secara refleks menepuk pantat wanita itu.Keduanya tampak begitu mesra sampai seolah tak menyadari orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka.Aku langsung memotret adegan penuh keambiguan itu lalu mengirimkannya kepada Yonan. Begitu menerima fotonya, Yonan langsung mendongak dan mulai melihat ke sekeliling. Setelah tidak menemukan keber
Setelah itu dia langsung berlutut di samping ranjangku dengan wajah penuh penyesalan. "Wanda, aku tahu aku salah. Kita jangan cerai ya, maafin aku kali ini."Bahkan sebelum aku sempat membuka mulut, ayahku lebih dulu memarahinya, "Mikho! Setelah cerai baru kamu nyesal, memangnya kamu nggak malu? Dulu waktu aku serahkan putriku sama kamu, gimana janjimu sama aku? Apa kamu udah nepatin?""Aku ingat, Yah, aku nggak lupa. Kasih aku satu kesempatan lagi, aku pasti akan jaga Wanda dengan baik dan nggak akan biarin dia terluka atau nangis lagi.""Pergi!"Ayahku sudah muak mendengar janji-janjinya. Dia langsung mencengkeram kerah baju Mikho dan hendak mengusirnya keluar, untungnya polisi segera menghentikannya.Saat itu kepalaku mulai terasa sakit karena keributan mereka, jadi aku pun angkat bicara, "Tunggu sebentar. Pak Polisi, aku akan panggil pengacaraku. Dia bisa buktiin kalau hubungan pernikahan kami memang udah hancur."Polisi pun setuju. Setelah itu aku langsung menelepon Pak Willy, dan
Kebetulan hasil visum dari dokter juga baru saja keluar. Setelah pemeriksaan menyeluruh, luka yang kualami dinyatakan sebagai penganiayaan ringan.Itu berarti Mikho kemungkinan besar akan menghadapi hukuman penjara hingga 6 bulan.Akan tetapi, yang kuinginkan bukan hanya itu."Pak Polisi, aku ingin melaporkan Mikho dan Kirana atas percobaan pencurian harta bawaanku sebelum menikah. Waktu aku memergoki mereka, Mikho sengaja mendorongku hingga menyebabkan pendarahan hebat dan keguguran.""Wanda, kamu ngomong apa sih!"Mendengar perkataanku, Mikho langsung panik. Dia hendak menarik lenganku, tetapi ayahku segera menghalanginya."Pak, Pak Polisi, dia ngarang! Dia itu istriku, mana mungkin aku berniat celakain dia? Lagi pula luka itu juga bukan karena aku dorong. Aku cuma nyentuh dia sedikit, nggak mungkin sampai bikin luka separah itu."Mikho segera berusaha melepaskan diri dari tanggung jawab, tapi polisi tentu tidak mudah dibohongi."Tenang dulu. Kita masih perlu bukti untuk memastikan a
Sambil berbicara, orang tuaku langsung mendorong Mikho ke hadapan dokter."Gimana sih kamu jadi suami! Udah bikin istrimu sampai ngalamin tanda-tanda keguguran, sekarang malah didorong lagi sampai jatuh dan pendarahan hebat sampai keguguran. Lalu kamu sama sekali nggak peduli? Apa hati nurani kamu udah hilang?!"Dokter itu langsung memarahi Mikho habis-habisan. Suara tegurannya bahkan menarik perhatian orang-orang di sekitar untuk menonton."Astaga, pria ini keterlaluan sekali. Bagaimana bisa tega mendorong istrinya yang sedang hamil?""Iya, tadi aku juga lihat. Dia malah gendong anak selingkuhannya sambil nemanin selingkuhannya ganti perban. Dari tadi tatapannya lembut banget. Ih, sekarang kalau dipikir-pikir, menjijikkan!""Dasar bajingan, cepat mati saja!"Semua orang bergantian memarahi Mikho sampai dia tak sanggup mengangkat wajahnya.Sementara itu, untuk menghindari agar dirinya tidak ikut terkena imbas, Kirana juga memeluk Juan dan bersembunyi di tengah kerumunan tanpa berani be







