LOGINLala menjadi TKW meninggalkan balitanya karena suaminya tak memberi nafkah setelah di-PHK. Dia pun mendapat perlakuan zalim dari ipar kembarnya. Saat Lala jadi TKW, suaminya nikah lagi dengan bosnya. Dan akhirnya mereka pun cerai. Di Arab Lala menjadi perawat seorang perempuan sepuh yang baik hati. Seorang saudara majikannya tertarik dengan ketulusan hati Lala dan ingin menikahinya. Namun sayang dia memiliki istri. Apakah akhirnya mereka akan bersatu?
View MoreDi sebuah aula megah yang dipenuhi bunga di sekelilingnya, ratusan tamu datang dan memenuhi aula ini. Bukan untuk perjamuan yang membahagiakan, tetapi untuk sebuah upacara kematian yang menyedihkan.
Naina terlihat kuyu dan tak henti menangis, sementara itu orang lain sedang berbisik-bisik.
“Aku yakin air mata Naina itu palsu. Naina pasti sedang sangat bahagia sekarang. Belum juga lama menikah dengan Pak Guntur, dia sudah bisa mewarisi harta dan properti suaminya.”
"Usia Naina masih sangat muda. Tidak mungkin dia mau menikah dengan Pak Guntur yang lebih cocok menjadi ayahnya, kecuali karena harta kekayaan Pak Guntur."
Bisik-bisik mereka masih bisa terdengar sampai ke telinga Naina. Naina tidak tahu bagaimana mengklarifikasi semua tuduhan itu. Dia sudah terlalu rapuh. Matanya masih menatap lekat pada tubuh kaku suaminya. Memori dalam ingatannya pun berkelebat.
Awalnya, Guntur yang saat itu sedang pergi ke bengkel tempat dimana dulu Naina bekerja, tanpa sengaja mendengar keluh kesah Naina yang sangat mengkhawatirkan soal biaya pendidikan Raffan—adiknya.
Naina masih ingat saat dengan tiba-tiba Guntur mendekatinya. Sambil menatap lekat wajah Naina, Guntur merasa seperti menemukan sesuatu yang pernah dekat dengannya. Hal itu membuatnya tidak bisa menahan diri untuk bisa memiliki wanita itu.
Guntur mengatakan dengan suaranya yang lembut namun tetap tegas. "Saya akan membiayai seluruh biaya pendidikan adikmu. Tapi dengan satu syarat ... Kau harus menikah denganku." dengan alasan ini, Guntur memaksa Naina untuk menikah dengannya.
Guntur tahu Naina takkan bisa menolak, sebab wanita itu memikirkan adiknya yang memiliki harapan besar untuk bisa masuk universitas.
Tapi sayangnya, biaya masuknya yang mahal membuat Naina yang hanya bekerja sebagai manager bengkel pun, menelan ludah.
Karena tidak ingin mengecewakan adiknya, Naina pun menerima tawaran dari Guntur.
Mulanya, Naina berniat akan mengembalikan uang Guntur. Karena dia tidak memiliki kemampuan untuk membayar hutang itu, dia akan bekerja dengan keras untuk mengumpulkan uang. Setelah uangnya cukup, barulah dia akan membayar hutangnya dan bercerai.
Setelah sah menikah dengan Guntur, Naina terus-menerus gelisah setiap malamnya. Dia tidak tahu kapan lelaki paruh baya itu akan memaksanya melakukan hubungan suami istri, seperti halnya ketika Guntur memaksa Naina untuk menikah dengannya.
Sampai suatu malam, Guntur membuka pintu kamar, Naina langsung berpura-pura tidur. Dia menelan ludahnya berat ketika suara langkah suaminya makin mendekat.
Tiba-tiba saja Guntur menyentuh lengannya dengan lembut, membuat Naina terkejut dan mengubah posisinya menjadi duduk.
“Pak Guntur!” pekik Naina sambil merapatkan selimut ke tubuhnya dan meremasnya dengan gugup. Dia berpikir kalau Guntur akan menyentuhnya malam ini. Maka dari itu, Naina menggeser duduknya sedikit menjauh dari Guntur.
Guntur bisa melihat ketakutan di wajah Naina. Untuk itu, dia pun duduk di pinggir ranjang dan mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat agar Naina tetap tenang.
“Jangan takut, Naina. Aku tahu, kau pasti berpikir kalau aku akan menyentuhmu. Tapi aku tidak akan melakukan itu. Aku hanya ingin mengobrol saja denganmu,” ucap Guntur sambil memberikan senyum yang menenangkan pada Naina.
Naina yang awalnya merasa takut pun, kini mengangguk dan kembali mendekat pada Guntur. Hatinya lega saat mendengar bahwa lelaki tua itu tidak akan menyentuhnya malam ini. Dia pun duduk diam dan mendengarkan apa yang akan Guntur katakan padanya.
“Ada satu hal yang belum kuberitahukan padamu. Aku tidak akan pernah memintamu melayaniku sebagai istri. Karena aku menderita disfungsi ereksi sejak lama. Jadi kau tidak perlu takut aku akan menyentuhmu. Aku tidak memiliki cukup kemampuan untuk melakukan itu,” ucap Guntur saat itu.
Mendengar itu, Naina agak terkejut. Ternyata, suaminya mau menunjukkan kekurangan fisiknya untuk membuat Naina rileks.
Naina menyadari bahwa sebenarnya Guntur menikahinya hanya karena ingin memiliki teman. Guntur hanya mencintai istrinya yang sudah meninggal setelah melahirkan. Lelaki itu selalu mengenangnya. Bahkan, Naina terenyuh saat mendengar alasan mengapa Guntur sangat ingin menikahinya.
"Wajahmu sangat mirip dengan mendiang istriku. Aku sangat mencintainya. Lalu saat bertemu denganmu, aku merasa seperti menemukan sesuatu yang pernah dekat denganku. Aku hanya ingin memiliki teman. Aku tidak ingin kesepian di masa tuaku, Naina. Aku tidak akan menyentuhmu. Meskipun kita menikah, tetapi hubungan kita akan seperti orang tua dengan orang yang lebih muda."
"Andai aku dekat dengan putraku, mungkin aku tidak akan pernah merasa kesepian seperti ini. Sayangnya hubungan kami tidak dekat. Mungkin karena aku terlalu keras mendidiknya. Sejak SMA, Arka sudah melanjutkan sekolah di luar negeri. Bahkan dia tak mau datang di hari pernikahan kita," ucap Guntur dengan wajah sedihnya. Dari sorot matanya, Naina bisa melihat kerinduan yang dalam di sana.
Dari istri pertamanya, Guntur memiliki seorang anak yang sekarang pasti sudah tumbuh dewasa. Yang Naina dengar, namanya adalah Arka Sebastian. Usianya sekitar dua puluh tujuh tahun. Naina tidak tahu seperti apa rupa lelaki itu. Tapi yang dia tahu dari penuturan Guntur, Arka jauh lebih tampan darinya. Guntur masih ingat wajah putranya meskipun sudah lama tak bertemu.
"Tapi aku menaruh harapan besar pada Arka. Aku harap, suatu saat dia akan sadar kalau sikap kerasku adalah demi kebaikannya. Aku juga berharap dia mau pulang ke Indonesia dan melihatku sebelum aku tidak bisa lagi melihatnya," lanjut Guntur pada Aina, tapi matanya tertuju pada album foto mendiang istrinya tercinta.
Naina merasa terharu mendengar itu. Meskipun Guntur beberapa kali mengatakan bahwa ia membolehkan Naina jika wanita itu ingin bercerai darinya, tetapi Naina menolaknya. Naina ingat dengan segala kebaikan yang Guntur berikan padanya. Naina pun bersedia mendedikasikan dirinya untuk merawat Guntur yang sudah paruh baya itu.
Setelah Raffan lulus kuliah, Guntur menyuruh Raffan untuk bekerja di perusahaan keluarganya.
Namun, semuanya berubah semenjak terjadi sebuah kecelakaan yang menimpa Guntur dan Raffan. Awalnya mereka pergi untuk membicarakan masalah bisnis.
Di tengah perjalanan, mereka mengalami kecelakaan. Guntur meninggal di tempat, sedangkan Raffan tidak sadarkan diri dan koma.
Hari itu menjadi hari yang sangat kelabu bagi Naina. Lelaki paruh baya yang selama ini selalu baik padanya, kini sudah menutup mata untuk selama-lamanya.
Bahkan harapan Guntur untuk bisa melihat wajah Arka yang sudah dewasa pun tidak pernah terwujud.
"Pak Guntur. Maafkan saya, terimakasih untuk semua yang telah Bapak berikan pada saya dan Raffan," ucap Naina dengan lirih, sambil menatap nanar jasad suaminya.
Naina tidak memperdulikan perbincangan orang-orang yang duduk di belakangnya. Mereka semua sedang menjelekkannya, menganggapnya sebagai wanita licik yang gila harta. Meski sakit hati mendengar tuduhan seperti itu, Naina memilih diam dan tak menggubrisnya.
Pada saat itu, pintu gerbang rumah duka dibuka. Pengawal mengantar seorang pria memasuki rumah duka. Pria itu memiliki fitur wajah yang tangguh. Tubuhnya tinggi. Ia mengenakan stelan hitam yang rapi. Sepatu kulit yang ia kenakan sangat bersih dan berkilau.
Dari penampilannya, semua orang tahu sekilas bahwa dia seorang bangsawan.
Sontak semua orang yang ada di sana menghentikan perbincangan mereka, seolah mendapat sebuah pertunjukan lainnya yang lebih menarik.
"Wah. Siapa itu? Tampan sekali!"
"Apakah dia Arka Sebastian yang tinggal di luar negeri itu? Sekarang dia sudah dewasa, wajahnya mirip aktor hollywood."
"Aku tidak menyangka, ternyata Pak Guntur memiliki putra yang setampan dia."
Banyak dari orang-orang itu berbisik memuji paras tampannya, tetapi wajah Arka tetap tak acuh. Saat ini matanya lurus menatap ke depan sana, dimana punggung Naina sedang bergetar pelan, menandakan bahwa ia sedang menangisi suaminya yang meninggal.
Melihat itu, Arka menarik sebelah ujung bibirnya, tersenyum sinis.
Naina masih belum menyadari kehadiran Arka karena ia masih sibuk meratapi kepergian Guntur.
Kaki Arka melangkah pelan namun tegas menuju tempat dimana Naina duduk.
Setiap langkahnya, membuat semua orang terkesiap. Seakan mereka baru pertama kali melihat lelaki setampan Arka.
Sampai kemudian Arka menghentikan langkahnya tepat di depan Naina, Naina masih menunduk dan menangis.
Arka berjongkok, meraih dagu Naina dan mendongkakannya, kemudian memperhatikan dengan seksama wajah wanita itu. Sepasang mata besar yang cerah, dipadukan dengan bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, serta bibir yang merah merona. Sejujurnya, wanita ini cantik. Tetapi Arka tetap menatapnya dengan penuh kebencian. Karena dia pikir, Naina adalah wanita yang licik.
Naina ketakutan dengan gerakan pria itu. Ia tergagap, “K-kau siapa?” tanyanya.
Arka tidak menjawab, tetapi berbisik, “Kau sama sekali tidak mirip ibuku!”
Naina merasa takut, lebih lagi tatapan Arka begitu tajam dan menusuk padanya.
Arka telah datang. Jadi lelaki ini lah putra tunggal dari Guntur, sekaligus anak tirinya. Tetapi mengapa Arka menatapnya dengan wajah kesal.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Naina.
Arka kembali menyunggingkan senyum sinis. "Aku pulang kali ini untuk meneruskan warisan yang diturunkan kepadaku, termasuk ... kau.”
Deg!
“Aku enggak butuh tanah seluas ini, ya Habibi. Aku tahu uangmu tak berseri. Tapi jangan hamburkan untuk sesuatu yang sia-sia.” Suamiku mengusap-usap tanganku yang memegang lengannya.“Kalau aku tetap mau membelinya, gimana?” senyumnya dengan alis dinaik-turunkan untuk menggodaku.Ah, kadang-kadang sultan Arab ini nyebelin juga. Eh, tapi masa mau dibeliin tanah sepuluh hektar dibilang nyebelin. Tapi buat apa tanah seluas itu coba? Siapa yang mau ngurus?Aku menyimpan nomor ponsel yang tertera atas perintah suamiku tercinta sambil cemberut. Dia malah tertawa sambil mengecup bibirku dan membuat mataku melotot. Kan malu kalau ada orang yang melihat.“Bagaimana menurutmu bila di tempat ini kita bangun sebuah pesantren? Anak-anak akan belajar di sini dengan fasilitas yang baik tanpa dipungut bayaran sepeser pun?”Aku menatap matanya lekat. Itu adalah impian selintasku dulu sekali yang bahkan tak pernah berani kukatakan pada siapa pun. Impian yang muncul saat membaca tentang pesantren tahfidz
Setelah walimah kami memutuskan tinggal di rumah baru kami dengan status visa suami sebagai wisatawan. Setelah masa berlaku bisa hampir habis baru akan kami pikirkan rencana selanjutnya, apakah memperpanjang visa suami atau kami kembali ke kota Madinah. Beliau tak perlu khawatir dengan bisnisnya karena punya beberapa orang kepercayaan. Ada orang yang khusus mengelola hotel, juga ada yang khusus mengelola kebun kurma. Istilahnya mungkin bisnis jalan tapi ownernya jalan-jalan. Ibu, Lina dan Yusril senang sekali bisa berkumpul setiap hari setelah berpisah sekian lama. Rumah kami sekarang selalu hangat dengan kasih sayang dan gelak tawa.“Ucil senang sekali sekarang Ucil bisa main sama Bubu tiap hari. Sama Baba juga Ucil suka main kuda-kudaan.”Anakku selalu riang gembira. Berpindah-pindah dari pangkuanku, ke pangkuan ayah sambungnya, lalu ke pangkuan Ibu, juga ke pangkuan Lina. Dia seolah sedang memuaskan dirinya bermain bersama semua orang yang menyayanginya. Setiap waktu salat dia aka
Menjelang Ashar tamu masih berdatangan satu-satu. Tapi kami sudah terlalu lelah dan pamit masuk ke rumah untuk beristirahat. Di tenda luar dan ruang tamu masih ada Ibu dan Uwa yang bisa mewakili kami menerima tamu. Kecuali tamu spesial maka kami akan menemuinya sebentar.Saat masuk kamar mataku membola melihat ke arah tempat tidur kami. Besar sekali ukuran kasur ini. Lalu tiba-tiba aku menyadari sesuatu, suamiku yang berbadan lebih tinggi dari orang Indonesia pasti merasa tak nyaman saat tidur di kasurku. aku merasa bersalah tetapi dia tak protes. Subhanallah, manisnya suamiku."Ekhem, sudah tak sabar menunggu malam, ya Habibati? Lihat kasur terus." Sebuah suara dengan nada menggoda berbisik di telingaku membuat wajahku memerah. "Apaan sih, enggak kok. Aku hanya baru sadar kasur di kamarku kecil banget buatmu. Maaf ya, Habibi, aku kurang peka." Suamiku hanya tersenyum. Dia memang selalu tidur lebih akhir dan bangun lebih awal sehingga aku tak menyadarinya."Mari kubantu melepas baju
Akhirnya tiba juga hari ini. Menjadi ratu sehari dalam pernikahan kedua. Kami duduk di pelaminan yang didekorasi indah di halaman rumah kami yang luas. Aku mengenakan gaun pengantin putih cantik yang dikirim memakai cargo dari Arab sana. Suamiku yang gagah terlihat makin memesona dalam balutan baju pengantin warna putih senada dengan gaunku. Aku di-make up minimalis saja. Ibu dan Wak Endo duduk mendampingi kami. Yusril bergabung bersama kami sebentar tapi kemudian bosan dan memilih main bersama sepupunya."Istriku cantik sekali, Masya Allah. Inginnya kusembunyikan saja di kamar," komentar suamiku saat melihatku selesai didandani."Aku juga malu sekali buat duduk di pelaminan. Betul katamu, sebaiknya aku ngumpet di kamar.""Haha aku bercanda, ya Habibati. Kita harus tetap duduk untuk menyalami tamu. Seperti adat di sini. Lagi pula kelihatannya tamu-tamu di sini sopan-sopan pakaian dan perilakunya."Panggung hiburan berdiri kokoh di sebelah kanan gerbang. Siapa pun boleh ikut berpartisi
Bangun tidur aku langsung mandi wajib karena baru selesai haid. Saat selesai berganti baju ternyata anakku juga sudah bangun. “Ucil mau ikut ke mesjid sama Bubun,” katanya saat melihatku memakai mukena.Di kampung kami shalat Subuh dan Maghrib memang selalu ramai bukan hanya oleh bapak-bapak tapi jug
"Ya Habibatii, kenapa wajahmu sekelam malam. Padahal tadi wajahmu masih secerah matahari." Suami tampanku menghentikan jalannya dan memandang penuh rasa khawatir."Orang-orang itu menggunjing kita. Mereka menyanjungmu dan mencemoohku." Aku mengisyaratkan dengan pandangan mataku.Rasanya menyesal mengi
“Ya, Habibi, serius kita hanya bawa baju sekoper kecil ini?” Aku menepuk-nepuk koper hitam nan keren itu.“Sangat serius. Biarlah kita bawa baju sedikit biar tak repot di jalan. Gampanglah di Indonesia nanti kita ngeborong baju buat di rumahmu.”Ah, aku selalu lupa kalau suamiku seorang sultan. “Lala,
Setelah menjadi istri Mister Halim hari-hariku terasa sangat cepat berlalu. Suami tampanku selalu bersikap manis membuatku serasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia. Setiap dini hari kami lomba untuk bangun lebih awal untuk salat tahajud dan yang menang boleh meminta hadiah apa pun dari yang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews