LOGINBukan sesuatu yang dapat dicampuri. Moreau tak ingin terjerumus terhadap pelbagai pemikiran, di mana seharusnya dia tahu bahwa terdapat risiko menjadi seorang simpanan.
“Semua sudah selesai, Nona.” Tiba – tiba Caroline bicara di tengah gemuruh cukup hening. Itu menarik Moreau kembali ke permukaan hingga mengerjap untuk beberapa saat. Perlu disadari bahwa Caroline menyiapkan semua kebutuhannya dengan komplit. Memindahkan Chorrus yang digoreng matang ke atas meja makan, berikut tamb“Kau bisa menunggu sampai besok pagi,” ucap Moreau, sedikit memutuskan untuk mengenyakkan punggung di sandaran kursi. Mereka mungkin tidak akan membicarakan apa pun lagi. Setidaknya dia merasa seperti itu. Tidak menduga ternyata Abihirt akan tiba – tiba mengajukan pertanyaan. “Kau tidak marah kepadaku lagi?”Bagus. Sekarang mereka akan memulai percakapan tentang hubungan yang sedikit rapuh. “Haruskah aku?” tanya Moreau sedikit dengan nada menyindir. Ya, haruskah dia benar – benar marah kepada Abihirt dan bersikap tidak peduli sebagaimana itu yang pernah dia lakukan?“Jangan. Aku takut.”Namun, pernyataan pria tersebut membuat sesuatu dalam diri Moreau seperti menghadapi krisis singkat. Dia lebih tergelitik karena Abihirt benar – benar menjabarkan sesuatu yang tampak sangat jelas di mata kelabu pria itu.“Jika kau memang takut, bisakah katakan mengapa membatalkan pernikahan kita secara sepihak?”Tidak ada yang salah jika Moreau melihat ini sebagai k
“Sekarang kau bisa memulai ceritamu dari awal.”Moreau tahu ini terkesan terburu – buru ketika dia mendesak Abihirt setelah dokter baru meninggalkan mereka berdua di sini. Namun, jika berharap bisa menunggu lebih lama. Dia rasa itu bukan prospek bagus. Abihirt cenderung menghindari kontak mata. Sedikit setidaknya meninggalkan perasaan tak terduga dan Moreau melihat tindakan tersebut sebagai propaganda yang perlu diselesaikan dengan cepat.“Di mana Lore dan Arias?”Dia bercedak secara naluriah, karena Abihirt berusaha menghindari topik pembicaraan intens dengan mengalihkannya kepada anak – anak.“Mereka sedang bersama Caroline. Sekarang katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Aku melihat seseorang memukulmu dari belakang. Lalu membawamu pergi.”Moreau tidak akan berhenti. Barangkali apa yang baru saja dia katakan sedikit memberi Abihirt kejutan.Hingga pria itu tampak mengernyit dan berkata, “Kau tahu dari mana?”Ntahlah, semacam ada ketakutan yang Moreau se
“Aku tahu kau khawatir mengenai kondisi Abi. Tapi, buru – buru menghubungi pihak berwajib ... kurasa, bukan keputusan yang tepat. Aku tahu Abi. Dia mahir. Kau pasti juga tahu itu. Sebaiknya kita tunggu beberapa saat lagi. Atau mungkin ... saat Roger tiba, dia akan memberikan pendapatnya.”Sebenarnya, Moreau tidak setuju jika mereka harus menunggu lebih lama. Namun, apa pun yang Roki katakan barangkali benar. Mereka tahu Abihirt memiliki bekal ilmu bela diri. Mungkin menunggu sedikit lebih lama tidak akan menjadi masalah. Lagi pula, Roger sedang dalam perjalanan ke Italia. Mereka bisa berdiskusi intens tentang hilangnya Abihirt dan bersama – sama melakukan pencarian.“Oh, Tuhan! Moreau!”Suara teriakan Caroline terdengar menggelegar. Moreau terkejut. Secara naluriah melirik Roki untuk kemudian berlari ke halaman depan. Sebuah pemandangan tak terduga ketika mendapati Caroline tampak menahan beban berat dari tubuh Abihirt. Pria itu berjalan tersaruk – saruk dengan kead
“Senang bertemu langsung denganmu, Rowan.”Abihirt belum sepenuhnya sadar saat mendengar pernyataan Mansilo Hubber. Belakang lehernya cukup terasa sakit karena hantaman keras semalam. Bahkan, pandangan mata ke sekitar masih cukup buram untuk memahami bahwa dia sedang terikat di kursi dan terjebak di satu ruang usang bersama sekelompok orang, termasuk pria paruh baya itu—yang menjijikkan.“Persiapan nikah membuat wajahmu lebih tampan, kurasa. Aku sangat menyukainya.”Abihirt mencoba sekadar mengelak saat ujung jemari Mansilo Hubber terduga berusaha menyentuhnya. Ancaman sialan itu telah membuat hari pernikahan; hubungan bersama Moreau menjadi runyam. Apa lagi yang sebenarnya pria paruh baya tersebut inginkan?“Aku tidak punya urusan lagi denganmu. Biarkan aku pergi.”Pemberontakan keras terasa percuma ketika kondisi tubuh tak benar – benar fit untuk menghadapi situasi tak terduga. Mansilo Hubber berdecak, memberi petunjuk bahwa apa pun yang coba Abihirt lakuk
Moreau berulang kali melirik layar ponselnya yang menyimpan rekaman real time di halaman depan rumah; untuk berjaga – jaga jika ternyata Abihirt akan melakukan sesuatu yang buruk. Untungnya tidak.Malam sudah cukup larut dan dia hanya mendapati pria itu menjulang tinggi sambil menatap pintu yang menutup rapat. Sudah sekian jam Abihirt ada di sana. Seperti yang pernah Moreau katakan kepada Juan ... tidak akan butuh waktu lama bagi pria tersebut menyusul.Sebenarnya ... sempat ada ketukan pintu kali pertama Abihirt muncul. Anak – anak juga sudah begitu antusias mendapati ayah mereka ada di Italia. Namun, ego melarang Moreau untuk menuruti keinginan si kembar, termasuk keinginan di benaknya sendiri.Andai Abihirt muncul satu minggu setelah peristiwa yang masih terasa hangat ... mungkin dia akan memikirkan kembali bagaimana cara mempesilakan pria itu masuk. Sayangnya, ini tak seperti yang diharapkan. Terlalu cepat jika dia harus memaksakan diri terlihat baik – baik saj
“Setelah apa yang terjadi kemarin malam. Kau yakin akan tetap pergi, Amiga?”Mobil Juan sedang dipanaskan, sementara semua kebutuhan sudah benar – benar siap. Moreau menghela napas kasar—merasa tidak ada yang perlu diragukan lagi ketika hari ini tiba. Anak – anak bahkan terlihat sangat siap dengan pakaian menggemaskan mereka.“Tidak ada alasan yang bisa menahanku lebih lama di sini,” ucap Moreau sambil menjatuhkan perhatian lurus ke arah kaca jendela. Sampai saat ini, dia tidak pergi menemui Abihirt, karena memang memutuskan untuk tidak melakukannya.“Bagaimana dengan Mr. Lincoln jika kau membawa anak – anak kalian pergi?”Suara Juan kembali terdengar. Itu membuat Moreau secara naluriah menghela napas kasar.“Dia bukan anak kecil lagi. Kau tahu dia akan baik – baik saja,” dan menambahkan sambil menatap Juan setengah enggan.“Mengapa kau bersikeras untuk tetap pergi, bahkan setelah melihat kondisi Mr. Lincoln, yang tidak stabil dan mengerikan seperti semalam?”
Moreau tak memungkiri bahwa dia ingin menertawakan Abihirt. Wajah pria itu penuh coretan dan pada akhirnya dia diam – diam menahan senyum; berharap mantan suami Barbara tidak menyadari apa pun yang sedang berusaha dia sembunyikan. Namun, di sini, Lore masih menunduk. Benar – benar terlihat
Abihirt terdiam untuk waktu cukup lama dan kemudian mengerjap .... seperti baru saja memahami situasi di sekitar, lantas ... memutuskan sekadar mendorong tubuh lebih jauh. “Aku minta maaf.” Suara pria itu terdengar gemetar. Bibir Moreau terbuka tanpa sadar saat melihat Abihirt memutus
Memang, Robby masih terlihat berpikir. Waktu seakan berjalan terlalu lama, sehingga kekhawatiran Moreau segera merambat luar biasa cepat saat dia menatap ekspresi pria itu mulai berubah; sedikit dengan guratan menelusuri beberapa bentuk tanggapan yang dia berikan. “Apa yang sebenarnya terja
Mata kelabu Abihirt menatap anting kupu – kupu dengan rantai kecil menjuntai terlalu serius, yang diambil dari Lore setelah gadis kecil tersebut tertidur lelap.Sekarang dia menyadari bagaimana Lore senang memainkan benda tersebut saat Moreau sedang tidak di rumah. Kepergian yang dilakukan se







