Masuk"To-tolong jangan macam-macam padaku," cicit Sera, menatap Xavier dengan sangat panik dan takut setengah mati. Satu tangannya memegang kuat handuk supaya tidak lepas, lalu satu lagi ia jadikan penopang agar ia bisa duduk. Rasa panik Sera semakin menjadi-jadi ketika melihat Xavier melepas kemeja sambil menyunggingkan smirk tipis padanya. "Macam-macam itu apa, Nagos?" tanya Xavier dengan suara serak, mulai naik ke atas ranjang dan merangkak mendekat pada Sera yang bergeser mundur. "Ki-kita sudah sepakat. Ja-jangan lupa," cicit Sera lagi dengan suara bergetar. Dia ketakutan saat Xavier mendekat padanya. "Kenapa kau sangat ketakutan, Heh? Aku suamimu!" dingin Xavier, mencengeram pipi Sera lalu mengangkatnya supaya perempuan ini menatapnya. "A-aku tidak masalah. Ta-tapi kita harus menikah ulang dulu." cicit Sera, bersama dengan air matanya yang jatuh—saking takutnya. Dia memang takut disentuh oleh Xavier, apalagi setelah dia melihat benda pusaka milik pria ini yang … ugh! Apa benda se
"Kamarmu bukan di sini," ucap Xavier sambil menatap dingin pada Sera yang sudah duduk di pinggir ranjang Kaina. Xavier tak melangkah masuk, dia hanya berdiri di samping pintu—menyandar pada dinding sambil bersedekap di dada. "Bukannya kamu bilang, Kak Xavier bolehin kamu ke sini," gumam Kaina, menatap Sera dengan kening mengerut. "Hehehe …." Sera cengengesan pada Kaina, mau tak mau dia bangkit dari pinggir ranjang lalu menghampiri Xavier. Sejujurnya Sera tak ingin kembali ke lantai empat. Akan tetapi dia sangat takut pada Xavier, dia takut Xavier menyeretnya dari kamar ini ke lantai empat. "Sudah jam sepuluh malam, Kai. Segera tidur," titah Xavier pada adiknya, setelah Sera berada di sebelahnya. "Baik, Kak," jawab Kaina pelan sambil menganggukkan kepala. Xavier menarik Sera agar ikut dengannya. Namun, sebelum pergi dia menutup pintu lebih dulu. *** "Mandi." Xavier memberikan peringati. Sera menganggukkan kepala, dia patuh dan menurut. Namun, karena dia takut Xavier i
"Aku yakin sekali, Kak Xavier juga bakalan mendukung." "A-aku ragu," ucap Sera dengan nada yang mendadak serak dan rendah. Dia memang sangat ingin lanjut S2 karena Sera sesuka itu menimbah ilmu. Namun, apa daya, dia telah menikah dengan Xavier dan ternyata pria itu tak mau melepasnya. Ayahnya juga menuntutnya supaya menjadi istri yang sesempurna mungkin untuk Xavier. Entah apa rencana ayahnya sehingga ayahnya memaksanya tetap bertahan di sisi Xavier. Ayahnya selalu bilang demi keamanan. Akan tetapi demi keamanan apa? Intinya ayahnya serakah pada harta dunia dan kekuasaan. Keamanan untuk Sera?! Itu bullshit! Ayahnya ingin mengamankan bisnisnya sendiri. "Oh iya, mengenai kecelakaan Mas Xavier, itu … gara-gara temannya yah?" tanya Sera. Niatnya ingin mengalihkan topik. Tapi dia juga sangat penasaran dengan hal ini. Tadi, sebelum makan malam di mulai, ayah mertuanya membahas ini dengan kepercayaannya dan juga Xavier. Sayangnya, Sera tak mendapatkan informasi lengkap tentang kecelak
"Aku boleh tidur di sini yah dengan kamu. Pliss!" pinta Sera dengan nada memohon, menyatukan tangan sambil menatap sayu campur sendu pada Kaina. Saat ini Sera ada di kamar Kaina. Dia bersembunyi di sini karena takut pada Xavier. Jika Sera lari ke rumah ayahnya atau apartemen, jelas dia tidak akan selamat. Pasti Xavier akan menyusul lalu …-Namun, di kamar Kaina, sepertinya dia bisa selamat dari pria setengah iblis yang penuh jebakan serta tipu daya tersebut."Tidur di sini?" Kaina mengerutkan kening sambil menatap bingung pada Sera yang duduk di depannya—atas ranjang, "loh, kan kamar Kak Xavier luas dan nyaman. Apalagi di lantai empat ada balkon luas yang dilengkapi taman mini sama perpustakaan. Lantai 4—khusus lantai Kak Xavier, Fasilitas paling lengkap. Apa tetap nggak bikin betah kah?"Itu benar! Lantai 4 adalah pantai khusus untuk Xavier yang suka menyendiri dan butuh ketenangan ekstra. Sedangkan Kaina berada di lantai yang sama dengan orang tuanya, lantai 3. Kamarnya dan ruang k
"Nagoooos!" geram Xavier. Dia mencengkeram tangan Sera lalu menjauhkannya dari benda tersebut. Tatapannya tajam, terasa membunuh dan mengintimidasi secara bersamaan. Sera menarik tangannya yang dicekal oleh Xavier lalu langsung menyembunyikan tangannya di belakang tubuh. "Ma-maaf, Mas," cicit Sera sambil menatap panik pada Xavier. "Kau menolak kusentuh akan tetapi tanganmu sangat lancang, Sera Ghazalah Adam!" dingin Xavier, kembali mencekal pergelangan tangan Sera dengan kencang. Dia menarik perempuan itu, membuat merapat pada tubuhnya. Mata Sera kembali melebarkan. Demi apapun! Benda itu … menekan perutnya dan itu membuat Sera tidak nyaman sekaligus gugup secara bersamaan. "Aku cuma be-berniat menutupinya." Sera berkata dengan nada gemetar, terlalu panik dan semakin gugup karena Xavier mempererat pelukannya pada pinggangnya sehingga. Itu membuat perutnya menempel pada benda itu, "tolong lepaskan aku. A-aku sungguh tidak nyaman, Mas," cicit Sera."Tidak nyaman?" Xavier menyunggi
"Kau tidak dengar apa kata orang tuaku tadi?!" dingin Xavier, melayangkan tatapan membunuh pada istrinya yang berdiri tak jauh darinya. Sera terlihat sudah rapi, bersiap-siap ingin kembali ke apartemennya. Sebelumnya, dia juga sudah ingin pulang. Akan tetapi orang tua Xavier menahannya dan menyuruhnya untuk tinggal di sini. Mulai sekarang! Masalanya, Sera tak punya pakaian ganti, oleh karena itu Sera ingin pulang ke apartemen untuk mencari pakaian ganti. "Mulai sekarang, kau tinggal di sini denganku!" tambah Xavier, masih dengan suara mengerikan dan penuh peringatan. Setelah mengatakan itu, dia kembali fokus pada Handphone-nya. "Aku paham dan aku tahu. Cuman aku pulang karena ingin jemput bajuku, Mas. Aku mau mandi dan di sini aku nggak punya pakaian ganti," ucap Sera dengan nada gugup dan pelan, menatap cemas pada suaminya. "Aku sudah menyiapkan pakaian dan seluruh kebutuhanmu di sini." Xavier berkata tenang dan rendah, akan tetapi masih fokus pada HP-nya—tak menoleh sediki
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







