Share

Keberanian Rosa

Author: YuRa
last update publish date: 2026-05-24 19:07:26

Rosa kembali menatap Bima, senyumnya semakin lebar.

"Ayo, Sayang. Kita sudah terlambat," ajak Rosa dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin, seolah insiden tadi hanyalah angin lalu.

"Eh, i... iya. Ayo," jawab Bima gagap.

Ia sempat melirik Sarah sekilas, sebuah tatapan peringatan yang penuh ketakutan, sebelum membukakan pintu mobil untuk Rosa.

Di belakang mereka, Sarah berdiri mematung dengan kepalan tangan yang mengeras. Matanya menyalang tajam menatap punggung Rosa.

“Awas kamu,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Mencintai Orang Lain

    Langkah Rosa terhenti tepat di luar lobi restoran. Angin sore berembus, mengiringi kemunculan seorang wanita berpenampilan modis yang tiba-tiba memotong jalannya."Kamu Rosa, kan?"Rosa mundur selangkah, menjaga jarak aman. "Iya, kamu siapa?""Aku Olivia, kekasihnya Kevin." Wanita itu bersedekap, menatap Rosa dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Aku peringatkan kamu, jangan pernah mendekati Kevin. Dia milikku."Rosa menatap wanita di hadapannya tanpa kedipan. Riak cemas di hatinya langsung sirna, digantikan oleh rasa percaya diri. "Bukan aku yang mendekatinya, tapi ia yang selalu mendekatiku!" ujar Rosa, suaranya terdengar renyah namun menohok."Bohong! Pasti kamu yang menggodanya!" Olivia mulai emosi, suaranya meninggi hingga memancing perhatian satu-dua orang di parkiran."Kalau dia benar-benar mencintaimu, sekuat apa pun aku menggodanya, ia tidak bakal tertarik," balas Rosa telak, membuat Olivia bungkam sesaat karena syok.Di saat Olivia sudah meng

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Sangat Serius

    Rey menyesap kopinya, tatapannya lekat pada Rosa yang tampak gelisah di sofa ruang kerjanya. Suasana kantor yang tenang di lantai atas itu kontras dengan raut wajah adiknya yang kusut."Mama masih memaksamu dengan perjodohan konyol itu?" tanya Rey tanpa basa-basi.Rosa menghela napas panjang, memutar-mutar bolpoin di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia tidak berhenti, Kak. Rasanya seperti dikepung dari segala sisi.""Lalu?""Untungnya Papa masih waras," Rosa mendongak, matanya berbinar kecil. "Papa bilang, kalau aku sudah punya seseorang yang serius, aku hanya perlu membawanya menghadap. Beliau akan menimbang sisanya."Rey meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras yang memecah keheningan. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum jahil yang jarang ia tunjukkan. "Wah, itu lampu hijau yang besar, bukan? Tunggu apa lagi? Ajak saja Kevin!"Seketika, rona merah menjalar dari leher hingga ke telinga Rosa. Ia mendadak sibuk dengan ujung blusnya, mencoba menyembunyikan seny

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Carilah Jodoh Sendiri

    Rima melangkah mendekat, masuk ke dalam ruang privasi Rosa, lalu berbisik dengan nada yang jauh lebih dingin dan mematikan. "Menikah dengan Anton akan membuatmu hidup tenang dan nyaman," bisik Rima lagi, kali ini tangannya mencengkeram dagu Rosa dengan cengkeraman yang menyakitkan, memaksa putrinya itu menatap langsung ke dalam matanya. "Tanpa posisi Papa dan Mama, tanpa nama besar keluarga, kamu bukan apa-apa di luar sana, Rosa. Hanya seorang wanita biasa yang harus memeras keringat untuk sekadar makan. Apakah itu masa depan yang kamu inginkan?"Rosa memalingkan wajahnya, melepaskan diri dari cengkeraman sang ibu. Ia merasa muak dengan kata-kata itu, kata-kata yang selama ini menjadi racun yang secara perlahan membunuh kepercayaan dirinya."Jika harus memilih antara kenyamanan semu di dalam sangkar emas ini atau hidup jujur dengan keringatku sendiri, aku akan memilih yang kedua, Ma," jawab Rosa dengan nada suara yang kini lebih mantap. "Setidaknya, saat aku tidur nanti malam, aku t

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Bukan Boneka

    Tepat pukul dua belas siang, suasana di restoran fine dining itu terasa menyesakkan bagi Rosa. Ia duduk di antara ibunya, Rima, dan Tante Ana yang terus menebar senyum lebar, seolah sedang merayakan sebuah kemenangan besar. Di seberang meja, Anton duduk dengan punggung tegak, wajahnya sedatar papan kayu."Nah, mumpung anak-anak sudah di sini, mari kita pesan makanannya. Bagaimana kalau kita bicarakan tanggal lamarannya bulan depan?" Tante Ana membuka percakapan dengan nada riang yang membuat perut Rosa mual.Rima mengangguk antusias. "Setuju. Rosa, kamu sudah lihat kan foto-foto apartemen yang Mama kirim? Itu hadiah untuk kalian."Rosa memutar gelas air mineralnya. Tangannya sedikit dingin, tapi tatapan Rey sebelum ia berangkat tadi terngiang di kepalanya: Jangan beri celah."Ma, Tante," suara Rosa memecah keheningan yang seharusnya manis itu. Ia meletakkan gelasnya dengan denting yang cukup keras. "Sebelum kita melangkah lebih jauh, aku dan Anton ingin mengatakan sesuatu."Rima berh

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Transaksi

    Mata Kevin berkilat, kali ini bukan karena amarah, melainkan karena tekad yang membara. Dia baru saja mendapatkan kembali kepastian bahwa Rosa adalah miliknya sepenuhnya. Dan bagi seorang CEO seperti Kevin, tidak ada yang lebih berbahaya daripada pria yang telah menemukan kembali tujuan hidupnya."Kalau begitu, mari kita mulai," ujar Kevin pelan. "Malam ini juga, kita akan pastikan Olivia menyesali langkah konyol yang dia ambil hari ini.”Kevin melepaskan pelukannya, meski enggan, dan kembali ke posisi duduknya."Sekarang, aku harus mengantarmu pulang sebelum ibumu mulai mencurigai sesuatu yang lebih jauh. Besok, semuanya akan berakhir bagi Olivia."Saat mobil mulai melaju membelah malam menuju kediaman Raharja, Rosa menatap bayangan dirinya di kaca jendela. Dia tahu, mulai besok, hidupnya akan menjadi sebuah panggung sandiwara yang berbahaya. Namun, dengan Kevin di sampingnya, dia tidak lagi merasa takut.Di kejauhan, di apartemennya, Olivia masih menyesap wine, yakin bahwa rencanany

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Melompat Lebih Tinggi

    Pikiran Rosa langsung kacau. Sepertinya Kevin benar-benar sedang marah, Rosa tahu satu-satunya cara untuk meredam kemarahan itu adalah dengan menemuinya. Tangannya gemetar saat ia harus memastikan pintu kamarnya terkunci tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun. Rumah kediaman utama Raharja malam itu terasa sangat besar dan mengintimidasi. Dengan langkah hati-hati, ia menghindari lorong utama tempat ia tahu ibunya mungkin masih terjaga.Ia menyelinap melalui pintu samping yang menuju taman belakang, menembus udara malam yang dingin dan lembap. Setiap gesekan dedaunan terdengar seperti teriakan di telinganya. Begitu mencapai pagar, ia meminta penjaga rumah untuk membuka pintu tentu saja dengan sedikit alasan yang masuk akal.Di depan rumah, mobil sport mewah milik Kevin sudah terlihat. Begitu sampai di samping mobil, pintu penumpang terbuka secara otomatis.Rosa masuk dengan napas memburu. Ia tidak sempat bicara, karena begitu ia menutup pintu, Kevin langsung menoleh. Tatapan pria itu tid

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Dunia Terlalu Kejam

    Kevin segera mengalihkan tatapan, tangannya mendadak sibuk merapikan letak remote TV yang sebenarnya sudah rapi. Ia berdeham, mencoba mengusir rasa canggung yang mendadak mencekik.“Tidak juga,” ucap Kevin rendah. “Cocok malah.”Rosa tertegun. Matanya membulat menatap Kevin, seolah sedang memproses

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Terima Kasih

    Cahaya matahari pagi mulai menyelinap malas melalui celah tirai, menari di atas permukaan sofa abu-abu. Rosa mengerjapkan mata, merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan menyapu kulitnya.Begitu kesadarannya pulih seutuhnya, Rosa tersentak kecil. Ia baru menyadari kepalanya masih bersandar

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Aku Hancur

    Kevin menoleh cepat. Sorot matanya tajam, berusaha menekan keterkejutan yang membakar suasana.“Apa maksudmu, Rosa?” suaranya terdengar seperti geraman rendah yang berbahaya.Rosa tidak berpaling. Di balik matanya yang basah, sisa kehancuran itu kini berganti menjadi tekad nekat. Ia tidak ingin lag

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Belajar Melupakan

    “Aku sedang belajar,” bisik Rosa sambil menunduk, membiarkan rambut menutupi wajahnya yang kuyu. “Belajar melupakan. Tapi ternyata, aku murid yang bodoh. Aku gagal lagi.”Kepalanya terasa seberat batu, perlahan terkulai menuju meja bar yang dingin. Namun, sebelum keningnya menyentuh permukaan kayu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status