Pernikahan Demi Pernikahan, CEO Cemburu Parah Dan Mengejarku

Pernikahan Demi Pernikahan, CEO Cemburu Parah Dan Mengejarku

By:  Dwi ChengUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
8
2 ratings. 2 reviews
62Chapters
822views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Kamu sudah menikah dua tahun dan kita sudah melakukannya 666 kali." "Kakak, menurutmu Kakak Ipar tahu nggak?" Setelah pendengarannya pulih, hal pertama yang didengar Lorraine Sentosa adalah adik angkat suaminya mengatakan kalimat itu kepada suaminya. Suaminya berselingkuh. Lorraine tidak menangis, tidak membuat keributan, juga tidak mencoba mempertahankan pernikahan itu. Dia diam-diam mencari perjanjian pranikah mereka. Di atas perjanjian itu tertulis: [ Pihak yang berselingkuh harus keluar tanpa membawa apa pun. ] .... Delvin Hermanto selalu menunggu Lorraine menoleh kembali padanya. Namun, yang dia dapatkan malah Lorraine menjadi perancang utama perayaan tingkat nasional. Menjadi wanita pertama yang memenangkan juara umum GlobalBest di negara mereka. Menjadi sosok yang dikelilingi para petinggi dan master ternama yang dipuja. Delvin panik. Dia merendahkan diri berlutut di kaki Lorraine, jemarinya yang gemetar mencengkeram ujung gaun Lorraine. "Dulu kamu rela memberikan segalanya untukku. Apa kamu benar-benar tega meninggalkanku begitu saja? Lorraine ... cintai aku sekali lagi, ya?" Lorraine bahkan tidak meliriknya. Dengan mata kepalanya sendiri, Delvin melihat Lorraine berlari penuh bahagia ke pelukan pria lain yang begitu terhormat dan mulia. Pria itu memanjakannya bak harta paling berharga. .... Saat Hari Valentine, Derby Sanjaya mengerutkan kening melihat bunga yang dikirim ke rumah. "Buang saja. Mengganggu mata. Berani-beraninya orang sembarangan saja mendekat." Lorraine sengaja menggodanya. "Padahal lumayan bagus." Malam itu, Lorraine memegangi pinggang rampingnya sambil tak kuasa mengeluh, "Jelas-jelas sudah pensiun dari militer bertahun-tahun, kenapa stamina pria itu masih sedahsyat ini!"

View More

Chapter 1

Bab 1

"Kamu sudah menikah dua tahun dan kita sudah melakukannya 666 kali."

"Kakak, menurutmu Kakak Ipar tahu nggak?"

Suara manis dan manja itu terdengar dari celah pintu.

Lorraine berdiri terpaku di tempat. Seluruh darah di tubuhnya terasa membeku. Dengan penuh semangat dia datang ke kantor Delvin, ingin memberi tahu Delvin bahwa telinganya akhirnya bisa mendengar lagi.

Tak disangka, yang dia dengar malah kabar perselingkuhan Delvin. Selain itu, selingkuhannya bukan orang lain, melainkan adik angkat Delvin. Juga pelaku utama yang menyebabkan adiknya menjadi vegetatif, Vanessa!

Lorraine menunduk.

Jadi ... bisa mendengar ternyata sesakit ini.

Dari dalam terus terdengar suara demi suara tanpa jeda. Suara Vanessa terdengar tidak stabil. "Kakak, kalian sudah menikah dua tahun, tapi setiap malam kamu tetap datang nyari aku. Kenapa kamu nggak coba hidup sama Kakak Ipar saja?"

Sebuah suara yang sudah lama tak dia dengar. Suara yang telah kehilangan kepolosan masa kecilnya, berubah menjadi rendah, seksi, dan dalam menjawab, "Menjijikkan."

Vanessa tertawa genit penuh pesona. "Benar juga. Kakak Ipar 'kan pernah dinikahi pria tua. Mungkin tubuhnya sudah rusak dimainkan."

Lorraine mengepalkan tangan dengan erat. Cincin di jarinya memancarkan rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Menjijikkan?

Delvin bilang dia menjijikkan.

Lorraine menarik sudut bibirnya, tertawa tanpa suara. Dia telah menjual dirinya demi mendapatkan 10 miliar. Uang itu adalah modal awal bisnis Delvin.

Tangan yang memegang gagang pintu terjatuh lemas. Dengan jemari gemetar, Lorraine mengeluarkan ponselnya, membuka mode rekam video, lalu menyelipkan ponselnya melalui celah pintu ... untuk mengambil bukti perselingkuhan Delvin.

Lorraine mundur dua langkah dengan sempoyongan, lalu berbalik pergi tanpa ragu.

Di dalam taksi menuju rumah, ponsel Lorraine bergetar. Dia mengeluarkannya, melirik layar, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum mengangkat telepon.

"Bu."

Dilla bertanya, "Sudah pakai alat bantu dengar, 'kan? Delvin ada di sampingmu? Coba tanya dia, kapan dana tahap kedua untuk Om Margo cair? Seluruh perusahaan Om Margo sedang nunggu uang itu untuk perputaran dana."

Lorraine terdiam.

Dilla lanjut mendesak, "Belakangan ini kamu nggak pergi jenguk adikmu di rumah sakit, ya? Sistem penunjang hidup Aston juga sudah waktunya bayar sewa lagi. Ingat suruh Delvin bayar. Kalau berhenti satu menit saja, nyawa adikmu bisa terancam."

Lorraine memejamkan mata.

Aston sudah menjadi vegetatif selama dua tahun. Hingga kini dia masih bisa mempertahankan tanda-tanda kehidupan karena Delvin menyewa alat eksklusif hasil riset laboratorium bioteknologi canggih luar negeri dengan harga sangat mahal. Karena menyangkut hak paten teknologi, biaya sewanya mencapai puluhan miliar per tahun.

Mungkin karena Lorraine terlalu lama diam, Dilla meninggikan suara. "Ada satu hal lagi. Beberapa hari lalu aku pergi belanja sama beberapa nyonya lain. Salah satu dari mereka bilang dia melihat Delvin jalan-jalan sama wanita lain."

Lorraine terisak. "Bu, kalau ... kalau Delvin benar-benar selingkuh, aku akan cer ...."

Kalimatnya bahkan belum selesai, Dilla langsung memakinya habis-habisan.

"Lorraine, otakmu rusak apa gimana? Kamu itu tuli, cacat, bisa menikah sama Keluarga Hermanto saja sudah keberuntungan dari beberapa kehidupanmu! Banyak orang yang pengin keberuntungan seperti itu saja nggak bisa dapat, kamu malah mau buang kesempatan begini?"

"Aku kasih tahu ya, jangankan selingkuh, bahkan kalau wanita itu datang sambil hamil besar, kamu tetap harus melayaninya selama masa nifas! Selama posisi Nyonya Hermanto masih bisa dipertahankan, berarti kemewahan seumur hidup juga tetap terjamin! Kalau kamu meninggalkan Delvin, Aston, kamu, aku, Om Margo, kita semua bakal mati kelaparan!"

Suara tajam Dilla menembus ponsel hingga terdengar oleh sopir.

Melalui kaca spion, sopir memandang Lorraine dengan tatapan simpati dan kasihan. Lorraine terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Kalau begitu, mati saja semuanya."

Setelah itu, dia langsung menutup telepon. Lorraine mengangkat tangan menghapus jejak air mata dingin di wajahnya, lalu menelepon nomor lain.

"Perjanjian pranikah yang kutandatangani dengan Delvin sebelum menikah masih ada sama kamu, 'kan? Tolong bantu buatkan juga surat perjanjian perceraian. Besok sekalian bawakan ke sini."

Orang di seberang sana langsung menyanggupi.

Lorraine tersenyum pahit. Delvin mungkin sudah lupa. Dulu sebelum mereka menikah, demi menunjukkan kesetiaannya kepada Lorraine, Delvin bersikeras menandatangani sebuah perjanjian.

Isinya mengatakan bahwa jika Delvin berselingkuh selama pernikahan mereka berlangsung, maka seluruh harta atas namanya, akan menjadi milik Lorraine. Dia tidak akan mengambil sepeser pun dan akan keluar dari rumah tanpa membawa apa-apa.

....

Lorraine duduk di ruang tamu hingga pukul dua dini hari, barulah Delvin pulang. Saat melihat wanita yang duduk di bawah cahaya lampu redup itu, Delvin tampak terkejut dan berjalan mendekat.

[ Kenapa belum tidur? Bukannya aku sudah bilang malam ini lembur? ]

Jemari pria itu yang panjang dan indah bergerak di udara, membentuk lengkungan elegan.

Lorraine tiba-tiba teringat tahun itu, ayahnya meninggal demi menyelamatkan Delvin. Lorraine kehilangan pendengarannya karena trauma.

Delvin belajar bahasa isyarat sendiri dan bergadang tanpa henti. Hanya dalam waktu satu bulan, dia sudah menguasai bahasa isyarat dengan lancar, bahkan mengajarkannya kepada Lorraine dan adiknya, Aston.

Saat itu, Delvin mengatakan akan memperlakukannya dengan baik seumur hidup. Lorraine mengangkat kepala, menatap bekas merah yang samar di leher Delvin.

"Capek?"

Delvin tertegun, lalu tersenyum lebar. Dia menggenggam jemari Lorraine dan menciumnya.

Tak lama kemudian, dia mengeluarkan sebuah gelang bagaikan sulap. Di bawah cahaya lampu redup, berlian di gelang itu berkilau cemerlang. Itu adalah hadiah ke-666 yang diberikan Delvin kepada Lorraine selama dua tahun pernikahan mereka.

Delvin sendiri yang memasangkan gelang itu di tangan Lorraine.

[ Cocok sekali. Cantik. ]

Tatapannya begitu lembut, sementara sudut mata Lorraine mulai basah. Awalnya dia mengira itu adalah pengulangan cinta yang ke-666 kalinya.

Siapa sangka ....

Ternyata itu adalah rasa bersalah dan kompensasi setelah 666 kali perselingkuhan. Lorraine menarik kembali tangannya. Dia tersenyum tanpa suara dan berkata, "Kamu masih ingat tiga hari lagi hari apa?"

Delvin dengan sabar menggerakkan jemarinya.

[ Perusahaan akan resmi go public, nilainya akan berlipat ganda, dan juga hari ulang tahun pernikahan kita yang kedua. Lorraine, nanti aku akan kasih kamu hadiah. ]

Lorraine mengangguk. "Aku juga sudah siapkan hadiah besar untukmu."

Sebuah hadiah ... yang membebaskanmu.

Hadiah agar Delvin tak perlu lagi diam-diam pergi tidur dengan Vanessa. Delvin menepuk punggung tangan Lorraine.

[ Tidurlah lebih awal. Besok hari peringatan kematian Om. Kita pergi ziarah ke makamnya. ]

....

Keesokan harinya. Salju turun deras.

Di perjalanan menuju pemakaman, ponsel Delvin berdering. Selama bersama Delvin, Lorraine tidak pernah memakai alat bantu dengar. Karena itu, Delvin tidak menghindarinya. Dia langsung mengangkat telepon.

"Ada apa?"

Suara Vanessa terdengar penuh ketakutan. "Kakak, tetangga pemabuk itu datang mengetuk pintu lagi. Aku takut sekali. Kamu bisa datang ke sini?"

Delvin sedikit mengernyit. "Aku suruh Owen yang ke sana tangani."

Dalam nada bicara Vanessa terselip kekecewaan samar yang sulit disadari. Dia menjawab patuh, "Baiklah, Kakak."

Telepon pun ditutup.

Lorraine menggenggam ujung bajunya, lalu menghibur dirinya sendiri dengan getir. Untung saja ... Delvin sepertinya masih menyimpan rasa terima kasih pada ayahnya.

Lorraine menghela napas lega.

Mobil melaju stabil bahkan belum sampai dua menit, ponsel Delvin kembali berdering. Dia mengernyit sambil mengangkat telepon.

Masih suara Vanessa yang lembut dan manja, "Kakak, aku takut ... dia sedang coba membongkar kunci pintu ...."

Delvin langsung menginjak rem mendadak. Lorraine yang tidak siap langsung terdorong ke depan dan hampir membenturkan dahinya.

Begitu mobil berhenti stabil, tubuhnya kembali tertarik oleh sabuk pengaman. Guncangan hebat itu membuat kepala Lorraine pusing. Dia mengernyit, lalu memandang Delvin dengan tatapan tenang.

Ekspresi Delvin melunak.

[ Lorraine, maaf sekali. Ada urusan mendadak di perusahaan hari ini. Sepertinya aku nggak bisa pergi ziarah sama kamu. Aku akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin lalu menyusulmu. ]

Di hati Lorraine muncul kesedihan. Dia tersenyum penuh pengertian dan berkata, "Nggak apa-apa. Pergilah urus pekerjaanmu."

Wajah Delvin dipenuhi rasa bersalah. Dia tak kuasa mengangkat tangan, ingin mengusap rambut Lorraine sebagai bentuk penghiburan. Namun, Lorraine menghindar.

Tangan Delvin menyentuh udara.

Telapak tangannya terasa kosong, dan entah kenapa hatinya juga ikut terasa hampa. Namun, Delvin tidak memikirkannya lebih jauh. Dia membukakan pintu mobil untuk Lorraine.

Lorraine turun dari mobil dan Delvin langsung melesat pergi dengan tidak sabar. Tangan Lorraine yang terulur menggantung di udara.

"Eh ...."

Mantelnya masih tertinggal di dalam mobil.

Angin dingin yang menusuk tulang menerpa tubuhnya, membuat Lorraine menggigil hebat.

Setelah naik taksi, Lorraine tiba di makam ayahnya. Dia mencabuti rumput liar di sekitar makam. Membakar dupa dan uang kertas persembahan untuk ayahnya. Lalu, akhirnya duduk lelah di depan makam dan berceloteh panjang menceritakan banyak hal kepada ayahnya.

Sampai sebuah bayangan menutupi tubuhnya dari belakang, barulah Lorraine berbalik.

"Pak Lervi, barang yang kuminta tolong untuk dibawakan ... sudah dibawa?"

Pengacara itu mengangguk. Dia melirik salju yang menumpuk di kepala dan bahu Lorraine, lalu buru-buru membuka tas kerjanya dan menyerahkan dokumen perjanjian itu kepada Lorraine.

Lorraine menerimanya dengan kedua tangan, ujung jarinya terasa dingin. "Terima kasih."

Lervi hendak mengetik sesuatu di ponsel agar Lorraine bisa membacanya. Namun, Lorraine mendongak. "Kamu bicara saja, aku sudah bisa mendengar."

Lervi terkejut tak percaya. "Kamu sudah bisa mendengar suara?"

Lorraine mengangguk pelan. Lervi berpikir sejenak, lalu berkata dengan tulus, "Pak Shandy pernah kasih aku kesempatan besar dalam hidup. Sekarang Bu Lorraine yang membesarkan putranya, jadi aku punya kewajiban membantu Ibu. Kalau Ibu butuh pengacara, bisa cari aku kapan saja."

Lorraine mengangkat wajahnya. Wajah mungilnya yang cantik bak boneka dipenuhi kesedihan.

"Terima kasih."

Seolah melihat kebingungan di mata Lorraine, Lervi berkata pelan, "Ketika seseorang dijadikan sebagai keyakinan hidup, saat keyakinan itu runtuh, orang memang akan kehilangan arah."

Keyakinan ....

Ya.

Selama ini Delvin selalu menjadi keyakinannya.

Menjadi hidupnya.

Dulu ... tepat di tempat dia duduk sekarang ini. Delvin menulis sumpah di tanah dengan tatapan yang penuh amarah dan duka.

[ Lorraine, nyawa Om Benny akan kubayar dengan seluruh hidupku. Nyawaku ini milikmu! ]

Lorraine tidak pernah menginginkan nyawa Delvin.

Namun, Delvin ... malah mengambil setengah nyawanya.

Ponselnya bergetar, Lorraine mengeluarkannya dan melihat pesan dari Delvin.

[ Lorraine, ada sedikit masalah di rumah Vanessa. Aku bawa dia pulang ke rumah kita untuk tinggal beberapa hari. ]

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Fitri Ati
Fitri Ati
Suka, alur ceritanya menarik... lanjut dong kk bab berikutnya
2026-06-04 10:00:23
0
0
PULMONOLOGI 10 USK
PULMONOLOGI 10 USK
Bagus jalan ceritanya, suka...
2026-06-04 09:43:47
1
0
62 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status