Share

Menolong Penyekap.

Penulis: Azzurra
last update Tanggal publikasi: 2026-02-20 16:06:13

Dalton mendongak, matanya bertemu dengan mata Ana yang sedang menangis di lantai dua. Dalton tidak merasa menang, dia hanya menatap Ana dengan tatapan yang seolah berkata, “Lihat, itulah pria yang ingin kamu nikahi.”

Setelah Adrian diusir, Dalton berjalan menuju lantai dua. Dia masuk ke kamar Ana. Ana langsung berdiri, emosinya campur aduk antara benci pada Adrian, takut pada Dalton, dan rasa hancur yang luar biasa.

"Kamu mendengarnya sendiri, bukan?" tanya Dalton pelan.

"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Ana lirih. "Kenapa kamu harus menghancurkan hidupku sampai ke akar-akarnya? Aku hanya menolongmu, Dalton! Itu tugas profesiku!"

Dalton mendekat, menghapus air mata di pipi Ana dengan ibu jarinya yang kasar. Kali ini, Ana tidak menghindar. Dia terlalu lelah untuk melawan.

"Karena kamu terlalu suci untuk berada di dekat orang-orang seperti dia, Anastasia. Dan terlalu berani untuk dibiarkan sendirian di dunia yang kejam ini."

"Jadi sekarang apa? Kamu akan menikahiku? dan mengurungku di sini? tanya Ana sinis, meski suaranya bergetar, khawatir Dalton mengiyakan.

Dalton menatapnya dalam-dalam. "Aku tidak akan memaksamu ke pelaminan seperti yang pria itu lakukan. Tapi aku akan membuatmu menyadari satu hal ..."

"Apa?"

"Bahwa satu-satunya pria yang bisa melindungimu dari iblis di dunia ini adalah iblis yang lebih besar. Dan perlu kamu ingat Ana, jika aku menginginkan maka pasti akan aku dapatkan. Sekarang istirahat lah, besok aku antar kamu pulang."

Ana meneguk ludahnya susah payah, "Apa bedanya dengan dengan apa yang kamu lakukan saat ini?"

"Jelas beda, Dokter. aku mau kamu menerimaku dengan tulus."

Ana mendengus. "Dasar psikopat, pemaksaan." Ana masuk ke dalam kamar, dan lelaki ini mengikuti di belakang, “Kamu ingin tidur di sini juga? Memanipulasi kesedihanku?” sinis Ana.

Bibir Dalton tersinggung, “Aku iblis tapi tak akan pernah memanipulasi wanita yang ku cinta.”

Ana mendengus, tak percaya ucapan lelaki di hadapannya.

“Istirahat lah, Dok.” Dalton duduk di pinggiran ranjang lalu menyelimuti Ana yang sudah berbaring.

Netra mereka bertemu, Dalton mendekat ingin mencium Ana, tetapi Ana segera memalingkan wajah, bahkan ciuman lelaki ini kemarin masih terasa di bibir Ana.

Dalton tersenyum menyeringai, mencengkeram rahang Ana lalu mencium paksa bibir kemerahan milik Ana.

"Ishhh ... pemaksaan." Ana berteriak sambil memukul dada liat lelaki berpostur tegap ini, setelah Dalton melepas ciumannya.

Bagi Dalton tak menerima penolakan. Lelaki ini bangun dari ranjang, "Tidur yang nyenyak, Dok." Dalton bangun dari duduk berjalan ke arah pintu, belum sampai di depan pintu kamar, tiba-tiba suara alarm keamanan mansion berbunyi nyaring. Lampu merah berkedip di seluruh ruangan.

"Tuan! Kelompok serikat pelabuhan melakukan serangan balasan! Mereka tahu Anda sedang terluka dan mencoba mengepung mansion!" teriak anak buah Dalton dari luar pintu.

Dalton langsung menghampiri Ana lalu menarik Ana ke belakang tubuhnya. Dia mengeluarkan senjata api dari balik pinggangnya dengan gerakan yang sangat terlatih. Sifat protektifnya meledak.

"Tetap di belakangku, Anastasia," perintah Dalton. "Jangan lepaskan bajuku sedikit pun. Jika kamu ingin selamat, percayalah pada monster ini."

Suara rentetan tembakan memecah keheningan malam di bukit itu. Kaca-kaca jendela mansion hancur berkeping-keping terkena peluru. Ana menjerit, instingnya adalah meringkuk, namun tangan Dalton yang kuat mencengkeram lengannya, menariknya keluar kamar ke koridor yang lebih terlindung.

"Tetap rendah! Jangan berdiri sebelum aku katakan!" perintah Dalton. Suaranya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, justru ada gairah gelap di matanya.

"Mereka siapa, Dalton?!" tanya Ana di sela-sela dentuman senjata.

"Orang-orang yang ingin mengambil alih pelabuhan saat tahu aku terluka. Mereka pikir aku sedang dalam kondisi lemah," Dalton mengisi ulang pelurunya dengan bunyi klik yang mematikan.

"Mereka salah besar."

Tiba-tiba, seorang anak buah Dalton, seorang pemuda yang tampak masih sangat muda, terjerembap di depan mereka. Bahunya merembes darah terkena peluru. Dia mengerang kesakitan, mencoba menahan luka itu dengan tangan yang gemetar.

"Dika!" Dalton berseru, namun dia tidak bisa berhenti menembak membalas serangan dari arah tangga.

Ana melihat pemuda itu. Insting dokternya lebih kuat daripada rasa takutnya pada peluru. Tanpa sadar, dia melepaskan pegangannya pada baju Dalton dan merangkak menuju pemuda yang terluka itu.

"Ana! Kembali!" teriak Dalton.

"Dia akan mati kehabisan darah jika lukanya tidak ditekan sekarang!" sahut Ana, dia merobek kain gorden sutra di dekatnya, melilitkannya kuat-kuat di bahu Dika. "Tahan, Dik. Bernapaslah. Jangan tutup matamu!"

Mata Ana mencari-cari dan apa yang dia cari dia dapat. Dengan gerakan cepat dia meraih kotak p3k yang tersedia di pojok ruangan. Di tengah hujan peluru, Ana melakukan apa yang dia kuasai, menyelamatkan nyawa.

Dalton yang melihat itu tertegun sejenak. Di tengah kekacauan yang penuh kebencian ini, Ana adalah satu-satunya cahaya yang membawa kemanusiaan, dia tetap mau menolong.

Dalton berdiri di depan Ana, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng hidup agar tidak ada peluru yang mengenai wanita itu. Dia menembak dengan akurasi mematikan ke arah penyerbu yang mencoba mendekat.

"Kamu gila, Dokter," gumam Dalton di tengah desing peluru, matanya tetap waspada ke depan. "Benar-benar gila."

"Dan kamu penjahat yang berisik! Diam dan lindungi aku selagi aku menjahit luka orang ini!" balas Ana, kembali cerewet meski tangannya berlumuran darah.

Serangan itu berhasil dipatahkan setelah bantuan dari unit utama The Obsidian Syndicate datang.

Mansion itu kini berantakan, lubang peluru di mana-mana, dan aroma mesiu memenuhi udara.

Ana terduduk lemas di lantai aula, tangannya masih memegang alat medis darurat. Dia berhasil menyelamatkan tiga anak buah Dalton malam itu.

Dalton mendekat. Dia terluka lagi, goresan peluru di lengannya membuat kemeja hitamnya sobek, tapi dia seolah tidak merasakannya. Dia berdiri di depan Ana, menatap wanita itu yang tampak kacau dengan rambut berantakan dan noda darah di wajahnya.

"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Dalton pelan. "Kamu bisa saja membiarkan mereka mati. Mereka adalah orang-orang yang membantuku menyekapmu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
alxandria310182
Ana punya empati tinggi, Dalton jiwa setannya kental, bertolak belakang banget. Lanjut penasaran akhirnya gmn
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Akhir Perjalanan.

    Sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Di beranda belakang yang menghadap ke kolam ikan, Dalton sedang menggendong baby Aurora di pangkuannya. Meskipun luka tembak di tubuhnya sudah jauh membaik, Dalton masih betah duduk di kursi santai, menikmati perhatian lebih dari sang istri. Ana berjalan mendekat sambil membawa secangkir teh Roselle hangat kesukaannya. Langkah kakinya ringan, dan senyum di wajah cantiknya memancarkan kedamaian yang seutuhnya. Setelah meletakkan cangkir di meja, Ana mengambil alih Aurora yang sudah mulai mengantuk, lalu menidurkannya sejenak di stroller di samping mereka. Setelah bayinya terlelap, Ana kembali mendekati Dalton. Bukannya duduk di kursi sebelah, Ana justru bersedekap di depan Dalton sambil menyipitkan mata indahnya, menatap sang suami dengan pandangan menyelidik yang penuh godaan. "Tuan Dalton..." panggil Ana, nadanya sengaja dibuat seformal mungkin tapi sarat akan sindiran manja. "Ini sebenarnya kamu itu memang masih sakit, atau cuma pura-

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Menuju Akhir.

    Gelak tawa renyah terdengar di ruang makan yang hangat itu, mengikis sisa-sisa ketegangan yang sempat mereka bawa lintas benua.Julian dan Mikail saling pandang, lalu tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidup mereka, rasa aman yang hakiki itu benar-benar nyata. Bukan aman karena dikelilingi senjata atau barikade hukum, melainkan aman karena mereka tahu, mereka berada di tengah orang-orang yang tulus menyayangi mereka."Biarkan saja dia pergi, kemarin di Jenewa pun dia sesekali terlihat memandang foto yang dia simpan di sakunya." Sahut Mikail sambil terus mengunyah makanannya. "Pria sedingin Daniel juga butuh kehangatan. Lagipula, menghadapi dokter yang sedang merajuk jauh lebih sulit daripada meretas sistem keamanan tingkat tinggi."Dalton terkekeh, jemarinya mengetuk sandaran kursi roda dengan santai. "Kau benar, Mikail. Dan untuk kalian berdua ... selamat datang di rumah yang sesungguhnya. Mulai hari ini, Obsidian, Sam, dan semua bayang-bayang masa lalu itu

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan dengan Mama

    "Pesawat sudah lepas landas," ucap Daniel begitu sambungan terhubung. "Target aman secara fisik, tapi mental mereka terguncang ,mengetahui kenyataan.""Aku sudah menduganya," jawab Dalton di seberang sana, suaranya terdengar datar namun ada nada kelegaan yang terselip. "Sam selalu tahu cara menanamkan keraguan. Apa yang dia katakan pada mereka?"Daniel melirik ke arah kabin belakang tempat si kembar berada. "Dia menggunakan kartu 'kewajiban darah'. Dia mengatakan bahwa Maria-lah yang memisahkan mereka secara paksa. Mikail mulai mempertanyakan alasan di balik semua rahasia ini, sementara Julian tetap teguh pada komandonya—tapi aku tahu dia pun mencari kepastian.""Sam mencoba memutarbalikkan sejarah untuk menyelamatkan dirinya sendiri," sahut Dalton dingin. "Tapi dia lupa bahwa bukti finansial dan perlindungan yang di berikan ibu selama puluhan tahun lebih nyata daripada sekadar kata-kata manis tentang DNA.""Mereka ingin bertemu Maria segera setelah mendarat," Daniel memberi peringata

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kabut di Kepala.

    Mobil terus melaju membelah jalanan Jenewa yang mulai sepi. Cahaya lampu jalan masuk bergantian lewat jendela, menerangi wajah Mikail yang tampak gelisah. "Apakah kita salah meninggalkannya sendiri?" gumam Mikail, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin, namun telinga tajam Julian menangkapnya. Julian menoleh sedikit, matanya masih menatap jalanan yang basah. "Dia meninggalkan kita lebih dulu, Mikail. Tanpa Maria, kita tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Kita mungkin hanya akan menjadi pion di papan caturnya." "Tapi dia bilang Maria yang memisahkan kita," ucap Mikail lagi. Kalimat Sam tentang Maria yang menyembunyikan mereka terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Sebagai pengacara, Mikail terbiasa melihat dua sisi cerita, dan keraguan itu mulai menyelinap. Daniel, yang duduk di kursi depan, tetap diam. Ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut si kembar. Ia tahu mereka sedang dalam persimpangan, mereka belum mengenal Maria juga belum mengetahui tentang mas

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan dan Penolakan.

    "Jarak tak menghalangiku untuk menghancurkan mu, Sam," jawab Dalton melalui sistem komunikasi yang telah ia retas sepenuhnya. "Kau bilang kau yang menciptakan Julian dan Mikail? Tidak. Kau hanya menyumbangkan darah. Maria-lah yang menghidupi mereka, kau tak berhak atas hidup mereka."Mikail dan Julian terhenyak mendapati kenyataan lelaki tua di hadapannya ini adalah benar-benar ayahnya. Tiba-tiba, layar laptop Mikail yang tadinya menampilkan file dari Sam, berubah menjadi tampilan radar satelit yang mengunci koordinat dermaga itu. "Mikail, jalankan protokol 'Ghost Protocol' yang sudah aku tanam di sistem mu," perintah Dalton tegas. Tidak memberikan Mikail waktu untuk berfikir. Mikail, yang otaknya bekerja secepat kilat, langsung mengerti. Jari-jarinya menari di atas keyboard. "Protokol aktif, Kak!" Dalam hitungan detik, semua ponsel dan alat komunikasi para pengawal Sam mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga, diikuti dengan matinya semua lampu dermaga secara total.

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan

    Malam itu, Danau Jenewa diselimuti kabut tebal yang merayap dari permukaan air menuju dermaga kayu tua yang nampak rapuh. Suara ombak yang menabrak tiang-tiang dermaga menciptakan irama yang mencekam, seolah sedang menghitung mundur ledakan konflik yang tak terelakkan. Daniel berada di posisinya, mendekam di balik tumpukan kontainer tua yang menghadap langsung ke dermaga pribadi itu. Napasnya teratur, namun matanya tak lepas dari teropong malamnya. Ia sudah meminum dosis terakhir obat dari Dokter Obsidian, membuat indranya bekerja berkali-kali lipat lebih tajam. "Julian, Mikail, posisi kalian?" bisik Daniel melalui earpiece terenkripsi. Mereka merencanakan penyergapan ini beberapa hari setelah Daniel bertemu Mikail di galeri lukis tempo hari. "Aku di titik buta, arah jam dua dari dermaga. Sniper sudah siap, tapi aku hanya akan menembak jika kau memberi aba-aba," suara Julian terdengar dingin dan stabil. "Aku di dalam kabin kecil di ujung dermaga," timpal Mikail. Di depannya, l

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Mencari Jejak Sang Iblis

    Bab 4 Mencari Jejak Sang Iblis.Dalton Obsidian duduk di depan meja bar. Jemarinya mengaduk minuman di dalam gelas lalu meminum sekali tenggak. “Awasi saja dia, Adrian tak pantas bersanding dengan wanita itu, dia harus jadi milikku.” Mata gelap Dalton seperti sedang menatap Anastasia - Dokter yang

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Hantu Dalam Kegelapan

    Bab 3 Gerakan tangan Adrian yang sedang merapikan dasi terhenti seketika. Raut wajahnya berubah sedikit tegang, meski hanya sekejap. "Dari mana kamu mendengar inisial dan nama itu?" "Tadi aku mendengar kamu menyebut namanya, dan pagi tadi di rumah sakit, aku melihat berita di televisi tentang kek

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Properti Of D

    Bab 2Ana menoleh ke arah cahaya lampu mobil yang mulai terlihat di ujung jalan, lalu menatap mata lelaki yang kini tak berdaya. Firasatnya mengatakan bahwa mobil itu adalah bahaya.Ana mendengus kesal, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang masih berlumuran darah."Demi Tuhan, aku

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Bayangan Di Ujung Lelah.

    Bab 1Uhh ...Ana merenggangkan tubuh, mulutnya menguap lelah. Aroma disinfektan dan obat-obatan masih tertinggal di penciumannya. Tiga belas jam. Rekor terbarunya berdiri di depan meja operasi, menjahit pembuluh darah halus di otak seorang pasien korban kecelakaan.“Ya Tuhan, capeknya,” gumam Ana.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status