Se connecterIvanka Biandra Kaveri tidak pernah membayangkan hidupnya akan ditukar dengan sebuah kontrak. Dalam satu malam, ia dipindahkan ke penthouse tertinggi di Obsidian Central, sebuah benteng kaca antipeluru yang lebih menyerupai sangkar emas daripada tempat tinggal. Di sanalah ia harus hidup di bawah kendali Byakta Dinadiyaksa Bagaspati. Pengusaha muda paling berpengaruh di kota. Penguasa sistem yang tak pernah tersentuh hukum. Pria yang dunia gelapnya jauh lebih dalam dari yang terlihat. Tapi semakin Ivanka mencoba melawan, semakin ia menyadari satu hal mengerikan, bahwa Byakta tidak mengikatnya dengan ancaman. Ia mengikatnya dengan perlindungan. Ketika sindikat Arkanza mulai bergerak, ketika masa lalu eksperimen manusia mulai terungkap, ketika pengkhianatan muncul dari orang terdekat, dan ketika rahasia lama keluarga mereka terkuak, Ivanka menemukan kenyataan bahwa kontrak ini bukan sekadar kesepakatan bisnis. Ia adalah bagian dari hutang lama. Bagian dari perang yang sudah dimulai sebelum ia lahir. Disaat dia brusaha menjauh, dia justru kembali mendapat kenyataan kalau semua penderitaan Byakta berpusat dari keluarganya.
Voir plusSebuah kota dengan gemerlap lampu yang mampu mengubah malam menjadi terang melebihi siang.
Avernal City, kota yang tidak pernah tidur di malam hari. Kota dimana kekuasan tertinggi dimenangkan oleh dia sang pemilik Black Harbour—Byakta Dinaniyaksa Bagaspati. Pria matang berusia 30 tahun yang sudah di latih menjadi manusia berdarah dingin semenjak dia lahir. Dia terkenal dingin, tak segan menghabisi lawannya, walau tanpa menyentuh atau mengotori tangannya. Di puncak gedung Bagaspati Grup, Byakta berdiri di depan jendela kaca setinggi langit-langit. Jas hitamnya masih terpasang rapi, ekspresinya tetap datar seperti biasa. Di bawah sana, lampu-lampu kota terlihat seperti seekor kunang-kunang yang bisa ia padamkan kapanpun ia mau. Pemadangan hangat dan gemerlap yang selalu memanjakan matanya setiap malam. Byakta menghirup napas sebanyak-bayaknya, seolah sedang melepas rindu pada tempat yang sudah satu minggu ini tidak dia lihat. “Pemandangan ini memang selalu membuatku tenang,” gumamnya pelan, seraya melonggarkan dasi. Pintu terketuk pelan. Tanpa menoleh, Byakta sudah tahu siapa yang selalu berani mengganggunya disaat seperti ini. “Dia menolak, Bos,” suara Rival—asisten sekaligus sekretaris Byakta yang khas dengan baritonnya, kini sudah berdiri tegap di belakang Byakta dengan wajah yang selalu ia tundukkan. “Maafkan saya, saya gagal membawanya.” “Ulangi.” Rival mengangguk seraya menarik napas gusar. “Nona Ivanka menolak tawaran akuisi kita,” jelasnya. “Dia tidak membeli perusahaan, tapi dia mengambil alih semuanya,” Rahang Rival mengeras, kedua tangannya terkepal kuat disisi tubuh. Kegagalan ini, seperti cambuk tak kasat mata untuknya. “Maaf saya telah mengecewakan.” Byakta menyunggingkan senyum khas pemburunya. Perlahan dia berbalik untuk menatap Rival yang sudah gemetar ketakutan. Dia tahu kalau Byakta bukan tipe orang yang mau menerima kegagalan, sekalipun dia memberi penjelasan. “Maaf, tapi-tapi apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Bos?” tanya Rival, “Apa kita biarkan saja dia? Dan mencari target lain?” Tatapan Byakta masih terlihat tenang, walau Rival sudah bisa menebak, ada sesuatu yang mulai berubah dari raut wajah sang bos. “Sejak kapan kamu jadi banyak bicara, Rival?” Rival kembali menundukkan kepalanya. “Maaf,” ucapnya pelan. “Jadwalkan ulang pertemuannya.” Rival mengangkat wajahnya ragu, keningnya berkerut beberapa saat. “U-untuk negosiasi ulang?” tanya Rival. “Ta-tapi, Bos, ini hanya akan—” “Tidak,” jawabnya dengan suara rendah. “Saya tidak suka mengulang,” lanjutnya. “Ini hanya untuk melihat dia secara langsung.” Benar saja, Byakta memang tidak pernah menerima kekelahan sekecil apapun. Tak lama, senyum simpul terbit di wajah datar Rival. Dia mengangguk pelan, lalu undur diri. Rival selalu menuruti apapun perintah Byakta, sekalipun itu harus memenggal kepala manusia. Dia tidak peduli dengan aturan ataupun dosa, karena perintah Tuannya ada di atas segalanya. Sedangkan disudut kota lain, Ivanka masih duduk di meja kerjanya. Wajahnya lelah dengan mata sayu karena kurang tidur. Dia meremas jemarinya. Dia ingin mengumpat dan meludahi orang tua sialan yang sudah merusak bisnis almarhum ibunya dalam sekejap mata. Dengan gerakan perlahan, dia menutup laptopnya. Wajahnya menengadah menatap.langit-langit yang di terangi cahaya temaram. Tarikan napas berat, lolos dari hidungnya. “Maaf, Iva udah gagal jaga peninggalan, Mama,” gumamnya pelan. Ruang kerja kecil itu terasa semakin sesak dan sempit. Dokumen hutang menumpuk di meja. Semua tagihan hutang jatuh tempo dalam hitungan minggu. “Apa kita benar-benar menolak mereka?” seorang laki-laki setengah tua datang dengan kondisi yang sama lelahnya. Ivanka tidak bergerak. Dia juga tisak langsung menjawab. Dia memijat keningnya dengan mata terpejam, lalu mengangguk samar. “Kalau kita menerima mereka, perusahaan yang kita bangun susah payah ini bukan lagi milik kita,” ujar Ivanka ragu. Ivanka sendiri bahkan belum tahu, kalau keputusannya ini benar atau tidak, dia hanya refleks menolak Bagaspati karena tahu sisi gelap dari kepemimpinan mereka. “Mereka hanya akan menjadikan kita mainan. Dan aku tidak suka dipermainkan.” “Tapi Bagaspati bukan lawan yang kecil, Ivanka.” “Aku tahu,” Ivanka bangkit dari duduknya. Merapikan dukumen-dokumen sialan itu dengan kasar. “Bahkan semua orang juga tahu kegilaan Bagaspati seperti apa, tapi aku tetap tidak akan menyerahkan bisnis ini begitu saja.”Kaveri menatap Byakta beberapa detik. Tatapan itu bukan sekadar dokter pada pasien—melainkan seorang ayah yang sedang menimbang seberapa banyak kebenaran yang harus dia sampaikan.“Kita butuh ruang operasi utama. Sekarang,” ujarnya tegas. “Dan donor darah yang kompatibel. Kehilangan darahnya terlalu banyak.”Ivanka langsung menegang. Dia menatap sang ayah lebih dalam. “Golongan darahnya apa?”“O negatif,” jawab Kaveri cepat. “Dan stok kita menipis. Apa kita bawa dia ke rumah sakit—”“Tidak mungkin!” potong Byakta. “Ini terlalu beresiko. Lagi pula, peralatan di ruang operasi kita juga sudah lengkap.”Byakta langsung berdiri lebih tegak, meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. “Ambil punyaku. Darahku sama dengan Rival.”Kaveri langsung menggeleng tegas. “Tidak bisa. Kondisimu tidak stabil. Tekanan darahmu turun, dan—”“Aku bilang ambil,” potong Byakta dingin. “Jangan pernah membantah di situasi seperti ini.”Nada itu membuat beberapa orang di lorong langsung diam. Namun Kaveri tida
“Kamu ingat Rendra?” tanya Byakta. Ivanka tidak menjawab. Namun tatapannya sudah cukup menjadi sebuah jawaban. “Dia bahkan mencari jawaban itu. Dia terus mencari obat penawar dari mereka. Tapi apa yang dia dapatkan? Dia hanya diperbudak untuk bisa mendekatiku. Mengambil semua sistem yang ada di kepalaku. Dan mati sia-sia.” Byakta melangkah mendekat. Dia memiringkan wajahnya dengan mata yang masih tetap tajam. “Kalau kamu tidak percaya, kenapa kamu tidak tanyakan saja pada Kaveri,” ujar Byakta. “Kamu bahkan tidak mempercayai ayahmu sendiri. Dan lebih percaya pada orang baru?” “Dan kalau tidak dilepas?” tanya Ivanka. Byakta menghela napas panjang. Dia lupa kalau wanita di depannya memang selalu saja penasaran. “Aku mati,” tukasnya. “Aku akan mati, Ivanka. Itu lebih baik daripada hidup menjadi orang bodoh dan cacat mental.” Jawabannya sederhana. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang seharusnya rumit. Ivanka menunduk. Tangannya mengepal tanpa sadar. “Jadi kamu memilih
“Sedang apa?” Ivanka tahu itu suara milik siapa. Namun dia enggan untuk menoleh. Byakta kini sudah berdiri di sampingnya. Menatap lurus ruang medis tempat Rival sedang ditangani. “Masih merasa bersalah?” tanya Byakta dingin. “Rasanya percuma kalau harus merasa bersalah sekarang.” “Aku sudah bilang, kamu tidak tahu medan apa yang kamu injak, dan siapa yang kamu hadapi,” lanjutnya. “Tapi lihat… kamu tetap egois dan merasa paling benar. Dengan alasan ingin menolongku?” Byakta terkekeh hambar. Dia menggelengkan kepala tak percaya. “Aku bingung, sampai kapan kamu akan terus egois seperti ini?” Ivanka menarik napas panjang. Dia tidak mau membantah. Karena semua yang dikatakan Byakta memang benar. Kalau saja dia Rival tidak datang dan mengorbankan dirinya, mungkin yang akan hancur adalah mereka berdua. Yang akan terparing atau bahkan mati, adalah mereka berdua. Dia memejamkan mata cukup lama. “Kalau memang aku egois, kamu apa?” tanya Ivanka membuat Byakta mengernyit samar.
“Jadi benar,” gumamnya pelan. Ivanka langsung menegang. “A-apa maksud—” “Kamu di sini karena anakku. Kamu di sini karena kamu mencintai Byakta? Kamu berbuat sejauh ini karena kamu mencintai Byakta?” Kalimat itu jatuh seperti vonis. Ivanka tidak bisa menyangkal. Tidak bisa juga mengiyakan. Karena bahkan dia sendiri belum sepenuhnya memahami perasaannya. Bagaspati menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya pelan. “Masalahnya,” lanjutnya, “anakku bukan orang yang bisa kamu selamatkan. Dan anakku sulit untuk kamu gapai. Kamu tidak akan sanggup.” Ivanka menatapnya lebih lama. Dia tahu kalau kasta mereka mungkin berbeda. Dan mungkin itu maksud dari ucapan Bagaspati. Entah kenapa, dia tidak peduli. “Aku tidak mencoba menyelamatkan dia,” balasnya cepat. “Aku—” “Jangan boho
Ivanka menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang dengan mata terpejam. Seharusnya, yang dirasakan adalah kelegaan, tapi ini justru kegelisahan. Pikirannya masih terus berpusat pada ekspresi Byakta yang jauh berbeda. Dia tidak lagi penuh obsesi. Dia seperti sudah pasrah dengan semua yang terjadi.
Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa nyeri yang menyiksa. Ini adalah cinta pertamanya. Dan kegagalan pertamanya juga. Pintu lift terbuka. Tepat ketika kakinya hendak melangkah, Byakta langsung bertemu tatap dengan Ivanka yang memang sudah menunggu
Ivanka kembali menatap Byakta. Membelai rambut pria itu yang sudah sedikit basah oleh keringat. Napasnya masih berat meski sudah lebih stabil. Tanpa sadar, Ivanka mengambil tisu dari meja kecil dan menyeka keringat di dahinya. Gerakan itu membuat Rival menaikkan sebelah alis. Dia tida
Tubuh Byakta berada tepat di depannya, tindakan yang cukup protektif dan tanpa keraguan. Ia berdiri sedikit menyamping, seolah menjadi penghalang antara Ivanka dengan ruangan gelap di depannya. “Generator akan aktif dalam tiga puluh detik,” katanya rendah. “Tidak usah takut.” Suara langkah peng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires