LOGINRindu yang awalnya ingin membuat Hanum merasa kesal dengan mengirim foto Seno yang berada di dekapannya buru-buru menarik pesannya lagi. Gadis itu tidak ingin terang-terangan menabuh genderang perang dengan Hanum. Dia tidak ingin membuat semuanya berakhir dengan mudah. Hubungan ini masih harus dirahasiakan.Biarkan Hanum dihantui rasa penasaran dengan perubahan sikap Seno. Rindu ingin wanita itu sendiri yang mencari tahu apa yang terjadi pada suaminya. Dan pelan-pelan Rindu akan membuka perselingkuhan mereka melalui Seno.Kali ini Rindu kembali menjadikan Seno sebagai batu loncatan. Setelah berhasil membuat pria itu jatuh cinta padanya, dia juga akan memanfaatkan perasaan Seno untuk memenuhi kebutuhan balas dendamnya.Rindu tahu jika apa yang dia lakukan memang terdengar jahat. Tapi hanya inilah satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya untuk bisa membalaskan dendam pada Hanum. Dengan menggunakan Seno sebagai pelaku utama untuk membuat hidup Hanum sengsara.Rindu yakin, wanita itu be
Hujan terus mengguyur dengan begitu derasnya tiada henti. Sudah lebih dari satu jam, tapi tak ada tanda-tanda hujan akan segera reda. Ditambah petir yang menyambar dengan suara menggelegar. Membuat suasana siang ini begitu mencekam.Tapi semua itu tidak dirasakan oleh pasangan kekasih yang saat ini tengah bermesraan di dalam kamar. Siapa lagi kalau bukan Rindu dan Seno yang masih betah berpelukan di atas ranjang tanpa melakukan aktivitas apapun.Hawa dingin yang menusuk kulit membuat mereka enggan untuk beranjak. Keduanya lebih memilih menghangatkan diri dengan saling berpelukan. Dan sesekali mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman.Sesekali tangan Seno akan dengan nakal menyelinap masuk ke dalam pakaian yang Rindu kenakan. Meremas gundukan kenyal yang menjadi favoritnya.Tentu Rindu membiarkan hal itu terjadi. Dia tidak merasa risih karena telah terbiasa dengan sentuhan yang Seno berikan pada tubuhnya. Bahkan dirinya sendiri yang terkadang memintanya pada pamannya itu."Emnh..
Hanum mendengus karena merasa kesal setelah berbicara dengan Rindu beberapa waktu lalu. Entah kenapa semakin hari rasa bencinya pada keponakannya itu semakin menjadi-jadi. Semua tingkah laku Rindu selalu salah di matanya.Mungkin itu terjadi karena dia merasa benci dengan kedua orang tua gadis itu. Bagaimanapun Hanum masih belum berdamai dengan masa lalunya yang merasa iri dengan pencapaian mendiang kakaknya, Heru. Tidak ada raut menyesal dari wajah Hanum ketika mengingat akan sang kakak. Wanita itu terlalu dibutakan oleh kedengkian sampai membuatnya gelap mata.Kembali pada Hanum saat ini, wanita itu tampak berdandan rapi karena hendak menghadiri arisan di RT sebelah. Tentu saja seluruh perhiasan yang dia miliki tidak ketinggalan. Wajar jika Rindu sempat mengatakan jika wanita itu tampak seperti penjual emas dengan penampilannya yang seheboh ini.Dengan mengendarai motor NM*x merahnya, Hanum melenggang pergi tanpa merasa curiga dengan gerbang rumahnya yang terbuka lebar. Mungkin saj
Tubuh Rindu terasa remuk karena permainan panas yang baru saja selesai beberapa menit lalu bersama Seno. Sekarang sang paman tampak tertidur pulas di dalam pelukannya yang hangat. Gurat kelelahan tergambar jelas di wajahnya yang tampan. Sepertinya semalam pria itu kurang istirahat, tebak Rindu.Tangan mungil Rindu terulur mengusap surai gelap Seno dengan lembut. Gadis itu dapat melihat beberapa ruas rambut sang paman yang mulai memutih. Seakan menyadarkan pada dirinya jika usia sang paman sudah tidak muda lagi.Jarak usia dirinya dengan Seno lebih dari 20 tahun. Pria itu sudah cukup tua untuknya yang masih berada di awal 20-an. Tapi hal itu bukan menjadi penghalang bagi cupid untuk melontarkan panah asmaranya. Nyatanya perbedaan usia tak jadi masalah bagi Seno dan juga Rindu."Kenapa aku justru jatuh cinta pada lelaki ini?" gumam Rindu menatap lembut wajah tampan Seno di dalam lelapnya.Rindu tidak pernah menduga jika dirinya akan berakhir seperti ini. Berawal dari rencana balas denda
Seno semakin gelap mata begitu mendengar ucapan Rindu. Tenggorokannya serasa dicekik yang membuat suaranya tercekat. Ucapan gadis di bawah kungkungannya itu benar-benar mampu membuat pikirannya buntu.Tanpa berkata-kata lagi, Seno kini mulai memposisikan wajahnya di depan pintu surgawi Rindu. Jakunnya tampak naik turun ketika melihat betapa indahnya milik sang gadis yang merah merekah.Rindu menggigit ujung jarinya menekan rasa malu yang hadir ketika mendapati posisi dirinya yang begitu terbuka. Kedua pahanya menekuk dengan kaki mengangkang lebar. Mempertontonkan bagian intimnya pada sang paman."Paman.." lirih Rindu resah.Seno mendongak dengan mata menggelap. Sudut bibirnya membentuk seringai mesum yang berhasil membuat milik Rindu makin berkedut.Tak ingin menyia-nyiakan waktu lebih lama, Seno mulai menyurukkan wajahnya ke depan. Menghirup dalam-dalam aroma memabukkan yang menguar dari inti Rindu. Sebelum kemudian menjulurkan lidahnya membelai labia gadis itu."Ouchhh.." Rindu meng
Rindu menatap Seno dengan pandangan sayu. Gejolak di dalam dirinya kian menguat, seiring dengan sentuhan-sentuhan lembut yang gencar Seno layangkan padanya. Membuat dirinya menjadi semakin tidak berdaya karena rangsangan tersebut.Di atasnya kini, Seno masih menatapnya dengan seringai nakal. Kobaran api di dalam tatapannya membuat Rindu ikut terbakar. Dia ingin Seno mempermainkannya. Menyentuhnya sampai ke titik terdalamnya. Lalu melebur bersama dalam gairah yang menyenangkan ini."Sentuh Rindu, Paman. Hancurkan Rindu dengan milik Paman Seno yang perkasa." suara Rindu tercekat ketika mengatakan kalimat nakal tersebut.Senyum di bibir Seno semakin melebar. Tatapannya berubah hitam pekat dengan dada bergemuruh hebat. Ucapan Rindu barusan benar-benar berimbas kuat pada dirinya."Tentu, Sayang. Paman akan hancurkan lubang kecilmu ini dengan milik Paman." Seno mendesis sembari menekan bagian tembam yang ada di antara kedua kaki Rindu dengan ibu jarinya.Rindu tak dapat menahan lenguhannya
Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut w
Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya
Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan ga







