LOGINWarning! Mengandung kekerasan dan konten dewasa. Mohon bijak dalam membaca. Evelin Gosca, sang pembunuh bayaran di dunia nyata pun harus merasakan cinta pada pandangan pertama yang pahit. Di mana dirinya malah menghabiskan malam bersama dan menyukai target pembunuhan yang bernama Cristhian Ronald. Gagalnya misi karena rasa suka mereka, membuat Evelin terpaksa menjadi buruan bersama sang pujaan hati. Dalam masa pelarian dan persembunyian keduanya, tanpa di duga Evelin pun harus merasakan perihnya timah panas yang bersarang di jantung akibat kabur dari kejaran polisi. Di saat terakhir kematian menjemputnya, satu kata maaf dari bibir Evelin pun memberikan harga yang tak terduga. Sebuah kesempatan, di mana dirinya terbangkitkan lagi di dunia antah berantah yang membuat dirinya dikenal dengan julukan wanita terkutuk dari Tenebris.
View MoreAMINAH
“Hey, are you the transferee,” A girl with a high-pitched voice asked the new transferee, Aminah.
“Yes.” She answers with a small voice. She slightly moves backward because she felt uncomfortable when the group of unfashionable girls emitting a queen bee bully’s vibe surrounds her. And she’s not wrong because they laugh at her and mimic the way she speaks. They just stop when the adviser enters the room and introduces her as a transferee from a private school. She felt their deadly and mocking look, they murmured as if she can’t hear them.
“I think her parents go bankrupt, that’s why she’s now in public”
“She looks classy but trashy”
It’s funny how her first day instantly became her worst day, she plans on avoiding this kind of interaction, she wanted to build a new and fresh image that’s why she agreed to transfer. But she didn’t expect that this school would not let her finish her high school life peacefully.
After a month of enduring the bullies she had enough; she was annoyed with their childish tricks, and she didn’t want to transfer to another school again, for their own sake. She has in mind that she shouldn’t suffer from their mistreatment, that’s why she finally accepts their invitation for a fight. Their classmates are already celebrating after knowing the fight, they place their bet in a box, and no one places money on her box. She also doesn’t trust herself that she can win, but she badly wants to stop this childishness.
Before school at 5:00 pm, they will meet at the gate and fight at the back of the school.
After cleaning the classroom, she immediately goes to the meeting place. She honestly plans to escape at first but the underlings are waiting at the door of the room. Precy, the head of the bullies with thick make-up and a tint on her teeth, was sitting arrogantly on the wooden chair and one of her followers massaged her shoulder. She was not expecting that a lot of people would watch their ridiculous fight but she didn't mind, she wanted to finish it already.
The fight starts when Precy throws sand at her face, her eyes itch that’s why she can’t see the next attack of her opponent. Precy pulled her hair and she felt the heat on her head, it seemed like the pull was going to leave her head. She fought back and scratched her opponent's face; she made sure that it would leave a mark. She also kicks her in her private area and throws a hard punch in her face. She is not mistaken, after regaining her sight she saw blood dripping from Princess's face, she felt guilty for what she’d done. When Precy cries her underlings attack her at the same time, that’s why she didn’t have a chance to defend herself fully, but she surely gives her best to give a powerful attack on them.
All the chaos and fights stop when a teacher comes and stops the students. Others fled, and Aminah too escaped in stealth. It was difficult for her to walk home, her clothes were dirty, and her hair was a mess, but she was pleased and satisfied. It seems like all the stress she has suddenly burst at once, and she felt relieved. She wonders if she does the same thing to someone, she despises a lot, she wonders if she also scratches their filthy faces when they accuse her of things she didn’t do and fight for her rights when she was in private. No, I should have done the same thing before to avoid feeling unjust.
“Sova, seandainya kita mati, bagaimana?” pertanyaan sosok bersurai merah itu membuat laki-laki berambut coklat terang di depannya mengernyitkan dahi. “Kau takut?” Bharicgos terkekeh pelan. Perlahan pandangan diedarkan ke sekitar, sayup-sayup suara gagak menyusup masuk ke telinga. Semakin lama semakin terdengar keras mengiringi langkah keduanya. “Aku hanya bertanya, kenapa jawabanmu malah seperti itu?” “Kita takkan mati dengan mudah. Apa lagi kau Bharicgos, mereka hanya membuang nyawa ke hadapan kita.” Dan ringkik kuda yang terasa jelas mulai menghampiri keberadaan mereka. Tampak di halaman istana Tenebris, kehadiran beberapa prajurit berzirah merah. Semangat yang tercetak di wajah mereka, senjata beserta bendera yang dikibarkan di tangan pun menjadi tanda dimulainya pertarungan keduanya. “Begitu ya, kau benar juga. Terima kasih sudah menghiburku, Sova Aviel Ignatius.” “Sova, padahal kau bilang kita tidak akan mati. Lalu kenapa pedang iblismu ada di bocah ini?” bersamaan dengan o
Hempasan angin kasar menghantam mereka. Semua disebabkan oleh senjata Haina dan juga Lucius yang beradu. Rantai berduri ataupun pedang terselubung itu tampak seimbang. "Kau Tenebris. Kenapa menyerang?" Mendengar itu Haina menyentak rantainya. Memaksa Lucius mundur beberapa langkah. Walau sosoknya terluka namun tak meruntuhkan kekuatan Haina. Selain tampang angkuh yang sekarang melekat di muka. "Bukankah sudah jelas? Tentu saja untuk membasmi kalian." Seketika mata Lucius menyipit tajam. Jawaban konyol barusan jelas bukanlah yang ia harapkan. Sementara di satu sisi, Hion sekarang sedang berhadapan dengan dua Darkas. "Hati-hati. Dia sepertinya menguasai beberapa aliran pedang." Tentu saja penjelasan Bharicgos menyentak pendengaran rekan-rekannya. "Sepertinya Ignatius memang terlahir luar biasa ya," Siez menggeleng pelan. Teringat kembali dengan sosok Lucius di seberang. Pemuda delapan belas tahun itu pun juga serupa. Dilihat dari keahlian berpedangnya bisa dipastikan ia memaka
Sorot mata tenang sosok berambut perak itu, terus saja memandangi pemuda bersurai coklat. Bahkan setelah pertemuan para utusan delapan kerajaan berakhir dengan ketegangan, Lucius tak terlihat menyesal. Ia bahkan sempat menatap remeh pada laki-laki di depan mata. Siez Nel Armarkaz. Penolongnya yang sudah membuat mereka bisa pergi dari sana. Andai Lucius tetap gigih memprovokasi Orion, mungkin saja beberapa orang yang menganggapnya ancaman akan segera membantainya. Terlihat dari tatapan tajam ratu Virgo kepadanya. "Darkas, apa kalian berkhianat?" pertanyaan Raja Aquarius saat Siez dan pamannya maju untuk menengahi keadaan memantik sebuah kenyataan. "Berkhianat?" Siez tersenyum hangat. "Dia rekan kami. Tak peduli siapa sosoknya, sudah tugas Darkas untuk melindungi orang-orang yang bekerja sama dengannya. Bukankah begitu? Pangeran Kaizer." Tapi tak ada tanggapan dari laki-laki yang diajak bicara. Selain tatapan tajam memenuhi suasana. Tanpa kata Lucius berlalu dari sana dan diiri
Pertarungan antara Kaizer atau pun Eran Lybria dengan para pengganggu memang telah selesai. Tapi tidak dengan Fabina, pedang di tangan pun diarahkan pada leher Lucius yang sudah tak lagi menyerangnya. "Hei! Apa yang kau lakukan?" Dusk Teriel masih bingung dengan mereka. "Musuh memang sudah tak ada. Tapi kita tak bisa menutup kemungkinan akan Tenebris yang tersisa." Orang-orang di sana pun kembali terhenyak. Dan menatap tak percaya pada sosok yang berbicara. "Ada bukti?" Lucius menyeringai. "Tutup mulutmu, hanya karena matamu sekarang tidak merah lagi bukan berarti kau bisa menipuku. Kau sendiri bukan yang mengatakan akan perperangan itu." Dan tak disangka, sebuah hempasan kasar pun menghantam Fabina. Tubuhnya langsung menghantam tanah akibat ulah perempuan yang menatap murka. "Yang Mulia!" Agrios syok melihatnya. Karena bagaimanapun juga dirinya jelas tak mengira kalau sang ratu akan menyerang kerajaan rekan mereka. "Fabina!" Kaizer pun menghampirinya. "Kau baik-baik saja?!"
“Apa maksudmu?” pertanyaan itu terdengar lantang. Tangan terkepal menghiasi sosok Lucia, dan jangan lupakan tatapan tajam yang terpatri di wajah.Hanya saja, Bharicgos memamerkan ekspresi tak berminat. Sekejap mata dirinya muncul di depan Lucia, menguarkan aroma seperti cendana dari balik tubuhnya.Ia
Seringai lebar membelah wajah pemuda itu. Sosok berusia 18 tahun, namun mampu menyudutkan musuhnya.Gemuruh di langit sana seolah mendukung sang pemuda, dan jangan lupakan sensasi menakutkan dari bilah aneh miliknya.Pedang hitam namun tak henti-hentinya memamerkan asap.‘’Kau, siapa kau sebenarnya?’’
Pertarungan sengit menghiasi dua sosok dengan usia yang terpaut tidak begitu jauh.Fabina dan Lucius.Begitu banyak helaian sayap gagak berguguran. Bahkan mayat hewan pemakan bangkai itu juga berserakan. Bunyi bilah pedang yang saling beradu melukiskan sesuatu.Arti dari keseimbangan kemampuan.Walau be
Di saat bersamaan namun lokasi yang berbeda, tampak seorang laki-laki sedang menggendong sesosok gadis muda. Entah akan dibawa ke mana namun jalan ini jelas tak menuju tempat peristirahatan Lucia.Untung saja tak ada pelayan atau penjaga di sekitar, jika tidak tak bisa dibayangkan bisikan serta lirik






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.