ホーム / Pendekar / Petani Terkuat / 002 Tuduhan di Pabrik

共有

002 Tuduhan di Pabrik

作者: AgamYupi02
last update 公開日: 2026-06-14 16:00:16

Gajinya memang tidak banyak, tetapi cukup untuk membantu perekonomian keluarga. Biaya sekolah Dina menjadi sedikit lebih ringan. Belanja dapur tidak lagi terlalu mencekik. Sesekali, Susi bahkan bisa membeli lauk yang lebih baik untuk makan malam.

Setahun bekerja di pabrik, semua berjalan lancar.

Jaka tidak pernah membuat masalah. Ia datang tepat waktu, bekerja sesuai aturan, dan tidak suka ikut campur urusan orang lain. Bagi beberapa rekan kerjanya, Jaka mungkin terlalu pendiam. Namun sebenarnya ia hanya tidak ingin mencari keributan. Selama pekerjaannya selesai dan gajinya bisa dibawa pulang, baginya itu sudah cukup.

Sampai sebuah insiden terjadi.

Hari itu, udara di area pabrik terasa lebih panas dari biasanya. Bau kayu, lem, dan serbuk halus memenuhi ruang kerja. Para pekerja bergerak seperti biasa di antara tumpukan kayu lapis yang sudah jadi dan siap dikirim. Jaka sedang memindahkan barang ketika tiba-tiba tercium bau hangus yang aneh.

Awalnya samar.

Lalu beberapa detik kemudian, seseorang berteriak.

“Api! Ada api!”

Kepanikan langsung pecah.

Beberapa kotak kayu lapis yang sudah jadi terbakar. Api menyebar cepat karena bahan di sekitarnya mudah terbakar. Asap hitam mulai naik, membuat sebagian pekerja mundur sambil menutup hidung. Ada yang berlari mencari alat pemadam, ada yang hanya berdiri panik, dan ada pula yang saling menyalahkan bahkan sebelum api padam.

Jaka tidak sempat berpikir panjang.

Melihat api mulai membesar, tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Ia mengambil alat pemadam terdekat dan berusaha memadamkan api. Panas menyengat wajahnya. Asap membuat matanya perih. Tenggorokannya kering, tetapi ia tetap mendekat karena tahu jika api menyebar lebih jauh, kerusakan bisa menjadi lebih besar.

Namun usaha itu justru menjadi awal dari masalahnya.

Setelah api berhasil dikendalikan, bukannya dipuji karena bertindak cepat, Jaka malah dituduh sebagai penyebab kebakaran. Kecerobohan seseorang entah bagaimana dilemparkan kepadanya. Beberapa orang yang seharusnya tahu kejadian sebenarnya memilih diam. Ada yang menunduk, ada yang menghindari tatapannya, dan ada pula yang pura-pura tidak melihat.

Jaka berusaha menjelaskan.

“Aku hanya berusaha memadamkan api. Waktu aku datang, apinya sudah menyala.”

Namun ucapannya seolah tidak masuk ke telinga siapa pun.

Apa pun yang ia katakan tidak ada gunanya.

Jaka disidang oleh pihak pabrik. Duduk di ruangan kecil dengan dinding pucat dan bau kertas lama, ia menghadapi beberapa orang yang menatapnya seperti pelaku. Pertanyaan demi pertanyaan dilemparkan, tetapi bukan untuk mencari kebenaran. Semuanya terasa seperti formalitas sebelum keputusan dijatuhkan.

Pada akhirnya, pihak pabrik memutuskan untuk mengakhiri kontrak kerjanya.

Tanpa pesangon.

Jaka sempat berpikir untuk melayangkan protes. Ia tidak terima. Tentu saja ia tidak terima. Kehilangan pekerjaan saja sudah berat, apalagi kehilangan pekerjaan karena tuduhan yang tidak ia lakukan.

Namun niat itu mati sebelum benar-benar dimulai.

Ada ancaman dari pihak ketiga.

Ancaman itu tidak diucapkan dengan teriakan. Justru karena disampaikan dengan nada dingin dan tenang, rasanya jauh lebih menekan. Jaka paham, jika ia memaksa memperpanjang masalah, bukan hanya dirinya yang akan terkena dampaknya. Keluarganya juga bisa terseret.

Pada akhirnya, ia terpaksa menerima nasibnya.

Hari itu, Jaka pulang dengan langkah berat.

Jalan menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Angin pegunungan yang biasanya menenangkan justru terasa menusuk kulit. Di kejauhan, Gunung Sumbing berdiri kokoh seperti biasa, tetapi bagi Jaka, dunia seakan menjadi lebih sempit. Tangannya kosong, tetapi dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang menekan.

Sesampainya di rumah, Jaka berterus terang tentang pemecatan dirinya.

Ia tidak ingin berbohong.

Bejo mendengarkan dengan wajah serius. Lelaki tua itu tidak langsung bicara. Tangannya yang kasar karena bertahun-tahun memegang cangkul hanya terdiam di atas lutut. Setelah Jaka selesai bercerita, Bejo menarik napas panjang.

“Yang penting kamu tidak melakukan itu,” kata Bejo pelan. “Kalau kamu memang tidak salah, jangan biarkan hatimu hancur karena tuduhan orang.”

Jaka menunduk.

Kata-kata itu sederhana, tetapi cukup membuat tenggorokannya tercekat.

Seperti yang diharapkan, ayahnya mencoba yang terbaik untuk memberinya semangat. Bejo bukan orang pandai bicara. Ia tidak bisa memberi nasihat panjang seperti orang berpendidikan tinggi. Namun setiap kalimatnya terasa jujur, keluar dari hati seorang ayah yang tidak ingin melihat anaknya runtuh.

Susi juga tidak banyak bertanya.

Malam itu, ia memasak hidangan spesial untuk menghibur Jaka. Bukan hidangan mahal, hanya makanan rumahan yang dibuat sedikit lebih lengkap dari biasanya. Aroma masakan memenuhi rumah kecil mereka, bercampur dengan asap tipis dari dapur dan suara sendok yang beradu pelan dengan piring.

Dina kebetulan mendengar cerita Jaka.

Adik perempuan itu langsung marah.

“Apa-apaan itu? Kakak sudah bantu memadamkan api, malah dituduh? Pabriknya gila!” katanya dengan wajah memerah. “Harusnya mereka berterima kasih, bukan memecat Kakak!”

“Dina,” tegur Susi lembut. “Jangan bicara kasar.”

“Tapi memang begitu, Bu! Mereka jahat!”

Jaka yang sejak tadi berusaha tetap tenang akhirnya tersenyum kecil.

Melihat Dina marah demi dirinya, perasaan hangat perlahan muncul di dadanya. Momen itu seharusnya menjadi waktu yang menyedihkan bagi Jaka. Ia baru saja kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, dan mungkin kehilangan kepercayaan dari banyak orang. Namun berkat dukungan keluarganya, ia tidak benar-benar jatuh.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak keluar dari pabrik, Jaka bisa menarik napas sedikit lebih lega.

Dia bisa bangkit lagi.

Bersambung...

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Petani Terkuat   071 Sang Raja yang Bangkit

    Andini menarik napas dalam-dalam, menahan rongga dadanya sejenak, membiarkan udara dingin ruangan mengisi penuh paru-parunya sebelum ia menatap tepat ke manik mata ayahnya. Gestur tubuhnya berubah kaku, tegang, dan sangat defensif. "Ayah, dengarkan aku baik-baik," suaranya kini tidak lagi bergetar penuh keraguan, melainkan berganti dengan intonasi rendah yang sangat teguh. "Dan tolong, aku minta jangan pernah sela perkataanku sedikit pun sebelum aku benar-benar selesai menjelaskan semuanya."Melihat perubahan drastis pada postur putrinya, pria itu terdiam bungkam. Andini menunjukkan tingkat keseriusan mutlak yang sangat jarang, atau bahkan hampir tidak pernah, ia perlihatkan secara langsung di depan ayahnya sendiri. Ini bukan lagi sekadar percakapan keluarga biasa, melainkan sebuah negosiasi tentang peluang hidup dan mati.Jakun pria paruh baya itu naik turun saat ia menelan ludah. "Glek! Oke," ucapnya, suaranya melunak tanda menyerah. "Akan aku dengarkan dengan baik."Andini tidak

  • Petani Terkuat   070 Di Balik Pintu

    Ratusan kilometer dari teriknya matahari ladang, Andini menyusuri koridor marmer hitam yang membentang panjang dan luas di dalam rumah utama keluarganya di Jakarta. Suara ketukan hak sepatu tingginya bergema konstan, memantul keras di dinding-dinding pualam tinggi yang dihiasi berbagai lukisan klasik bernilai fantastis. Udara dari sistem pendingin ruangan terasa menggigit permukaan kulit lengannya, berbanding terbalik dengan panas yang menjalar perlahan di telapak tangannya yang berkeringat dingin. Jantungnya berdebar dengan ritme melompat-lompat yang tidak menentu. Setiap langkah yang ia ambil di lorong sepi ini terasa sangat berat, seolah gravitasi di bawah kakinya ditarik berkali-kali lipat lebih kuat oleh kecemasan.Langkahnya akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu jati raksasa setinggi lima meter. Ukiran rumit meliuk di seluruh permukaannya, memancarkan aura otoritas absolut dari sosok yang berada di baliknya. Andini memejamkan mata sejenak. Ia menarik udara dalam

  • Petani Terkuat   069 Tetesan Harapan di Ufuk Timur

    Kabut tipis berwarna kelabu masih menggantung rendah, menyelimuti permukaan tanah merah ladang yang lembap. Udara pagi sedingin es menyusup tanpa ampun dari balik kerah kemeja lusuh Jaka, menembus langsung ke pori-porinya. Ujung sepatu botnya berderit tertahan setiap kali menginjak ranting kering, melangkah dengan penuh perhitungan untuk memecah keheningan fajar. Ia sangat berhati-hati agar tak ada satu pun anggota keluarganya yang terbangun oleh aktivitas rahasianya ini. Di telapak tangannya yang kapalan, sebuah wadah berlapis kaca tebal memancarkan pendar redup.Begitu tiba di tepi sumur tua berlumut, Jaka menghentikan langkah. Hembusan napasnya di udara dingin membentuk kepulan uap putih. Dengan gerakan sangat perlahan seolah memegang benda paling rapuh, ia memiringkan wadah tersebut di atas lubang sumur. Satu tetes cairan spiritual pekat keemasan meluncur turun. Tetesan itu membelah udara, lalu jatuh menghantam air di dasar sumur. Riak kecil menyebar seketika, memancarkan bias

  • Petani Terkuat   068 Pakta di Bawah Bayang Malam

    Seiring berakhirnya kesepakatan operasional itu, Andini secara refleks menekuk lengan kirinya. Ia melirik pergerakan jarum pada piringan logam yang melingkar erat di pergelangan tangannya. Pupil matanya sedikit membesar. "Ah! Waktunya sudah sangat mepet! Kita benar-benar harus segera bertolak kembali menuju kota sekarang juga!"Mendengar interupsi waktu tersebut, gurat kelembutan dan senyum ramah di wajah Jeanne, Rosa, dan Selia menguap tanpa sisa. Ekspresi mereka berubah tegang dan luar biasa serius. Setelah melempar kontak mata singkat dalam keheningan, tangan lentik Jeanne bergerak mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyerahkan sebuah potongan kartu nama premium beraksen hitam pekat kepada Jaka."Jangan pernah ragu untuk langsung menghubungi kami jika waktu panen harian sudah tiba," ujar Jeanne, menekan setiap suku katanya, menyisipkan urgensi kuat yang tak terbantahkan. "Atau... kalau ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan terkait apa pun. Kami pasti akan menjawab seluruh pert

  • Petani Terkuat   067 Keraguan di Bawah Atap Rumbia

    Jaka kembali menata ritme langkahnya sealami mungkin, mengarahkan rombongan tamu dari kota itu membelah lebatnya deretan tanaman palawija. Tujuan akhir rute mereka adalah sebuah gubuk peristirahatan beratap daun rumbia yang bersandar tegak di sudut lahan. Di bawah bayangan atap yang meneduhkan itu, Bejo dan Susi tampak menguras sisa tenaga menyusun keranjang-keranjang bambu padat, dipenuhi tumpukan tomat dan dedaunan hijau yang baru saja mereka petik dari batangnya.Keringat mengalir deras membasahi area punggung kaus lusuh milik Bejo, menciptakan noda basah gelap yang terus melebar seiring pergerakan konstan otot lengannya. Di sebelahnya, Susi mengusap lehernya yang mengilap lengket menggunakan handuk kecil yang serat benangnya sudah menipis dan pudar warnanya akibat terlalu sering dicuci."Ayah, Ibu," panggil Jaka dengan intonasi menengah, menghentikan derit anyaman keranjang bambu yang sedang diangkat. Ia membuka telapak tangannya, menunjuk ke arah barisan orang di belakang pungg

  • Petani Terkuat   066 Resonansi di Tengah Ladang

    Angin siang berembus teramat lambat, membawa serta perpaduan aroma tanah merah yang mengering dan getah daun palawija yang menajam di udara terbuka. Keluar dari sejuknya ruang tamu berlantai semen, Jaka melangkah tenang memandu rombongan kecil itu menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah area perkebunan. Di sisi kiri dan kanan langkah mereka, hamparan hijau ladang membentang luas seolah tanpa batas yang mengekang. Warna-warni cerah dari buah tomat dan sayuran segar yang menggantung berat di batangnya memantulkan terik cahaya matahari yang menyengat, merambat naik menembus langsung ke pori-pori kulit.Andini menghentikan laju langkahnya secara tiba-tiba. Ujung sepatu hak rendahnya bergesekan pelan dengan kerikil jalanan, menciptakan suara gemeretak pelan. Ia menundukkan punggungnya, memusatkan perhatian penuh pada sekumpulan tomat yang tampak merah mengilat. Ujung jemarinya yang lentik menelusuri tekstur kulit buah tersebut dengan sangat hati-hati, merasakan sisa suhu panas mat

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status