Home / Pendekar / Petani Terkuat / 007 Pembersihan Tubuh

Share

007 Pembersihan Tubuh

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-06-14 20:58:00

Rasa berat di bahunya perlahan memudar.

Kemarahan, kekecewaan, dan rasa putus asa yang selama ini ia pendam tidak langsung hilang, tetapi seperti diberi ruang untuk bernapas. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jaka merasa dadanya tidak sesak.

Energi itu masuk melalui pori-pori kulitnya, mengalir ke pembuluh darah, menyusup ke tulang, lalu berkumpul di bagian bawah perutnya. Setiap aliran terasa lembut, tetapi efeknya sangat kuat. Otot-ototnya berdenyut. Tulang-tulangnya terasa seperti direndam dalam cahaya hangat. Bahkan luka-luka kecil yang ia dapatkan selama bertani perlahan terasa gatal, lalu menghilang.

Pria tua itu mengamati Jaka selama beberapa detik tanpa berkedip.

Di matanya, tubuh Jaka yang duduk bersila seperti sedang diselimuti lapisan embun bercahaya. Tipis, tetapi murni.

Senyum puas muncul di wajahnya.

“Sepertinya pilihanku tidak salah,” gumamnya pelan.

Angin bertiup.

Kabut lewat di antara bebatuan.

Pada detik berikutnya, sosok pria tua itu menghilang dari puncak Gunung Sumbing, seolah sejak awal ia memang hanya bagian dari kabut malam.

Waktu berlalu tanpa terasa.

Malam perlahan mundur.

Langit timur berubah dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu dihiasi garis oranye tipis yang makin lama makin terang. Burung-burung gunung mulai terdengar dari kejauhan, menyambut pagi dengan suara yang jernih. Embun menempel di rerumputan, memantulkan cahaya matahari pertama seperti butiran kaca kecil.

Jaka akhirnya membuka mata setelah merasakan kehangatan menyentuh wajahnya.

Untuk sesaat, ia hanya duduk diam.

Dunia di hadapannya terlihat berbeda.

Bukan karena bentuknya berubah, tetapi karena indranya menjadi jauh lebih tajam. Ia bisa melihat garis kabut yang bergerak di antara lereng. Bisa mendengar suara air mengalir dari tempat yang cukup jauh. Bisa mencium aroma tanah, daun basah, batu dingin, dan bunga liar yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan.

Namun sebelum sempat mengagumi pemandangan itu lebih lama, hidungnya tiba-tiba menangkap bau busuk yang sangat menyengat.

Wajah Jaka langsung berubah.

“Astaga…”

Ia menunduk, lalu melihat tubuhnya sendiri.

Cairan hitam lengket yang sudah mulai mengering menempel di beberapa bagian tubuhnya. Baunya sangat tajam, seperti lumpur busuk yang bercampur keringat lama dan sesuatu yang sulit dijelaskan. Rasanya menjijikkan. Kulitnya terasa tidak nyaman, seolah seluruh kotoran dari dalam tubuhnya telah dipaksa keluar melalui pori-pori.

Jaka meringis.

Kalau bukan karena ia baru saja mengalami sesuatu yang tidak masuk akal, ia pasti sudah panik melihat kondisi tubuhnya.

Namun ingatan tambahan di kepalanya segera memberi penjelasan.

Ini adalah proses pembersihan tubuh.

Kotoran yang menumpuk di dalam tubuh manusia biasa dikeluarkan setelah energi spiritual pertama kali mengalir. Semakin banyak kotoran yang keluar, semakin besar perubahan fisik yang terjadi.

“Jadi begini rasanya…” gumam Jaka sambil berdiri.

Begitu ia bergerak, ia langsung menyadari perbedaan lain.

Tubuhnya ringan.

Sangat ringan.

Batu di bawah kakinya terasa lebih kokoh, napasnya lebih panjang, dan otot-ototnya seperti menyimpan tenaga yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Ia hanya melompat biasa, tetapi jarak yang ditempuh terasa lebih jauh dari biasanya.

Jaka sempat terdiam.

Lalu matanya berbinar samar.

Namun bau busuk dari tubuhnya segera menariknya kembali pada kenyataan.

Tanpa membuang waktu, Jaka mencari mata air yang paling jarang digunakan para pendaki. Ia bergerak menyusuri jalur kecil di antara semak dan bebatuan, mengikuti suara gemericik air yang kini terdengar jelas di telinganya.

Tidak lama kemudian, ia menemukan aliran kecil yang jernih.

Airnya mengalir dari sela batu, dingin, bersih, dan berkilau terkena cahaya pagi. Jaka tidak langsung masuk ke sumber air. Ia masih memiliki cukup akal sehat untuk tidak merusak tempat itu. Karena itu, ia menampung air secukupnya, lalu membersihkan tubuhnya di bagian yang agak jauh dari aliran utama agar tidak mencemari mata air tersebut.

Air dingin menyentuh kulitnya.

Rasa segar langsung menjalar ke seluruh tubuh.

Jaka menggosok cairan hitam yang menempel di kulitnya sampai benar-benar hilang. Butuh beberapa waktu sebelum bau busuk itu lenyap sepenuhnya. Setelah memastikan tubuhnya bersih, ia mencuci pakaian lamanya sebaik mungkin, memerasnya, lalu menyimpannya di tempat terpisah. Ia mengambil pakaian baru dari barang bawaannya dan mengenakannya dengan perasaan jauh lebih nyaman.

Saat kembali ke dekat tendanya, matahari sudah naik cukup tinggi.

Cahaya pagi menyapu lereng gunung, membuat hamparan hijau di bawah sana terlihat seperti lautan yang diam. Awan tipis bergerak pelan di kejauhan. Angin membawa aroma segar dedaunan dan tanah basah.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Petani Terkuat   071 Sang Raja yang Bangkit

    Andini menarik napas dalam-dalam, menahan rongga dadanya sejenak, membiarkan udara dingin ruangan mengisi penuh paru-parunya sebelum ia menatap tepat ke manik mata ayahnya. Gestur tubuhnya berubah kaku, tegang, dan sangat defensif. "Ayah, dengarkan aku baik-baik," suaranya kini tidak lagi bergetar penuh keraguan, melainkan berganti dengan intonasi rendah yang sangat teguh. "Dan tolong, aku minta jangan pernah sela perkataanku sedikit pun sebelum aku benar-benar selesai menjelaskan semuanya."Melihat perubahan drastis pada postur putrinya, pria itu terdiam bungkam. Andini menunjukkan tingkat keseriusan mutlak yang sangat jarang, atau bahkan hampir tidak pernah, ia perlihatkan secara langsung di depan ayahnya sendiri. Ini bukan lagi sekadar percakapan keluarga biasa, melainkan sebuah negosiasi tentang peluang hidup dan mati.Jakun pria paruh baya itu naik turun saat ia menelan ludah. "Glek! Oke," ucapnya, suaranya melunak tanda menyerah. "Akan aku dengarkan dengan baik."Andini tidak

  • Petani Terkuat   070 Di Balik Pintu

    Ratusan kilometer dari teriknya matahari ladang, Andini menyusuri koridor marmer hitam yang membentang panjang dan luas di dalam rumah utama keluarganya di Jakarta. Suara ketukan hak sepatu tingginya bergema konstan, memantul keras di dinding-dinding pualam tinggi yang dihiasi berbagai lukisan klasik bernilai fantastis. Udara dari sistem pendingin ruangan terasa menggigit permukaan kulit lengannya, berbanding terbalik dengan panas yang menjalar perlahan di telapak tangannya yang berkeringat dingin. Jantungnya berdebar dengan ritme melompat-lompat yang tidak menentu. Setiap langkah yang ia ambil di lorong sepi ini terasa sangat berat, seolah gravitasi di bawah kakinya ditarik berkali-kali lipat lebih kuat oleh kecemasan.Langkahnya akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu jati raksasa setinggi lima meter. Ukiran rumit meliuk di seluruh permukaannya, memancarkan aura otoritas absolut dari sosok yang berada di baliknya. Andini memejamkan mata sejenak. Ia menarik udara dalam

  • Petani Terkuat   069 Tetesan Harapan di Ufuk Timur

    Kabut tipis berwarna kelabu masih menggantung rendah, menyelimuti permukaan tanah merah ladang yang lembap. Udara pagi sedingin es menyusup tanpa ampun dari balik kerah kemeja lusuh Jaka, menembus langsung ke pori-porinya. Ujung sepatu botnya berderit tertahan setiap kali menginjak ranting kering, melangkah dengan penuh perhitungan untuk memecah keheningan fajar. Ia sangat berhati-hati agar tak ada satu pun anggota keluarganya yang terbangun oleh aktivitas rahasianya ini. Di telapak tangannya yang kapalan, sebuah wadah berlapis kaca tebal memancarkan pendar redup.Begitu tiba di tepi sumur tua berlumut, Jaka menghentikan langkah. Hembusan napasnya di udara dingin membentuk kepulan uap putih. Dengan gerakan sangat perlahan seolah memegang benda paling rapuh, ia memiringkan wadah tersebut di atas lubang sumur. Satu tetes cairan spiritual pekat keemasan meluncur turun. Tetesan itu membelah udara, lalu jatuh menghantam air di dasar sumur. Riak kecil menyebar seketika, memancarkan bias

  • Petani Terkuat   068 Pakta di Bawah Bayang Malam

    Seiring berakhirnya kesepakatan operasional itu, Andini secara refleks menekuk lengan kirinya. Ia melirik pergerakan jarum pada piringan logam yang melingkar erat di pergelangan tangannya. Pupil matanya sedikit membesar. "Ah! Waktunya sudah sangat mepet! Kita benar-benar harus segera bertolak kembali menuju kota sekarang juga!"Mendengar interupsi waktu tersebut, gurat kelembutan dan senyum ramah di wajah Jeanne, Rosa, dan Selia menguap tanpa sisa. Ekspresi mereka berubah tegang dan luar biasa serius. Setelah melempar kontak mata singkat dalam keheningan, tangan lentik Jeanne bergerak mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyerahkan sebuah potongan kartu nama premium beraksen hitam pekat kepada Jaka."Jangan pernah ragu untuk langsung menghubungi kami jika waktu panen harian sudah tiba," ujar Jeanne, menekan setiap suku katanya, menyisipkan urgensi kuat yang tak terbantahkan. "Atau... kalau ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan terkait apa pun. Kami pasti akan menjawab seluruh pert

  • Petani Terkuat   067 Keraguan di Bawah Atap Rumbia

    Jaka kembali menata ritme langkahnya sealami mungkin, mengarahkan rombongan tamu dari kota itu membelah lebatnya deretan tanaman palawija. Tujuan akhir rute mereka adalah sebuah gubuk peristirahatan beratap daun rumbia yang bersandar tegak di sudut lahan. Di bawah bayangan atap yang meneduhkan itu, Bejo dan Susi tampak menguras sisa tenaga menyusun keranjang-keranjang bambu padat, dipenuhi tumpukan tomat dan dedaunan hijau yang baru saja mereka petik dari batangnya.Keringat mengalir deras membasahi area punggung kaus lusuh milik Bejo, menciptakan noda basah gelap yang terus melebar seiring pergerakan konstan otot lengannya. Di sebelahnya, Susi mengusap lehernya yang mengilap lengket menggunakan handuk kecil yang serat benangnya sudah menipis dan pudar warnanya akibat terlalu sering dicuci."Ayah, Ibu," panggil Jaka dengan intonasi menengah, menghentikan derit anyaman keranjang bambu yang sedang diangkat. Ia membuka telapak tangannya, menunjuk ke arah barisan orang di belakang pungg

  • Petani Terkuat   066 Resonansi di Tengah Ladang

    Angin siang berembus teramat lambat, membawa serta perpaduan aroma tanah merah yang mengering dan getah daun palawija yang menajam di udara terbuka. Keluar dari sejuknya ruang tamu berlantai semen, Jaka melangkah tenang memandu rombongan kecil itu menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah area perkebunan. Di sisi kiri dan kanan langkah mereka, hamparan hijau ladang membentang luas seolah tanpa batas yang mengekang. Warna-warni cerah dari buah tomat dan sayuran segar yang menggantung berat di batangnya memantulkan terik cahaya matahari yang menyengat, merambat naik menembus langsung ke pori-pori kulit.Andini menghentikan laju langkahnya secara tiba-tiba. Ujung sepatu hak rendahnya bergesekan pelan dengan kerikil jalanan, menciptakan suara gemeretak pelan. Ia menundukkan punggungnya, memusatkan perhatian penuh pada sekumpulan tomat yang tampak merah mengilat. Ujung jemarinya yang lentik menelusuri tekstur kulit buah tersebut dengan sangat hati-hati, merasakan sisa suhu panas mat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status