Beranda / Pendekar / Petani Terkuat / 059 Firasat di Tengah Malam

Share

059 Firasat di Tengah Malam

Penulis: AgamYupi02
last update Tanggal publikasi: 2026-07-16 17:49:52

Melihat reaksi Jaka yang salah tingkah di luar jendela mobilnya, perasaan malu yang sempat membakar wajah Andini perlahan menyurut. Rasa terhibur justru muncul, menghangatkan rongga dadanya. Ujung bibir gadis itu tertarik perlahan, melukiskan senyum lega yang terasa jauh lebih natural dari sebelumnya.

"Sampai jumpa besok," ucap Andini memecah keheningan yang menekan telinga. "Aku akan segera menghubungimu begitu hasil ujinya keluar."

Jaka menghentikan usapan di belakang kepalanya dan mengangguk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Petani Terkuat   094 Awal Pembangunan

    Langkah kaki Dina yang tadinya seirama dengan Jaka mendadak terhenti. Angin senja menyibak rambutnya saat gadis itu berputar seratus delapan puluh derajat, menghalangi jalan sang kakak.Matanya memicing tajam. "Kakak tidak jatuh cinta pada wanita itu, kan?"Jaka yang nyaris menabrak adiknya terpaksa mengerem langkah. "Hmm? Wanita itu siapa? Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?""Jangan mengalihkan pembicaraan!" Dina menudingkan jari telunjuknya tepat ke dada Jaka, menuntut jawaban layaknya seorang detektif yang menyudutkan tersangka utama. "Jawab dulu pertanyaan Dina!"Jaka menghela napas panjang. 'Dasar anak ini...' batinnya lelah.Ia menatap langit sore yang mulai memunculkan semburat jingga, mencari kata-kata yang tepat. "...Entahlah. Aku sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi untuk saat ini, aku tidak berniat mengejar Hina.""Hmm..." Dina menurunkan tangannya, bibirnya melengkung ke bawah membentuk gurat tidak puas.Gadis itu kemudian membalikkan badan

  • Petani Terkuat   093 Bayang-Bayang Gadis Masa Lalu

    "Reuni sekolah?"Jaka mengulang dua kata itu dengan nada sedatar permukaan danau yang tenang. Suaranya nyaris tenggelam oleh alunan lagu klasik yang diputar di butik ini. Hina mengangguk pelan dari balik meja konter. Ujung jari telunjuknya mengetuk permukaan meja secara ritmis."Berbeda dari reuni kelas biasa," jeda Hina, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Ini reuni akbar. Semua angkatan yang berminat boleh datang. Dan dengar-dengar... Nona Karina juga akan hadir kali ini.""Karina?"Alis Jaka bertaut tipis. Murni kebingungan.Gerakan tangan Hina mendadak terhenti di udara. Mata gadis itu melebar seketika, seolah waktu di sekitarnya baru saja dibekukan oleh sihir. Ia menatap Jaka seakan pria di hadapannya ini baru saja turun dari piringan terbang alien."Hah?" Mulut Hina terbuka setengah. Hening turun menyelimuti mereka selama tiga detik penuh. "Jangan bilang kamu sungguh tidak tahu tentang Nona Karina?"Sebagai jawaban, Jaka hanya mengangkat sebelah bahu dengan gestur kelewat

  • Petani Terkuat   092 Tawa di Balik Etalase Kaca

    "Ufufu~."Tawa Hina mengalun jernih, mengisi ruang kosong di antara deretan manekin berbalut gaun malam. Suara itu membawa getaran aneh, memicu letupan kecil di dada Jaka. Serpihan memori masa remaja seolah meronta ingin diakui. Namun, sebelum dorongan itu sempat menjalar lebih jauh, Jaka buru-buru menguncinya rapat-rapat di dasar hati."Ehem!" Jaka berdeham keras, mencoba membersihkan kerongkongannya yang mendadak kering. "Kamu sendiri bagaimana? Bekerja di tempat eksklusif seperti ini pasti memberimu gaji yang sangat layak."Hina terkekeh pelan. Tangannya mulai bergerak cekatan melipat pakaian Jaka, memasukkannya satu per satu ke dalam tas kertas tebal bercetak logo emas."Memang lumayan," jawab Hina santai. "Tapi jika dibandingkan dengan kekayaanmu sekarang, perbedaannya seperti langit dan dasar bumi.""Heh, jangan melebih-lebihkan. Memangnya berapa pendapatanmu per bulan di sini?""Sekitar lima belas juta rupiah." Hina merapikan pita di gagang tas. "Itu sudah lebih dari cukup unt

  • Petani Terkuat   091 Pertemuan

    Aroma lavender yang menguar dari pengharum ruangan berpadu dengan sejuknya pendingin udara di butik kelas atas itu. Jaka berdiri mematung di depan meja kasir berlapis marmer hitam, menatap sosok wanita berseragam elegan di baliknya. Papan nama kecil berwarna keemasan di dada kiri wanita itu memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal di atas mereka. Hina Yulia.Bagi Jaka, Hina hanyalah seorang kenalan dari masa seragam putih abu-abu. Ia tidak bisa menyematkan label 'teman' pada hubungan mereka. Interaksi keduanya di masa lalu bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, sebatas sapaan formalitas atau saat kebetulan mendapat kelompok tugas yang sama. Di masa itu, Hina merupakan salah satu primadona sekolah. Sebuah eksistensi yang dikelilingi orbit para siswa yang terus berebut perhatiannya. Semua orang menginginkannya. Tentu saja, terkecuali Jaka.Bukan berarti Jaka buta terhadap daya tarik wanita di hadapannya ini. Ia hanya seorang realistis yang kejam pada dirinya sendiri. Memik

  • Petani Terkuat   090 Harga Selangit dan Kejutan di Meja Kasir

    Begitu ujung sepatu Jaka melewati ambang pintu butik, atmosfer seketika berubah. Hingar bingar pengunjung mal, alunan musik pop murahan yang berdentum, dan aroma tajam dari area makanan diputus paksa oleh lapisan udara tak terlihat. Suhu di dalam jauh lebih sejuk. Karpet tebal krem meredam total suara langkah, sementara musik jazz klasik mengalun pelan. Aroma lavender dan kayu eik menguar tipis, mengintimidasi siapa saja yang tak terbiasa.Jaka sebenarnya telah mengumpulkan seluruh sisa kepercayaan diri sebelum melangkah masuk. Ia menyiapkan mental untuk merogoh kocek lebih dalam. Namun, saat pandangannya jatuh pada label harga di dekat etalase utama, seluruh kendali atas saraf motoriknya lenyap. Ia membeku, berdiri dengan mulut sedikit terbuka.Tepat di hadapannya, terpasang rapi pada manekin beludru hitam, sebuah gaun one-piece tipis bermotif bunga anggrek. Kainnya sangat ringan, hampir tembus pandang tanpa lapisan sutra murni di dalamnya. Dari sudut pandang awam, potongan kain it

  • Petani Terkuat   089 Ekspektasi dan Sebelas Etalase

    Mesin motor baru saja dimatikan, namun sebelum derunya hilang ditelan bisingnya area parkir, Dina sudah melompat turun. Udara panas ibu kota kabupaten seolah tak menembus semangatnya. Gadis itu berlari kecil menuju batas area teduh, merentangkan kedua tangan seakan ingin memeluk bangunan mal raksasa di hadapannya."Akhirnya sampai juga di peradaban! Pusat perbelanjaan, aku datang!" serunya penuh semangat, suaranya memantul di antara beton.Dari atas motor mereka, Jaka menghela napas panjang. Tali helmnya ia lepas pelan, memandangi punggung adik perempuannya yang berjingkrak kegirangan. Nasihat panjang lebar yang ia berikan semalam tentang masalah Andini sudah menguap tanpa sisa.'Terkadang aku pikir aku terlalu memanjakannya,' batin Jaka, membiarkan angin panas menyapu rambutnya. Ia menyipitkan mata, memperhatikan tawa lepas Dina. 'Tapi… sudahlah. Kebahagiaan gadis itu cukup membuat kepalaku terasa jauh lebih ringan.'Menepis kerumitan di kepalanya, Jaka merapikan posisi motornya ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status