LOGINTujuh tahun menjalin hubungan, Kanaya percaya hidupnya sudah berada di jalur yang benar—sampai malam itu ia menemukan tunangannya bercumbu dengan bosnya sendiri. Hancur, mabuk, dan kehilangan arah, Kanaya pulang terhuyung ke apartemennya. Ia hanya ingin menangis dan tidur. Tapi takdir malah mengirim Sagara, sahabat tunangannya sekaligus atasannya di kantor. Pria yang selama ini ia anggap dingin dan terlalu formal. Sagara datang dengan niat memastikan Kanaya tidak melakukan hal bodoh. Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Dalam kondisi limbung, Kanaya menangis di dada pria itu—lalu tanpa malu berbisik jujur bahwa selama tujuh tahun ini ia tidak pernah disentuh oleh tunangannya. Bahunya bergetar. Napasnya panas. Dan kata-katanya semakin asal. Kanaya mulai melucuti pakaiannya. “Kalau gini— masih bagusan dia, ya?”
View More“Saya bisa menikahi kamu.”Deg.Seakan seluruh udara di ruangan itu tersedot habis. Kanaya terpaku. Kata-kata itu menggantung di antara mereka, berat dan mengejutkan.Menikah.Bukan sekadar janji kosong. Bukan pula ucapan spontan tanpa pikir panjang.Kanaya menatap Sagara dengan mata membesar, dadanya naik turun tidak beraturan. Ada keterkejutan, ketakutan, juga kebingungan yang bercampur menjadi satu.Ia tidak menyangka... Bahwa pembicaraan ini akan berujung sejauh itu.“Pak... tidak usah sampai seperti itu,” ucap Kanaya lirih. “Saya... saya tidak mungkin menikah dengan Bapak.”“Kenapa tidak?” tanya Sagara.Nada suaranya rendah, namun terdengar menekan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Terlalu dekat. Punggung Kanaya langsung menyentuh tepi meja kerjanya sendiri, membuat ruang geraknya habis.Aroma parfum Sagara menyergap indra penciumannya—hangat, maskulin, dan terlalu familiar. Ingatan Kanaya seketika melayang pada aroma yang sama, aroma yang semalam membuatnya kehilangan ken
Waktu terus bergulir tanpa terasa.Kanaya masih duduk di kubikelnya, menyelesaikan pekerjaan yang sejak siang tadi perlahan mulai berkurang. Beberapa laporan sudah ia kirim, beberapa lagi tinggal dirapikan. Pandangannya sempat melirik jam di pojok layar komputer.Hampir jam pulang.Belum sempat ia menghela napas lega, langkah kaki mendekat. Pak Dani, supervisor mereka, berhenti di depan kubikel Kanaya dan Sheila.“Nay, Sheil,” panggilnya. “Kalian bisa over time, ya? Ini masih ada laporan yang belum kesusu. Saya nggak bisa ngerjain sekarang, harus ke rumah sakit. Urgent.”Sheila langsung berdiri, ekspresinya sedikit kikuk.“Pak, saya nggak bisa sekarang,” ucapnya cepat. “Saya udah ada janji.”Sheila melirik ke arah Kanaya, seolah meminta pengertian. Kanaya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.“Ya udah, Pak,” ujar Kanaya akhirnya. “Biar saya aja yang ngerjain.”Pak Dani terlihat lega. Ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Kanaya.“Thanks, Nay. Kalau udah selesai, tolong kirim
Pukul satu dini hari. Lift apartemen berhenti dengan bunyi ding pelan. Kanaya melangkah keluar dengan langkah lelah. Bahunya sedikit turun, matanya sembab, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari Bogor kembali ke Jakarta. Koridor apartemen tampak lengang dan sunyi. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Saat Kanaya mendekati unit apartemennya, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, tergeletak sebuah keranjang buah yang tertata rapi. Di sampingnya, ada sebuah paper bag kecil berwarna putih. Kanaya mengernyit. “What?” gumamnya pelan. “Dari siapa ini, ya...” Ia menoleh sekilas ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tak ada siapa pun. Dengan tubuh yang sudah lemas, Kanaya membungkuk perlahan dan mengangkat keranjang buah itu. Tidak berat, tapi cukup membuat lengannya pegal. Ia membuka pintu unitnya, lalu masuk dan menyalakan lampu. Apartemen itu terasa sunyi, dingin, dan kosong—kontras dengan rumah orang tuanya yang hangat be
Kanaya baru saja menuruni tangga setelah berganti pakaian di kamarnya. Rambutnya masih setengah lembap, kaus rumah sederhana menggantikan pakaian kerjanya. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat ayah dan adiknya sudah duduk di sana. “Eh, Papa sama Dimas udah pulang?” sapa Kanaya. Irwan menoleh, wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus senang. “Loh, Kakak di sini?” tanyanya. Kanaya tersenyum, lalu menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat. “Kangen. Jadi mampir sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti maleman balik ke Jakarta.” Irwan mengusap punggung Kanaya pelan. “Hm... nginep aja, Kak. Yah, besok siang baru kamu balik,” ujarnya mencoba membujuk. “Naya belum libur, Pah,” sahut Kanaya sambil tersenyum kecil. Ia kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk di sebelah adiknya, Dimas, yang terlihat sangat fokus menatap layar ponsel, jari-jarinya lincah menekan layar permainan Mobile Legends. “Dek,” panggil Kanaya. “Kamu main game terus. Udah dapet belum kampus buat kul
Kanaya melajukan mobilnya masuk ke jalur tol. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Bogor. “Gila ya... Gavin maunya apa sih?” gumam Kanaya, matanya tetap fokus ke jalan. “Dulu aja selalu kayak nggak ada effort. Nggak pernah inisiatif buat nemuin
“Saya lihat kamu jalan seperti menahan sakit. Kemungkinan saya lupa kalau saya terlalu keras tadi malam.”“Paaak!!!” seru Kanaya spontan, wajahnya langsung merah padam. Ia tahu persis arah pembicaraan Sagara. Ia ingat baik-baik apa yang terjadi malam itu—dan nyeri yang masih terasa pagi tadi. “Sa
Dalam perjalanan menuju kantor, bukan rasa tenang yang ia dapatkan. Justru jantungnya berdegup semakin keras. Setiap lampu merah terasa seperti jeda yang memaksa pikirannya kembali menayangkan kejadian semalam—dan setiap kali itu terjadi, perutnya terasa mual.“Please... jangan sampai ketemu dia du
Kanaya terbangun dengan kepala berat—seolah ada barbel satu kilogram yang dijatuhkan tepat di atas tengkoraknya. Kelopak matanya terasa lengket, tubuhnya nyeri dari ujung kaki sampai bahu, seperti habis dilindas semalam.“Ah… sakit...” gumamnya, suara serak.Refleks ia melirik ke sisi kanan tempat
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews