登入"Apa kamu serius, Bimo?" tanya Pak Rahmat.Bimo menganggukkan kepalanya lalu menunjukkan foto yang ia ambil. Terlihat jelas bekas potongan rapi di tengah besi motor Pak Rahmat."Berarti ini saat Bapak di sawah parkir. Mungkin ada yang diam-diam melakukan ini pakai gergaji besi," ucap Bimo."Siapa yang mau membunuh bapak kamu?" tanya Sulis."Biar aku selesaikan, Bi. Bibi tidak perlu khawatir dan Bibi juga tidak perlu merawat Bapak di sini. Biar aku saja. Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Aku akan menetap di sini," ucap Bimo.Pak Rahmat menatap Bimo tidak percaya. Keputusan Bimo tampak terdengar terburu-buru. Tapi jujur dalam hatinya merasa senang akhirnya anaknya mau kembali ke desa.Pun dengan Alena dan Lia, keduanya langsung menatap Bimo tidak berkedip mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo.Mereka tidak menyangka kalau akhirnya Bimo memutuskan tidak kembali lagi ke kota."Nah, gitu harusnya. Sejak ibu kamu meninggal tidak usah pergi ke mana-mana. Katanya sudah beli banyak sawa
"Kak Bimo, tunggu!" teriak Lia yang berlari menyusul Bimo, buru-buru masuk ke dalam rumah.Tampak beberapa orang menoleh ketika melihat Bimo dan Lia datang."Bimo, akhirnya kamu pulang," sambut para tetangga melihat kedatangan Bimo."Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Bimo."Bapak kamu mengalami kecelakaan, Bim. Tadi saat mengangkut gabah dari sawah, motornya tiba-tiba belah dua."Seorang lelaki paruh baya menjelaskan kepada Bimo apa yang terjadi di rumahnya saat ini. Bapaknya Bimo sudah berada di rumah, baru dibawa pulang dari puskesmas.Beliau mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya dan tertimpa gabah."Belah dua? Bagaimana?" tanya Bimo heran."Iya, antara kepala dan belakangnya itu belah jadi dua gitu. Nggak tahu kenapa, besinya kayak patah."Bimo mendekat. Bapaknya tampak sudah sadar, tapi menurut beberapa orang kaki dan tangannya mengalami keseleo."Bapak!" panggil Lia yang langsung memeluk Pak Rahmat yang kini terbaring di kasur. Beliau dirawat oleh adik kandungnya yang memang
Alena terkejut bukan main mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo, karena yang ia tahu seharusnya hari ini Bimo bertemu dengan ibunya untuk memutus rantai perjanjian yang menjerat itu."Hah? Apa yang terjadi? Dia mengancammu?" tanya Alena.Bimo menghela napas berat dan memegang kepalanya. Rasanya begitu sakit. Ia terbentur antara prinsip dan kenyataan."Nyonya Rossa menggunakan keselamatan Lia untuk menekanku."Alena menggelengkan kepalanya. Ia tahu posisi Bimo pasti serba salah dan kesulitan karena Lia adalah adik kesayangannya. Lia adalah satu-satunya saudara kandungnya.Tapi kalau seperti ini berarti hubungan mereka tidak akan pernah meningkat dan berpacaran secara resmi sebab Bimo masih terikat kontrak dan masih menjadi gigolo.Namun, di sisi lain Alena juga tidak bisa menyalahkan Bimo. Jika berada di posisi Bimo, pastinya sangat berat."Ya sudah, tidak apa-apa. Apa pun yang terjadi, yang pastinya aku mencintaimu," ucap Alena.Bimo tidak menjawab. Ia merasa tidak pantas membalas ra
"Aku nggak apa-apa, Lia," ucap Bimo menenangkan Lia.Bimo yang sakit, tapi Lia yang menangis. Alena malah tampak bingung melihat dua saudara ini.Alena melihat bagaimana rasa sayangnya dan hubungan persaudaraan antara Lia dan Bimo. Lia begitu mengkhawatirkan Bimo. Bahkan melihat Bimo hanya sakit biasa saja, Lia sampai menangis.Tapi dari situ juga Alena sadar kalau Lia itu seperti menyimpan trauma. Ia takut kalau orang yang disayanginya pergi begitu saja untuk selama-lamanya.Pengalaman kehilangan sang ibu ternyata membuat Lia menjadi over ketakutan.Alena memegang tangan Lia."Lia, kakak kamu sepertinya hanya demam biasa. Kamu jangan nangis lagi. Tapi kita akan bawa kakak kamu ke rumah sakit agar ia segera diobati," ucap Alena."Kak Bimo jangan tinggalin aku," ujar Lia menatap Bimo lekat."Lia, kakak cuma pusing, bukan mau mati," jawab Bimo.Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen, dan Alena lah yang akan mengemudikan mobil.Dan ketika mereka sedang berjalan menuju mobil
"Apa aku tidak salah dengar? Kamu menikmatinya?" tanya Bimo heran. "Tentu," jawab Andi. "Kalau begitu, selamat menikmatinya," ucap Bimo akhirnya karena ia tidak bisa berkata-kata lagi. Ia juga tidak kenal Andi. Apakah benar lelaki itu benar-benar menikmati perannya saat ini atau karena tidak punya pilihan lain? "Memangnya kamu tidak menikmatinya? Bahkan yang dibilang dalam beberapa hari kamu bergabung dengan para nyonya sosialita itu, kamu sudah melunaskan utangmu di desa." "Aku ingin melepaskan diri," jawab Bimo. Andi tertawa mendengar jawaban yang diberikan oleh Bimo. Mungkin ia merasa lucu ada seorang gigolo yang sedang galau, yang ingin melepaskan diri dari jerat para wanita. Padahal jelas selama ini ia menikmati uang yang banyak itu. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Bimo kesal. "Iya, baru kali ini aku melihat manusia munafik seperti kamu. Ternyata di balik pujian para wanita itu, kamu adalah manusia yang sangat munafik." Bimo membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan o
"Apa kamu sudah berani melawanku, Bimo?" tanya Nyonya Rossa menatap Bimo dengan tajam. Pastinya Nyonya Rossa tidak pernah menyangka kalau Bimo berani menolak permintaannya. Bimo tidak ingin menandatangani surat pembaharuan perjanjian yang ia buat. "Aku tidak melawan. Aku hanya mengemukakan pendapatku. Dan karena kontrak pertama kita sudah berakhir, jadi aku tidak terikat dengan siapapun dan aku berhak menolak," jawab Bimo. "Kamu sudah bosan hidup?" "Hidup dan matiku bukan di tangan manusia, tapi di tangan Tuhan." "Bimo, kamu tahu betapa banyaknya kerugian yang kamu alami kalau menolak kontrak ini. Uang puluhan juta yang kamu terima selama ini akan lenyap. Hidupmu akan kembali sengsara dan miskin." Bimo menghela napas berat. Ia tahu sekali terikat dengan mereka sangat sulit sekali untuk melepaskan diri. Tapi Bimo sudah bertekad, kali ini ia akan lepas. "Kali ini pesertanya bukan lagi yang lama, tapi orang-orang yang baru dan hanya lima orang," ujar Nyonya Rossa kemudian sambil m
“Apa aku tidak bisa bersembunyi saja dikontrakan kamu?” tanya Adiba penuh harap.Gadis remaja itu masih belum mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Bimo. Ia masih ngotot ingin tetap tinggal di tempat Bimo. Ia bahkan tidak tahu resiko apa yang akan dihadapinya kalau tinggal bersama Bimo.Sekalipu
“Apa mau aku saja yang membantumu, Bimo?” tanya Selvi dengan senyum menggodaBimo menggelengkan kepalanya tapi detik berikutnya tangan mulus dan lembut si perawat sudah menggenggam miliknya mengelus lembut.Tidak berapa lama milik Bimo akhirnya sudah menegang.“Kan begitu cepat kalau dibantu,” ujar
"Bapak tahu?" tanya Bimo sambil menunduk.Ia merasa bersalah dan juga takut. Bagaimanapun ia menyembunyikannya dari sang ayah, tetap saja ketahuan."Bapak melihatmu tadi.""Dia temanku, Pak.""Rumahnya dimana?"Bimo tampak ragu sejenak, tapi ia tahu tidak bisa menyembunyikan apapun dari sang ayah.
"Ini hanya bekas, Gus," ujar Bimo, mengurungkan niatnya untuk menjawab panggilan telepon. Ia malah kembali memasukkan ponselnya ke saku celana, jadi malu untuk mengeluarkan ponselnya. Takutnya Agus semakin curiga padanya."Walaupun bekas, itu masih mahal, loh. Masih puluhan juta," jawab Agus."Ini







