MasukSuara ketikan keyboard memenuhi ruangan dingin yang didominasi warna putih gading. Lena yang duduk di kursi kerjanya menatap ke arah pintu yang terbuka setelah ketukan tiga kali.
"Ada apa, Jace?" tanyanya sambil fokus ke layar komputernya. "Di mana Marcus?" lanjutnya bertanya. "Apa kau sudah melihat file yang kukirimkan?" tanya Jace sambil berjalan mendekat ke arah Lena. Lena menggeleng pelan. "Aku sedang mencoba menyadap Otoritas, mereka mempunyai penjagaan yang ketat, sial!" decak Lena kesal. "Andai Ayah meninggalkan sesuatu petunjuk untukku..." gumam Lena pasrah. "Aku menemukannya," ucap Jace cepat, membuat Lena menatapnya tak percaya. "Aku tidak salah dengar? Kau menemukan apa?" "Petunjuk dari Ayahmu," lanjut Jace, dia membuka laptopnya yang selalu dia bawa itu. "Aku mencari tahu tentang arsip yang Ayahmu kerjakan waktu itu, kegiatan apa saja yang beliau lakukan... dan ada beberapa peninggalan yang masih utuh, tidak dilahap api," jelasnya sambil dengan lancar menelusuri laptopnya. Lena melangkah mendekat dan duduk di samping Jace, melihat Jace yang lancar mengetik di laptopnya. "Kau sungguh mendapatkannya?" "Aku sudah membuat salinan datanya, jaga-jaga jika itu akan hilang. Kau harus simpan flashdisk ini dengan hati-hati!" balas Jace memberikan flashdisk yang dia pakai kepada Lena. Lena menatap flashdisk itu cukup lama, sebelum kembali menatap Jace. "Apa ini cukup Jace?" Jace menatap Lena cukup lama. "Setidaknya bisa membantu dan lebih terarah," ucap Jace. "Nona Aletheia, tolong lebih berhati-hati..." Lena menaikan alisnya bingung, "Tentu saja Jace setiap hari aku berhati-hati, aneh sekali kau bilang itu." "Terima kasih Jace, kau sudah berusaha sejauh ini," lanjut Lena dia mulai membuka flashdisknya di tab yang ada di mejanya. "Aku yang seharusnya berterima kasih, Nona.." "Sudah kubilang jangan terlalu formal, Nona? itu sudah lama sekali aku sudah melarangmu memanggilku itu," potong Lena cepat sebelum Jace bisa melanjutkan uacapannya. "Bisa tolong lanjutkan menyadap itu Jace?" tanya Lena sambil menunjuk komputer yang tadi dia gunakan. "Baik, aku akan lanjutkan," Jace melangkahkan kakinya menuju meja kerja Lena, dia mulai melanjutkan tugas Lena. "Apakah rekan kita baik-baik saja yang berada di Otoritas? Sudah adakah pesan dari mereka semua?" tanya Lena di sela-sela melihat isi flashdisk tersebut. "Semua aman, aku baru saja mendapat pesan dari salah satu mereka. Beberapa pesan penting sudah aku jadikan satu di flashdisk," jawab Jace tanpa mengalihkan pandangan. "Ah baiklah, terima kasih." Lena mulai mencari draft yang di maksud Jace, "Nyx?" "Iya, itu nama draftnya," balas Jace yang tau kebingungan Lena. "Kenapa kau berikan nama itu," gumam Lena yang kemudian membuka draft bertuliskan "Nyx." Lena melihat dan membaca satu-satu isi draft di dalamnya, sampai beberapa menit berlalu pandangan Lena teralihkan pada salah satu dokumen di draft yang sangat membuatnya terkejut. "Marcus?" ucap Lena tiba-tiba membuat Jace yang mendengar itu menghentikan kegiatannya. Laki-laki itu terdiam, menatap Lena yang sedang membuka dokumen tersebut. Jace berdiri, mulai menghampiri Lena yang membaca isi dokumen tersebut. "Itu beberapa info yang aku ketahui, dengan pekerjaan amatirku..." "Maaf, aku telah ceroboh. Sepertinya mereka mengetahui beberapa rencana kita, Nona." lanjut Jace menundukkan kepalanya. Lena menghela napas pelan, menatap Jace yang merasa bersalah. "Tidak perlu minta maaf, ini juga kesalahanku." "Seharusnya aku bisa lebih hati-hati, sial! Kewaspadaanku menurun," geram Lena pada dirinya sendiri, dia Menyugar rambutnya kasar. "Selamatkan bukti dan info penting lainnya yang masih bisa diselamatkan! Tentunya yang masih belum diketahui mereka," perintah Lena yang segera Jace lakukan. "Kita banting arah, langsung ke rencana C!" Lena juga melakukan apa yang bisa dia lakukan, mengamankan beberapa dokumen serta menyimpan semua data di ponsel, laptop, dan beberapa alat elektronik yang dia gunakan untuk di pindahkan pada flashdisk. Sesekali dia menyugar rambutnya di sela-sela melakukan aktivitas. Waktu telah berjalan dengan cepat, jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Lena dan Jace masih sibuk melakukan pekerjaan dadakan mereka. "Jadi, ini yang kau maksud hati-hati, pantas saja kau berbicara aneh..." ucap Lena tiba-tiba. "Maaf, seharusnya dari awal aku memberitahu ini dan tidak bersantai, tapi aku sudah berusaha menyiapkan bekal untuk kita!" ucap Jace serius. "Terima kasih, kau sudah berusaha. Aku merasa tidak becus, maaf jika aku menjadi pemimpin yang buruk. Aku akan berubah setelah ini!" "Tidak, Nona sudah berusaha yang terbaik. Saya yang berterima kasih karena Nona sudah mau merawat kita semua..." Jace menatap Lena, agar tidak khawatir. Lena mengangguk pelan, "Lanjut fokus, Jace! Tunggu, apakah sudah ada pesan lagi dari rekan?" tanya Lena pada Jace. "Belum ada untuk saat ini, aku sudah menyuruh mereka berubah ke rencana C tapi belum ada balasan dari mereka," lanjut Jace yang sibuk mengotak-atik komputer. "Aku harap mereka baik-baik saja," lirih Lena. Tidak berselang lama, sistem internal mereka menerima satu pesan masuk. Jace yang mengetahui terlebih dahulu membukanya dengan cepat. "Nona Aletheia, ada pesan masuk." Lena yang mendengar itu membuka pesan masuk dari rekannya. [Encrypted Transmission — Code Black] Sarang telah ditembus. Beberapa bayangan tidak kembali, sisanya berhasil keluar dari jalur timur dan sedang bergerak menuju titik akhir. Mata musuh kemungkinan sudah berada di dalam jaringan. Tutup seluruh akses level rendah dan aktifkan protokol senyap. Eclipse belum berakhir. Tetap waspada, Nona Aletheia.Arthur menatap Lena sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada."Kau tahu?""Itu bukan jawabannya.""Itu jawabannya, kau sudah tahu.""Alasannya?""Pusat—""Pakai istilah..." potong Nyra dan Lena bersamaan."Badai utara," lanjut Nyra memberi tahu.Arthur mengangguk pelan. "Badai utara sangat kencang sehingga menghempaskan semua benda yang ada di hadapannya."Lena mengangguk paham. "Aku tidak suka badai, menyebalkan..." gumamnya."Lalu, kenapa sekolahku tidak?" lanjut Lena penasaran."Badai mengira daratan lemah."Lena menatap Nyra, sedangkan yang ditatap mengangguk paham."Begitu ya...""Baiklah, selagi tuan detektif di sini... kita bersantai saja dulu," lanjut Lena menatap Arthur dengan senyum manis."Bukan kah akan mencurigakan jika tidak seperti ini?" ucap Lena pelan hampir seperti berbisik, tidak lupa senyum manisnya yang belum hilang."Tidak ada pilihan lain..." ucap Arthur menghela napas dan pergi ke kasir memesan sesuatu.Nyra yang melihat Arthur pergi langsung menatap L
Dia mengangkat kepala.Seorang guru berdiri di ambang pintu."Ya?""Tolong ikut saya sebentar."Beberapa siswa langsung menoleh penasaran.Nyra bahkan berhenti memasukkan buku ke tasnya."Kenapa?""Tidak tahu."Guru itu hanya memberi isyarat agar Lena mengikutinya.Lena berdiri lalu berjalan keluar kelas.Sepanjang perjalanan menuju gedung administrasi, dia mencoba menebak-nebak alasan pemanggilan tersebut.Nilainya baik.Tidak membuat masalah.Setidaknya tidak ada yang berhasil membuktikan sebaliknya. Jadi, seharusnya tidak ada alasan khusus.Mereka berhenti di depan sebuah ruangan kecil.Guru itu mengetuk pintu."Silakan masuk."Lena mengangguk pelan lalu membuka pintu.Ruangan itu ternyata sudah berisi beberapa orang.Wakil kepala akademi.Dua staf administrasi.Dan seorang wanita yang belum pernah dia lihat sebelumnya.Semua mata langsung tertuju padanya."Oh."Lena berkedip."Apakah saya sedang dalam masalah?"Salah satu staf hampir tersedak mendengarnya.Wanita asing itu justru
Tiga hari kemudian.Pagi di Aethelgard I—sekolah Lena—berjalan seperti biasa.Suara bel pertama baru saja berhenti ketika para siswa mulai memenuhi koridor utama. Beberapa berlari menuju kelas, sebagian lagi masih mengobrol santai sebelum pelajaran dimulai.Namun suasana itu tidak bertahan lama.Karena lima menit kemudian—seluruh layar informasi akademi menyala bersamaan."Hah?""Ada apa?"Para siswa langsung menoleh.Biasanya layar-layar itu hanya digunakan untuk jadwal ujian atau pengumuman penting akademi.Tapi kali ini yang muncul adalah lambang resmi Otoritas Kota Aethelgard.Ruangan kelas Lena langsung menjadi ramai.Bahkan guru yang baru masuk pun menghentikan langkahnya.Layar besar di depan kelas menampilkan seorang wanita berpakaian formal."Pengumuman resmi dari Dewan Otoritas Kota."Suasana kelas mendadak hening."Sebagai bagian dari perayaan Hari Persatuan Kota, Otoritas Aethelgard akan menyelenggarakan Gala Persatuan tahunan di Grand Hall Pusat."Beberapa siswa langsung
Hujan turun pelan membasahi jendela kantor investigasi.Langit Aethelgard tampak lebih gelap dibanding biasanya, sementara cahaya lampu gedung memantul samar di jalanan basah kota. Suasana kantor juga tidak jauh berbeda—sunyi, berat, dan dipenuhi rasa lelah setelah hampir semalaman menyelidiki kasus auditor.Sesekali kilat tipis menyambar di balik gedung-gedung tinggi kota, memantulkan cahaya pucat ke ruangan investigasi yang hampir kosong. Beberapa petugas lain sudah pulang sejak satu jam lalu, meninggalkan meja-meja kerja yang masih dipenuhi dokumen dan layar data yang belum dimatikan.Arthur masih duduk di depan layar hologram utama.Puluhan data melayang di hadapannya. Nama siswa. Log akses. Waktu kematian. Rekaman kamera yang sempat mati tujuh menit.Dan semakin lama dia melihat semuanya—semakin jelas ada sesuatu yang tidak masuk akal.Tatapan Arthur perlahan berubah tajam.Suara hujan di luar terdengar makin berat, memenuhi keheningan ruangan bersama dengung mesin hologram yang
Pagi di kantor investigasi terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara ketikan keyboard dan dengung layar hologram memenuhi ruangan redup yang masih dipenuhi aroma kopi pahit sejak beberapa jam lalu. Beberapa petugas terlihat sibuk memeriksa ulang data kasus auditor, sementara sebagian lain memeriksa kasus yang berbeda. Arthur berdiri di depan layar utama tanpa bergerak. Tatapannya tertuju pada satu nama besar yang terus muncul sejak tadi. AKADEMI AETHELGARD II. Luke mendekat sambil membawa tablet data baru. "Aku sudah coba akses riwayat database sekolah itu." Dia menghela napas pelan. "Dan hasilnya aneh." Arthur melirik sekilas. "Seberapa aneh?" "Beberapa file siswa hilang." "Hilang?" "Bukan terhapus biasa..." Luke memperbesar tampilan layar. "Seolah identitas mereka tidak pernah ada sejak awal." Arthur terdiam. Data digital di kota Aethelgard hampir mustahil hilang total. Semua aktivitas tersimpan otomatis di server pusat kota. Bahkan catatan pelanggaran kecil pun bisa berta
Nyra menatap Lena beberapa detik sebelum akhirnya menyandarkan tubuh ke sofa."Aku serius," katanya sambil menunjuk layar ponsel Lena dengan kaleng minumannya. "Kasus seperti ini mulai terlalu sering muncul."Lena tidak langsung menjawab.Tatapannya justru tertuju ke jendela kamar yang memperlihatkan langit pagi Aethelgard. Cerah. Tenang. "Orang yang bekerja bersih seperti ini biasanya bukan amatir," ucap Lena pelan.Nyra menaikkan alis. "Kau terdengar seperti mengenal mereka.""Tidak." Lena tersenyum kecil. "Tapi pola tetaplah pola."Suasana hening beberapa saat. Hanya suara kendaraan samar dari luar apartemen dan bunyi pendingin ruangan yang terdengar pelan memenuhi kamar.Lalu—Bzzt.Ponsel Nyra tiba-tiba bergetar cukup keras di atas meja.Dia melirik layar sebentar, lalu ekspresinya langsung berubah."…Hm?""Apa?" tanya Lena malas.Nyra tidak langsung menjawab. Dia membaca pesan itu sekali lagi seolah memastikan dirinya tidak salah baca."Markas mengirim update."Lena kini mulai
Malam sebelumnya Arthur hampir tidak tidur sama sekali.Lampu ruang kerjanya masih menyala bahkan saat langit Aethelgard perlahan berubah terang. Beberapa cangkir kopi kosong memenuhi meja, sementara layar hologram di depannya terus menampilkan data kasus yang sama berulang kali.Namun fokus Arthur
Malam menyelimuti ruang kerja dengan suasana tenang dan sunyi. Cahaya lampu meja menerangi tumpukan dokumen di atas meja kayu, sementara angin malam masuk pelan dari jendela yang sedikit terbuka. Aroma kopi dan kertas memenuhi ruangan, menciptakan suasana hangat di tengah dinginnya malam.Suara lem
Malam perlahan menyelimuti langit dengan warna gelap kebiruan. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, sementara angin malam berhembus pelan melewati jalanan yang mulai sepi. Cahaya lampu dari kejauhan tampak samar, memantul lembut di bawah suasana malam yang tenang dan sunyi.Lena berada di balko
"Apa kau akan kembali ke markas, Lim?"Lim menggeleng pelan, "Tidak, aku harus menemanimu.""Pengawasan di sini sudah ketat, banyak pengawal," ucap Lena meminum teh yang di bawakan Lim. "Aku takut terjadi seperti waktu lalu, mereka pasti mengambil kesempatan di mana pun.""Baiklah, sebentar lagi m







