بيت / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 3: Malam Terdahsyat

مشاركة

Bab 3: Malam Terdahsyat

مؤلف: Ibrahiman
last update تاريخ النشر: 2026-03-19 05:06:58

​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilepas kancing atasnya, memperlihatkan kulit lehernya yang putih mulus dan sedikit belahan dadanya yang kencang.

​"Sabar, Bu Bidan. Saya kan takut ada yang lihat. Malu kalau ketahuan kuli pasar main ke klinik malam-malam," jawab Madun sambil menyelinap masuk. Tangannya memegangi bagian depan celananya yang tampak sangat sesak, menonjolkan gundukan "linggis" 30 cm yang legam dan berurat.

​"Sudah, kunci pintunya! Cepat!" Siska langsung menarik kerah baju Madun begitu pintu tertutup. "Kamu tahu tidak? Seharian ini saya tidak konsentrasi kerja! Pasien tensi darahnya normal, saya tulis tinggi! Gara-gara memikirkan linggis kamu itu!"

​"Waduh, Bu Bidan nafsu banget ya? Saya juga sama, Bu. Digesek kain celana saja rasanya mau meledak," keluh Madun. Dada bidangnya naik turun dengan napas yang memburu, membuat otot lengannya yang coklat gelap terlihat semakin jantan di mata Siska.

​"Jangan banyak bicara! Cepat buka! Saya sudah siapkan ranjang periksa yang paling empuk!" Siska menarik Madun ke ruang praktik pribadinya. Tanpa menunggu, Siska sendiri yang merobek kancing baju Madun. "Mana? Keluarkan si hitam itu sekarang!"

​Madun melorotkan celananya. Srat! Batang hitam legam sepanjang 30 sentimeter itu langsung mencuat keluar, berdenyut kaku menantang langit-langit. Siska langsung melompat ke atas tubuh Madun. Ia sudah tidak peduli lagi dengan seragamnya yang tersingkap tinggi, memperlihatkan paha putihnya yang sintal dan mulus.

​"Saya mau gilas kamu sampai mampus malam ini! Arghhh! Gila! Madun! Rasanya penuh sekali!" Siska menjerit nikmat sambil mulai menjilati senjata Madun dengan kecepatan gila. Pinggulnya yang bulat naik turun liar, membuat ranjang periksa itu berderit kencang. Kriet... kriet... kriet... bang!

​"Aduh, Bu Bidan! Pelan-pelan! Meja periksanya mau patah!" Madun mencengkeram sprei, matanya mendelik.

​"Biar patah! Biar klinik ini roboh sekalian! Cepetan masukin aku, sudah nggak tahan sayang!" Siska sudah memposisikan senjatanya Madun ke liangnya. pas mau amblas, tiba-tiba...

​TOK! TOK! TOK!

​"Permisi? Bu Bidan? Ada siapa di dalam?" suara berat Hansip Udin mengejutkan mereka.

​Siska dan Madun membeku. Gerakan maut Siska terhenti tepat saat ia hampir mencapai puncak. "Oh... Pak Udin! Nggak ada apa-apa, Pak! Ini ada tikus besar sekali masuk ke ruang praktik saya!"

​"Tikus, Bu? Kok suaranya sampai berderit-derit kencang begitu? Tikusnya bawa kayu jati apa gimana?" tanya Hansip Udin heran dari balik pintu.

​"Tikusnya lari-lari di atas meja, Pak! Sudah, Pak Udin lanjut keliling saja! Saya lagi sibuk menyuntik tikusnya pakai sapu!" jawab Siska sambil menahan erangan karena Madun tidak sengaja menggerakkan pinggulnya di bawah sana.

​"Sst! Madun! Cepetan keluar lewat jendela!" bisik Siska panik sambil narik resleting bajunya yang nyangkut di kulit dadanya yang lembap.

​"Waduh Sis, ini tinggi banget!" Madun nengok ke bawah, keringat dingin segede biji jagung mengucur di dahinya yang tegas.

​"Gak ada waktu! Buruan!" Siska dorong pantat Madun pelan. Bruk! Madun mendarat sukses di atas tumpukan daun kering. Siska langsung lari ke pintu, masang muka ngantuk dan mengacak rambutnya agar terlihat berantakan seksi.

​"Apa sih Bang Udin? Malem-malem berisik banget!" Siska nyandar di pintu. Kaos tipisnya yang agak ketat bikin Bang Udin mendadak nelen ludah, matanya jelalatan ke arah dada Siska yang masih naik turun.

​"E-eh, Mbak Siska. Tadi kayak ada bayangan cowok masuk," kata Bang Udin, suaranya mengecil.

​"Bayangan apaan? Orang saya lagi luluran. Abang mau masuk periksa? Tapi saya lagi nggak pake apa-apa nih di balik baju," Siska senyum tipis, sengaja benerin kerah bajunya.

​"Oh... ya sudah kalau aman. Permisi Mbak, cantik banget malem ini," Bang Udin mundur teratur.

​Siska membanting pintu setelah Hansip itu pergi. "Sialan! Dasar Hansip kampret! Ganggu orang lagi enak saja!" Siska berdiri di depan cermin besar. Napasnya masih memburu di balik daster satin ungu tua yang menempel ketat di tubuhnya, memperlihatkan lekuk pinggang ramping dan buah dada yang membusung kencang.

​Siska mencoba berbaring, tapi kasurnya terasa panas. Setiap kali ia memejamkan mata, yang terbayang adalah visual Madun dengan otot perut kotak-kotak dan "linggis" hitam 30 cm miliknya. Siska melepaskan satu kancing dasternya, memperlihatkan belahan dadanya yang putih mulus.

​Jam 03.00 Pagi, Siska berjalan ke dapur. Pantatnya yang bulat bergoyang di balik kain satin ungu yang licin. Ia meminum air dingin dari botol, air menetes melewati dagu dan hilang di sela-sela dadanya. Tiba-tiba HP-nya bergetar.

​Ternyata WA dari Madun yang diberinya kontak WA tadi malam.

Madun: "Maaf Bu Bidan, tadi saya lari lewat empang. Badan saya gatal kena ulat bulu. Tapi punya saya masih tegang terus, diganjel pakai sarung nggak mau turun."

​Siska melotot dan mengetik balasan dengan cepat. "Bodo amat! Kamu pikir saya nggak gatal? Saya gatal luar dalam, Dun! Pokoknya besok jam 8 malam tepat datang ke rumahku! Telat semenit, linggis kamu saya sita!"

​Pagi harinya di klinik, Siska duduk dengan wajah judes-judes seksi. "Mbak Siska, kok pagi-pagi mukanya ditekuk?" tanya Ratna.

​"Nggak usah tanya-tanya, Rat! Kamu tahu Hansip Udin? Kalau dia lewat, bilang saya lagi nggak terima pasien cowok cerewet!" semprot Siska. Ratna tertawa, melirik daster kerja Siska yang sangat ketat di bagian pinggul.

​"Kenapa sih? Kayaknya ada yang belum keluar ya semalam?" goda Ratna.

​"Diam kamu! Saya mau dandan cantik buat nanti malam. Kali ini, kiamat pun nggak boleh ganggu rencana saya sama Madun!" Siska merapikan rok span-nya yang memperlihatkan lekukan tubuh sempurna. Ia tersenyum licik di depan cermin, memulas lipstik merah menyala, membayangkan malam terdahsyat yang akan segera tiba bersama si kuli berlinggis baja.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 301: Badai di Balik Manisnya Gula Aren

    ​Kesuksesan besar Festival Lopis Nusantara ternyata tidak hanya membawa berkah dan keuntungan melimpah bagi Bono dan Rini, tetapi juga memicu gelombang kecemburuan dari pihak-pihak yang tidak suka melihat kedai "Lopis Sakti" berjaya.​Dua hari setelah festival usai, suasana pagi di pelataran ruko kelontong Madun mendadak tegang.​Sarah berdiri di ambang pintu ruko, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena rasa cemas yang mendadak. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari pagi.​Madun berdiri tegar menjulang di samping istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas menatap tajam ke arah depan ruko, di mana tiga orang pria berbadan gempal berkaus gelap berdiri dengan gestur menantang.​Mereka adalah anak buah dari Badri, mantan pe

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 300: Festival Lopis Nusantara di Pelataran Ruko

    ​Beberapa bulan berselang sejak Kedai "Lopis Sakti" resmi beroperasi, usaha kecil yang dikelola oleh Bono dan Rini berkembang pesat melampaui ekspektasi. Aromanya yang khas dan cita rasa gula aren murni membuat kedai tersebut tidak pernah sepi pengunjung, bahkan mulai menarik perhatian pelancong dari luar kota.​Pagi itu, pelataran ruko kelontong Madun tampak lebih sibuk dari biasanya. Spanduk besar bertuliskan "Festival Lopis Nusantara & Reuni Persahabatan" terbentang megah di antara tiang-tiang teras.​Sarah berdiri anggun di dekat meja pendaftaran festival, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena antusiasme yang tinggi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari pagi.​Madun berdiri tegar menjulang di sisi sang istri, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah t

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 299: Pagi Baru di Ruko Ujung Desa

    ​Matahari pagi menyinari atap ruko kelontong Madun dengan kehangatan yang menyegarkan. Udara desa terasa sejuk, membawa aroma embun pagi yang berpadu dengan wangi kopi hitam.​Sarah berdiri di teras ruko, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menikmati udara pagi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya matahari pagi.​Madun berdiri tegar menjulang di samping istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak tenang, menikmati ketenteraman desa yang kini benar-benar terbebas dari segala bentuk ancaman kriminalitas.​Tidak lama kemudian, suara langkah kaki yang riang terdengar dari arah jalan setapak. Sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul: Bono berjalan berdampingan dengan Rini, istrinya.​Bono tampak jauh lebih segar dengan k

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 298: Malam Penuh Rencana di Ruko

    ​Malam hari menyelimuti desa dengan keheningan yang menenangkan. Lampu-lampu warung dan ruko kelontong Madun menyala terang, memancarkan kehangatan di tengah angin malam yang berhembus sepoi-sepoi.​Sarah berdiri di ruang tengah ruko sambil merapikan laporan keuangan harian, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa semangat dari kunjungan sore tadi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan anggun.​Madun berdiri tegar di dekat pintu utama, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak begitu tenang menikmati suasana malam yang damai.​Bono datang menghampiri ruko dengan langkah ringan, membawa sekotak martabak manis pesanan khusus untuk merayakan suksesnya misi pendekatan pertama hari itu. Wajah Bono tampak berbinar-binar gembira.​"Wah, selamat malam para p

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 297: Manisnya Obrolan di Warung Kopi

    ​Suasana warung kopi Mak Jiah mendadak terasa lebih semarak dengan kehadiran kelompok kecil Madun dan kawan-kawan. Rini, gadis berkerudung rapi yang semula tampak sibuk dengan gelas-gelas pesanan, kini meletakkan nampannya di atas meja lalu membalas sapaan Bono dengan senyuman ramah yang menenangkan.​"Silakan duduk, Mas Bono... Mbak Sarah, Mas Madun, dan Siska juga," ucap Rini sopan sambil mempersilakan mereka menempati bangku kayu panjang di dekat etalase warung.​Bono menarik kursi dengan gerakan sedikit kaku, masih diliputi rasa salah tingkah di hadapan gadis yang menjadi target utama agen biro jodoh dadakan tersebut. Madun duduk di sebelah Sarah, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa tenang untuk mencairkan suasana.​Siska langsung menyenggol lengan Bono pelan sambil berbisik dengan nada menggoda. "Woy, jangan kaku amat kayak patung pancoran! Pasang senyum andalan dong, tunjukin kalau mantan raja jud

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 296: Misi Baru: Mencari Pelabuhan Hati Bono

    ​Sesi latihan fisik pagi itu ditutup dengan napas terengah-engah dan tawa lepas di pelataran ruko. Setelah berhasil melewati ujian push-up dan lari keliling desa, Bono duduk bersila di teras sambil meneguk air mineral dingin, merasa jauh lebih bugar dari hari-hari sebelumnya.​Sarah berdiri di samping suaminya, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa angin pagi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari yang semakin hangat.​Madun berdiri tegar menjulang, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Ia menatap sahabatnya yang kini tampak jauh lebih bersemangat menata hidup.​"Badan sudah mulai terbentuk, mental juga sudah mulai pulih dari bayang-bayang masa lalu," ucap Madun dengan suara berat bernada rendah yang penuh wibawa. "Tapi hidup kamu belum lengkap kalau cum

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 166: Sentuhan Lembut di Ambang Pintu

    Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murn

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status