MasukZhu Yu, seorang wanita modern berprofesi sebagai guru SD masuk ke novel setelah kecelakaan bus yang dialaminya dan menjadi Xie Ruyu–tokoh antagonis yang ditakdirkan mati karena tamak akan kekuasaan. Berbekal pengetahuan alur cerita, ia berusaha menghindari takdir tragis itu. Namun, masalah terus datang dan menyeretnya ke konflik yang memberatkan saat para pria dengan latar: pangeran yang juga transmigrator, calon penguasa yang obsesif, hingga pejabat muda yang setia datang ke hidupnya.
Lihat lebih banyak“Nona, tolong ampuni nyawa hamba! Hamba bersalah! Hamba mohon maaf!”
Suara tangis itu menyebar di halaman belakang belakang yang hanya selebar gang kecil. Seorang pelayan sedang berlutut, menahan tubuhnya yang gemetar. Rambutnya basah, pipinya membengkak merah akibat tamparan. “Apa yang terjadi?” gumam Zhu Yu pelan. Zhu Yu ingat betul kalau sebelumnya dia sedang mengejar bus terakhir yang beroperasi pada malam itu. Ia terpaksa bekerja lembur karena sibuk membuat soal ujian semester pertama yang diadakan kurang dari seminggu lagi. Akan tetapi, bus yang dinaikinya mengalami kecelakaan lalu terguling di atas aspal jalan raya. Kepalanya terhantam keras dan tubuhnya terjepit di antara kerangka bus yang penyok hingga bau amis darah mengalir dari kepalanya memenuhi indra penciumannya sebelum matanya benar-benar menutup. Zhu Yu menunduk, ia bisa melihat tatapan pelayan di hadapannya yang ketakutan. Kemudian, netranya mengikuti arah tangannya dan seketika napasnya tercekat. Zhu Yu mendadak melepaskan tangannya yang mencengkram kuat rambut belakang pelayan tersebut sampai mundur selangkah. Pelayan tersebut sempat terhuyung sebelum merangkak mendekat dan memeluk kaki majikannya. “Hamba berjanji tidak akan mengulangi kesalahan lagi. Hamba akan melakukan apapun agar Nona bersedia mengampuni hamba.” Napasnya memburu, ia mengedarkan pandangan di sekelilingnya seperti orang linglung. Dinding bata tua, gentong kayu berisi air, dan rumah tradisional tampak asing baginya. Ia juga melihat tiga pelayan lainnya berdiri tak jauh dari mereka, wajahnya menegang. Kemudian, ia mengangkat kedua tangannya ke depan dan menyadari kalau ia mengenakan Hanfu sutra berwarna ungu gelap dengan sulaman benang emas. “Tidak, ini bukan aku…” Ia langsung meraba kepalanya lalu menyingsingkan lengan bajunya, memeriksa apakah ada bekas luka tertinggal dari kecelakaan tersebut. Namun, hasilnya nihil. Ia mencubit lengan atasnya. Sakit. Lalu, mencubit pipinya. Sakit juga. “Ini sungguhan? Bagaimana caranya aku bisa ada disini?” Zhu Yu segera melepaskan pelukan pelayan yang masih berada di kakinya dengan pelan. Ia melangkah mendekat hingga berhenti di depan gentong air. Dengan menghirup napas dalam, ia pun langsung mencelupkan kepalanya ke dalam. “Nona! Apa yang Anda lakukan?” Para pelayan berseru panik. Namun, kepanikan itu digantikan oleh helaan lega saat Zhu Yu kembali mengangkat kepalanya. “Hentikan semuanya!” Seruan itu menginterupsi pergerakan mereka. Zhu Yu menoleh dan melihat seorang pria paruh baya dengan perawakan wajah lebar dan janggut sedikit panjang dan lebat. Para pelayan segera memberi salam. “Salam, Tuan.” Pria paruh baya itu melangkah mendekat, tatapannya tajam mengarah Zhu Yu. “Xie Ruyu. Hal apa lagi yang kau permasalahkan sampai menyiksa pelayanmu sendiri, hah?” “A-aku tidak tahu. Kenapa bisa seperti ini…” “Kau masih ingin berbohong pada Ayah? Jika bukan kau, siapa lagi? Hantu? Pelayan yang ada di luar memberitahuku semuanya apa yang terjadi.” Zhu Yu tak bisa berkata-kata. Namun, di dalam otaknya sibuk berpikir. 'Apa aku tidak salah dengar? Barusan aku dipanggil Xie Ruyu olehnya? Xie Ruyu, kan tokoh antagonis dari novel Perjalanan Menjadi Cahaya yang pernah kubaca waktu masih SMA.’ Kebanyakan orang mungkin sudah lupa dengan ceritanya jika sudah setahun berlalu, apalagi lima tahun lebih. Akan tetapi, berkat kemampuan ingatannya yang tidak biasa, ia dapat langsung mengingat saat terpancing oleh sedikit petunjuk. Sekarang, ia dapat mengingat jika adegan ini adalah awal Xie Ruyu muncul dan diperkenalkan sebagai putri Guru Kekaisaran yang kejam di tengah jalan cerita. Yang mana orang tua yang ada di hadapannya adalah ayahnya yang bernama Xie Luo'an. Akibat kesalahan pelayan yang menghilangkan kuas tulis tongkat giok putih miliknya saat membersihkan meja, Xie Ruyu menghukum pelayannya dengan menampar wajahnya dan memaksa menenggelamkan kepalanya ke dalam gentong air. Kedua kakinya melemas hingga berlutut, tepat saat Xie Luo'an menyuruhnya untuk berlutut. “Tidak ada habisnya kau membuat keributan. Apa kau tidak bisa menahan amarahmu sedikitpun?” Lalu, Xie Luo'an menambahkan lagi. “Ayah sudah bersabar karena kau biasanya tidak menyerang fisik. Tapi, lihat sekarang! Karena masalah sepele, kau membuat pelayanmu sendiri hampir mati!” Zhu Yu hanya bisa menunduk. Apa yang diucapkannya benar, tindakan Xie Ruyu sudah melewati batas hanya karena masalah kuas saja. Sebab itu, Zhu Yu tidak menyukai tokoh ini karena karakternya terlihat sangat kejam, apalagi saat membunuh adiknya sendiri demi menjadi Putri Mahkota. Saat mendekati akhir cerita, Xie Ruyu dihukum mati dengan racun saat segala kejahatannya di istana terungkap oleh rival haremnya, Su Jinli. Di tengah sunyinya kediaman Xie Ruyu, seorang pelayan datang dengan terengah-engah karena habis berlari. Ia memberi salam lalu menyampaikan berita yang sudah ditahannya sejak tadi. “Tuan! Nona Kedua, mengeluh nyeri kepala dan tiba-tiba demam tinggi.” Xie Luo'an mengernyitkan alisnya kemudian bertanya, “Apa kalian sudah memanggil Tabib?” Pelayan tersebut mengangguk. “Tabib sedang memeriksa kondisi Nona Kedua.” Jantung Zhu Yu berdegup kencang. Bibirnya bergetar samar seraya bisikannya. “Tidak mungkin… jangan bilang adegan ini langsung menceritakan setelah Ruyu melakukan ritual untuk mencelakai adiknya?”Gerimis tipis turun tanpa henti bersama awan kelabu menyelimuti sejak fajar menyingsing.Di halaman utama istana, peti jenazah Selir Agung Cui telah diletakkan di atas tandu kayu yang dihiasi kain putih. Asap dupa mengepul perlahan, bercampur dengan aroma kayu cendana yang memenuhi udara.Puluhan pejabat, anggota keluarga kekaisaran, serta para pelayan berdiri berjajar mengenakan pakaian berkabung berwarna putih.Setelah keluarga Cui jatuh dan Selir Agung kehilangan kedudukannya, internal istana sudah tidak lagi stabil. Kabar mengenai Selir Agung terdengar oleh Kaisar dan membuat penyakit jantungnya kambuh seketika. Syok yang begitu hebat langsung membuatnya tak sadarkan diri.Oleh karena itu, ia tidak bisa menghadiri pemakamannya kali ini, kesempatan untuk melihat wajah istri yang paling dicintainya terakhir kalinya.Para pelayat yang menemani kepergian mendiang langsung ke makam segera bersiap berbaris. Di barisan paling depan, Jin Zhen sudah berdiri. Pakaian berkabung putih yang
Jin Zhen turun dari kereta kuda sederhana yang berhenti di depan kompleks penjara kekaisaran. Bangunan itu berdiri kokoh dengan dinding batu abu-abu yang tinggi, dipenuhi lumut akibat usia. Jejak kaki Jin Zhen di atas halaman berpasir berhenti tepat di akses masuk yang dihalangi oleh dua penjaga dengan tombak di genggaman yang tengah berdiri tegak. Salah seorang penjaga mengambil selangkah maju seraya mengulurkan telapak tangan ke depan.“Sesuai aturan, kami harus memeriksa setiap orang yang ingin menjenguk tahanan beserta barang bawaannya,” kata penjaga itu dengan tegas namun tetap sopan.Jin Zhen langsung menyetujuinya.Salah seorang penjaga mulai bergerak untuk memeriksa seluruh tubuhnya secara sopan, meraba lengan, pinggang, dan punggung, memastikan tidak ada senjata tersembunyi.Sedangkan, penjaga lainnya membuka kotak kayu yang merupakan rantang makanan dibawanya sedari tadi.Di dalamnya hanya terdapat beberapa roti kukus hangat, semangkuk sup ayam, sayuran rebus, acar lobak,
Setelah meninggalkan perpustakaan, Jin Zhen dan Xie Ruyu membawa langkah keduanya menuju sebuah taman kecil yang berada di sisi timur kompleks istana. Tempat yang jarang didatangi orang karena letaknya cukup tersembunyi di balik rumpun bambu dan pepohonan tua.Begitu sampai di tepi kolam, barulah mereka berhenti. Jin Zhen langsung berbalik menghadap Ruyu. Sorot matanya yang sejak tadi dipenuhi kegelisahan akhirnya bertemu dengan mata gadis itu.“Kau tidak apa-apa?” tanya Jin Zhen. Tanpa sadar kedua tangannya terangkat dan mendarat perlahan di atas kedua bahu Ruyu. Tangannya menggenggam dengan hati-hati.Ruyu memandang wajah pria itu beberapa saat. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari perpustakaan, ia benar-benar menyadari betapa pucat wajah Jin Zhen. Sorot matanya dipenuhi rasa bersalah.Ruyu memahami kekhawatiran yang disembunyikan di balik tatapan itu. Ia hanya menganggukkan kepala pelan dan sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. Senyum yang sengaja ia tunjukkan agar pria itu t
Tangan kirinya bergerak ke pinggang Ruyu, meremasnya dengan lembut namun dominan, seolah ingin menegaskan bahwa tubuh gadis itu sudah menjadi miliknya. Ia mendorong Ruyu mundur perlahan hingga punggung gadis itu menempel ke dinding perpustakaan. Rak buku di samping mereka bergoyang sedikit karena benturan.“Kau milikku, Ruyu,” bisik Jin Guang pada telinga gadis di hadapannya. Napasnya menyapu kulit leher Ruyu, membuat bulu kuduknya meremang. “Bukan karena kekuasaan Keluarga Xie, tetapi karena aku menginginkanmu. Seluruh dirimu harus menjadi milikku.”Ruyu mencoba mendorong dada Jin Guang dengan tangan kirinya yang bebas, namun pria itu terlalu kuat. Tubuhnya telah menekan lebih erat, mengurung Ruyu sepenuhnya di antara dinding dan dadanya yang bidang. Wajah di antara mereka hanya berjarak beberapa. Matanya menatap bibir gadis itu dengan tatapan hasrat yang tidak bisa disembunyikan lagi.Ruyu merasa napasnya tersengal. Jantungnya berdegup kencang karena campuran amarah dan rasa takut
Langkah kaki Ruyu berhenti tepat di tengah keramaian jalanan pasar ibukota yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kain bendera berkibar dengan tulisan nama toko, suara pedagang bersahut-sahutan, dan aroma makanan pinggir jalan bercampur dengan tawa anak-anak yang berlarian di antara kerumunan. “W
Xie Luo’an turun dari kereta kuda begitu sampai di kediaman. Ujung jubah seragam dinas berwarna ungu berkibar tertiup angin sore berhembus lembut setelah melangkahi gerbang utama. Kali ini, ia tidak melewati atau berhenti di aula utama seperti biasanya. Tanpa menanggapi pada para pelayan yang mem
Ruyu yang masih tersungkur di tanah dengan ayam jantan masih meronta, langsung membeku setelah mengetahui pria yang di depannya adalah Putra Mahkota. Otaknya berhenti berpikir sejenak, benar-benar kosong. ‘Putra Mahkota ini pasti Pangeran Pertama yang bernama Jin Yuan, kan? Jika dilihat paras
Sekian hari setelah dirinya masuk ke dunia baru, seluruh penghuni kediaman Xie hidup dalam ketenangan. Tidak ada suara pecahan barang keramik menghantam lantai, teriakan emosional yang membuat para pelayan gemetar ketakutan, hingga seruan pelayan yang memohon ampun. Di depan tembok pembatas halam


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan