Share

BAB 5

Author: Rosela2505
last update publish date: 2026-06-14 18:47:01

#Nama yang Mulai Terdengar

Kalimat terakhir yang bayangan jacob ucapkan bahkan belum sempat kupahami sepenuhnya.

Jangan percaya para Penguasa Waktu.

Masalahnya, aku bahkan belum pernah bertemu satu pun dari mereka.

Setelah berjalan hampir satu jam melewati jalanan retak dan padang tandus yang membentang sejauh mata memandang, sebuah desa mulai terlihat di kejauhan.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Bonua Toru, aku melihat tempat yang benar-benar tampak hidup.

Namun sebelum kami sempat memasuki gerbang desa, suara cambuk tiba-tiba menggema dari arah tengah pemukiman.

Suara itu segera disusul jeritan tertahan seorang wanita.

Aku dan Lira saling berpandangan sesaat sebelum mempercepat langkah menuju pusat desa.

Di tengah lapangan berdiri sebuah dinding batu raksasa setinggi hampir sepuluh meter. Permukaannya dipenuhi simbol dan aksara aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tepat di depan dinding itu, seorang wanita dirantai pada sebuah tiang besi besar. Kedua tangannya terikat di atas kepala sementara rantai hitam membelenggu kedua kakinya hingga tertanam ke dalam tanah.

Namun bukan pemandangan itu yang membuatku membeku.

Melainkan wajah wanita tersebut.

Dadaku terasa sesak saat melihatnya.

Istriku yang kutinggalkan di bumi.

Suara cambuk kembali terdengar.

Tubuh wanita itu tersentak ketika cambukan tersebut menghantam punggungnya. Anehnya, luka yang baru saja muncul perlahan menutup beberapa detik kemudian seolah tidak pernah ada.

Pria yang berdiri di depannya mendecakkan lidah dengan kesal.

"Masih tidak mau bicara?" katanya dingin. "Kalau kau tetap menolak membaca arti aksara itu, aku akan mulai membunuh penduduk desa satu per satu."

Wanita itu hanya menunduk tanpa menjawab.

Aku refleks melangkah maju.

Namun tangan kecil Lira segera menahan lenganku.

"Tunggu."

"Apa lagi?" gerutuku.

"Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi."

Bertindak tanpa informasi di dunia asing seperti ini sama saja mencari kematian

Kami akhirnya memasuki sebuah warung kecil di pinggir desa. Seorang pria tua yang menjaga tempat itu tampak gugup sejak kami datang. Setelah makanan dihidangkan, aku langsung bertanya mengenai wanita yang sedang disiksa di luar.

Pria tua itu menatapku lama sebelum berbisik pelan.

"Namanya Sera."

"Sera?"

Ia mengangguk.

"Dia keturunan terakhir keluarga penjaga aksara."

Aku dan Lira saling bertukar pandang.

Pria tua itu kemudian menunjuk ke arah dinding batu raksasa di tengah desa.

"Hanya keluarganya yang bisa membaca tulisan di sana."

Aku kembali menatap dinding tersebut.

"Kalau begitu kenapa dia disiksa?"

"Karena Revan ingin mengetahui arti tulisan itu."

"Siapa Revan?"

"Pria yang sedang menyiksanya."

Nada suaranya langsung berubah hati-hati.

"Dia pemburu peninggalan kuno yang bekerja untuk para penguasa langit. Salah satu orang terkuat di wilayah ini."

Penjelasan itu mulai membuat semuanya masuk akal.

"Lalu kenapa Sera tidak kabur?"

"Karena jika dia kabur, seluruh desa ini akan dimusnahkan."

Namun rupanya masih ada alasan lain.

"Sera juga memiliki Batu Penyembuhan," lanjut pria tua itu. "Batu itu diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Luka apa pun yang ia terima akan pulih dengan sendirinya."

Pantas saja tubuhnya tidak menunjukkan bekas luka meskipun terus disiksa.

Aku menatap ke luar jendela sekali lagi.

"Aku akan membebaskannya."

Lira menghela napas panjang seolah sudah menduga jawabanku.

"Kita bahkan belum tahu apa arti tulisan itu."

"Mungkin."

"Dan kita belum tahu apakah dia mau ikut dengan kita."

"Mungkin juga."

Aku menatap Sera yang masih dirantai di tengah desa.

"Tapi aku tidak bisa berpura-pura tidak melihat semua ini."

Beberapa detik kemudian Lira ikut berdiri.

"Kalau begitu jangan mati."

Aku tersenyum tipis.

"Itu juga rencanaku."

Saat aku berjalan menuju alun-alun, seluruh perhatian penduduk desa langsung tertuju kepadaku.

Revan menghentikan cambuknya dan menoleh.

"Pendatang?"

"Aku ingin wanita itu."

Keheningan langsung menyelimuti seluruh desa.

Kemudian Revan tertawa.

"Dan menurutmu siapa dirimu?"

Aku mengangkat bahu.

"Jujur saja, aku juga belum tahu. Tapi aku cukup yakin aku bukan pengecut yang menyiksa wanita yang sedang dirantai."

Senyum di wajah Revan menghilang.

Cairan hijau mulai menetes dari tombak panjang yang berada di tangannya.

"Kau sedang mencari mati."

"Aku sering mendengar kalimat itu sejak datang ke dunia ini."

Ledakan asam menghantam tanah tepat di depanku.

Aku melompat mundur beberapa meter dan langsung menyadari sesuatu.

Orang ini jauh lebih kuat daripada semua lawan yang pernah kuhadapi.

Revan bergerak.

Dalam sekejap ia sudah berada di hadapanku.

Aku segera mengaktifkan Zona Waktu.

Udara di sekitar tubuhnya membeku dan gerakannya melambat.

Namun hanya sesaat.

Retakan muncul di dalam wilayah waktuku sebelum Revan memaksa menerobos keluar.

Ini pertama kalinya seseorang mampu melawan efek kemampuan tersebut.

"Level satu," ucapnya sambil mendengus. "Dan kau berani menantangku?"

Tombaknya nyaris membelah leherku.

Tubuhku terpental beberapa meter dan darah langsung mengalir dari sudut bibirku.

Perbedaan kekuatan kami terlalu jauh.

Saat Revan kembali menyerang, cahaya perak melintas dari samping.

Pedang Lira menahan tombaknya tepat waktu.

Gadis kecil itu mendorong tubuh Revan mundur beberapa langkah.

"Bangun!" teriaknya.

"Aku sedang berusaha!" balasku sambil berdiri.

Pertarungan pun berubah.

Lira menggunakan kemampuannya melihat kemungkinan masa depan untuk membaca pola serangan Revan, sementara aku terus mengganggu gerakannya dengan Zona Waktu. Sedikit demi sedikit ritme pertarungan mulai bergeser.

Revan semakin marah.

Dan di tengah kemarahannya itu, ia melakukan satu kesalahan.

Ia terlalu fokus kepada Lira.

Terlalu fokus pada lawan yang berada di depan matanya.

Ia tidak menyadari aku sudah bergerak ke belakangnya.

Zona Waktu aktif.

Hanya sepersekian detik.

Namun itu sudah cukup.

Aku menghantam belakang lututnya sekuat tenaga.

Tubuh Revan kehilangan keseimbangan.

Pada saat yang sama, Lira melesat dan menendang dadanya.

Tubuh pria itu terpental hingga menghantam dinding batu raksasa.

Retakan besar langsung muncul di permukaan dinding tersebut.

Keheningan menyelimuti seluruh desa.

Revan perlahan bangkit sambil menghapus darah dari sudut bibirnya.

Wajahnya dipenuhi amarah.

Namun kali ini ia tidak menyerang.

"Siapa namamu?" tanyanya.

Aku menatap lurus ke arahnya.

"Arjon."

Revan mengingat nama itu.

Kemudian ia berbalik dan pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Kekalahan Revan segera menyebar dari mulut ke mulut.

Seorang pemuda bernama Arjon.

Pemilik Batu Waktu.

Kabar itu bergerak melintasi desa, kota, hingga wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan para penguasa langit.

Dan jauh di atas awan gelap Bonua Toru, berdiri sebuah istana hitam yang melayang di antara retakan langit.

Di dalam aula singgasananya, seorang pria berambut hitam duduk dengan tenang sambil mendengarkan laporan yang baru saja disampaikan bawahannya.

Pria itu terdiam selama beberapa saat.

Kemudian senyum tipis perlahan muncul di wajahnya.

Tatapannya terangkat menuju langit yang retak.

"Setelah tiga ratus tahun..."

Suaranya bergema pelan di seluruh ruangan.

"...akhirnya Jacob kembali."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 23

    #Penjaga NagaSetelah menemukan peta menuju Kawah Merah, kami tidak membuang waktu terlalu lama di reruntuhan Kota Langit. Jalur kuno yang tergambar di dalam gulungan peninggalan Ras Langit langsung menjadi tujuan berikutnya karena itulah satu-satunya petunjuk yang kami miliki untuk menemukan Naga Api.Perjalanan menuju lokasi tersebut memakan waktu hampir dua hari penuh. Semakin jauh kami meninggalkan Gurun Abu, semakin jelas perubahan yang terjadi pada lingkungan di sekitar. Hamparan pasir kelabu perlahan menghilang, digantikan oleh tanah merah gelap yang dipenuhi retakan panjang seperti bekas aliran lava purba. Udara terasa semakin panas dari waktu ke waktu, sementara energi api yang samar mulai memenuhi atmosfer hingga bahkan aku yang tidak memiliki Batu Api pun bisa merasakannya.Damar menjadi orang pertama yang menyadari perubahan itu.Sejak pagi, ia beberapa kali menempelkan tangan ke dadanya sambil mengernyit seolah sedang merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan."Batu Api

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 22

    #Kota yang Jatuh dari LangitNama Jacob masih terus terngiang di kepalaku bahkan setelah Ras Langit menghilang dari langit Gurun Abu.Ini bukan pertama kalinya aku mendengar nama itu. Sejak mendapatkan Batu Waktu, sosok misterius tersebut terus muncul dalam berbagai petunjuk yang kutemukan. Mulai dari penglihatan aneh yang muncul saat menggunakan kekuatan waktu, peringatan yang tersimpan dalam ingatan Batu Waktu, hingga pengakuan Lira yang mengaku pernah bertemu langsung dengannya.Dan sekarang Ras Langit juga mengenalnya.Namun perjalanan kembali berlanjut setelah Ras Langit menghilang dari langit Gurun Abu. Meski ancaman untuk sementara menjauh, pikiranku justru semakin dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab. Nama Jacob kembali muncul dari mulut orang asing yang seharusnya tidak mengenalku, menambah daftar panjang misteri yang sejak awal mengelilingi Batu Waktu.Semakin banyak petunjuk yang kutemukan, semakin sulit menganggap semua ini sebagai kebetulan. Jacob seolah meninggalkan

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 21

    #Sayap di Atas GurunNama itu terdengar asing, tetapi cara Lira mengucapkannya membuat suasana di sekitar kami berubah seketika. Tidak ada penjelasan tambahan maupun peringatan panjang, namun aku langsung memahami bahwa makhluk-makhluk tersebut bukanlah monster biasa yang bisa ditemukan di wilayah lain Bonua Toru.Ketika kawanan bersayap itu mulai membentuk lingkaran di atas kerangka naga raksasa yang terkubur di tengah Gurun Abu, firasat buruk yang sejak tadi menggangguku perlahan berubah menjadi keyakinan. Mereka datang ke tempat ini dengan tujuan tertentu, dan semakin lama aku memperhatikan pergerakan mereka, semakin sulit menganggap kemunculan itu sebagai kebetulan. Jumlah mereka terlalu banyak, sementara pola terbang mereka menunjukkan bahwa mereka sudah mengetahui lokasi ini jauh sebelum kami tiba.Entah apa yang mereka cari di tengah gurun tandus tersebut, tetapi ada sesuatu yang membuatku yakin bahwa tujuan mereka berkaitan dengan naga yang sedang kami buru. Jika dugaan itu be

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 20

    #Jejak NagaMeninggalkan Kota Mati ternyata tidak membuat perjalanan kami menjadi lebih mudah. Justru sebaliknya, semakin jauh kami memasuki wilayah Gurun Abu, semakin aneh keadaan di sekitar kami. Hamparan pasir kelabu yang sebelumnya hanya terlihat tandus kini terasa seperti dunia yang benar-benar telah ditinggalkan kehidupan.Tidak ada lagi kawanan monster kecil yang biasanya berkeliaran mencari mangsa. Tidak ada serangga gurun. Tidak ada suara hewan. Bahkan angin yang bertiup pun terasa enggan melewati wilayah itu, menyisakan keheningan panjang yang membuat setiap langkah kaki terdengar lebih jelas daripada seharusnya.Di kejauhan, tulang naga raksasa yang kami lihat sehari sebelumnya semakin terlihat jelas. Semakin dekat kami mendekatinya, semakin sulit mempercayai bahwa makhluk sebesar itu pernah hidup. Tulang rusuknya menjulang seperti menara batu yang tumbuh dari dalam gurun, sementara sebagian besar rangkanya masih terkubur oleh pasir yang telah menelannya selama entah berapa

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 19

    #Gadis yang Mengenal JacobAku tidak langsung memotong penjelasan Lira. Ada sesuatu dalam cara gadis itu berbicara yang membuatku merasa bahwa kenangan ini sudah terlalu lama ia simpan sendirian. Nyala api unggun memantulkan cahaya kemerahan ke dinding bangunan tua yang kami tempati, sementara angin malam sesekali menyusup melalui celah-celah batu dan membawa hawa dingin khas Gurun Abu."Aku tidak tahu siapa dia saat itu," lanjut Lira sambil memandangi nyala api yang menari pelan di hadapannya. "Yang kulihat hanyalah seorang pria yang hampir mati."Tidak ada yang menyela. Bahkan Damar yang biasanya selalu punya komentar untuk setiap pembicaraan memilih diam dan mendengarkan.Lira melanjutkan bahwa ia menemukan pria itu di dekat sebuah retakan langit, sebuah istilah yang langsung membuat pikiranku kembali waspada. Sejak tiba di Bonua Toru, terlalu banyak kejadian aneh yang tampaknya berhubungan dengan retakan tersebut, seolah semua jalan pada akhirnya akan kembali menuju tempat yang sa

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 18

    #Rahasia LiraMalam turun perlahan menyelimuti Kota Mati yang terkubur sunyi di tengah hamparan Gurun Abu, menyisakan hawa dingin yang mencekam setelah pertarungan sengit melawan pemburu elit yang hampir saja merenggut nyawa kami. Meskipun bangunan batu tua tempat kami berlindung ini cukup kokoh untuk menahan amukan angin gurun, suasana di dalamnya tetap terasa suram dan sarat akan ketegangan yang belum tuntas.Di dekat api unggun kecil yang dinyalakan oleh Sera, Damar tampak masih berbaring tak berdaya dengan wajah sesekali berkerut menahan nyeri. Luka-lukanya memang telah menutup berkat khasiat Batu Penyembuhan, namun tubuhnya jelas belum pulih sepenuhnya. Tidak jauh dari sana, Sera duduk bersandar sambil membolak-balik catatan kuno milik keluarganya, mencoba mencari petunjuk di bawah pendar cahaya api yang memantul pada lembaran kertas tua yang telah menguning oleh usia.Sementara kedua rekanku sibuk dengan urusan masing-masing, pikiranku justru terus tertuju pada Lira. Aku masih m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status