LOGIN"Lepaskan aku! Kumohon, ke mana kalian akan membawaku?" ratap Nayla sembari meronta dalam cengkeraman dua pengawal berzirah besi.
"Diam, Pelayan! Jangan membuat kegaduhan di koridor istana jika kau masih sayang dengan nyawamu," bentak salah satu pengawal dengan suara berat yang menggelegar, mempererat cekalannya di lengan kiri Nayla hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Hamba tidak bersalah! Demi Tuhan, hamba hanya menjalankan tugas!" tangis Nayla pecah, air matanya mengalir deras membasahi pipi yang kini sepucat kain kafan.
Langkah kaki para pengawal itu bergema konstan, menyeret tubuh lemas Nayla menyusuri lantai marmer mengilap menuju Aula Utama Kesultanan Al-Qamar.
Di sepanjang jalan, puluhan pasang mata dari para bangsawan, dayang, dan pengawal lainnya menatap Nayla dengan pandangan mencemooh sekaligus kasihan. Bisik-bisik miring mulai menjalar cepat seperti api yang membakar semak kering.
"Lihat gadis malang itu. Wajahnya asing, pasti salah satu pelayan magang yang cari masalah," cibir seorang wanita bangsawan bertubuh tambun di balik kipas sutranya.
"Kudengar dia nekat mendekati Paviliun Terlarang semalam. Berani sekali dia mengusik ketenangan Sultan Azfar," sahut pria di sebelahnya dengan senyum sinis. "Siap-siap saja melihat kepalanya menggelinding di ladang eksekusi sebelum matahari meninggi."
Mendengar kalimat-kalimat kutukan itu, dada Nayla semakin bergemuruh hebat, berdegup begitu kencang hingga membuatnya sesak napas.
Bayangan pedang algojo yang tajam dan dingin seolah sudah menempel di tengkuknya, siap memisahkan kepala dari tubuhnya. Ia tahu betul, bagi pria matang berusia tiga puluh lima tahun seperti Sultan Azfar, menghilangkan nyawa pelayan rendahan tidak lebih sulit daripada membalikkan telapak tangan.
Pintu gerbang emas Aula Utama yang menjulang tinggi akhirnya terbuka dengan derit yang berat dan lambat. Udara di dalam ruangan luas itu terasa begitu pekat, dingin, dan sangat mengintimidasi hingga menghentikan sisa tangis di tenggorokan Nayla.
"Jatuhkan dirimu dan bersujud!" perintah pengawal zirah sembari mendorong bahu Nayla dengan kasar hingga gadis itu tersungkur ke lantai batu.
"Ampun, Yang Mulia... mohon ampuni hamba yang hina ini," bisik Nayla terbata-bata dengan dahi yang menempel erat pada marmer dingin. Tubuhnya gemetar hebat, tidak berani sedetik pun mengangkat wajah untuk menatap ke depan.
Di ujung ruangan, di atas takhta emas yang megah, duduklah Sultan Azfar Zayn Al-Qamar dengan keangkuhan seorang penguasa mutlak.
Pria matang itu mengenakan jubah kebesaran beludru hitam berlapis sulaman benang emas, kontras dengan kulit kecokelatannya yang tegas.
Wajahnya yang luar biasa tampan tampak datar tanpa ekspresi, namun sepasang mata elangnya yang tajam terkunci rapat pada tubuh mungil yang sedang bersujud di bawah sana.
"Berdiri, Pelayan Kecil," suara bariton Sultan Azfar bergema kuat, memenuhi setiap sudut aula dan seketika membungkam seluruh bisikan para hadirin.
Nayla menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram ujung gaunnya yang kusut dengan jemari yang memutih. "Hamba... hamba tidak berani menatap wajah agung Anda, Yang Mulia."
"Aku tidak suka mengulang perintahku. Berdiri dan tatap mataku, Nayla Azura," tekan Sultan Azfar dengan nada rendah yang sarat akan otoritas mutlak yang tidak menerima penolakan.
Mendengar namanya disebut dengan begitu jelas oleh sang penguasa, jantung Nayla berdetak dua kali lebih cepat hingga rasanya ingin melompat keluar.
Bagaimana mungkin Sultan mengingat namanya dengan tepat setelah insiden semalam? Dengan sisa-sisa keberanian yang hampir habis, Nayla perlahan menegakkan tubuhnya dan mengangkat wajah, menantang langsung sorot mata gelap yang penuh misteri itu.
Di sisi kanan takhta, Sayyid Malik Al-Hafiz, sang penasihat kerajaan yang berwajah licik, melangkah maju dengan senyum tipis yang merendahkan. "Yang Mulia Sultan, pelayan rendahan ini telah melanggar batas wilayah paling suci di istana ini. Hukum kesultanan dengan tegas menyatakan bahwa siapa pun yang mengusik privasi penguasa tanpa izin tertulis harus dihukum pancung."
"Benar, Yang Mulia! Jangan biarkan kelalaian seperti ini merusak kedisiplinan istana!" seru beberapa bangsawan lain, ikut memanaskan suasana aula.
Nayla memejamkan matanya rapat-rapat, air mata keputusasaan kembali meleleh di pipinya saat mendengar desakan hukuman mati tersebut.
Pikiran tentang ibunya yang sakit keras di desa langsung melintas, membuat dadanya berdenyut nyeri yang teramat sangat. "Ibu... maafkan Nayla..." bisiknya dalam hati, siap menerima takdir tragisnya malam ini.
Namun, Sultan Azfar justru terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang dingin dan membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu meremang sempurna.
Pria matang itu menegakkan posisi duduknya, lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan yang dihiasi cincin batu zamrud besar.
"Hukum pancung, katamu? Sayyid Malik, sejak kapan kau yang memegang kendali atas keadilan di istanaku?" tanya Sultan Azfar, nadanya begitu santai namun sarat akan ancaman yang mematikan.
Sayyid Malik langsung tersentak, membungkuk panik dengan keringat dingin yang mulai membanjiri dahinya. "Ma-maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba hanya mengingatkan aturan yang berlaku."
"Akulah aturan di kesultanan ini," sahut Sultan Azfar dingin, matanya beralih kembali menatap lurus ke arah mata Nayla yang bergetar penuh ketakutan.
Sultan Azfar perlahan bangkit dari takhtanya, melangkah turun menyusuri anak tangga marmer satu per satu dengan langkah yang berat dan penuh wibawa.
Setiap ketukan sepatunya terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur nasib Nayla. Pria berusia empat puluh tiga tahun itu berhenti tepat di hadapan Nayla, membuat tubuh mungil gadis itu sepenuhnya tenggelam di bawah bayangan tubuh tegap sang Sultan.
"Semalam, kau melihat sesuatu yang seharusnya tidak kau lihat, bukan?" bisik Sultan Azfar dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, menyunggingkan senyum misterius yang sangat berbahaya.
Nayla mendongak dengan napas yang memburu, seluruh permukaan kulitnya mendadak kaku. "Hamba... hamba bersumpah tidak akan pernah membocorkannya pada siapa pun, Yang Mulia. Mohon biarkan hamba hidup demi ibu hamba yang sakit."
Sultan Azfar tidak menjawab pembelaan itu. Ia justru berbalik menghadap ke arah seluruh hadirin di Aula Utama, lalu mengangkat sebelah tangannya yang besar untuk memberikan pengumuman yang akan mengguncang seluruh pondasi istana.
"Mulai detik ini, tidak akan ada hukuman mati untuk pelayan ini," seru Sultan Azfar dengan lantang, suaranya menggelegar memecah keheningan aula.
Seluruh ruangan mendadak riuh dengan bisik-bisik kebingungan dari para bangsawan dan pengawal yang tidak mempercayai pendengaran mereka sendiri.
"Tapi Yang Mulia, apa yang akan terjadi padanya?" tanya Sayyid Malik dengan wajah yang berkerut tidak suka, merasa wibawanya sebagai penasihat baru saja diabaikan.
Sultan Azfar memutar tubuhnya kembali menghadap Nayla, lalu menatap gadis desa itu dengan pandangan posesif yang begitu pekat dan dominan.
"Nayla Azura Al-Hayyan, mulai hari ini kau dibebaskan dari tugas pelayan magang," ucap Sultan Azfar, jeda sejenak sengaja ia berikan untuk membangun ketegangan yang mencekam di dalam aula. "Aku mengumumkan bahwa kau resmi diangkat menjadi pelayan pribadi di kamar tidurku. Kau akan melayaniku siang dan malam, dan tidak ada satu orang pun di istana ini yang boleh menyentuhmu tanpa izin dariku!"
DEG!!!
Nayla terbelalak sempurna dengan mulut yang sedikit terbuka, jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar perintah gila dari sang penguasa.
Menjadi pelayan pribadi di kamar tidur Sultan Azfar—pria matang yang baru saja ia pergoki melakukan aktivitas seksual liar bersama tiga wanita bayaran sekaligus—bukanlah sebuah pengampunan, melainkan awal dari neraka dunia yang jauh lebih berbahaya dan mengancam nyawanya setiap detik.
Oemji hellooo, Emak syok berat! Bukannya leher melayang, Nayla malah ditarik jadi pelayan kamar pribadi Sultan Azfar! Kamar tidur, loh! Siap-siap aja nih si pelayan polos bakal 'dilalap' habis-habisan sama Sultan yang super liar itu. Neraka dunia atau surga dunia nih, Nay? Makin panas dan bikin penasaran, kan? Yuk, gercep klik LIKE, FOLLOW,SUPPORT dan drop KOMENTAR kalian! Dukungan kalian berharga banget biar author makin ngegas update bab selanjutnya!
Sidang akbar istana hari itu bahkan belum resmi dimulai oleh ketukan palu sang sultan.Namun, gema suara perdebatan yang sengit dan bertekanan tinggi sudah memenuhi setiap sudut ruang sidang utama yang berlantai marmer hitam.Anehnya, tidak ada satu pun menteri agung yang membahas strategi perluasan perang perbatasan, tidak ada yang menyinggung pasokan panen, bahkan tidak ada yang mengaudit anggaran pajak tahunan.Semua orang penting yang mengenakan jubah kebesaran mewah itu justru sedang sibuk membicarakan satu nama yang sama: Nayla Azura, sang pelayan pribadi Sultan.Sultan Azfar belum memasuki ruangan, menyisakan takhta emas yang masih kosong dan tampak mengintimidasi di ujung altar tinggi.Di barisan depan, Sayyid Malik sudah duduk tenang sembari melipat jemarinya, matanya yang culas bergerak mengamati sekeliling.Panglima Rafiq hadir dengan baju zirah lengkap yang berkilau, berdiri kaku di samping para komandan militer berpangkat tinggi.Para menteri, penasihat senior, hingga ben
"Membunuh Nayla?"Selir Layla terkekeh pelan, menyembunyikan kilat culas di matanya sembari menuangkan teh kamomil hangat ke dalam cangkir porselen milik Selir Safiya.Gerakan tangannya teramat anggun, namun aura yang dipancarkannya terasa sedingin es.Ia mengangkat wajahnya perlahan, memamerkan seulas senyuman tipis yang kejam."Itu terlalu mudah dan tidak menantang, Safiya. Jauh lebih menyenangkan melihat semua orang mulai gemetar ketakutan hanya karena mendengar sebaris namanya disebut."Malam kian larut ketika pertemuan rahasia empat selir agung itu digelar di paviliun pribadi milik Selir Safiya.Seluruh pintu jati dan jendela kaca berukir telah ditutup serta dikunci rapat dari dalam, memastikan tidak ada celah bagi suara untuk bocor keluar.Bahkan seluruh pelayan senior maupun dayang pribadi tidak diizinkan melintasi batas selasar luar, menciptakan atmosfer isolasi yang mencekam.Safiya, Layla, Jihan, dan Amira kini duduk melingkar di atas sofa beludru merah, dikelilingi oleh kep
Di luar dinding bangunan istana yang megah, seluruh rakyat dan para menteri percaya bahwa Sultan Azfar dan Sultanah Mariam hidup sebagai pasangan paling berkuasa yang saling mengunci hati untuk saling mencintai.Keagungan nama mereka berdua kerap diagungkan dalam setiap bait puisi pujian para pujangga istana Al-Qamar.Namun, kenyataan pahit di balik tirai sutra jauh dari romantis; ketika pintu tebal kamar paviliun agung itu ditutup rapat dari dunia luar, semua kemegahan itu luruh seketika.Yang tersisa di dalam ruangan dingin tersebut hanyalah dua orang rekan kerja asing yang kebetulan mengabdi demi kestabilan takhta kesultanan yang sama.Sinar matahari pagi yang pucat mulai menembus celah jendela ukir saat Sultan Azfar melangkahkan kaki tegapnya memasuki paviliun resmi Sultanah Mariam.Langkah maskulinnya tidak membawa sebuket bunga segar dari taman, ataupun kotak perhiasan emas bertatahkan berlian langka sebagai hadiah penjinak hati wanita.Alih-alih bersikap manis, sang Sultan just
Untuk pertama kalinya sejak menapakkan kakinya di atas lantai pualam kesultanan sebagai pelayan pribadi Sultan, Nayla Azura mendadak diperintahkan maju.Kali ini langkahnya bukan untuk menggosok noda piring, bukan membawa cangkir teh herbal yang mengepul, dan bukan pula menyusun gulungan dokumen yang kaku.Melainkan, untuk mengiringi dan menemani sultan Azfar berjalan menyusuri kesunyian taman belakang istana yang terasing dari hiruk-pikuk istana.Atmosfer malam itu terasa sangat tenang, dilingkupi kegelapan yang kaku sekaligus misterius di bawah perlindungan langit bertabur bintang.Angin malam yang berembus pelan sesekali membawa aroma manis kelopak bunga melati hutan yang mekar sempurna di sudut-sudut pagar batu.Mereka berdua berjalan perlahan tanpa melontarkan sepatah kata pun, membiarkan bunyi gesekan jubah sutra dan kain kasar menjadi suara beritme tunggal.Nayla senantiasa menundukkan kepala takzim, memastikan langkah kakinya tetap menjaga jarak aman sejauh dua langkah di bela
"Sudah lima belas hari."Suara bariton milik Sultan Azfar memecah kesunyian yang mencekam di dalam ruang kerja utama. Gulungan laporan tebal bersampul beludru itu perlahan ditutupnya, lalu diletakkan di atas meja kayu hitam.Tatapannya yang setajam ujung mata pedang berhenti tepat pada sosok pria perkasa yang berdiri tegap di hadapannya."Apa orang yang mendorong Nayla dari tangga marmer itu sudah kau temukan?" tanya sang Sultan, membuat atmosfer ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.Panglima Rafiq melangkah maju, membawa map kulit berisi berkas hasil penyelidikan.Di belakang punggung tegapnya, beberapa pengawal dalam ikut berdiri kaku dengan posisi siap, menyembunyikan ketegangan mereka di balik baju zirah baja.Sultan Azfar menerima map tersebut, lalu mulai membaca seluruh lembar dokumen tanpa memotong atau menyela sepatah kata pun."Hamba telah memeriksa tiga puluh dua pelayan dapur yang berada di sekitar area tersebut, Yang Mulia," buka Panglima Rafiq dengan suara berat yan
Selama bertahun-tahun lamanya desau angin mengitari pilar-pilar kokoh kesultanan Al-Qamar, tak seorang pun dari kalangan menteri maupun selir agung pernah melihat Sultan Azfar tersenyum hanya karena sebuah percakapan biasa.Wajah tampan sang penguasa timur tengah itu laksana pahatan batu granit purba; dingin, kaku, dan senantiasa memancarkan aura kematian yang mengintimidasi.Namun, pada hari yang diselimuti binar matahari fajar yang menembus celah jendela kaca ruang kerja utama ini, semua hukum kekakuan itu mendadak berubah haluan.Sultan Azfar sedang duduk dengan punggung tegak, memeriksa tumpukan lembar perkamen berisi rincian anggaran pembangunan jembatan logistik di perbatasan luar.Sepasang alis tebalnya bertaut kaku, mendapati sebaris angka kalkulasi yang mendadak terasa membingungkan.Tanpa mengalihkan pandangannya, sang Sultan melambaikan tangan tegapnya ke arah sudut ruangan tempat sang pelayan pribadi sedang membersihkan rak buku."Kemari kau, Nayla. Maju dan bacakan dengan







