Short
Rahasia Perawat Magang

Rahasia Perawat Magang

Oleh:  LiamTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
12Bab
904Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

"Ugh ... nggak, nggak ada apa-apa. Hah ... ah ...." Saat sedang melakukan panggilan video dengan pacarku, mahasiswa olahraga itu malah mendekat. Dia menyelinap dari sudut mati kamera, lalu meraba tubuhku dengan jarinya yang kasar. Dalam panggilan video, pacarku terengah-engah. Tatapan mesumnya tertuju langsung pada tubuhku yang pakaiannya sudah setengah terbuka. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran orang ketiga yang tak diundang ini. Ketika mahasiswa olahraga itu mulai membelai tempat paling sensitifku yang lembap dan hangat dari balik kain, aku tidak bisa menahan erangan yang lolos dari bibirku. Aku benar-benar kehilangan kendali. Terdengar tawa kecil pacarku dari seberang telepon. Sementara tangan yang menyusup di antara selangkanganku itu dapat merasakan basah yang menjalar.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

"Sayang, kangen aku nggak? Coba aku lihat ...."

Jeremy Huba, pacarku, terengah-engah di ujung panggilan video. Suaranya terdengar serak sekaligus seksi.

Dengan perasaan malu, aku menggigit bibir sambil mengarahkan kamera ponsel ke dadaku yang terbungkus rapat oleh jas putih perawat.

Namun, pacarku yang berada di balik layar tampaknya belum puas. Dengan nada manja sekaligus memerintah, dia berkata, "Patuh ya, buka satu kancing lagi. Satu saja!"

Jariku gemetar saat menyentuh kancing yang terasa dingin di dadaku.

Tepat pada saat itu, pintu UKS terbuka tanpa suara.

Jantungku rasanya mau copot karena terkejut. Spontan, aku langsung menelungkupkan ponsel ke atas meja.

Vino Gatra, pemain bintang dari tim bola basket universitas, sudah berdiri di ambang pintu. Dia memeluk sebuah bola basket di tangannya. Anak rambut di dahinya basah oleh keringat, beberapa helai tampak menempel di keningnya yang bersih.

Melihatku yang panik dan salah tingkah, sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum penuh arti.

"Suster Karina, aku nggak mengganggumu, ‘kan?"

Namaku Karina, seorang perawat magang di UKS kawasan kampus ini.

Di saat yang sama, aku juga seorang wanita kesepian yang terus-menerus dibakar oleh gairah.

Karena dorongan hasrat dalam tubuhku yang sulit dijelaskan, aku membutuhkan keintiman rutin dari pasanganku. Jika tidak, saat malam tiba, rasanya seperti ada ribuan semut yang menggerogoti celah-celah tulangku. Rasa haus yang kosong itu bisa membuatku gila.

Namun Jeremy, kekasih yang sudah bertunangan denganku begitu kami lulus kuliah, justru dikirim oleh perusahaannya ke wilayah selatan untuk membuka pasar baru. Dia harus pergi selama satu tahun penuh.

Dia yang telah mengubahku dari seorang gadis polos, menjadi wanita yang memahami keintiman. Tetapi di saat aku paling membutuhkannya, dia justru mencampakkanku begitu saja.

Bagaimana mungkin aku bisa menahannya?

Terlebih lagi, aku bekerja di tempat yang dipenuhi hormon yang meledak-ledak seperti ini. Setiap hari, ada banyak tubuh muda yang energik berseliweran di depan mataku.

Di lapangan, para mahasiswa jurusan olahraga itu hanya mengenakan kaus kutang tipis. Keringat mengalir menyusuri lekuk otot mereka yang kencang, setiap tetesnya seolah jatuh menghantam jantungku yang membara.

Aku hanya bisa mengandalkan panggilan video dengan Jeremy setiap malam. Mengandalkan kata-kata vulgar dan perintahnya demi mendapatkan sedikit hiburan yang menyedihkan.

Sama seperti saat ini.

Aku memendam paksa debaran jantungku yang menggila, merapikan kerah baju, lalu berpura-pura tenang dan bertanya, "Vino, sudah semalam ini, ada perlu apa?"

Vino meletakkan bola basketnya begitu saja di lantai, lalu berjalan perlahan mendekatiku.

Dia sangat tinggi. Dengan postur setinggi 190 cm, bayangan yang dijatuhkannya saat berdiri di depan meja kecilku hampir mengurungku sepenuhnya.

Aroma khas remaja yang bercampur antara keringat dan rumput segar langsung menyeruak, menerobos masuk ke rongga hidungku dengan sombongnya. Hal itu, seketika membuat tubuhku yang baru saja terangsang oleh video tadi menjadi semakin tegang.

"Saat latihan sore tadi, sepertinya pergelangan kakiku terkilir. Sekarang agak sakit," ujarnya sambil menunjuk ke arah pergelangan kaki. Suaranya terdengar serak khas orang yang selesai berolahraga.

Aku bergegas bangkit. "Kalau begitu duduk dulu, biar kuperiksa."

Dia menurut dan duduk di kursi yang berada di hadapanku. Setelah melepas sepatu basketnya yang mahal, terlihat kakinya yang berbalut kaus kaki putih.

Aku berjongkok, lalu dengan hati-hati melepaskan kaus kakinya.

Pergelangan kakinya memang tampak agak memerah dan bengkak.

Ujung jariku menekan bagian itu dengan lembut.

"Aduh ...!" Dia menarik napas dalam-dalam, tubuhnya agak condong ke depan.

Gerakannya ini membuat lututnya menyentuh bahuku.

Hanya terhalang oleh lapisan tipis jas putih perawat, aku bisa merasakan dengan jelas kerasnya tulang lututnya, serta hawa panas luar biasa yang terpancar dari tubuhnya.

Tubuhku sontak menegang. Rasa panas yang familier melonjak dari perut bagian bawah, lalu menyebar dengan cepat ke seluruh anggota badan.

"Kak, tanganmu gemetar."

Ujung jarinya yang hangat menempel lembut di punggung tanganku yang dingin. Meski terhalang sekat sarung tangan lateks yang tipis, kehangatan itu seperti aliran listrik yang menyengat ke seluruh tubuhku.

Aku segera menarik tanganku, lalu mendongak dan tatapanku beradu dengan matanya yang tampak jenaka sekaligus misterius.

Sejak detik itu, aku tahu bahwa rahasia yang kusembunyikan di balik jas putih ini mungkin tidak akan bisa dipertahankan lagi.

Aku berdiri dengan panik, memperlebar jarak dengannya. Jantungku berdegup kencang seolah-olah hendak melompat keluar dari tenggorokan.

"Bukan masalah besar, cuma terkilir sedikit. Aku akan menyemprotkan obat. Setelah kembali nanti kompres dengan kantong es. Jangan melakukan olahraga berat selama dua hari ini," ucapku dengan rentetan kalimat yang sangat cepat. Aku langsung berbalik untuk mengambil semprotan di lemari obat.

Punggungku bisa merasakan dengan jelas tatapan matanya yang membara. Tatapan itu terus mengikuti seperti bayangan, seakan-akan hendak menembus jas putih yang kukenakan.

Sembari memegang botol obat, aku berjongkok kembali, tetapi tidak berani mendongak untuk menatapnya lagi.

Cairan semprotan yang dingin menyentuh kulitnya yang membara, menimbulkan suara desisan pelan.

Dia tidak berbicara lagi. UKS seketika menjadi sunyi senyap yang mencekam, hanya menyisakan suara napas belaka.

Setelah selesai mengobati lukanya, aku menunduk dan berkata, "Sudah selesai."

Namun, dia tidak bergerak. Dia malah mengulurkan tangan, lalu dengan lembut menyelipkan sehelai rambutku yang menjuntai di pipi ke belakang telinga.

Ujung jarinya, entah sengaja atau tidak, mengusap daun telingaku. Memicu rasa bergidik yang hebat.

"Terima kasih, Kak." Suaranya ditekan sangat rendah, mengandung magnet yang memikat. "Kakak benar-benar cantik dan baik hati."

Aku mundur selangkah dengan sentakan kuat, hingga hampir menabrak lemari obat di belakangku.

"Sa-sama-sama, ini sudah tugasku," jawabku terbata-bata.

Dia berdiri. Postur tubuhnya yang lebih tinggi satu kepala dariku memberikan tekanan yang begitu kuat.

Dia menatapku dalam-dalam. Tatapan matanya begitu rumit hingga membuat hatiku berdetak kencang.

Kemudian, dia mengambil bola basketnya, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan UKS.

Begitu pintu tertutup, seluruh kekuatanku seolah lenyap seketika. Aku terduduk lemas di kursi.

Aku menunduk menatap ponsel yang tertelungkup di atas meja. Layarnya masih menyala, menunjukkan bahwa panggilan telah terputus.

Jeremy mungkin tidak sabar menungguku, lalu menutup teleponnya dengan kesal.

Aku mengambil ponselku. Namun, ujung jariku tanpa sadar mengusap daun telinga yang baru saja disentuh oleh Vino. Di sana masih tersisa sensasi sentuhan yang membara.

Pikiranku mendadak memutar ulang ingatan tentang sepasang matanya yang tajam dan kalimatnya yang berbunyi, "Kak, tanganmu gemetar."

Apakah dia menyadarinya?

Apakah dia bisa melihat kegugupan dan hasrat dalam diriku?

Rasa malu yang lebih mendalam menenggelamkanku.

Aku, bagaimana bisa punya pikiran sekotor itu pada seorang mahasiswa yang usianya empat tahun lebih muda dariku?

Aku menyambar gelas di atas meja, lalu meneguk habis air es di dalamnya. Aku mencoba memadamkan kobaran api yang kian berkobar di dalam tubuh.

Namun, usaha itu sia-sia.

Malam itu, aku menderita insomnia.

Setiap kali memejamkan mata, yang muncul adalah wajah muda nan tampan milik Vino, serta tubuhnya yang sarat akan kekuatan.

Aku hanya bisa menggunakan cara paling primitif. Menjepit selimut, lalu berguling dan bergesekan di atas ranjang demi memuaskan diri. Hingga akhirnya tubuhku terlelap karena kelelahan setelah mengalami kejang hampa yang hebat.

Kupikir ini hanya sebuah insiden selingan yang tidak disengaja.

Namun, aku tidak menyangka, ini baru awal dari segalanya.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
12 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status