Share

1.4 - Ritual

Author: suki_luxu
last update publish date: 2026-06-22 07:50:45

Bulan merah pucat turun dari tahtanya, digantikan oleh bola api raksasa yang menyala-nyala, membuat langit berubah warna menjadi sedikit kekuningan. Matahari itu menyinari seluruh dunia, walaupun di laut merah ini, matahari itu seolah-olah tidak bisa menembus tebalnya kabut.

Rostav Zertu terbangun dari tidurnya, dia terduduk di atas kasur dan menyapu pandangan sekeliling, dia menghela napas dan berkata, "ya, tentu saja aku tidak akan kembali, karena ini semua bukan mimpi."

Rostav menghela napas sekali lagi, menerima kenyataan bahwa dia mungkin tidak akan bisa kembali ke Bumi. Dia sebenarnya sangat berharap bahwa saat dia bangun dari tidurnya, dia sudah kembali ke Bumi, mungkin berada di kamarnya, atau mungkin berada di kantornya. Walaupun di Bumi dia selalu bekerja, tapi tetap saja Bumi adalah tempat kelahirannya, Bumi adalah tempat tinggalnya, mau bagaimanapun buruknya keadaannya di Bumi, Bumi tetaplah rumahnya.

"Mungkin aku akan mempertimbangkan jika menemukan ritual ajaib yang dapat membawaku kembali ke Bumi. Karena, bukankah aku bertransmigrasi ke dunia ini tepat setelah aku melakukan ritual peningkatan keberuntungan? Itu artinya, bukankah aku juga bisa kembali ke Bumi dengan melakukan ritual yang sama?" Rostav mempertimbangkan kemungkinan itu, yang sebenarnya cukup masuk akal. Jika dia bertransmigrasi ke dunia ini karena melakukan ritual peningkatan keberuntungan, maka dia hanya perlu melakukan ritual yang sama di dunia ini. "Walaupun tidak ada kemungkinan berhasil, tapi lebih baik mencobanya dari pada tidak sama sekali."

Rostav segera berdiri dari kasurnya dan berlari menuju ruang penyimpanan. Di sana, dia membuka kembali peti berisi Ramuan, mengambil kapur di dalamnya, dan mengambil empat lilin. Dia menyusun empat lilin itu hingga membentuk kotak, menyambungkannya dengan kapur, lalu menggambar sebuah lambang berbentuk lingkaran dengan pola spiral yang rumit dan artistik di bagian tengahnya. Pola tersebut tersusun dari garis-garis melengkung menyerupai daun, mata, dan gelombang laut yang saling berputar menuju pusat lingkaran yang berbentuk sebuah roda.

Rostav kemudian meletakkan kembali kapur ke dalam peti, dan tanpa menutupnya, dia langsung berdiri di samping lilin pertama dan membentuk sebuah segel tangan.

"Dewa Primordial Yang Mahakuasa..." Rostav melangkahkan kakinya ke depan hingga mencapai lilin kedua, lalu memutar tubuhnya sembilan puluh derajat.

"Dewa Primordial Yang Mahakuasa..." Dia melangkahkan kakinya sekali lagi.

"Dewa Primordial Yang Mahakuasa..."

Pada momen itu, setiap kali dia mengucapkan Dewa Primordial Yang Mahakuasa, sebuah rasa aneh segera marasuki dadanya, seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Tapi, dia tidak menghiraukannya dan melanjutkan ritualnya.

Dia melakukannya hingga tujuh kali, dan di momen ini, sebuah hembusan angin datang entah dari mana, mengibarkan jubah Rostav dengan liar.

Rostav meletakkan kedua tangannya di depan wajah, berusaha untuk setidaknya mengurangi dampak dari hembusan angin.

"Angin dari mana ini? Apakah ritualnya berhasil? Apakah aku akan kembali ke Bumi?" Rostav merasa sedikit optimis dengan hal ini, dia sungguh sangat berharap dapat kembali ke Bumi.

Tapi, hembusan angin menjadi semakin kuat, dan Ramuan yang ada di dalam peti terangkat dengan sendirinya. Itu melayang di udara!

Penutup botol Ramuan itu terbuka dengan sendirinya, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang melakukannya. Rostav yang melihat hal itu hanya bisa membelalakkan mata, dia tak menyangka akan melihat hal gaib tepat di depan matanya.

Dan, sebelum dia bereaksi lebih lanjut, botol kaca itu terbang dengan kecepatan tinggi ke arahnya, dan masuk ke dalam mulutnya.

Rostav yang tidak sempat menghindar hanya bisa pasrah saat cairan berwarna biru gelap itu memenuhi bagian dalam mulutnya, mengalir ke kerongkongan, dan masuk ke dalam perutnya. Rostav melepaskan botol kaca itu dan melihat bahwa seluruh cairan yang ada di dalamnya telah habis tanpa sisa.

"Astaga, bagaimana ini? Apa yang akan terjadi denganku? Aku meminum Ramuan ini tanpa sengaja... tunggu, bukankah aku tanpa sengaja melakukan ritual yang sama seperti yang dituliskan di kertas itu, dan tiba-tiba saja hembusan angin datang dan Ramuan itu melayang lalu masuk ke dalam mulutku. Apakah Ramuan itu beresonansi dengan ritual yang aku lakukan?" Rostav awalnya panik, dia takut bahwa tubuhnya akan rusak karena meminum Ramuan itu, sebelum akhirnya dia menyadari bahwa tanpa sadar dia telah melakukan ritual yang sama untuk meminum Ramuan itu. Hal itu membuatnya menjadi lebih lega.

Dia mengelus dadanya tanpa sadar dan meletakkan kembali botol kaca itu ke dalam peti, lalu merapikan alat-alat ritual, dan menghapus lambang di lantai.

Tapi, pada momen itu, kepalanya terasa pusing, pandangannya menjadi kabur dan dunia menjadi bergelombang. Perutnya terasa mual dan ingin memuntahkan seluruh isi di dalamnya.

"Apa yang... sebenarnya terjadi? Bukankah aku telah melakukan ritual sebelum meminum Ramuan itu?" Rostav berjalan seperti orang mabuk dan menabrak dinding beberapa kali. Dan karena tubuhnya sudah tidak kuat menahan rasa aneh itu, membuat Rostav pingsan di ruang penyimpanan.

.....

Di dalam kegelapan yang luas dan tanpa batas, Rostav terjun bebas ke bawah tanpa bisa melakukan apa pun. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun, kecuali matanya yang dapat dia buka, menampakkan pupil mata berwarna hitam cerah di tengah-tengah kegelapan yang pekat dan tanpa batas ini.

'Di mana ini...?' suara hatinya bergema di dalam kegelapan, seolah-olah suara hatinya terucap oleh mulutnya.

Kegelapan itu begitu pekat hingga Rostav tak bisa melihat apa pun walaupun matanya terbuka. Dan, tak lama kemudian, sebuah retakan tiba-tiba muncul di kegelapan dan menampakkan sebuah mata raksasa dengan pupil vertikal berwarna emas.

Awalnya mata raksasa itu berjumlah satu, tapi seiring waktu, jumlahnya bertambah menjadi dua, empat, delapan, enam belas, hingga tak dapat dihitung. Mata raksasa itu selalu ada di setiap sudut kegelapan, menatap ke arah Rostav yang terjatuh ke kegelapan.

Krek!

Sebuah suara tulang retak bergema di kegelapan. Itu adalah suara tulang Rostav yang seluruh anggota tubuhnya kini terpelintir secara tidak wajar.

'AGHH!!!' Rostav berteriak di dalam hati, dan suara teriakannya terdengar dengan jelas di kegelapan. Kedua tangan dan kakinya terpelintir hebat, menambah rasa sakit dan penderitaan Rostav, sebelum akhirnya kedua tangan dan kakinya kembali ke posisi semula, dan rasa sakit yang dia alami hilang sepenuhnya.

Rostav bernapas dengan lega, tapi belum ada satu detik, dia merasakan rasa sakit yang luar biasa menimpa kepalanya, seolah-olah ada paling godam yang menghantam kepalanya berkali-kali.

Rostav berusaha menahan rasa sakitnya, tapi rasa sakit itu begitu kuat hingga dia tidak dapat menahannya dan berteriak sekuat tenaga yang dia miliki.

"AGHHH!!!!!" Rostav terbangun dari pingsannya dengan keringat yang segera membasahi tubuhnya, membuat pakainya menempel sepenuhnya ke kulit.

Dia bernapas dengan berat, suaranya terdengar seperti berasal dari kedalaman gua. Dia menatap langit-langit ruang penyimpanan dan mendorong kedua tangannya untuk membantunya duduk. Dia meraba-raba kepalanya sendiri, seolah-olah masih merasakan rasa sakit itu, tapi untung saja rasa sakit itu telah menghilang.

"Hah, itu seperti kenyataan, bukan mimpi. Apa itu sebuah ilusi, apa itu efek karena aku meminum Ramuan? Entahlah, yang jelas, aku masih hidup," dia memandangi tubuhnya sendiri. Mulai dari tangan, mengepalkannya, merasakan kekuatan mengalir di tubuhnya. "Juga, aku merasa bahwa tubuhku berkali lipat jauh lebih kuat dari sebelumnya, apakah itu efek dari meminum Ramuan? Tapi, sayang sekali aku tidak bisa kembali ke Bumi. Hah."

Rostav menghembuskan napas kekecewaan dan berdiri, tapi pada momen itu dia mendengar sebuah suara bergemuruh. Dia menunduk dan menatap perutnya sendiri. "Ugh, aku lapar," dia menyapu pandangan dan berhenti di sebuah karung goni. Dia mendekatinya dan membukanya, mengambil satu roti berbentuk kotak dengan lubang kecil di seluruh bagian.

"Aku pernah melihat roti seperti ini di Bumi. Orang-orang mengatakan rasanya keras seperti batu," dia memindai roti itu dengan teliti sebelum akhirnya mengarahkannya ke mulut, dan menggigitnya.

Krak!

Roti keras itu retak dan pecah di mulut Rostav. Rostav sendiri terkejut dengan kekuatan gigitannya, dia mengira giginya akan rontok saat menggigitnya, tapi ternyata dia bisa memakannya dengan cukup mudah. "Tidak kusangka aku bisa memakannya semudah ini, ya hanya saja rasanya seperti yang kubayangkan. Mungkin inilah makanan yang dimakan oleh seorang petualang."

Rostav sebenarnya tidak terlalu menyukai rasa dari roti itu, tapi karena rasa lapar yang membara, dia menghabiskan total lima roti keras, dan sebenarnya dia cukup menikmatinya.

Setelah sarapan, dia kembali ke Ruangan Kapten dan duduk di kursinya. Dia awalnya merasa santai sebelum akhirnya perhatiannya teralihkan oleh sebuah gulungan di atas meja.

Karena rasa penasaran, Rostav mengambil gulungan itu dan membukanya, bibirnya terangkat ketika melihat apa isi dari gulungan itu.

"Peta," dia bergumam dengan nada bahagia saat dia meletakkan peta itu di atas meja.

Peta itu kebanyakan berisi gambar lautan berwarna merah dengan beberapa sketsa kecil bergambar hutan, pulau, gua, dan lain-lain. Di bagian ujung peta terdapat sebuah angka kordinat yang menunjukkan di mana seseorang berada.

Rostav berusaha mencari di mana lokasinya dengan mengamati sebuah kompas di meja. Rostav melihat sebuah tulisan yang cukup besar, dia pun membacanya. "Laut Mayat."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Raja Hantu Kegelapan   1.10 - Laut Biru Gelap

    Saat ikan hitam itu melesat seperti anak panah dan menghantam tepat di dadanya, Rostav terhempas ke belakang dengan brutal. Tubuhnya terangkat sejenak dari dek sebelum akhirnya membentur pagar kayu kapal dengan suara keras yang menggelegar. Benturan itu membuat seluruh tubuhnya bergetar, dan rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari tulang rusuknya ke seluruh tubuh. Napasnya terdengar berat, tersengal-sengal, seolah paru-parunya berebut mencari oksigen yang sempat terpental keluar akibat hantaman tadi. Matanya sedikit berkunang-kunang, pandangannya sempat gelap sejenak, sebelum akhirnya dia bisa kembali fokus pada kenyataan di sekitarnya.Dengan susah payah, dia melirik ke belakang, menatap pagar kayu yang kini menjadi penyelamatnya. Perasaan lega yang amat dalam segera menyusup ke dalam dadanya, bercampur dengan rasa sakit yang masih berdenyut-denyut. Dia merasa benar-benar beruntung, sangat amat beruntung, dirinya ditahan oleh pagar ini. Kalau saja pagar kayu ini tidak ada, atau

  • Raja Hantu Kegelapan   1.9 - Ikan Hitam

    Suara guntur itu begitu mengerikan dan mengancam, suaranya begitu nyaring dan keras, seolah-olah ingin merobek langit. Walaupun Rostav berada di dalam kamar, dari mendengar suara guntur ini, dia tahu badai besar akan melanda kapalnya. Dia bahkan bisa mendengar suara angin yang begitu tinggi menabrak kapalnya, tidak hanya itu dia juga merasakan perubahan gelombang laut yang kini bahkan lebih liar dari apa yang pernah dia rasakan sebelumnya. Kapalnya terangkat tinggi dan terbanting berkali-kali, Rostav sendiri bersyukur karena kapal ini tidak terbalik bahkan setelah mengalami hal itu.Suara hujan deras terdengar, itu menghantam kapal dengan suara yang bising.Rostav tetap saja menutup telinganya, suara gemuruh guntur yang dapat menghancurkan gendang telinga terdengar puluhan hingga ratusan kali dalam satu detik."Sial, kalau badai ini tidak cepat berlalu, telingaku bisa hancur. Aku mungkin tidak akan bisa mendengar lagi nanti," Rostav mencerca langit dalam diam. Dia kali ini membenci la

  • Raja Hantu Kegelapan   1.8 - Badai Besar

    Jika dia saat ini masih berada di Bumi, rutinitas hidupnya mungkin tidak akan banyak berubah. Dia akan tetap terjebak dalam siklus yang itu-itu saja. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Setelah lelah bekerja seharian penuh, mungkin dia akan langsung pulang ke rumah, merebahkan diri di tempat tidur, atau sesekali pergi memancing untuk menenangkan pikiran. Itulah gambaran kehidupan yang dia jalani setiap harinya, sebuah pola hidup yang sangat sederhana dan monoton, tanpa banyak gejolak atau kejutan berarti.Jika kalian penasaran dan bertanya-tanya apakah dia memiliki seorang kekasih, jawabannya sederhana tapi agak menyedihkan: tidak. Selama hidupnya, dia bahkan tidak pernah benar-benar memiliki kekasih. Jangankan kekasih, dia bahkan tidak dapat mengingat apakah dia pernah memiliki teman perempuan yang bisa dianggap dekat atau spesial.Interaksinya dengan perempuan hanya sebatas teman biasa semasa sekolah atau rekan profesional di tempat kerja. Semua hubungan itu hanya berkisar pada urusan tu

  • Raja Hantu Kegelapan   1.7 - Hidangan Pertama di Laut Mayat

    Sambil menunggu dagingnya terasapi hingga benar-benar kering dan matang, Rostav melihat kondisi dapur yang masih berantakan, terutama di bagian lantai yang terdapat banyak genangan darah, bekas dari dia mengolah ikan berwajah iblis."Kotor sekali, aku tidak tahan melihatnya," Rostav akhirnya keluar dari dapur dan pergi ke ruang pembersihan. Di dalam sana dia mengambil sebuah pel dan sebuah ember yang terikat dengan tali. Rostav tidak langsung pergi ke dapur, melainkan pergi ke dek kapal. Dia pergi untuk mengambil air laut. Setelah embernya penuh dengan air berwarna merah darah itu, dia segera kembali ke dapur untuk membersihkan lantainya. Dia mencelupkan pelnya ke dalam ember, memerasnya, dan kemudian mengepel lantai hingga benar-benar bersih.Pembersihan itu mengambil waktu sekitar dua puluh menit, karena genangan darah yang terlalu tebal memaksa Rostav untuk mengepel di tempat yang sama berkali-kali. Setelah semuanya bersih, Rostav kembali ke dek kapal dan membuang sisa air di dalam

  • Raja Hantu Kegelapan   1.6 - Ikan Berwajah Iblis

    Rostav menjatuhkan alat pancingnya saat dia melihat bentuk dari ikan itu. Dia terdiam menatap ikan itu selama beberapa saat sebelum akhirnya tubuhnya bergetar tanpa sadar, dan ingin memuntahkan isi perutnya. Perutnya terasa mual melihat bentuk dari ikan itu.Ikan itu memang memiliki ukuran besar, hanya saja bentuknya membuat siapa pun yang melihatnya menjadi tidak berselera. Wajahnya mirip seperti manusia dengan bagian bibir yang sangat besar, mata melotot dengan pupil besar berwarna hitam, dan juga memiliki sebuah telinga di setiap sisinya, tepat berada di atas insang.Ikan itu meliuk-liuk seperti cacing yang disiram air garam dan melompat-lompat seperti kelinci yang sedang kabur setelah mencuri sayuran. Setiap melompat, ikan itu mengeluarkan lendir berwarna merah, tenang saja itu bukan darah, hanya saja lendir itu semakin membuat Rostav ingin memuntahkan seluruh isi perutnya."Ini... ini jelas-jelas bukan ikan, tapi monster. Walaupun di Bumi ada ikan yang berwajah manusia, tapi ikan

  • Raja Hantu Kegelapan   1.5 - Ikan Tanpa Sisik

    Rostav merinding tanpa sadar saat membaca nama itu. "Laut Mayat? Nama itu terdengar sangat mengerikan. Apakah kapal ini benar-benar sedang berlayar di perairan berbahaya? Warna langit dan air laut yang merah seperti darah membuatnya semakin masuk akal."Tapi, Rostav bertanya-tanya, apakah nama "Laut Mayat" hanya diambil dari warnanya yang mengerikan itu, atau ada sesuatu yang lebih kelam di baliknya?"Atau mungkin dulu pernah terjadi pertumpahan darah besar di tempat ini. Begitu banyak nyawa melayang hingga dasar laut dipenuhi mayat. Karena itulah orang-orang menamainya Laut Mayat?" Rostav menggelengkan kepalanya, tidak ingin memikirkannya terlalu jauh, dia kemudian mengambil kompas dan melihat sebuah angka kordinat di sana, dan dia pun mencocokkannya di peta."Hm, lokasiku berada di sini," dia menunjuk suatu titik lokasi di peta menyesuaikan angka kordinat di kompas dengan yang ada di peta. "Aku masih berada di tengah-tengah lautan, hanya saja lokasiku paling dekat dengan Hutan Akar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status