LOGINMalam semakin larut, namun layar ponsel Salsa masih menyala, memancarkan wajah Nathan di ujung panggilan video. Suasana kamar yang redup berubah hangat oleh getaran rasa yang sudah bertahun-tahun terpendam. Layaknya sepasang kekasih yang baru dilanda kasmaran, keduanya seolah enggan mengakhiri obrolan meski kantuk mulai menyapa. Jarak beberapa kilometer di luar sana terasa lenyap, terkikis oleh tawa kecil dan tatapan hangat yang saling bertukar lewat layar kaca.Perbincangan mereka mengalir begitu indah dan menyenangkan, bermuara pada dua malaikat kecil yang sudah tertidur pulas di kamar sang mama. Nathan mendengarkan setiap detail cerita tentang si kembar dengan mata berbinar—mulai dari tingkah konyol mereka saat bermain, makanan favorit, hingga kebiasaan kecil sebelum tidur yang selama empat tahun ini melekat dalam ingatan Salsa. Rasa rindu yang menumpuk bertahun-tahun seolah menemukan muaranya saat ini.Di tengah obrolan, keseriusan Nathan terpancar jelas dari raut wajahnya. Pria i
“Itu monster, Ma. Takuuuuuut,” ucap Kenzo membuat sang mama makin bingung.“Cepat, Mama. Takut banget,” Kenzi ikut menggigil dan berhasil membuat kedua orang tuanya panik. Mereka keluar dari kamar Ayahnya Salsa, tapi Nathan hanya sampai di ruang tamu. Salsa dan Ayahnya menuju ke depan. Rupanya orang itu hanya memakai masker yang ada gambar hantu, bukan monster mengerikan seperti kata Kenzo dan Kenzi. Anak-anak itu khayalannya terlalu jauh akibat kebanyakan nonton kartun yang ada hantunya. “Bukan monster ya, Ma?” teriak kedua anaknya dari dalam tapi Salsa mengabaikan.“Permisi, Bu. Saya Indah dan ini teman saya namanya Anggun. Kami dari Yayasan Kasih Sayang. Ini surat pengantarnya, Bu,” ucap Indah pada Salsa, seraya menyerahkan amplop dokumen kepada calon majikannya.Harusnya Salsa yang menjemput mereka langsung ke yayasan. Namun, karena mobilnya sedang di bengkel, Salsa meminta kedua calon pengasuh itu datang sendiri dan berjanji akan mengganti seluruh biaya transportasi mereka.“Ka
“Yah,” suara Nathan serak berhasil mengurai pelukan Salsa dengan Ayahnya. Pria itu berjalan pelan menuju ranjang dan tanpa disangka oleh siapapun seorang CEO yang terkenal dingin itu langsung berlutut dan menyentuh kaki ayahnya Salsa yang menggantung di sisi ranjang.“Aku tahu orang yang paling bersalah dalam situasi rumit ini adalah aku. Aku yang membawa Salsa dalam penderitaan yang tak ada habisnya. Aku yang membuat Ayah terlibat dalam masalah pelik ini. Tapi percayalah, aku tak pernah menginginkan ini. Yang aku mau melihat Salsa bahagia selamanya. Tapi takdir yang kami lewati sangat kejam. Maafkan aku tak mampu mencegah semua untuk tidak terjadi,” ucap Nathan sambil terisak, berhasil membuat Salsa dan ayahnya kembali menangis. Ayahnya Salsa meminta Nathan untuk bangun tapi dia menolak dan terus memohon pengampunan pada Ayah dari wanita yang sudah ia bawa ke kubangan penuh penderitaan. “Aku tak pernah menyangka takdir kami akan seperti ini. Terima kasih sudah ada bersama Salsa saa
“Yah,” panggil Salsa dengan suara lirih. Sesampainya di dalam kamar sang ayah, ia mendapati ayahnya berdiri terhuyung di dekat meja nakas. Pecahan beling berserakan di lantai, menandakan gelas yang hendak digunakan untuk minum terlepas dari genggaman tangan yang melemah. “Ayah mau minum?” tanya Salsa, mencoba mendekat dengan hati-hati agar tidak terkena pecahan beling. Dia juga mengingatkan sang anak untuk tidak mendekat.Salsa menghentikan langkahnya saat melihat bahu sang ayah mulai mengusap kedua matanya dengan punggung tangan, pria tua itu juga langsung memalingkan wajah untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dia sedang menangis. Tapi dari tarikan napasnya yang berat, Salsa tahu persis—ayahnya sedang menangis dalam diam.“Iya, Ayah mau minum...” jawab sang ayah lirih, suaranya parau dan terdengar begitu lelah. Ada satu kekhawatiran yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.Melihat kondisi ayahnya yang sedang tidak baik-baik saja, hati Salsa terasa diremas oleh tangan tak kasat m
Nathan hanya sekali melirik saja ke arah yang dibilang oleh Raka langsung tahu kalau orang itu adalah orang suruhannya. “Itu Baron,” gerutu Nathan kesal karena jantungnya nyaris copot gara-gara mendengar ucapan Raka yang mengira orang itu adalah orang kiriman pak Darmawan. “Oia, dia sudah dapat mobil baru. Maaf, Bos.” Raka yang menyadari kesalahannya pun langsung berdiri dan keluar menghampiri orang itu. Baron adalah orang yang akan menjaga Salsa dan kedua anaknya dari jarak aman. Nathan tidak akan membiarkan orang-orang yang dia cintai tersakiti oleh siapapun. Baron adalah salah satu anak buah terbaik Nathan. Setelah Raka pergi Alea mendekati sang papa.“Pa, selamat ya... Ternyata aku bukan satu-satunya anak Papa, tapi salah satunya,” bisik Alea lirih. Meski ada nada haru di suaranya, mata gadis itu berbinar bahagia begitu tahu sang papa ternyata memiliki anak kembar.Nathan merentangkan tangannya, membawa Alea ke dalam pelukannya. Sejak gadis itu tahu rahasia besar kalau dia bukan
Di saat yang sama, mobil yang dikendarai Clara sedang membelah jalan tol menuju luar kota. Di dalamnya, ada tiga teman dekatnya yang ikut serta untuk keperluan pemotretan sekaligus travelling singkat. Sebenarnya perjalanan itu hanya memakan waktu sekitar tiga jam jika menempuh jalur darat. Clara pun bisa saja dengan mudah menyuruh papanya menyiapkan helikopter pribadi agar mereka sampai lebih cepat. Namun, karena teman-temannya ngotot ingin menikmati kuliner di sepanjang jalan dan menikmati perjalanan santai, Clara akhirnya mengalah dan mau mengemudikan mobilnya sendiri.“Jadi dia benar-benar nggak marah kamu pergi ke luar kota tanpa dia? Padahal besok kan tanggal merah, terus nyambung libur weekend. Harusnya dia tawar diri dong buat nemenin kamu? Atau jangan-jangan dia sebenarnya nggak setuju kamu masih aktif jadi model?” cecar Zaskia dari kursi penumpang depan. Dua temannya di belakang langsung mengangguk setuju. Sebetulnya Zaskia ingin bilang jangan-jangan Nathan tidak mencintai Cl
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya







